Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Jennifer?


__ADS_3

"Hm?" Komandan Yakza terkejut. Aneh sekali, kenapa manusia tidak memenuhi persyaratan?


"Biar kucoba." Yuda berusul. Dia maju ke depan sambil membungkukkan tubuhnya.


Sekejap, kepalanya sudah mendekati tablet hitam.


TET!


"Wajah tidak memenuhi persyaratan."


"Eh?" Ada apa dengan tablet ini?


"Giliranku. Pasti diterima." Raphael berjalan melalui Yuda.


"Percaya diri sekali." Aku bersedekap, separuh berpikir, separuh bergurau.


"Iya dong. Aku kan tampan-"


TET!


"Wajah tidak memenuhi persyaratan."


"Lah?"


"Nah kan." Aku tergelak lepas. Raphael menunduk kecewa sambil mundur.


...


Haruskah aku yang dipindai? Tidak... jika Raphael, Komandan dan Yuda saja tidak diterima, aku tidak akan ada bedanya.


Sepuluh menit kemudian. Masih belum tahu caranya.


Kami sudah menggunakan semua kemungkinan. Seperti memeriksa apakah ada lubang yang menuju kartu itu, tidak ada. Mencoba meretas tablet itu, tapi bendanya sudah otomatis, tidak akan bisa disentuh, benar-benar buntu.


Cara pemindaian sudah tidak bisa lagi diharapkan. Hanya aku dan Jennifer yang belum diperiksa, tapi itu tidak akan berguna.


ZEP...


Tablet itu tiba-tiba mengeluarkan suara, layarnya gelap terlihat sedang memuat sesuatu.


"Haduh, sudah sepuluh menit. Kalian ini primitif atau bagaimana?" Itu Kak Liona! Wajahnya muncul di layar!


"Liona? Bagaimana kau..."


"Aku hanya rekaman. Setiap sepuluh menit, aku akan muncul memberikan kalian petunjuk." Kak Liona tertawa. Suaranya memotong kalimat Komandan. Lalu kami berlima mendekat ke dekat tablet, bersiap mendengarkan.


"Baik, langsung saja. Lantai terakhir ini sudah dipenuhi oleh sensor. Semacam pendeteksi level rupa wajah. Dan itu terhubung dengan tablet ini. Jadi tugas kalian hanya mendekatkan wajah orang yang paling baik rupa, yang paling cantik atau tampan di antara kalian. Eh, astaga! Aku baru sadar! Maaf, sungguh! Ini semua untuk menghindari omni yang buruk rupa itu! Jadi aku tidak bermaksud untuk menghina rupa kalian, maaf ya..." Rekaman Kak Liona menjelaskan dengan seksama. Kami menatap satu sama lain, siapa?


Eh, kalau paling tampan, mungkin... ah, Yuda dan Raphael sama levelnya, Komandan Yakza juga tidak kalah.


Kalau begitu, satu-satunya jawaban adalah...


Semua orang melihat ke arahnya. Wanita pirang dengan wajah sempurna, Jennifer, dia jawabannya.


Dia sudah mengerti. Lamat-lamat mengangguk sambil merapihkan kembali rambutnya. Jennifer berjalan perlahan menuju depan tablet hitam. Benar saja, dia seperti bidadari. Tegas dan mandiri, sangat sempurna.


Tep. Tapi, tiba-tiba dia berhenti.


...


Sunyi, kami menunggunya.


"Ada apa, Jennifer?" Yuda bertanya.


Aku melihatnya, Kenapa dia... bergetar? Kenapa terlihat begitu takut?

__ADS_1


"..." Dia tidak berkata.


"Jennifer...? Tinggal beberapa langkah lagi." Raphael mulai bimbang sambil berjalan maju.


Plak! Jennifer menampar tangan Raphael yang hendak menyentuh bahunya. Masih membelakanginya.


...


Eh?


"Eh... m... maaf..." Dia memutar balikkan badan, membungkuk pada Raphael. Tapi kali ini, caranya berkomunikasi itu seperti... seperti meminta maaf secara formal, dengan takut atau khawatir, pokoknya Jennifer terlihat... direndahkan...


"Jenn, kau tidak apa-apa?" Dia tambah khawatir. Bertanya sambil memegang tangannya yang memerah.


"Ya, aku tidak apa-apa." Jawabnya lemas. Lantas dia bergerak kembali, menuju tablet.


Sejenak alat pemindaian muncul. Cahaya putih mengelilingi wajah Jennifer. Naik, turun, naik turun.


TING!


"Verifikasi selesai. Bukan omni. Silahkan ambil kartu." Suara robot itu bicara lagi. Tiang putih membentuk lubang, ada kartu berwarna silver mengkilap yang menempel di sana. Jennifer mengambilnya dengan gemetar. Kemudian dia memberikannya kepada Komandan Yakza.


Semua tantangan di Bangunan Tabung sudah selesai. Tapi rasanya aneh dan canggung...


Komandan menatap Jennifer dengan cemas, layaknya seorang Ayah. Sepertinya dia mengerti tentangnya, apa yang dilalui wanita pirang itu yang masih menunduk sampai sekarang.


"Jennifer...-" BUMMM!!!


