I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 42


__ADS_3

Obrolan masih berlangsung,Faiz tertawa girang saat mengetahui dirinya akan segera di nikahkan,ia membuka kain menutup wajahnya lalu merilik Mentari yang masih menundukan kepala.


" Bang Satria bawa Tari kesini,kenapa tidak bilang aku,aku jadi malu karena belum mandi dari kemarin." ucap Faiz seraya mengusap tengkuknya.


Mentari sempat meliriknya,ia hanya mengulum bibirnya menahan tawa.


" Aku sengaja tidak memberitahumu,agar dia tau kamu bagaimana aslinya,mungkin selama ini dia hanya melihat mu saat mengenakan jas dokter,tapi Mentari lihatlah sekarang,dokter Faiz mu itu terlihat seperti bocah baru selesai di sunat." Satria menunjuk Faiz memperhatikannya dari atas hingga bawah,ia menggelengkan kepala merasa tak habis fikir.


" Cinta itu buta,kalau sudah cinta,ya cinta,mau bagaimana lagi."sahut Al,semua orang tertawa sinis,Mentari merasa terpojok,sama sekali tidak ada yang membelanya,bahkan Alvi dan Citra yang berada di sebelah samping kiri dan kananya ikut menertawakannya,semua yang terjadi di luar ekpetasi,ia begitu kecewa,gadis itu melirik Faiz yang hanya bisa diam,sama sepertinya.


" Mahar apa yang akan kamu berikan ?" tanya Abi seketika, membuat semua orang menghentikan tawanya, Faiz gelagapan,kini matanya melirik pada ke tiga kakaknya yang sama sama menatapnya hendak menanti jawaban.


" Bagaimana ini,aku bahkan tidak punya cukup uang,tabungan ku habis setelah di pakai membeli ponsel baru untuk Tari." gumamnya dalam hati.


" Mungkin hanya seperangkat sholat,Bi." ucap Faiz ragu,Abi hanya menggelengkan kepala tak menyangka.


" Kamu mau mempermalukan keluarga, walaupun dia tidak memberatkan mu,tapi laki laki yang baik akan memberi yang terbaik untuk calon istrinya." ucap Abi.


" Tapi,Bi! Faiz belum ada biaya." lirih Faiz jujur sambil menundukan kepala.


"Kalau begitu pernikahan nya batal, Masih kere sok so'an mau nikah,mau di kasih makan apa istri kamu nanti,pekerjaan juga tidak punya." ledek Abi dengan suara yang masih terdengar lemas,namun mampu membuat Faiz ketar ketir.


Padahal pasangan suami istri sudah memiliki rizki masing masing,walau tak punya pekerjaan,asalkan mau berusaha dan berdo'a insyaallah allah akan mencukupi dengan caraNya.

__ADS_1


" Hmmmm,,Tari! kamu mau mahar apa?" tanya Faiz sambil menatap gadis di hadapannya,yang hanya terhalang sebuah meja,berharap calon istrinya akan meminta sesuatu yang masih mampu ia berikan.


Nampak Citra dan Alvi membisikan sesuatu di telinga kiri dan kanannya,matanya seketika membulat sempurna,gadis itu menatap Faiz dengan perasaan iba,rasanya sulit untuk menjawab,namun Faiz masih menunggu jawabannya.


" Aku mau pondok bambu berlantai tiga, yang di bangun di tengah tengah perkebunan strawberry, yang luasya 10 hekter." ucap Mentari lemas karena merasa terpaksa,ia benar benar sudah merasa tertekan,belum menjadi bagian dari keluarga saja sudah terpojokan,bagimana jika nanti sudah jadi? manolognya.


Faiz membulatkan mata,kali ini sorot matanya melirik pada Alvi dan Citra,wanita yang sempat ia cintai kini terlihat sangat menyebalkan,bahkan ia begitu muak,apalagi dengan senyum devilnya,mungkin ia sudah terkontaminasi oleh sang suami yang berwajah kaku,dan terkadang ucapannya pun terdengar tajam,setajam silet.


" Kau tidak perlu mengikuti apa yang mereka bilang,aku ingin memberi mahar untuk mu, bukan untuk mereka,jadi katakan saja apa yang kamu mau,aku yakin kamu tidak akan meminta yang macam macam,jika kamu mengikuti ucapan mereka,lama lama kau akan ikut gila juga,bisa bisa nanti kau akan meminta unta arab juga." seloroh Faiz dengan kesal.Membuat Alvi mati kutu,ia terkekeh sambil merilik sang suami yang memang selalu marah jika membahas tentang unta arab.


