
Esok harinya selepas mengajar santri,dua Al serta kedua anaknya pamit pada semua keluarga,hendak menemui Satria dan Citra yang berada di luar kota.
Perjalanan 6 jam lewat jalur darat begitu terasa melelahkan,mereka bahkan beberapa kali harus berhenti dan beristirahat di rest area.
Shafa dan Marwah tak henti henti berceloteh,membuat perjalanan mereka semakin berwarna.
Entah faktor keturunan atau pun bukan,Lemparan kata kata pedas dari mulut kecil mereka terus terucap untuk sang ayah, Al dengan besar hati menerimanya,namun sesekali menegurnya ketika sang anak mengucapkan kata yang tak pantas.Seperti anak kecil pada umumnya Shafa dan Marwah selalu mengikuti apa yang di ucapkan orang sekitarnya,terlebih, kali ini mereka sudah masuk sekolah,dan bergaul dengan banyak anak,meskipun didikan yang sudah orang tuanya ajarkan di rumah selalu di ta'ati, namun tetap saja pengaruh luar lebih kuat.
Dan orang tua lah yang berperan penting bagi setiap pertumbuhan dan prilaku anak anaknya,begitu juga dua Al yang tak henti hentinya menasehati sang buah hati agar menjadi yang terbaik.
Meskipun begitu dua bocah itu memiliki karakter sifat yang berbeda.
Marwah lebih banyak diam dan jarang bicara,namun sekali di usik atau ada yang membuatnya tidak nyaman,anak itu akan langsung mengatakannya,tanpa ada yang di tutupi.
Sedangkan Shafa,lebih aktif dan ceria,namun sedikit tertutup,hanya orang tertentu yang bisa memahaminya.
" Ayah kenapa lama sekali,aku sudah tidak sabar ingin bertemu Cyra." rengek Marwah kesal,sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Sebentar lagi sampai sayang,sabar ya,orang sabar di sayang?"
" Allah." sahut si kembar.
" Pintar!!" seru Alvi sambil memberi tepuk tangan.
Hingga akhirnya mereka sampai di depan gerbang rumah dua tingkat,tanpa menunggu lama pemilik rumah itu pun membukakannya.
Mobil yang di kendarai Al langsung masuk,dan berhenti di sebuah halaman,yang tidak terlalu luas namun masih nampak nyaman.
Si kembar langsung berhambur turun dari mobil setelah melihat Cyra menyambutnya di depan pintu.
" Bagaimana kabar kalian?" tanya Satria sambil memeluk sahabatnya yang kini sudah jarang bertemu.
" Kami baik,kalian di sini bagaimana?" tanya bali Al.
" Kami juga baik." sahut Satria.
" Citra dimana,Bang?" tanya Alvi.
" Di kamar mungkin sedang istirahat,kami baru pulang dari klinik." setelah mendapat jawaban dari Satria,Alvi langsung masuk dan berjalan menuju kamar tamu yang kini di sulap menjadi kamar utama,karena Citra yang hamil besar serta Cyra yang masih kecil tidak bisa naik turun tangga.
" Assalamualaikum!!" sapa Alvi sambil membuka pintu kamar di mana Citra berada.
__ADS_1
" Waalaikumsalam."
" Bestie!!!" teriak Alvi sambil merentangkan tangan, berhambur pada wanita yang tengah menyenderkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
" Al,gimana kabar Lu?" tanya Citra sambil memeluk sahabatnya.
" Sssssttt,,gue baik." bisik Alvi sambil mengacungkan jari telunjuk nya di bibir agar tak di dengar si kembar.
" Ups,,maaf aku lupa." ujar Citra setelah menyadari kebobrokan mereka yang selama ini terpendam karena terhalang jarak.
" Gemesnya!!! namanya siapa?" tanya Alvi sambil meraih tubuh kecil putri ke dua Satria dan Citra, yang tengah tertidur pulas di dalam box bayi.
" Sara." sahut Citra dengan cepat,membuat Alvi terbahak saat mendengarnya.
" Lagi lagi di ambil dari nama kalian,kenapa gak Sacit, Rata,atau Tria sekalian." protes Alvi.
" Tria nanti,anak ketiga." sahut Citra lagi,dan kini berhasil membuat Ibu si kembar itu melongo.
Bagaimana bisa, jahitan saja belum sembuh sudah memikirkan anak ke tiga.Alvi menepuk jidatnya.
******
" Bagaimana kabar Faiz?" tanya Al ketika dua papa muda itu duduk di bangku taman,sambil mengawasi anak anaknya.
" Apa kamu tau di mana rumahnya,aku ingin sekali menemuinya."
