I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 10


__ADS_3

Setelah selesai mengemas barang,Faiz pamit pada semua orang,dengan berat hati para warga mengantar kepergian Faiz,begitu juga Rahayu dan Mentari,kakak beradik itu terlihat begitu terpukul,mereka menunjukan kesedihannya dengan caranya sendiri.


Rahayu tidak bisa lagi menahan air matanya ,gadis itu meraung raung seraya menyebut mana Faiz.


" Pak dokter tetaplah di sini." ucap Rahayu tanpa melepaskan pelukannya.


" Tolong jaga bapak baik baik,jadilah seorang gadis yang baik,jangan gunakan tangan mu untuk melakukan kekerasan lagi." Faiz mengusap punggung Rahayu,sambil berusaha melepaskan diri.


sementara Mentari hanya bisa menatapnya dari jauh, sambil bergumam dalam hati.


" Ya allah,engkaulah yang maha membolak balikan perasaan,jika dia takdir ku pertemukanlah kami kembali, tapi jika bukan,hilangkan semua perasaanku ini,hanya engkau yang bisa mempermudah masalah yang sulit." lirihnya.


Setelah berhasil melepaskan diri dari Rahayu,Faiz beralih pada Mentari,pria itu tersenyum menatap lama wajah cantik yang selalu menemani hari harinya salama di sana,tanpa ia sadari gadis itupun sudah berhasil mengalihkan dunianya dengan mudah,mengobati lukanya dan melupakan dukanya.


"Terimakasih telah mengubah hari hariku yang melelahkan menjadi menyenangkan,kita memiliki jalan sendiri untuk mengarungi hidup,kemanapun kita pergi,kita akan saling mengingat satu sama lain,jaga dirimu baik baik." Faiz mengusap air mata yang menetes di pipi gadis cantik itu.


" Terimakasih karena selalu menyebar energi positif di antara kita,terimakasih atas semua kenangan indah yang telah kita bagikan bersama,jaga diri dan hati pak Dokter juga." balas Mentari dengan suara yang sangat pelan,yang hanya bisa terdengar Faiz saja.


Faiz mengangguk dengan menyunggingkan senyum manisnya.


Sungguh,perpisahan ini sangat menyakitkan,lebih menyakitkan di banding saat berpisah dengan cinta pertamanya dulu.


Faiz mulai melangkahkan kakinya,menengadah ke atas berusaha menahan air matanya agar tidak menetes begitu saja.


Dan akhirnya Faiz pun pergi bersama tukang ojek yang akan mengantarnya ke terminal.


Mentari masih mematung di tempat hingga punggung pria yang sudah mencuri hatinya itu tak terlihat lagi.


****

__ADS_1


Di setiap pertemuan pasti ada perpisahan,walaupun sangat menyakitkan ,jangan sampai membuat mu bersedih terus menerus, angkat kepala mu, dan langkahkan kaki mu,masa depan masih cerah,kebahagiaan dan hari hari baru ada di depan mata.


Selang beberapa hari semenjak kepergian Faiz,Mentari menjalani hari harinya seperti biasa,bersama bayangan seorang pria yang selalu mengiringi setiap gerak geriknya.Sesekali gadis itu tersenyum, kala mengingat sesuatu yang telah ia lakukan bersama pria yang di cintanya .Namun Tidak lama setelah itu ia kembali meneteskan air mata,di saat rindu menyerang kalbunya.


" Ya allah,,aku sangat merindukannya,aku harap dia juga merasakan apa yang aku rasa,semoga suatu saat kita bisa di pertemukan kembali." lirih sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.


Kini Mentari di sibukan dengan mengurus bapak yang kondisinya semakin hari semakin memburuk, ia juga masih sering mendapat perlakuan tidak baik dari ibu dan kakaknya,namun Mentari kini lebih kuat dan tegar,sesekali ia berani membantah atau melawan.namun Ibu maupun kakaknya tidak berani mengusir, karena tanpa kehadirannya, mereka tidak bisa apa apa.


Suatu hari,Mentari tengah menyuapi bapak yang kini hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan tubuh renta yang hanya tinggal kulit dan tulang,ia melakukannya dengan perlahan dan hati hati karena bapak sudah tidak bisa makan dengan cepat,bahkan untuk membuka mulut saja susah.


