I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 56


__ADS_3

Faiz masih berada dalam perjalanan yang sangat melelahkan, karena memakai kendaraan roda dua, tak bisa melewati jalan bebas hambatas,oleh sebab itu perjalanannya selalu terhambat macet serta jalanan yang tak semulus jalan tol,bahkan ia sudah menduga jika akan sampai di pondok tak sesuai dengan perkiraannya,setengah perjalanan masih nampak aman,namun selanjutnya ia mulai kelelahan dan mengantuk, hingga menyebabkan konsentarasinya sedikit terganggu,sampai tak menyadari lobang di tengah jalan ia terobos hingga menyebabkan motornya oleng,dan PRENGGG!!!


" Astagfirullah!!" Mentari tak sengaja memecahkan gelas yang berada di atas meja makan ,saat ia hendak membuatkan susu untuk baby Sara,gadis itu dengan segera memunguti pecahan gelas tersebut.


" Ada apa?" Citra langsung menghampirinya dengan panik.


" Maaf,mbak! aku sudah memecahkan gelasnya." ucap Mentari sambil menundukan kepala merasa bersalah.


" Kamu sendiri tidak terluka, kan?"


" Aku tidak apa apa."


" Syukurlah,ya sudah tidak apa apa,kalau begitu tolong bersihkan pecahannya ya! aku mau mandiin Cyra dulu." ucap Citra,sambil mengambil botol susu yang sudah di siapkan Mentari,setelah itu ia pun kembali ke kamar.


Sementara Mentari lanjut memunguti serpihan serpihan kecilnya.


Tiba tiba saja firasat tidak enak muncul dalam benaknya,bayangan Faiz yang selalu memenuhi fikirannya kembali muncul,namun saat ini ada perasaan berbeda,bukan lagi debaran yang menyenangkan yang selalu membuatnya tersenyum,namun bedaran yang malah membuatnya khawatir,dan tak bisa tenang.


" Dokter Faiz,apa yang terjadi." gumamnya,sambil menekan dadanya yang berbedar.


" Aauuu!!" pekiknya, merasakan perih di bagian jari telunjuknya yang sudah mengeluarkan darah,terkena goresan gelas pecah tersebut,gadis itu dengan segera membereskan pekerjaannya,lalu berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua dengan tergesa gesa.


Ia meraih ponselnya,mencoba menguhubungi pria yang sudah membuatnya tak tenang,namun malah oprator yang menjawab,membuat Mentari semakin khawatir,gadis itu berjalan hilir mudik kesana kemari,sambil mengenggam ponselnya,dan kembali mencoba menghubunginya lagi,namun hasilnya tetap sama.


" Ya allah,tolong lindungi dia." lirihnya dengan air mata yang sudah mengenang di pelupuk mata.


Sementara itu,Faiz yang sudah bersimba darah tergeletak di tengah jalan,langsung di larikan ke rumah sakit terdekat dengan kondisi tak sadarkan diri.


Lama berdiam diri di kamar,di selimuti rasa panik dan khawatir yang memenuhi dadanya,tiba tiba terdengar suara teriakan seorang pria memanggilnya dari bawah,gadis itu segera keluar lalu menghampirinya dengan berlari kecil.

__ADS_1


" Ada apa,Bang?" tanya Mentari semakin kalut,saat melihat Citra sudah terisak dalam dekapan suaminya.


" Kita pergi sekarang!" ucap Satria tanpa mau menjelaskan apa yang terjadi,membuat Mentari gugup,dan mematung tanpa bisa berbuat apa apa.


" Cepat, tunggu apa lagi! kita tak punya waktu." Satria sedikit membentaknya,karena pria itu pun telah merasakan hal yang sama.Mentari kembali tersadar, dengan segera membantu menggendong baby Sara tanpa perduli dengan penampilannya sendiri.


" Bun,sudah jangan menangis,aku yakin tidak akan terjadi apa apa pada Faiz." bisik Satria seraya mendekap sang istri dengan satu tangan,sedangkan satu tangannya lagi telah menggendong Cyra,membawa mereka ke dalam mobil.


Mentari semakin penasaran,saat melihat raut wajah dari Satria dan Citra,namun ia tak cukup berani untuk membuka suara dalam keadaan seperti ini.


" Bun!sudah jangan menangis,kamu hanya membuat ku semakin tak tenang dan tak bisa konsentrasi." cicit Satria,yang memang paling tak bisa melihat istrinya bersedih.