"KOMANDAN-" BRAKKK!


Kami semua terangkat! Dibanting ke sana kemari dengan keras, menghantam tembok bertubi-tubi. Entah siapa yang melakukannya!


BUM! BUM! BUMM!!! BUMM!!! BUM!!! BUMMM!!!BRUKK!!!


Banyak lubang di tempat ini, sudah retak dan rusak. Aku bisa melihat Kartu itu jatuh dari Komandan Yakza. Akhirnya kita semua jatuh, tidak lagi terbang...


Yang lain juga serupa. Terkulai, tidak berdaya di depanku. Tidak bergerak, tidak berbicara...


"Si... siapa...? Siapa di sana...?!" Aku mengerahkan seluruh kekuatan hanya untuk bicara. Sial...! Usaha kami, pengorbanan kami!


"Hmm?" Suara yang cempreng muncul. Tubuhku terangkat lagi! Kali ini sendirian!


Aku bisa melihatnya... orang tinggi kurus, memakai pakaian layaknya seorang petani. Tangannya terangkat seiring tubuhku mendekat. Dia adalah omni! Dari mana munculnya?!


Tidak salah lagi. Omni ini bisa melempar apa pun yang tanpa menyentuhnya! Sangat berbahaya!


"Gadis kecil... kau sangat cantik." Menjijikkan...! Dia mengelus rambutku, kulit kasarnya terasa sakit. Aku tidak bisa bergerak untuk melawannya!


"Kartu ini, milikku." Omni berkata sinis. Mengangkat kartu silver dengan tangan satunya.


WOOSH!


BRUKK!!!


Aku dilempar keras sampai ujung bangunan. Lubang baru muncul dan mulai hancur.


Kesadaranku mulai menghilang-


"Oh. Aku punya ide baru." Tubuhku terangkat lagi. Lengan dan kakiku menggantung ke bawah, seperti kelelawar.


Aku tahu... omni sialan ini ingin membantingku berkali-kali hingga temboknya hancur-


BUKKK!!


"AGH!" Seruku setengah mati. Sakit sekali-

__ADS_1


BUKK!!! BUKK!!! BUKK!!! BUKK!!!


"F... Fal...!" Seruan Raphael terdengar dari kejauhan. Tubuhku terasa sesak, pusingku tambah hebat. Pandanganku mulai kabur-


SLASH!!!


Suara daging yang terpotong terdengar. Itu Komandan Yakza, dia memotong lengan kiri musuh hingga lepas. Omni itu terlihat marah, tapi dia berhasil mengangkat Komandan dengan lengan satunya, yang memegang kartu.


Kemudian, tubuhnya dilemparkan mendekatiku. Itu adalah serangan pamungkasnya bagi omni.


BRUKKK!!!


Beruntungnya, Komandan tidak menabrak tubuhku. Dia dihantamkan tepat di sampingku.


Sialnya, temboknya hancur, berlubang besar hingga muat untuk lima orang. Kami semua meluncur ke bawa dari lantai empat, menuju tanah lembah hijau muda.


Sekarang sudah malam hari, gelap, langit berwarna hitam lekat.


Sedikit lagi aku akan menghantam tanah. Aku tidak boleh mati... aku harus membunuh ilmuan yang menyebabkan adanya monster!


Kukeluarkan pedang cahaya.


SIIIING!!!


Tameng transparan berwarna putih langsung muncul di tanah. Bedanya, kali ini tubuh kami memantul saat mengenainya.


Buk! Akhirnya aku mendarat dengan halus. Telentang lemas dan tidak bisa bergerak... aku selamat...


Selamat... ya... tidak...


Aku... mulai... pingsan...


...***...


Suara api...


Api... terdengar dari telingaku. Ya... di sebelah kanan...


Eh, kenapa aku memejamkan mata...?


Kubuka mataku secara halus. Langit hitam malam terlihat di atas tubuhku.


Oh iya, aku mengingatnya. Semuanya berubah secara tiba-tiba karena omni sialan itu... dia bisa mengendalikan tubuh kita...


"Aduh..." Astaga, mau duduk saja terasa susah.


Tapi, lukaku sudah sembuh... bocor di dahi dan belakang kepalaku hilang.


Ada api... api membara di atas tumpukan kayu, membuat terang sekitar lembah hijau muda.


...


"Raf!"


Badan Raphael berbaring di dekatku. Wajahnya sangat lemas dan sakit. Dia pingsan, astaga... kasihan sekali...


Yuda dan Komandan Yakza juga serupa, mereka terlihat begitu terkalahkan... semuanya dibariskan mengelilingi kayu api itu.


...


Jennifer? Di mana dia?! Tubuhnya tidak ada!


"JENNIFER?! JENNIFER! JENNI-"


"Aku di sini." Terdengar suara dari belakang, aku memutar balikkan kepala.

__ADS_1


Aku melihatnya. Sosok sempurna, perempuan pirang yang baik dan berbakat. Namun dia menatap pemandangan di kejauhan, tidak menghadap ke arahku, mencengkram lengan kanan dengan tangan kiri. Bahunya terangkat hebat.


Dia terlihat... menyesal...


__ADS_2