
Waktu menunjukan pukul 22.00 ,Mentari dan Zoya bergegas untuk segera pulang,begitu pun dengan Faiz yang kini tengah berada di parkiran.
Entah apa yang mereka bicara kan,hingga Kekehan halus dari keduanya terdengar jelas oleh Mentari yang sama sama berada di parkiran.
Sambil menunggu Zoya mengeluarkan motornya,Mentari yang merasa penasaran akhirnya memutar badan nya ke arah suara di belakangnya,seketika bola matanya melebar,dengan mulut terbuka, tak sanggup berbicara sepatah katapun ketika melihat pria yang selama ini ia rindukan berada di hadapannya tengah asyik bersenda gurau dengan seorang gadis,tanpa menghiraukannya.
" Mentari ayo!!" Ajak Zoya dengan suara yang cukup keras,hingga Faiz pun mendengarnya dan langsung meliriknya.
Mentari menyembunyikan kegugupannya,dan langsung menaiki motor.
" Mentari!!" teriak Faiz setelah yakin jika yang di lihat nya adalah Menterinya, ia berusaha mengejar Mentari namun sayang, Laras sudah menarik tangannya dan mengajaknya untuk segera pergi.
Sepanjang perjalanan, Faiz merasa tidak enak,perasaanya menjadi kacau hingga konsentrasinya sedikit buyar, melihat wajah Mentari yang sekilas menampakan kekecewaannya.Sungguh ada perasaan sesak di dalam hatinya.
" Faiz ada apa,kau mengantuk?" tanya Laras sedikit takut,saat Faiz menghadang polisi tidur beberapa kali.
" Tidak ,maafkan aku sudah membuat mu tidak nyaman."
" Hati hati,sebaiknya pelan pelan saja." ujar Laras.
Sementara Mentari sudah tidak bisa menahan kekecewaannya lagi,ia melampiaskanya dengan sebuah tangisan,gadis itu terisak di balik punggung Zoya.
Membuat Zoya panik dan bingung,tanpa bertanya wanita Jadi jadian itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai.
" Kau kenapa?" tanya Zoya yang sejak tadi memendam rasa penasarannya,saat mereka baru sampai di parkiran motor,di area bangunan kontrakan.
Mentari tidak menjawab,gadis itu langsung melangkahkan kaki dengan mata dan hidung yang memerah.
Melanjutkan tangisanya,setelah sampai di kontrakan, gadis itu menekan dadanya yang terasa sesak,dengan suara tercekak.
" Zoya hatiku sakit sekali." lirihnya tanpa menghentikan isak tangisnya.
" Kau kenapa?" Zoya nampak panik sambil mengusap punggung Mentari.
" Dokter Faiz Zoya,dia di sini!!" ujarnya lagi dengan penuh penekanan.
__ADS_1
" Lalu kenapa kau menangis,apa yang sebenarnya terjadi,bukan kah kau sangat ingin bertemu denganya?"
" Tapi dia menghianati ku."ucap Mentari lantang,seolah menghempaskan semua rasa sesak yang terpendam dalam hatinya sejak tadi,setelah itu ia membenamkan wajahnya di balik bantal.
Cinta adalah anugerah tuhan untuk membuat perasaan hambaNya menjadi bahagia,jatuh cinta adalah jatuh yang paling menghangatkan dalam hidup,jatuh Cinta membuat dunia terasa penuh warna,berbahagialah ketika jatuh cinta,karena di situlah kamu akan memberikan yang terbaik untuk hidupmu.
Namun terlalu antusias menyiapkan hati untuk menyambut Cinta,hingga tak menyadari untuk menyiapkan kekuatan jika patah hati,memang kesalahan terpatal.
Karena patah hati bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja,karena besarnya cinta,terkadang patah hati akan sangat sulit di lalui.
Maka dari itu,kesenangan cinta hanya berlangsung sesaat,rasa sakit cinta akan berlangsung seumur hidup.
Hanya waktu yang bisa menyembuhkan hati yang hancur,sama halnya dengan waktu yang dapat menyembuhkan lengan dan kaki yang patah.
Sepanjang malam Mentari tersedu,meluapkan semua kesedihan dan kekecewaannya saat itu juga dan berharap hari esok akan lebih baik.
" Sudah aku bilang jangan terlalu percaya pada laki laki yang bahkan baru kamu kenal,jangan hanya di lihat luarnya saja,tapi pastikan juga dalamnya,ingat cinta mu sangat berharga,kau harus bisa memberikannya pada orang yang tepat." Zoya masih setia menemani Mentari,sambil terus memberi nasihat bijak.
"Sudahlah, Jangan sia siakan air mata mu untuk menangisi pria yang tidak bisa menghargaimu." ucapnya lagi.
