
Sesuai dengan apa yang di sudah di sepakati bersama,tiga hari pun berlalu,setelah shalat subuh sebelum matahari menyingsing,semua persiapan telah sempurna,mesjid yang berada dalam pondok pesantren akan menjadi tempat berlangsungnya ijab qobul,sementara aula yang sudah di sulap sedemikian rupa akan menjadi tempat resepsi.
Mentari tak henti hentinya menyunggingkan senyum di depan cermin,sambil di bantu bi Susi merias wajahnya sesempurna mungkin,dengan menyusung tema sesuai daerah asal dari calon mempelai pria yaitu adat sunda,gadis itu kini telah mengenakan kebaya putih full payet,serta bawahan batik mega mendung warna senada bercorak hitam,di hiasi beberapa aksesoris berupa siger yang terbuat dari logam berwarna silver di tambah untaian bunga dan kembang goyang di kepalanya,menambah kesan elegan,anggun dan juga melambangkan kesempurnaan wanita.
Sementara di tempat lain Faiz yang di bantu Zoya,telah siap dengan menggunakan beakap sunda, jas beludru berwarna putih serta celana panjang warna senada di lengkapi aksesoris berupa kain samping yang di lilitkan di pinggangnya,serta bendo sebagai menutup kepala.
" Ini kali keduanya aku merias pengantin pria di pondok ini." ucap Zoya sambil duduk di sebelah Faiz,setelah menyelesaikan tugasnya.
" Benarkah?" tanya Faiz yang lansung di angguki pria tulang lunak itu.
" Siapa yang pertama?" Faiz mulai penasaran.
" Bang Satria."
" Oh,ya?" pemuda itu nampak terkejut, namun ia mulai tertarik untuk mengetahui lebih lanjut kejadian yang sempat membuatnya kecewa.
" Kenapa bisa? kalian kan jauh,perlu waktu beberapa jam untuk kesini,memangnya tak ada MUA lain yang ada di sini?"tanya Faiz.
" Aku juga tidak mengerti,saat itu kami tengah berlibur di daerah ini,tiba tiba bi Susi menerima panggilan dan menyuruhnya untuk segera datang ke tempat ini,lebih parahnya kita harus menyelesaikan semua pekerjaan ini kurang dari 24 jam." Zoya antusias menceritakan kejadian beberapa tahun yang lalu.
" Aku tidak pernah menyangka jika Mentari juga akan menikah di tempat seindah ini,walaupun dulu kami tak sempat melihat keseluruhan tempat ini,tapi Mentari sempat menganggumi dan bermimpikan bisa tinggal di tempat seperti ini,dan akhirnya impiannya terwujud,semoga dia bahagia setelah ini." Zoya mulai berkaca kaca,sambil menatap serius pada Faiz,seolah menaruh harapan pada pria di hadapannya untuk bisa membahagiakan sahabatnya.
" Ya,aku akan berusaha membahagiakan Tari." sahut Faiz.
" Lalu kenapa aku tidak melihat pak dokter waktu pernikahan bang Satria dulu?" tanya Zoya lagi.
" Dulu aku masih menyelesaikan kuliah di Kairo." sahut Faiz,fikirannya menerawang jauh ke masa lalu,dimana ia tengah berusaha memperjuangkan cinta dan impiannya,untungnya kali ini ia tak merasakan sesuatu pada perasaannya,ia sudah mengubur dalam masa lalunya, dan kini kebahagiaan telah di depan mata,keberadaan Mentari sudah berhasil membalut lukanya dengan baik,hingga ia tak pernah meningat cinta pertamanya lagi.
Ia merasa beruntung,mungkin jika semua itu tak terjadi,ia tidak akan pernah bertemu dengan Mentari.
Setelah beberapa lama kedua pria beda alam itu berbincang,akhirnya Al menghampiri mereka,memyuruh sang adik untuk bersiap.
