
Esok harinya Satria beserta anak dan istrinya kembali ke kota,menjalani hidup seperti biasa,tinggal satu atap bersama keluarga kecil yang bahagia dan penuh cinta,memiliki istri yang cantik dan juga setia,anak anak yang tumbuh dengan sehat,serta usaha yang di jalaninya pun berjalan lancar,tak ada yang lebih penting dari itu semua.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya,jika kini pria dingin yang tak pernah mengenal kata cinta itu telah menyandang gelar sebagai kepala keluarga,menjadi seorang ayah sekaligus suami,dan akhirnya kini ia bisa merasakan hidup yang sesungguhnya.
Satria selalu nampak bahagia saat ia menginjakan kaki di rumah yang di tempatinya sekarang.
Rumah hasil jerih payahnya,sebagai pemimpin keluarga,yang memiliki tanggung jawab besar terhadap anak dan istrinya.
Tempat ternyaman yang selalu ia rindukan setiap harinya ketika di tinggalkan,dimana banyak momen dan juga kenangan manis di sana.
Keluarga kecil itu kini baru saja tiba,setelah menempuh jarak yang cukup jauh,Satria memarkirkan mobilnya di garasi,sementara Citra dan kedua anaknya sudah turun lebih dulu.
" Mau aku buatkan kopi,bang?"
Seperti biasa Citra selalu menawarkan kopi pada sang suami,dengan semangat Satria menganggukan kepala,baginya kopi yang di hidangkan sang istri memang jauh lebih baik dari kopi manapun.
Pria itu kini tengah membantu menemani kedua buah hatinya yang masih nampak kelelahan, ayah dan kedua anak balita itu memang selalu nampak kompak,mereka merebahkan tubuhnya bersama di karpet tebal sambil menonton tv,saat itu juga Citra muncul dari dapur sambil membawa secangkir kopi dan meletakannya di atas meja.
Ia lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Satria,dan memeluknya dengan manja.
" Capek,bang! rengeknya.
Dengan sigap Satria meraih pundaknya,lalu menekannya perlahan hingga berbentuk sebuah gerakan memijat.
"Ah,,nyaman nya!!" Citra sampai memejamkan mata,tangan kokoh milik sang suami memang yang tak bisa di ragukan,pijatan lembutnya selalu berhasil membuatnya kembali bersamangat dan melupakan rasa lelahnya.
Perhatian sekecil itu selalu nampak berharga di mata Citra,ia tersenyum sambil membalikan tubuh hingga mereka kini saling berhadapan,dan dengan cepat ibu muda itu memberikan kecupan di bibir sebagai balasannya.
__ADS_1
" Jika seperti ini, aku tidak perlu lagi meminum kopi." ucap Satria sambil melingkarkan tangannya di pinggang Citra.
" Kenapa?" tanya Citra.
" Bibir mu sudah lebih manis dari kopi." godanya.
Iiuuhhh...Citra meleleh,ia terkikik sambil menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah di dada bidang Satria,dunia terasa milik berdua,bocah bocah kecil di hadapanya seolah menjadi nyamuk.
Mendapat kata kata manis dari mulut buaya sudah biasa,dan tidak ada apa apanya di banding mendapat gombalan dari seekor beruang kutub,yang mampu meluluhkan hati wanita manapun.
Gombalan yang berkelas, dan memiliki nilai tinggi karena itu murni dari dalam hati,bukan asal bunyi.
Citra mencubit serta mengigit lengan yang berotot itu dengan gemas,tak sampai di situ iapun melanjut aksinya menindih tubuh kekar itu dan memeluknya dengan erat,lalu mendaratkan beberapa kecupan di wajah Satria.
Setelah di rasa cukup,Satria berguling hingga berganti posisi,dan kini ia berhasil menindih Citra.Menarik tengkuknya,lalu menyambar bibir dan melahapnya dengan buas.
Mereka mulai melucuti pakaiannya hendak melakukan ritual bercocok taman yang menyenangkan sekaligus melelahkan,mengejar target demi mendapat anak ketiga yang di inginkan Satria.
