I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab. 58


__ADS_3

"Ini sudah larut malam.Aku sudah pesankan kamar hotel di dekat sini untuk kalian,sebaiknya kalian istirahat,kasihan anak anak,biar aku dan Al yang menunggu Faiz di sana." ucap Satria saat kembali ke kamar Faiz.


Citra dan Alvi saling melempar pandang,lalu melirik pada anak mereka masing masing yang sudah nampak kelelahan.


Tak menunggu lama mereka pun mengangguk.


" Baiklah."


" Ayo,aku antarkan!" ajak Satria.


Alvi langsung menghampiri suaminya terlebih dulu ,untuk sekedar pamit.


"Maaf ya,Bi! aku tidak bisa menemani mu di sini."ucap Alvi seraya melingkarkan tangannya di lengan Al.


" Tidak apa apa,sayang! kamu pasti lelah,kasihan juga anak anak."balas Al sambil menarik Alvi membawanya ke dalam pelukan.


" Kamu juga istirahat." Alvi menatap Al dengan perasaan yang sulit di artikan,antara tega dan tidak untuk meninggalkannya.Seandainya si kembar tidak ada,mungkin ia bisa menemaninya seharian,setiap detik dan setiap waktu berada di sisinya, Mengusap lembut kening lalu turun ke pipi yang di tumbuhi bulu bulu halus milik suaminya.


" Iya sayang,tidak usah khawatir,kamu jaga diri baik baik,jaga anak anak juga." sahut Al,seraya melayangkan kecupan di kening sang istri.


" Ya sudah aku pergi dulu." pamit Alvi.


Setelah itu giliran si kembar yang menghambur memeluk sang ayah setelah Al berjongkor mengsejajarkan tinggi badanya,seolah mengerti dengan apa yang tengah di rasakan ayahnya,mereka berusaha menghiburnya dengan berbagai cara dan tingkahnya yang membuat Al tersenyum haru.


" Ayah terlihat jelek jika sedang menangis." ucap Marwah dengan wajah polosnya.


" Siapa bilang ayah menangis?" balas Al.


" Mata indah ayah dan hidung mancungnya tak bisa berbohong." sahut Shafa sambil menunjuk mata dan hidung sang ayah yang sembab dan memerah


Al tersenyum,lalu memeluk keduanya.


" Bahkan ayah lupa caranya menangis jika sudah berhadapan dengan kalian."


" Itu memang sudah tugas kami,membuat ayah dan ibu tersenyum dan tidak akan membiarkan kalian menangis."


Al terkekeh,sambil menciumi keduanya dengan gemas.


Semua orang di buat haru,bagaimana bisa kedua balita itu memiliki fikiran sejauh itu, serta memiliki kata kata yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya terhadap kedua orang tuanya, yang selalu berhasil membuat siapa pun yang mendengarnya meleleh,sekalipun tidak ada yang mengajarkannya,walaupun kebanyakan anak seusianya memang memiliki kepekaan yang kuat.


" Terimakasih,kalian memang terbaik,ayah sayang kalian." Al terus menghujani kedua putrinya yang merupakan cinta terakhirnya setelah sang istri, dengan sebuah kecupan,seolah enggan untuk terpisah.


" Shafa,Marwah,kami sudah terlalu lama menunggu kalian,jika seperti ini terus bisa bisa kami tidur di sini sampai pagi." protes Alvi,dengan mimik wajah yang di buat seolah merajuk.

__ADS_1


" Sebentar,Bu!" sahut si kebar seolah tak sanggup untuk di pisahkan,membiat Satria geleng geleng kepala.


" Jika seperti ini terus,bisa tumbuh akar karena terlalu lama berdiri." lirihnya.


" Kita tunggu di mobil saja." ucap Satria seraya mengajak istri dan anak serta Mentari pergi lebih dulu.


Setelah semua pergi,Alvi kembali menghampiri mereka,kini gilarannya untuk menghibur sang suami,ia mengalungkan lengannya di leher Al setelah ia berdiri.


" Kalian selalu membuat ku cemburu,bagimana bisa kamu melakukan itu pada ku." rengek Alvi.


" Memangnya kenapa?" tanya Al


" Kamu mencium mereka beberapa kali,sementara aku hanya mendapat satu kecupannya." seloroh Alvi,dan berhasil membuat Al tertawa,dengan segera ayah beranak dua itu meraup wajah istrinya lalu menciumi seluruh wajahnya dengan gemas.


" Sudah ya,nanti di lanjut lagi,kalian sudah membuat Satria menunggu terlalu lama." ujar Al,Alvi dan si kembar mengangguk.


Dan akhirnya mereka pun keluar meninggalkan seorang raja di hati mereka sendiri di dalam sana.


Setelah kepergian ketiga wanitanya Al kembali duduk di kursi sebelah Faiz, air matanya telah terkuras habis hingga ia tak sanggup lagi untuk menangis,kini ia lebih memilih pasrah dan menyerahkan semuanya kepada sang pemilik kehidupan.