" Bagaimana,apa yang kamu rasakan?" tanya Al sambil duduk di kursi yang sebelumnya di tempati Zoya yang sudah pergi hendak menemui Mentari.
" Sedikit tegang." sahut Faiz sambil memegang dadanya yang semakin berdetak kencang.
" Santai saja,siapkan ketegangan itu untuk nanti malam saja." canda Al sambil terkekeh,sementara Faiz mendesis kesal.
" Sudah waktunya,ayok kita keluar?" Al membantu mendorong kursi roda dan membawanya menuju masjid,dimana semua orang sudah menunggunya di sana termasuk penghulu yang akan menikahkannya.
" Saya terima nikah dan kawinnya,Mentari Nurul Annisa binti Hasim dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan emas seberat 50 gram di bayar tunai." ucap Faiz dengan satu tarikan nafasnya secara lantang ,langsung di sahuti kata Sah dan ucapan hamdallah oleh semua orang yang menyaksikan ijab kabul yang di ucapkannya,setelah itu Mentari pun datang sambil di giring oleh ke tiga kakak ipar perempuannya,dengan langkah tertatih akibat terjatuh dari tangga beberapa hari yang lalu masih menyisakan rasa nyeri.
Faiz mengulurkan tangan menyambut wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya,Mentari pun menerima uluran tangan tersebut, lalu mencium punggung tangannya sambil berlutut di hadapan sang suami yang masih duduk menggunakan kursi roda.
Faiz sempat menitikan air mata sambil terus menatap wanita cantik di hadapanya yang tengah tersenyum hangat kearahnya,pria itu pun membalas dengan sebuah kecupan di kening sang istri.
" Terimakasih sudah menerima ku,dan mau menikah dengan ku." bisiknya.
Mentari mengangguk sambil tersenyum,ia pun sempat menitikan air mata bahagia.
Acara demi acara berlangsung dengan baik,setelah sungkeman berlangsung hingga berakhirnya acara,para tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat tersebut,hingga menjelang malam akhirnya semua kembali normal,hanya tinggal menyisakan keluarga inti,yang kini telah berkumpul di rumah utama milik Abi ,sambil bercengkrama di ruang tamu setelah membersihkan diri dan berganti pakaian.
" Umi,ini pesta pernikahan bukan rumah duka,kenapa Umi menangis terus." rengak Faiz sambil melingkarkan tangannya dan menenggelamkan wajahnya di perut sang ibu.
" Umi merasa terharu,setelah menghadapi beberapa masalah yang menimpa kita, Umi tidak menyangka masih bisa menyaksikan anak kecil kesayangan Umi menikah." Umi terisak sambil mengelus pucuk kepala Faiz.
__ADS_1
" Sudah,Mi! jangan membuat kita bersedih,bukan hanya menyaksikan kita menikah,tapi umi dan abi juga masih bisa menyaksikan saat kita mempunyai banyak anak,iya kan sayang?" Faiz melirik sang istri sambil menaik turunkan alisnya,membuat semua orang menggelengkan kepala.
Sementara Mentari hanya menundukan kepala menyembunyikan pipinya yang merah.
" Yakin,kamu bisa melakukannya?" cibir Al seolah meragukan kemampuan adiknya.
" Yang gak bisa berdiri cuma kaki,Bang! yang lainnya sudah siaaap tegak grakkk." sahut Faiz,yang langsung di balas dengan cebitan oleh Umi.
" Dasar anak nakal." ucapnya.
Semua orang kembali tertawa.
" Sudah,kalian pasti lelah,sebaiknya kalian istirahat saja,ini sudah malam." Haikal melirik Faiz dan Mentari pergantian,setelah itu melirik pada Abi yang sudah nampak kelelahan karena sepanjang acara tadi siang beliau sama sekali tak beristirahat.
Semua orang mengangguk setuju,Dua Al pun pamit,begitu juga dengan Citra dan Satria.