" Aku tau,kita bisa pergi ke sana sekarang." ucap Satria yang langsung di angguki Al.
Mereka pun beranjak,dan siap untuk pergi.
Al pamit pada istrinya, begitu juga dengan Satria,Sementara Alvi tidak bisa ikut karena harus menemani Citra.
" Ayah,kami ikut!!" teriak Si kembar sambil berlari kecil mengejarnya.
Mau tidak mau Al pun mengajaknya,begitu juga Satria yang tidak tega melihat anaknya hanya diam sambil menatap tak mengerti pada si kembar yang sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil.
" Cyra mau ikut?" ajak Satria,batita dua tahun itu pun tertawa sambil mengangguk.
Tidak lama,mobil yang di tumpangi dua papa muda serta anak anaknya pun sampai di sebuah bangunan kontrakan berlantai dua,Al memarkirkan mobil mewahnya di parkiran,kedatangan mereka begitu mencolok hingga semua tatapan para penghuni tertuju padanya,apalagi saat kedua pria itu keluar dari dalam mobil,aura ketampanannya beribu ribu kali lipat, membuat semua para wanita tua dan muda tak berkedip,hingga para bidadari pun lupa diri,namun tatapan mata mereka berubah saat tiga kurcaci keluar,tatapan antusias mereka berubah menjadi sebuah tatapan yang sulit di artikan antara takjub dan prihatin ,apalagi saat satria menggendong Cyra dan Al menggandeng si kembar,beberapa dugaan keluar dari benak mereka yang melihatnya.
" Mungkin mereka duda,lagi nyari mama baru." bisik bisik tetangga mulai terdengar.Menyadari jika para menghuni kontrakan lebih banyak gadis dan bujang lajang yang tengah tengadu nasib.
__ADS_1
" Kamu yakin Faiz tinggal di sini?" tanya Al dengan memutar sorot matanya,memperhatikan semua yang di lihat nya.
" Sepertinya begitu,lebih baik tanyakan saja." Satria mulai melangkahkan kaki menuju sebuah warung.
Setelah mendapat informasi,ia pun kembali menemui Al yang memilih untuk menunggunya di luar mobil.
" Benar,Faiz tinggal di sini." ujar Satria.
Kedua papa muda itupun mulai berjalan,tanpa menghiraukan tatapan banyak orang,mencari kamar kontrakan yang sudah di tunjukan pemilik warung tadi.
Tidak lama akhirnya kamar yang di cari pun berhasil di temukan dengan keadaan pintu tertutup.
Al mencoba mengetuk pintu tersebut namun tak ada sahutan,hingga beberapa kali akhirnya ada sahutan,namu bukan dari pintu yang di maksud melainkan dari pintu sebelah.
Zoya keluar,seketika matanya membulat saat melihat kedua pria tampan berdiri di hadapannya,apalagi saat ia melihat Satria,laki laki yang pernah membuatnya pesanaran,Sementara Satria sendiri berkidik ngeri sambil menyembunyikan diri di balik tubuh sahabatnya.
" Maaf permisi." ucap Al berhasil menyadarkan Zoya.
" Heh,, iya ada apa mas?" tanya Zoya dengan lemah gemulai.
" Maaf,apa benar ini kamar Faiz?" tanya Al dengan tubuh gemetar,yang pastinya bukan getaran Cinta.
" Iya,ini kamar dokter Faiz,tapi dia sedang keluar,mungkin sebentar lagi pulang." ujar Zoya.
" Ya sudah terimakasih." ucap Al, setelah itu mereka pun pergi sebelum menunggu jawaban pria tulang lunak itu.
" Kalian bisa tunggu di sini." teriak Zoya.
" Tidak terimakasih." sahut Satria yang sudah terbirit birit melarikan diri.
Si kembar dan Cyra tergelak,saat Al dan Satria membawa mereka berlari,mereka fikir ayahnya tengah mengajaknya main.
" Kenapa kamu lari,bukannya kalian saling kenal?" tanya Satria pada Al,dengan nafas ngos ngosan.
" Enak saja,kenal dari mana?" Balas Al,membuat Satria memicingkan mata curiga.
Sambil menunggu Faiz,mereka pun duduk si sebuah warung kopi di lantai bawah, mengistirahat tubuhnya yang terasa lelah,Sementara si kembar dan Cyra masih nampak anteng dengan jajanan di hadapannya.
*****
Hayooo, ,Ada yang tau kenapa Zoya bisa penasaran sama Satria...
__ADS_1
Yg udh datang ke pernikahan Satria pasti tau.😅😅