Tak sampai menghabiskan waktu lama,Satria dan yang lainnya sudah tiba di depan pintu kamar hotel,ia sengaja memesan tiga kamar yang bersebelahan agar lebih nyaman dan mudah untuk bertemu.


" Ini kamar Mentari,ini kamar Alvi,dan ini kamar Citra." jelas Satria setelah tiba di depan pintu kamar sambil menunjuk satu persatu kamar di hadapanya.


"Iya,aku memesan kamar yang standard."


" Kenapa tidak memesan kamar yang besar sekalian agar kita bisa tidur dalam satu kamar." protes Alvi.


" Kalian memiliki privasi masing masing,aku tidak mau kalian terganggu satu sama lain." jelas Satria.


" Mentari,jika kau takut tidur sendiri,sementara Aku dan Al tidak ada,kamu boleh tidur di kamar Alvi atau di kamar Citra." tambahnya lagi.


" Prifasi apa,bahkan aku dan Citra sudah sama sama tahu luar dan dalamnya." gumam Alvi yang masih belum mengerti maksud yang di jelaskan Satria.


Pria itu menghela nafas panjang,sebelum kembali bersuara.


" Kalian sudah sama sama menikah,tidak mungkin tidur satu kamar walau dengan pasangan masing masing,memangnya kalian mau duet,menunjukan keahlian dan kemampuan masing masing." seroloh Satria,dan kini Citra yang menghela nafas panjang.


" Bang!! dalam situasi seperti ini kau masih bisa memikirkan itu." gumam Citra sambil menggelengkan kepala.


Satria terkekeh sambil mengusap tengkuknya.


" Ya sudah kalian istirahat." titahnya.

__ADS_1


Alvi dan Mentari pun mengangguk dan lansung masuk ke dalam kamarnya masing masing,begitu juga Citra dan Satria,seperti biasa pria anak dua itu membantu menidurkan Cyra terlebih dulu sebelum kembali ke rumah sakit,Sementara Citra menyusui Sara,dengan tatapan kosong,menerawang jauh,fikirannya masih tertuju pada Faiz.


" Bun,apa yang kamu fikirkan?" tanya Satria sambil mengusap lembut wajah istrinya.


" Tanpa aku jawab,kamu pasti tau jawabanya." sahut Citra.


Pria anak dua itu pun mengangguk faham,setelah berhasil menidurkan Cyra ia beranjak lalu berpindah,merebahkan tubuhnya di belakang Citra.


" Jangan terlalu di fikirkan,itu akan membuat mu stres,dan itu akan berdampak pada asi mu." Satria memiringkan tubuhnya lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


" Aku tau,bang! tapi bagaimana aku bisa tenang." sahut Citra,sambil menggengam tangan Satria yang melingkar di perutnya.


" Aku mengerti,aku juga marasakan hal yang sama seperti mu,tapi untuk saat ini kita hanya bisa pasrah,dan jangan berhenti berdoa.serahkan semua ini pada allah." Satria semakin menyeratkan dekapan dan genggaman tangannya,Citra pun mengangguk.


" Ya sudah,aku akan kembali ke rumah sakit,jangan lupa setelah selesai menyusui Sara kau harus makan,aku akan pesankan makanan untuk kalian." Satria mulai mengecup pipi istrinya,kemudian beranjak.


" Hati hati, bang!" teriak Citra setelah Satria sudah membuka gagang pintu.


" Iya,kamu juga." sahutnya.


*****


Sementara dirumah sakit,seorang dokter dan beberapa perawat di sebukan dengan beberapa pemeriksaan setelah mendengar panggilan Al yang merasakan pergerakan dari Faiz beberapa menit lalu.


ayah dari si kembar itu tak bisa duduk tenang,berjalan ke sana kemari di luar ruangan dengan wajah yang penuh di selimuti rasa khawatir.


" Bagaimana,dok?"tanyanya saat dokter muncul dari balik pintu ruangan tersebut.


" Alhamdulillah,pasien sudah sadar dari masa kritisnya,mudah mudahan selanjutnya dia akan segera membaik."


" Bagaimana dengan patah tulangnya,apa masih bisa di sembuh kan?"


" Inshaallah,saya sudah memasang pen pada tulangnya,tapi mungkin perlu waktu yang cukup lama agar bisa kembali normal."


" Tidak masalah,yang penting dia sembuh." sahut Al dengan mata berbinar serta nafas yang lega.


Ia pun langsung masuk memastikan kembali kondisi Faiz,yang sekarang sudah bisa membuka mata walaupun masih berat dan belum terbuka lebar.


" Faiz,kamu dengar abang?" tanya Al,Faiz mengangguk kecil.


Pria itu tersenyum dengan air mata yang kembali berderai.


" kamu memang adik abang yang paling hebat,abang sudah yakin jika kamu akan kuat,abang sayang padamu,cepatlah sembuh,kita akan segera membawa Mentari ke pondok." ujar Al antusias,sementara Faiz hanya bisa kembali mengangguk namun kini di iringi dengan sedikit senyuman.

__ADS_1


__ADS_2