Semakin lama,akhirnya Mentari bisa lebih tenang,air matanya seakan menyusut. Gadis itu mengangkat wajahnya yang sembab,menatap Zoya dengan sendu.
" Aku akan memasak mie instan." Zoya mulai beranjak.
" Tambahkan cabe yang banyak,aku ingin melampiaskan kekesalan ku." tambah Mentari.
Dan akhirnya semangkuk mie instan siap di hidangkan,Mentari memakannya dengan lahap,panas dan pedas serta aroma yang kuat dari kuah cabe yang tercium tajam tak sebanding dengan panas hatinya saat ini.
" Aku tau kau memang wanita yang kuat." ujar Zoya merasa takjub.
" Aku hanya menjalankan pesan dokter Faiz untuk selalu menjaga diriku baik baik,tapi dia malah tidak bisa menjaga hatinya sesuai apa yang pernah aku pesan padanya,setidaknya aku sudah bertemu dengannya sekarang,dan aku tau mau di bawa kemana hubungan ini." lirih Mentari,sedetik demikian air matanya kembali menetes, namun gadis itu segera menyekanya.
" Aku bersyukur telah di pertemukan dengannya secepat ini,mungkin Allah tidak ingin membiarkan ku mencintainya lebih lama dan lebih dalam lagi,dan aku yakin Allah telah merancang yang terbaik untuk ku." Mentari mencoba tersenyum.
Zoya pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanannya,Mentari kembali merebahkan tubuh ,lalu berusaha memejamkan mata.
Dengan tubuh dan perasaan yang lelah,akhirnya ia bisa terlelap dengan cepat.
Hingga menjelang pagi,seperti biasa Lutfi selalu menunggu terbitnya Mentari,bukan dari timur,melainkan dari kontrakan di seberangnya.
Namun Mentari yang ia tunggu tak juga menampakan cahayanya,ia melirik jam di pergelangan tangannya,tidak biasanya pintu itu masih tertutup, perasaannya menjadi gundah tak karuan hingga tak enak diam,Dan akhirnya iapun memberanikan diri,berjalan melewati beberapa pintu kontrakan hingga sampailah ia di depan pintu kontrakan dimana Mentari tinggal.
" Mentari!! kau kenapa?" suara Zoya terdenggar menggema dari balik tembok kontrakan,membuat pria itu semakin penasaran,dan langsung mengetuk pintu.
" Assalamu'alaikum,,kak Zoya!!" ucapnya.
" Wa'alaikumsalam!!" sahut Zoya yang langsung membukakan pintu.
" Ada apa?" tanya Lutfi saat melihat wajah panik dari Wanita jadi jadian itu.
" Mas Lutfi, tolong Mentari!!" ujarnya seraya menunjuk gadis yang masih terbaring di atas tempat tidur nampak tak sadarkan diri.
Lutfi pun ikut panik,namun ia malah memalingkan wajah tak berani mendekati atau melihat Mentari yang kini tak memakai hijabnya.
" Kak Zoya,tolong pakaikan dulu jilbabnya ! aku tidak mau menambahkan dosa untuknya karena sudah memperlihatkan auratnya pada ku." titah Lutfi.Pria itu terlihat semakin gugup saat tidak sengaja melihat kondisi Mentari tanpa hijab,tak bisa ia pungkiri,rambutnya yang terurai dan berantakan tak mengurangi aura kecantikan dari gadis itu.
" Sudah." ucap Zoya.
" Kita bawa kerumah sakit,tolong pesankan taksi online!" titah Lutfi lagi.
Setelah taksi yang di pesannya sampai,mereka berdua segera mengangkat tubuh Mentari.Namun sebelum itu Lutfi terlihat menengadah sambil mengangkat tangannya.
" Ya allah maafkan aku,bukan maksudku untuk menyentuhnya,aku hanya ingin menolongnya saja." ujarnya membuat Zoya menahan tawa.
" Wajah yang terlihat playboy ternyata polos juga." gumamnya dalam hati.
Lutfi dan Zoya membawa Mentari yang masih tak sadarkan diri dan nampak lebih pucat ke sebuah klinik.Setibanya di sana Mentari langsung di bawa ke ruang UGD untuk pemeriksaan.
" Kalian tunggu di sini,biarkan dokter memeriksanya dulu!" ujar seorang perawat.
__ADS_1
Faiz yang baru saja tiba langsung di kejutkan oleh kehadiran Zoya dan Lutfi di depannya.
" Pak dokter, tolong sembuhkan teman saya." ujar Zoya,sambil mengatupkan telapak tanganya,pria itu pun mengangguk lalu mulai melangkahkan kaki,berjalan dengan sangat gagah,memasuki ruang UGD di ikuti seorang perawat di belakangnya