I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 36


__ADS_3

Mentari masih nampak termenung memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya,dan menganggu fikirannya sejak beberapa saat lalu.


" Apa yang kamu fikirkan?" tanya Zoya saat memperhatikan wajah Mentari yang nampak tak bersemangat.


" Abangnya dokter Faiz meminta kami untuk segera menikah." wajab Mentari lemas.


" Lalu apa yang membuat mu murung seperti Itu?" tanya Zoya lagi.


" Aku belum siap menikah,tapi aku sangat mencintainya." jelas Mentari


" Jadi kau hanya ingin pacaran? ingat Mentari! dokter Faiz butuh kepastian, dia tidak bisa menunggu mu terlalu lama,pacaran bisa kapan saja putus,tapi menikah akan memperkuat hubungan kalian,kau ingat dengan istilah 'sebelum janur kuning melengkung,masih bisa di tikung,kau lihat bagaimana sikap Malika padanya, ancaman sudah di depan mata,bergerak cepat sebelum terlambat,kesempatan tidak akan datang dua kali." ucap Zoya memberi dukungan dengan semangat 45.


Mentari kembali termenung,kemudian mulai beranjak,berjalan keluar menghampiri tetangga sebelahnya yang kini tengah menata beberapa barang dan pakaian ke dalam koper.


Mentari berdiri di ambang pintu,memperhatikan Faiz yang masih belum menyadari kehadirannya.


Hatinya terasa ngilu saat membayangkan kepergian dokter cintanya,beberapa fikiran negatif kembali membisik.


" Bagaimana kalau dokter Faiz tidak kembali lagi?bagaimana kalau keluarganya menjodohkannya dengan wanita pilihan mereka? ingat Mentari! dokter Faiz berasal dari keluarga terpandang,meskipun hanya anak angkat,sedangkan kau?


dia sudah menerima mu apa adanya,lampu hijau sudah di berikan abang abangnya,lalu apa lagi yang membuat mu ragu,masalah usia? 19 tahun rasanya sudah cukup meskipun masih terbilang muda,nikah muda tidak ada salahnya,lagipula usia tidak menjamin kedewasaan."


" Tari?" panggil Faiz,berhasil menyadarkan lamunannya,Mentari tersenyum kikuk merasa salah tingkah.


" Ada apa?" Faiz berjalan menghampirinya.


" Ada yang bisa aku bantu?" tanya Mentari yang langsung mendapat gelengan kepala.


" Sudah selesai." sahut Faiz dengan tatapan mata yang menyejukan.


" Ya sudah kalau begitu." tambah Mentari,Faiz terus memperhatikan raut wajah kekasih yang terlihat gundah.


Sebuah perpisahan memang selalu menghasilkan kesedihan yang mendalam,jarak yang jauh tak ayal membuat rindu terasa begitu berat,sesuai dengan apa yang pernah Dilan ucapkan pada Milea,'Rindu itu berat.'


" Apa yang kamu fikirkan?" tanya Faiz.


Mentari mengangkat wajahnya yang sudah memerah,ini kali keduanya mereka akan berpisah namun rasanya masih sama,bahkan lebih sakit dari sebelumnya.


" Kenapa?" tanya Faiz,sambil memicingkan mata tak mengerti.


" Pak dokter senang sekali meninggalkan aku,Pak dokter selalu menyiksa ku dengan sebuah rindu,apa ini semua memang sudah menjadi hobi mu?" lirih Mentari.


Faiz tersenyum sambil menggelengkan kepala,lalu mengelus kepala sang kekasih dengan lembut.


"Dari mana kamu belajar menggombal?"

__ADS_1


" Ini bukan hanya gombalan,tapi sesuai dengan isi hati ku sekarang."


" Lebay." Faiz reflek mencubit hidung Mentari,namun tak bisa di pungkiri hatinya berjingkrak kegirangan,mendapat ucapan yang begitu tulus dari wanita yang di cintainya memang terasa lebih menyejukan.


" Aku tidak akan lama,jika saatnya tiba sedih akan menjadi tawa,perih akan menjadi cerita,kenangan akan menjadi guru,Rindu akan menjadi temu,kamu dan aku akan menjadi kita,dan aku harap itu tidak lama lagi,aku ingin memberimu waktu untuk berpikir,jadi setelah aku kembali aku harap kamu sudah bisa memberi jawaban." ucap Faiz dengan sungguh sungguh.


Mentari pun mengangguk,kedekatan mereka tak luput dari perhatian seorang pria di seberang sana,setelah Mentari kembali masuk,Lutfi langsung berjalan menghampiri Faiz.


" Sepertinya sudah ada kemajuan?" tanya Lutfi sinis.


" Seperti yang anda lihat." sahut Faiz dengan santai.


" Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja." ucap Lutfi dengan yakin,membuat dokter muda itu melayangkan tatapan tajamnya,namun sedetik demikian wajahnya kembali tenang.


" Asal anda tau,dia sudah menjadi milik ku,jangan bilang jika anda lupa dengan kesepakatan kita." balas Faiz.


" Jangan terlalu percaya diri,hubungan kalian belum tentu berakhir indah,jadi aku masih punya kesempatan untuk mengambilnya dari mu." Lutfi menyeringai.


" Anda belum tidur kan? kenapa bisa bermimpi sampai setinggi itu,hati hati kalau jatuh pasti sakit." Faiz terkekeh secara mengejeknya,sementara raut wajah Lutfi sudah berubah masam.