Mentari membantu mendorong kursi roda Faiz menuju kamarnya,ia membulatkan mata setelah berada dalam kamar tersebut yang baru pertama ia masuki,kini telah di hiasi taburan bunga mawar merah yang berserakan di mana mana,termasuk di tempat tidurnya,aura khas malam pertama begitu terasa,tiba tiba bulu kuduknya meremang saat melirik Faiz yang tengah menatapnya kelat dengan senyuman yang sulit di artikan.
" Kau suka?" tanya Faiz,gadis itu mengangguk kecil.
" Kakak ipar yang menyiapkan ini semua untuk kita,jadi kita tidak boleh menyecewakannya,kita harus memanfaatkannya dengan sangat baik." ucapnya lagi,lalu berusaha untuk mengangkat tubuhnya hendak manaiki ranjang tersebut,Mentari segera mendekati untuk membantu,namun Faiz melarangnya.
" Aku mendadak jadi lebih baik setelah masuk kamar ini." seloroh Faiz,yang sudah berhasil duduk manis di ranjang pengantinya,ia lalu melambaikan tangan,menepuk ruang di sebelahnya,meminta agar Mentari segera menghampirinya.
Malu tapi mau,dengan ragu gadis itu pun melangkahkan kaki dan mendekatinya,lalu duduk di sebelahnya dengan tubuh gemetar,meremas tangannya yang sudah di banjiri keringat.
Sekian lama,keduanya masih bungkam,tak tau bagaimana harus memulai.
" Apa kita akan diam seperti ini saja?" tanya Faiz,yang akhirnya mengalah dan mulai membuka percakapan.
" Lelah bagaimana,kita bahkan belum melakukan apa apa." protes Faiz.
Mentari menutup matanya rapat rapat,mencerna ucapan Faiz yang mengatakan belum melukan apa apa,memang apa yang akan mereka lakukan?
Gadis itu mengigit bibir bawahnya,saat merasakan pergerakan dari pria di sebelahnya,yang ikut berbaring di sebelahnya tanpa ragu Faiz langsung melingkarkan tangan di perutnya.
" kenapa kamu gemetar seperti ini sih,kita sudah pernah berpelukan seperti ini kan?" goda Faiz tepat di telinganya.
" Tidak,kita tidak pernah berpelukan sambil tiduran seperti ini." ralat Mentari,masih dengan posisi terlentang dengan tatapan lurus ke depan,tubuhnya seakan kaku untuk di gerakan.
" Tapi sama saja kan." bisiknya lagi,semakin mengeratkan pelukannya.
" Iya,tapi..."
" Tapi apa?" lagi lagi bisikan Faiz membuat darahnya berdesir.
" Aku gugup."balas Mentari cepat.
" Bawa santai saja." tak hanya memeluk,kini Faiz menggerakan tangannya,sengusap wajah menyurusi lekuk tengkuknya dengan sangat lembut,Membuat Mentari semakin meremang,dadanya naik turun nenahan rasa yang bergejolak di dada.Refleks gadis itu memejamkan mata,menerima dan menikmati sentuhan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
" Tari!!"
" Iya?"
" Apa kamu bahagia?"
__ADS_1
" Tentu saja."
" Apa kamu tidak merasa menyesal sudah menerima dan menikah dengan ku?"
" Tidak,aku sama sekali tidak akan pernah menyesal."Mentari masih bisa menyahut walau dengan nafas yang semakin memburu,saat menerima sentuhan sentuhan secara intim,tanpa ia sadara Faiz sudah berhasil membuka satu persatu kancing piyama yang di kenakannya,hingga memperlihatkan tubuh indah serta putih mulus yang bersinar saat di sorot lampu yang temaram,Faiz semakin tak bisa mengendalikan syahwatnya.
" Jadi,apa kamu sudah bersedia menyerahkan mahkota berharga yang selama ini kamu jaga, pada ku?" tanya Faiz, menatap dalam penuh harap.