Mentari sempat menitikan air mata,melihat laki laki yang selalu membela dan melindunginya kini hanya bisa terbaring tak berdaya tanpa bisa berbuat apa apa.


" Bapak harus sembuh." lirihnya sambil mengelap sisa makanan di sudut bibir keriputnya.


Bapak hanya merespon dengan kedipan atau lirikan matanya.


"Maafkan bapak,bapak belum bisa membahagiakan mu,bapak tidak bisa menjaga mu dengan baik,dan Sepertinya umur bapak sudah tidak lama lagi Nak,apa yang harus bapak katakan pada ibu mu nanti,bahkan bapak tidak sanggup untuk menunjukan wajah ini di hadapannya." gumam pak Hasim dalam hatinya,air mata mengalir dari sudut matanya.


" Bapak istirahat ya,nanti Tari lap badan bapak biar lebih seger,sekarang Tari harus cuci piring dulu." Mentari membantu bembenarkan posisi bantalnya,agar pak Hasim bisa berbaring lebih nyaman.


Setelah itu ,ia beranjak hendak ke dapur,


Gadis itu melakukannya sendiri tanpa bantuan siapapun.Ibu dan kakaknya bahkan sama sekali sudah tidak perduli.Mereka hanya sibuk dengan urusannya masing masing,seolah menganggap bapak antara ada dan tiada.


Selesai mencuci piring,Mentari kembali ke kamar dengan membawa air hangat di dalam sebuah baskom,serta handuk kecil untuk mengelap badan pak Hasim,gadis itu mulai mencelupkan handuk tersebut lalu meremasnya,kemudian perlahan mengusapkan handuk basah tersebut ke wajah tua bapak yang kini tengah terpejam.


Hanya beberapa usapan,mata Pak Hasim tiba tiba terbelalak di ikuti dengan nafas tersenggal,pria baru baya itu mengatupkan bibirnya seraya mengucapkan sesuatu tanpa mengeluarkan suara.


"Bapak!!" teriak Mentari panik,sambil menggenggam tangan bapaknya,Pak Hasim membalas genggaman tangan Mentari dengan sangat kuat seolah menahan sesuatu yang amat menyakitkan.

__ADS_1


" bapak,,istighfar Pak!!" Mentari mengguncang tubuh pak Hasim,ketika genggaman tangannya mulai melemah.Dan nafas yang semakin memberat.


Hingga akhirnya sedikit demi sedikit matanya mulai terpejam, seluas senyum tersinggung dari sudut bibirnya.


" Bapak!!" Mentari mulai histeris sambil terus menerus mengguncang tubuh renta bapaknya.


berharap sang ayah akan membuka matanya kembali.


Gadis itu mulai gelisah,ia kembali meraih tangan pak Hasim,memastikan denyut nadinya,lalu meraba lehernya,dan benar saja,apa yang ia takutkan pun akhirnya terjadi.


" Bapak!!" teriak Mentari histeris.Kemudian gadis itu berlari ke luar mencari bantuan.


" Ada apa Tari?" tanya Bu Sri dan juga Rahayu,saat mereka baru saja tiba di teras rumah.


" Bapak Bu,bapak!!" Mentari gugup sambil menunjuk ke arah dalam rumahnya.


" Apa yang terjadi pada Bapak?"Rahayu menabrak tubuh Mentari sambil berlari menuju di mana pak Hasim berada.


" Apa yang kamu lakukan pada Bapak?" teriak Rahayu sambil menatap tajam ke arah Mentari.


" Aku tidak melakukan apa apa, kak." bantah Mentari sambil terisak.


" Anak tidak berguna,kamu apakan suami ku?" teriak Bu Sri sambil mendorong tubuh kecil Mentari.


" Bapak Sudah tidak ada Bu." lirih Rahayu sambil mendekatkan telunjuknya ke hidung pak Hasim,dan mendapati sang ayah sudah tidak bernafas.


" Bapak!!!" teriak bu Sri seraya berhambur,mendekap dan menggoyang goyangkan raga yang sudah di tinggal nyawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


yuk guys ikutin terus kelanjutan ceritanya,jangan lupa like vote dan komen juga,biar thor tetep semangat..


__ADS_2