I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.89


__ADS_3

Setelah semua keinginannya terpenuhi,tepat di saat kandungan Mentari mengunjak trimester ke 2 dan ke 3 tak ada lagi kata ngidam dari mulut Faiz,kondisinya kembali normal,nafsu makan pun semakin membaik,juga tak ada lagi mual,muntah atau pusing yang di rasakannya,seiring berjalan waktu perut Mentari pun semakin membesar,kini usai kandungannya sudah menginjak 7 bulan atau 39 minggu.


Tentu saja pergerakannya semakin terbatas,tak banyak yang bisa ia lakukan,di saat bosan ibu hamil itu hanya bisa berjalan jalan kecil di sekitar klinik,dan kali ini ia pun rutin mengikuti ketigatan senam ibu hamil,yang di adakan seminggu sekali di klinik milik suaminya itu,sesuai dengan saran dokter Rani, agar mempermudah proses persalinan dan masih banyak lagi manfaatnya.


Tak hanya itu,Mentari pun lebih sering menghabiskan waktunya dengan berendam di kolam renang,mengahabiskan separuh waktunya di dalam air seperti seekor mermaid bunting.


Perubahan hormonal yang terjadi pada tubuh nya,menimbulkan peningkatan kadar hormon progesteron yang membuat pembuluh darah melebar, serta aliran pembuluh darah meningkat ke kulit,hal itu menyebabkan tubuhnya selalu terasa panas.


Faiz tak pernah marah atau pun melarang apapun yang Mentari lakukan,selagi itu baik dan tak membahayakan dirinya juga anak dalam kandungannya,bahkan tak jarang Faiz pun ikut menemaninya berenang.


Seperti sekarang di sela sela kesibukannya melayani para pasien,ia masih menyempatkan diri untuk menemui sang istri yang sudah berada di kolam renang,dengan hanya mengenakan pakaian renang khusus ibu hamil.


Perutnya yang besar malah membuatnya terlihat semakin seksi,sehingga Faiz tak mampu menahan air liurnya, tak sabar untuk segera menyantapnya.


Ibu hamil itu tersenyum,menunjukan deretan giginya yang rapi,saat menyadari keberadan sang suami yang tengah menatapnya lekat tanpa berkedip.


" Mas! apa ini sudah waktunya makan siang?" tanya Mentari,sambil menyisih ke tepi kolam.


" Iya,ini sudah jam 12,waktunya makan siang." sahut Faiz,seraya melirik jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Kau mau makan sekarang?" Mentari langsung Naik,menyambar handuk jubah yang berada di meja tepi kolam,lalu mulai melangkahkan kaki membalas uluran tangan sang suami.


" Masih ada banyak waktu,aku ingin menikmati mu dulu." bisiknya,ia lalu sedikit mengigit cuping dan menyapukan bibirnya di ceruk leher Mentari ,setelah berhasil membawa sang istri ke dalam dekapannya dan memeluknya dari belakang,posisi paling tepat untuk saat ini,dengan cara itu Faiz bisa lebih leluasa menguasi seluruh bagian tubuh Mentari,di saat perut Mentari semakin membesar,hingga membuatnya tak tega jika harus memeluknya dari depan.


Ibu hamil itu langsung terkikik geli,merasakan hembusan nafas hangat yang begitu intim,menjalar ke seluruh tubuhnya,ia lalu membalikan tubuh,sehingga pasangan suami istri itu kini saling berhadapan,Mentari mengalungkan tangan di leher Faiz, dan mulai membukakan jas serta kancing Kemejanya satu persatu,hingga akhirya dada bidang yang di tumbuhi bulu tipis, juga perut kotak kotaknya yang menggoda iman itu, terlihat mengkilap di sorot mentari yang terik.


" Mau di sini,atau di dalam?" tawar Mentari sambil mengedipkan sebelah matanya,seolah menggoda,sontak membuat Faiz merasa semakin gemas,ia lalu mengangkat tubuh Mentari ala bridal style dan membawanya masuk,merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Di sini saja,agar bisa lebih leluasa." balas Faiz yang langsung menyambar buas bibir Mentari,lalu turun menuju bukit kembar yang semakin kenyal dan padat berisi,tak sampai di situ,Faiz langsung menyerahkan tugas akhirnya pada miliknya yang sejak tadi sudah meronta ronta meminta giliran.


Faiz melakukanya dengan pelan dan hati hati,namun tak mengaruhi kenikmatan yang mereka rasakan,nampaknya gairah yang timbul pada ibu hamil itu pun semakin meningkat,hingga ia mampu menyeimbangkan permainannya,Mentari bahkan tak segan saat harus mengusai permainan tersebut,mengganti tugas Faiz,menindih dan menari nari lincah di atas tubuh sang suami.


Mentari berguling ke samping Faiz,dadanya naik turun,mengatur deru nafas yang belum sepenuhnya normal,peluh pun keluar dari pori pori kulitnya,sementara Faiz memeluknya dari samping,sambil menenggelamkan wajahnya di pundak sang istri.


" Kamu semakin nakal,tapi aku menyukainya." bisik Faiz dengan mesra.


" Itu salah satu cara untuk mempermudah proses persalinan,Mas!" sahut Mentari.


"Benerkah?" Faiz tak begitu faham tentang dunia kehamilan, karena memang bukan ahlinya.

__ADS_1


" Dokter Rani pernah bilang seperti itu."


" Tumben sekali dia memberi saran yang bagus,aku setuju." balas Faiz antusias.


" Jadi kita bisa lebih sering melakukannya?" tanya Faiz lagi.


" Ya,kita bisa melakukannya setiap hari sebelum aku melahirkan,kalau mau kita bisa melakukannya sehari tiga kali." ujar Mentari,membuat Faiz terkekeh.


" Seperti minum obat saja,tapi sebaiknya sebelum makan,atau sesudah makan? Faiz membalas ke konyolan Mentari,hingga keduanya tertawa bersama dengan obrolannya sendiri.


" Sebaiknya sesudah makan,agar kau punya tenaga tambahan,anggap saja itu stok untuk mu saat menjalani puasa nanti." nampaknya Mentari belum puas dengan candaanya,sementara Faiz mengerutkan kening,mengganti posisinya menjadi tengkurap,menatap Mentari dengan penuh tanda tanya.


"Puasa apa? tanyanya heran.


" Selama masa nifas ku,kau harus puasa, Mas! bukan kau,tapi lebih tepatnya adik kecil mu itu." ujar Mentari sambil menunjuk ke barang berharga milik suaminya yang kini tengah tertidur lelap,seketika membuat Faiz melemas,tubuhnya ambruk,seolah hilang semangat hidup,dokter muda itu menghempaskan tubuh dan menenggelamkan wajahnya di bantal.


" Akhhh,aku tidak akan sanggup!!" teriaknya, sambil memukul bantal dan menghentak hentakan kakinya.


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA...🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2