" Tapi aku khawatir,bang! apa ada kabar lagi dari rumah sakit?"


" Belum,tenang dulu,kita akan tau kondisinya setelah kita sampai di sana,tapi tolong berhenti menangis." ucap Satria seraya melajukan kendaraan dengan pikiran kacau.


Citra pun berusaha menghentikan tangis,menyeka air mata yang meluncur di pipinya,lalu mengenggam tangan kiri Satria yang kini tengah menggenggam rem tangan mobilnya,berusaha mencari kekuatan di sana,dengan segera Satria pun membalas genggamannya untuk menguatkan.


" Berdo'a lah,semoga tidak terjadi apa apa." ucapnya,berusaha untuk tetap tegar.


Perasaan Mentari semakin tak enak,dengan ragu ia pun menanyakan apa yang sejak tadi ia pendam dalam benaknya.


" Apa yang terjadi,Mbak?" tanyanya,pada Citra.


Namun Citra maupun Satria tak ada yang mau menjawab,Satria memilih bungkam,memberitahu pada Mentari bukan hal yang tepat untuk saat ini,itu hanya akan memperburuk suasana,memenangkan dua wanita bukan hal yang mudah,malah satu wanita saja tak bisa ia kendalikan ketika dalam situasi seperti ini.


Sementara di tempat lain,suasana hati mereka tak jauh berbeda dengan apa yang telah di rasakan Satria dan Citra,setelah mendengar kabar dari Satria tentang adik kesayangannya.Al sekeluarga langsung pergi menuju kota di mana Faiz mengalami kecelakaan,ia terpaksa harus meninggalkan Abi yang tiba tiba penyakit jantungnya kambuh setelah mendengar kabar tersebut.


" Umi,maaf Al harus pergi sekarang."

__ADS_1


" Tidak apa apa,Nak! pergilah,pastikan jika Faiz selamat."


" Iya,Mi! bang tolong segera bawa Abi kerumah sakit." Al beralih pada Haikal,melirik Abi yang tengah tertidur setelah meminum obat.


" Iya,kamu tenang saja,abang akan bawa Abi ke rumah sakit sekarang juga,kamu tidak usah khawatir,Umi dan Abi urusan abang." balas Haikal.


Akhirnya Al dan keluarga kecilnya pun pergi.


Berbeda dengan Citra,Alvi sedikit bisa mengendalikan diri,ia malah berusaha menenangkan sang suami yang kini tengah mengendarai mobilnya dengan perasaan kacau.


" Bi,tolong tenang! tidak baik mengendarai mobil dalam kondisi seperti ini." ucap Alvi sambil mengusap lengan Al.


" Bagaimana aku bisa tenang,sayang!" balas Al dengan mata yang mulai berkaca kaca serta hidung yang merah karena air mata yang tak bisa ia bendung lagi,ayah dua anak itu menangis dalam diam tanpa mengeluarkan suara.


" Aku mengerti,aku juga marasakan hal yang sama dengan mu,tapi kamu harus bisa menjaga keselamatan kita juga,lihat anak anak di belakang,mereka ketakutan." ucap Alvi,berhasil membuat Al sedikit mengurangi kecepatan,melirik istri dan anaknya sekilas.


" Maaf sayang,ayah tak bermaksud menakuti kalian." ucap Al sambil menatap si kembar dari balik kaca spion.


Hingga akhirnya setelah menempuh jarak yang cukup jauh,mobil Satria tiba di parkiran rumah sakit,mereka langsung turun dan berjalan dengan langkah lebar menuju ruang UGD.


Setelah bertanya pada perepsionis tentang keberadaan Faiz,mereka pun berjalan menuju ruang dimana Faiz di tangani.


" Apa yang terjadi pada dokter Faiz?" tanya Mentari,saat tak sengaja mendengar pertanyaan Satria pada resepsionis tadi.


Pria anak dua itu menatapnya dengan tatapan iba.


"Faiz kecelakaan,tapi tenanglah,tidak akan terjadi apa apa pada Faiz." jawab Satria.


Hingga akhirnya mereka sampai di depan ruang oprasi.

__ADS_1


Seketika beberapa fikiran buruk melintas begitu saja,kondisi Faiz pasti sangat mengenaskan hingga harus masuk ke tempat menyeramkan seperti itu.


Mentari tak bisa lagi menahan air matanya,ia menangis terisak,duduk di kursi panjang sambil menunduk menutup wajahnya dengan telapak tangan,punggungnya nampak bergetar.


__ADS_2