
Setelah kepergian Rahayu, Citra pun menjelaskan bagaimana awal mula ia bisa bertemu dengan Rahayu,tak lupa ia pun menceritakan kejadian tragis yang menimpa gadis itu,tentang musibah kebakaran rumah yang merenggut nyawa ibunya,sesuai dengan apa yang di bicarakan Rahayu padanya dulu,hingga akhirnya ia pun merasa iba dan memutuskan untuk membawanya ke rumah.
Apa yang di bicarakan Citra membuat Mentari terisak,ia tak menyangka atas musibah yang di alami ibu dan kakak tirinya itu.
Meskipun ia tak pernah merasakan kasih sayang dari keduanya,namun bagaimana pun mereka tetap keluarganya,ada rasa belas kasih dan juga rasa tak tega yang menyusup ke dalam benaknya.
Sehingga dengan keberanian yang di milikinya,Mentari meminta pada Faiz agar Rahayu bisa tinggal di sana bersamanya.Namun tentu saja Faiz tak mungkin menyutujui hal itu dengan mudah.
" Tidak,Tari! aku tidak mau dia ada di sini,apa kamu tidak ingat bagaimana dia memperlakukan mu dulu." tegas Faiz dengan sorot mata yang menyeramkan,membuat Mentari seketika mematung lalu menundukan kepalanya.
"Tapi bukannya dia tidak punya tempat tinggal,lalu bagaimana bisa kita membiarkannya sendiri." ujar Al.
" Bukannya dia tinggal dengan Citra,jadi biarkan dia tetap bersamanya." sahut Faiz santai,membuat Satria langsung menegakan tubuhnya.
" Tidak! kamu ini bagaimana? bukannya tadi kamu menyuruh istriku mengembalikannya ke tempat semula." protes Satria.
" Lalu apa yang harus kita lakukan,bagaimana pun dia satu satunya keluarga dari pihak Mentari,yang tak lain adalah kakak ipar mu." ujar Haikal dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya,seraya menunjuk Faiz dengan gerakan wajahnya.
Sementara Faiz hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum sinis,rasanya ia tak pernah merasa memiliki kakak ipar semacam Rahayu,bahkan gadis itu sama sekali tak pernah terlintas dalam ingatannya,seolah semua kejadian tak mengenakan yang pernah terjadi kepada sang istri telah terkubur dalam dalam,dan tak pantas untuk di ingat kembali.
Setelah lama saling diam,akhirnya mereka pun memutuskan untuk membubarkan diri,tanpa mendapatkan solusi yang tepat untuk menyingkirkan Rahayu, demi kebaikan mereka bersama.
Hingga keesokan harinya,saat mereka sarapan bersama,semua masih saja nampak bergeming dengan fikiran masing masing,Faiz yang selalu paling heboh dengan tingkah konyolnya kini lebih banyak diam,suasana hangat yang kerap terjadi kini terasa hening,hal itu membuat Umi merasa heran.
__ADS_1
" Ada apa,apa yang terjadi?" tanya Umi, sambil melirik semua anak mantunya satu persatu,hingga tatapannya berakhir pada Citra,namun masih saja tak ada yang mau menjawab.
" Kemana Rahayu?" tanya Umi lagi,seraya terus menatap Citra.
" Dia sedang di kamar menjaga anak anak." jawab Citra
Umi pun mengangguk faham,lalu melanjutkan acara makananya,walau beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab terus saja mengganjal di benaknya.
Hingga tiba tiba Haikal pun mengeluarkan suaranya,dan bertanya tentang Rahayu.
" Bagaimana,apa kalian sudah punya rencana kemana akan membawa gadis itu pergi?" tanya nya,membuat Umi mengerutkan kening tak mengerti.
" Siapa?" tanya Umi.
Wanita paruh baya itu kembali melirik Faiz dan Satria yang masih menunjukan wajah datarnya,hingga akhirnya terculas perkataan yang membuat kedua pria itu langsung mengeluarkan suara.
" Kenapa harus membawanya pergi ke tempat lain,di sini juga masih banyak kamar kosong,dia bisa tinggal bersama umi,di asrama juga putria juga masih ada kamar kosong,jadi dia bisa menempatinya." ucap Umi.
" Jangan!!"secara tiba tiba Faiz dan Satria langsung tersentak sambil menegakan tubuhnya,mereka membuka suaranya secara bersamaan,setelah itu keduanya saling lirik dan kembali ke duduk semula seolah tak pernah terjadi apa apa.
" Kenapa?" tanyq Umi.
" Aku tidak mungkin membiarkan Umi tinggal dengan gadis sepertinya di sini." lagi lagi Faiz dan Satria mengatakan hal yang sama,dalam waktu bersamaan.
__ADS_1
Hal itu membuat Haikal tertawa terpingkal pingkal."ternyata kalian bisa kompak juga, aku fikir kalian seperti sabun dan minyak yang tak pernah bisa bersatu." ujarnya dengan wajah khas seorang penjulid.
Satria dan Faiz hanya bisa mengendus kesal.
"Lalu bagaimana kalau dia tinggal di panti asuhan ku." timpal Al.
" Itu sama saja." Satria dan Faiz kembali melayangkan protes secara bersamaan, dan kali ini mereka pun tak bisa tinggal diam,saat lagi lagi Haikal menertawakannya.
" Kamu bisa diam tidak,biarkan aku yang bicara!" tegas Satria sambil menatap pada Faiz,sementara Faiz tak mau kalah,ia membalasnya tak kalah sinis.
" Kenapa Faiz yang harus diam,biasanya kan abang yang tidak banyak bicara." balas Faiz dengan lantang.
Semua orang hanya bisa menghela nafas lelah,sambil sedikit demi sedikit memasukan makanan ke dalam mulut mereka,tanpa menghiraukan perdebatan antara ke dua pria tersebut.
Begitu juga dengan Umi,yang merasa lebih tenang setelah memastikan suasana hati dari ke empat anaknya kembali seperti biasa,terbukti dari cara mereka bertengkar dan saling melempar ejekan satu sama lain,kendati demikian di antara mereka pun selalu ada yang bertugas untuk melerai,seperti yang kini Haikal lakukan saat melihat Satria dan adik terkecilnya berdebat.
" Sudah,hal seperti itu bukan masalah besar yang perlu kalian perdebatkan,seperti anak kecil saja,ke kompakan dalam hubungan persaudaraan memang sudah biasa,bukan?" ujarnya,entah kenapa anak tertua yang julidnya kebangetan itu, mendadak berubah menjadi motivator yang mulai mengeluarkan kata kata bijaknya.
" Tumben Bang Haikal benar."gumam Al pelan,seraya memutar bola matanya,sementara Haikal hanya berdecak sambil meliriknya sekilas,lalu kembali menatap Satria dan juga Faiz.
" Tapi perkelahian antara saudara itu bisa di katakan luar biasa,jadi lanjutkan saja." tambahnya lagi sambil terkekeh,membuat semua orang menepuk jidatnya masing masing,bahkan Al menjedotkan keningnya ke sudut meja akibat terlalu lelah.
" Benar benar menyedihkan,otaknya sudah mulai terganggu akibat terlalu banyak mengirup bau minyak dari perusahaannya." seloroh Al membuat semua orang terbahak.
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..☺