"Kenapa jadi aku sasarannya." lirih Alvi


"Kamu terlalu tegang,Faiz! aku kan hanya bercanda." Alvi tergelak dan tidak lama semua orang ikut tergelak.


" Faiz ku sudah kembali banyak bicara." Al menepuk bahu adiknya beberapa kali.


" Maaf,kami hanya bercanda,kami hanya ingin menguji kesabaran mu dan calon istri mu juga." sahut Haikal.


" Kalian tidak lucu." Faiz merajuk,namun mereka tidak menghiraukannya,dan malah beralih pada Mentari yang kini menatap mereka dengan heran.


Umi yang sedari tadi memilih diam langsung menghampirinya,lalu duduk setelah Citra memberinya ruang.


" Maaf ya, Nak! mereka memang sudah keterlaluan." ucap Umi sambil mengusap punggung Mentari,senyumnya bergitu hangat membuat Mentari terbuai.

__ADS_1


" Faiz sudah mengira ini semua rencana kalian,Abi tidak mungkin bicara seperti itu,Umi juga tidak membela ku,Umi dan Abi pasti sudah kalian hasut." sungut Faiz membuat semua orang tertawa.


" Maaf,Abi tidak bisa menolak." balas Abi.


" Abi sama saja." lirih Faiz sambil membuang muka.


" Sudah sudah,kalian pasti sudah lapar,kita makan sekarang setelah itu kalian istirahat." ujar Umi sambil melirik Citra dan Mentari.


Semua orang menutujui,karena waktu sudah menjelang sore dan mereka telah melewatkan jam makan siang.


"Mentari! Orang tua mu tinggal dimana,Nak?" tanya Umi di sela sela makannya.Mentari bergeming,ia berhenti mengunyah,lalu menatap pada Faiz,setelah mendapat anggukan dari calon suaminya,gadis itu mulai membuka suara.


" Maaf,Bu! orang tua saya sudah meninggalnya." jawab Mentari lirih,ia menarik nafas dalam dalam,menyiapkan diri untuk pertanyaan selanjutnya.


" Innalillahi,,yang sabar ya,Nak! maaf Umi tidak tau." umi merasa tidak enak,sementara Mentari tetap tersenyum dan menganggukan kepala.


" Tidak apa apa,Bu." ucapnya.


" Lalu kamu tinggal dengan siapa?" tanya Umi lagi.


" saya tinggal bersama teman satu kontrakan,saya hanya memiliki seorang Bibi dan Ibu serta kakak tiri,tapi mereka tinggal jauh dari sini." jelas Mentari lagi,namun kali ini ia menundukan kepala,seraya menahan air mata agar tidak terjatuh begitu saja,kala mengingat Ibu dan kakak tirinya,yang bahkan sampai sekarang ia tidak tau kabar mereka,semua orang terheran heran dengan perubahan sikap Mentari,mereka menatap Faiz hendak meminta jawaban.


"Ibunya meninggal saat melahirkannya,dia di besarkan ayah dan ibu tirinya tanpa kasih sayang, dia juga selalu mendapat perlakuan tidak baik dari Ibu dan kakak tirinya ,setelah ayahnya meninggal,dia di usir, dan untung saja temannya datang di waktu yang tepat,lalu dia membawa Mentari ke Bandung."jelas Faiz,semua orang menatap Mentari dengan perasaan iba,Umi kembali tersenyum sambil menggenggam tangan calon menantu termudanya.

__ADS_1


" Jangan khawatir,mulai sekarang kamu akan memiliki orang tua yang utuh,yang akan menyayangi mu sepenuh hati, Umi dan Abi serta abang dan Mbak yang ada di sini akan selalu menjaga mu,tidak usah sungkan pada kami,tapi kamu harus memaklumi kelakuan mereka yang terkadang memang menyebalkan." ucap Umi dengan tulus,Membuat Mentari tak bisa lagi menahan air matanya,ia semakin terisak,Alvi yang tengah duduk di sebalahnya langsung memberinya pelukan untuk menenangkan.


" Terimakasih banyak." hanya itu yang mampu ia ucap,selebihnya hanya isakan yang terdengar.


__ADS_2