Ayah dua anak itu nampak bekerja keras,menanam benih unggul ke dalam lahan sang istri,berharap bisa segera mendapat hasil yang memuaskan,hingga beberapa kali ia menanamnya,berharap salah satu dari benih tersebut akan tumbuh menjadi tunas,Setelah sekian lama akhirnya Satria pun kelelahan,ia ambruk setelah berhasil menanam benih ketiganya.
Satria berguling diri dan merebahkan tubuhnya di samping Citra,deru nafasnya masih memburu,serta keringat yang masih terasa lembat di sekujur tubuhnya,ia lalu melirik Citra yang sudah nampak kelelahan,ia memejamkan mata dengan nafas tersenggal.
" Bun!!" panggil Satria,membuat Citra kembali membuka mata,ia lalu melirik sang suami yang kini sudah memiringkan tubuh menghadapnya sambil menopang kepala dengan tanganya.
" Ada apa,bang?" tanya Citra.
" Kalau nanti kamu hamil,bagaimana?"
__ADS_1
" Bagaimana apanya?"
" Apa kamu keberatan?"
Citra tersenyum,tatapannya terasa begitu hangat,tanpa berfikir lama ia langsung menggelengkan kepala.
"Anak Itu rezeki,asal itu membuatmu bahagia,aku tidak mungkin merasa keberatan,seharusnya aku yang bertanya pada mu,bagaimana kalau aku tidak bisa hamil lagi,apa cinta mu akan berkurang?" tanya balik Citra,membuat Satria seketika terdiam,lalu kembali membuka suara.
" Anak itu rezeki yang sudah allah tentukan untuk kita,kita tidak bisa menolak atau pun memaksanya,jika kita tidak bisa memiliki anak lagi,ya sudah,itu tidak akan jadi masalah,cinta ku masih akan tetap sama." balas Satria dengan tatapan yang serius,ia lalu meraih tubuh sang istri dan membawanya kedalam dekapan.
" Jadi mulai sekarang kita hanya bisa berusaha,masalah hasil kita serahkan semuanya pada allah." ujar Citra,dengan cepat Satria mengangguk setuju,ia lalu memeluk tubuh polos sang istri semakin erat dan mencium pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang,Citra sempat di buat haru,sudut bibirnya tersungging sempurna,mendapat cinta dan kasih sayang dengan sepenuh jiwa dan raga,dari seorang pria yang sejak lama di cintainya,membuat hidupnya yang dulu hanya sebatang kara kini terasa lebih berwarna,terlebih ketika ia berhasil menghadirkan anak anak hasil dari buah cintanya,ia merasa tuhan sudah terlalu baik padanya,sehingga memberi kehidupan yang cukup sempurna baginya.
Citra membalas pelukannya tak kalah erat,tak terasa matanya terasa berat,hingga dengan cepat matanya mulai tertutup rapat,ia bahkan melupakan anak anak yang masih terlelap di ruang keluarga.
Setelah memastikan Citra terlelap,Satria langsung beranjak,melilitkan handuk di pinggangnya,sebelum keluar kamar,hendak membawa anaknya satu persatu dan memindahkannya ke dalam kamar.
Lama ia menatap peri peri kecilnya yang nampak menggemaskan,air matanya seketika menetes saat tiba tiba ketakutan terbesar muncul begitu saja dalam bayangannya.
" Aku bahkan tak sanggup walau hanya membayangkannya." gumam Satria ia lalu mengecup kening keduanya dan mengusap kepalanya.
" Semoga kelak kalian menjadi wanita shalihah,taqwa dan memiliki iman yang kuat,yang bisa menjaga harga diri sebagai muslimah,menarik ayah dan bunda dari siksa api neraka." gumamnya,lanjut ia beralih pada sang istri,bibir kembali tersungging nenatap bidadari tak bersayap di hadapanya.
" Terima kasih untuk hari-hari yang penuh cinta. Semoga selalu bersemi hingga akhir hayat nanti.
Aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama mu, karena aku tahu ada di sampingmu adalah kebahagiaan yang besar untukku.Semoga allah selalu melindungi mu,dan merahmati setiap gerak gerikmu,aku sangat mencintai mu." gumamnya lagi,ia lalu mengecup kening sang istri,
setelah itu Ia pun langsung beranjak hendak membersihkan diri.
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA , JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😍😍