Tanpa ragu,gadis itu pun mengangguk,Faiz langsung tersenyum cerah,secerah mentari di pagi hari,tanpa menunggu waktu lama ia membalikan tubuhnya hingga bertelungkup, mendaratkan kecupan di kening istrinya,perlahan tapi pasti kecupannya mulai turun ke bibir,bukan lagi sekedar kecupan,melaikan ciuman hangat yang semakin lama semakin memanas.
tak cukup sampai di situ, kecupannya berlanjut menyusuri leher dan berakhir di dada,hingga wajahnya berhasil bersemayam di bukit kembar yang semakin membuatnya nyaman,lidahnya berkeliaran di sana dengan riang gembira,memberikan jejak jejak petualang dengan sedikit gigitan kecil yang memabukan.Terasa lembut dan menggairahkan.
Mentari semakin di buat gila,tangannya mulai tak enak diam,tubuhnya merespon dengan mengeliat kecil,mengikuti insting dan nalurinya sebagai wanita dewasa yang normal,ia membalas permainan sang suami dengan mengalungkan satu tanganya di leher Faiz sementara satu tangannya lagi menyugar rambut bagian belakangnya.
" Aku sudah menginginkannya." bisiknya dengan suara berat,lagi lagi Mentari mengangguk,tanpa di pungkiri ia sendiri sudah di selimuti rasa yang menggebu di bakar gairah cinta.
Faiz pun langsung mengukung dan menindihnya sakit di kakinya tak ia hiraukan lagi.
Dan Untung saja pemuda itu belum sempat melucuti pakaiannya saat sebuah ketukan pintu terdengar dari luar.
" Faiz, kalian sudah tidur!!" panggil Umi.
" Belum!! sebentar Mi." sahut Faiz,sambil berusaha turun dari tempat tidur lalu kembali duduk di kursi roda.
" Ada apa,Mi?" tanyanya,setelah membukakan pintu.
" Maaf Umi ganggu,Umi hanya ingin memberikan ini pada Mentari,titipan dari Alvi." ujarnya seraya menyerahkan sebuah paper bag,beliau pun menyempatkan diri untuk melirik tempat tidur yang sudah sedikit berantakan terlihat juga gundukan besar di tengahnya,ia yakin itu adalah Mentari yang tengah menutupi tubuhnya dengan selimut.
Umi tersenyum jahil sambil melirik Faiz,kemudian berlalu tanpa berucap apa apa lagi.
Faiz menerimanya,lalu kembali menutup pintu setelah Umi pergi.
" Ada apa,dok?" tanya Mentari,bukannya menjawab Faiz malah langsung menyambar bibir istrinya itu dengan memberi sedikit gigitan.
" Kamu istriku bukan pasien ku." sahut Faiz.
" Maaf."
Faiz menyerahkan sebuah paper bag pada Mentari,gadis itu segera mengancingkan kembali piyamanya lalu terbangun,sambil meraih paper bag tersebut.
Seketika ia tersenyum geli saat melihat isinya.
" Ada apa?" tanya Faiz yang sudah berhasil naik ke tempat tidur.
" Tidak apa apa."Mentari langsung memasukannya kembali ke dalam paper bag tersebut dengan wajah yang sudah memerah,Faiz memicingkan mata,merasa penasaran ia pun merebutnya,seketika ia terkekeh sambil melempar pekaian tipis yang super mini itu ke sembarang arah.
"Dalam situasi seperti ini,kita bahkan tak memerlukannya,karena aku sudah melihat sebagian isinya,dan sekarang tinggal bagian yang lainnya."bisik Faiz sambil menarik tubuh Mentari hingga terlentang dan lansung menindihnya kembali.
Saat itu juga mereka mulai mengerjakan tugas dan kewajiban pertamanya sebagai pasangan suami istri.
Pengantin baru nih guys,,senggol dong.!!! 🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote nya ya...