" Tunggu saja undangan dari kami,dan siapkan hadiah yang bagus,jangan sampai anda menyumbangkan lagu Armada di pernikahan kami." Faiz kembali terkekeh saat membayangkannya,lalu menepuk sedikit pundak Lutfi,Dokter muda itu langsung masuk tanpa mau mendengar ucapan lawannya lagi.


Waktu begitu terasa singkat,perpisahan yang tak di inginkan tak bisa di hindari,Al dan Alvi sudah sampai di parkiran kontrakan,mereka langsung berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Alvi memutar pandangannya memperhatikan sekeliling.


" Satria terlalu sibuk,tidak punya waktu untuk mencarinya." Al berusaha membela sahabatnya.


Alvi pun hanya mengangguk dan tak lagi banyak bicara,hingga akhirnya mereka sampai di depan kamar kontrakan Faiz.


Tidak lama,Faiz dan Mentari ke luar bersamaan dari kamarnya masing masing.


" Faiz,apa kabar?" tanya Alvi yang kini lebih terlihat dewasa dengan kebar baran yang tersembunyi.


" Baik, kakak ipar." sahut Faiz sedikit melirik kakak iparnya,kemudian beralih pada Mentari.


Gadis itu berusaha menyinggingkan senyum sambil sedikit menganggukan kepala,sementara Faiz hanya diam sambil menatap gadisnya,mengingat ucapan Lutfi semalam membuatnya merasa khawatir.


"Ekhemm,, Sudah siap?" tanya Al,berhasil mengalihkan pandanganya.


" Sudah. " sahut Faiz sedikit gelagapan.


" Abang ingin sekali mencolok mata mu." gerutu Al sambil masuk ke dalam membantu mambawakan barang barangnya, Faiz terkekeh malu,sementara Alvi dan si kembar seperti biasa cuek dan tak perduli dengan apa yang tidak ia ketahui tanpa mau mencari tau,meskipun Mentari sudah berusaha menarik perhatiannya.


Dengan memberi senyuman dan menyapa si kembar,namun seketika raut wajahnya sedikit berubah ketika mendapat balasan yang kurang mengenakan dari Alvi.

__ADS_1


Gadis itu memperhatikan penampilan dan wajah cantik dari ibu muda itu.


" Dia cantik, dan anggun,tapi sayang dia sombong,bagaimana jika aku menikah dengan dokter Faiz,dia pasti akan menjadi kakak ipar yang jahat karena tidak mau tersaingi." gumam Mentari dalam hati.


" Hmmm!! kakak ipar kenalkan ini Mentari." ucap Faiz.


Seketika Alvi melirik,lalu membalas uluran tangan Mentari.


" Alvi." ucap Alvi dengan senyum yang hemat.


" Hmmm,,siapa gadis cantik ini?" goda Alvi dengan wajah yang terlihat berubah 180 derajat.


" Dia pacar Faiz." jawab Al ketus,ayah beranak dua itu sedikit kecewa karena Mentari belum juga memberi jawaban.


" Hah,pacar?" Alvi melebarkan matanya tak percaya,namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum.


" Jadi Faiz mau pulang ngajak Mentari?" tanya Alvi antusias,membuat Mentari merasa bersalah karena sempat mengatainya.


" Tidak, kak." sahut Mentari membuat Alvi sedikit kecewa.


" Kenapa? Umi sama Abi pasti akan senang jika tau hal ini."


" Belum saatnya." balas Mentari merasa tidak enak.


" Sayang sekali." lirih Alvi


Mentari mengantar kepergian Faiz,mereka berjalan bersama sama menuju tempat parkir.


" Aku harap kalian bisa segera menikah." ucap Alvi dengan ramah,sementara Mentari hanya tersenyum sambil menundukan kepala.


" Insyaallah kak,doakan saja." balas Mentari.


" Iya sudah,salam kenal ya,aku tunggu kamu di pondok,kita akan menjadi saudara dan menantu yang baik." ucap Alvi sambil memeluk Mentari,mereka seolah sudah mengenal lama hingga tidak ada kecanggungan, dan itu berhasil membuat Mentari nyaman,bagaimana tidak,selama ini ia memang merindukan kasih sayang seorang saudara,namun ia tidak pernah mendapatkannya bahkan dari kakak tirinya sendiri.


" Iya kak,hati hati." balas Mentari,Alvi mulai membuka pintu mobil masuk ke dalamnya.


Sementara Faiz masih berdiri memperhatikan interaksi kedua wanita itu,setelah Alvi masuk,ia mulai membuka suara.


" Jaga diri baik baik ya,aku akan segera kembali." Faiz mendekatkan wajahnya hendak mencium kening Mentari,namun suara klakson dan teriakan Al membuatnya terkesiap dengan bibir yang sudah maju,akhirnya kecupan itu gagal mendarat.


" Hati hati pak Dokter." ucap Mentari sedikit gugup.


Faiz pun mengangguk dan mulai masuk ke dalam mobil,Mentari masih berdiri sampai mobil yang di tumpangi sang kekasih menghilang di balik gerbang,butiran kristal berhasil lolos dari penampungan.


Yang berharap Mentari di ajak,maaf ya! thor gak ngijinin...😅

__ADS_1


Kasih vote like dan komen dulu,baru di turutin..🙊🙊


__ADS_2