
Empat hari berlalu,akhirnya Abi sudah bisa kembali ke pondok,kondisinya sedikit lebih baik dari sebelumnya,bahkan Abi sudah bisa makan langsung lewat mulutnya, tak lagi memakai selang.
Faiz senantiasa merawatnya dengan sangat baik.
Sebenarnya waktu cuti sudah habis,seharusnya ia kembali ke kota saat ini juga,namun mengingat kondisi Abi yang masih memerlukan perawatan,akhirnya mau tidak mau ia memutuskan untuk mengundurkan diri,tak apa, pekerjakaan masih bisa di cari,namun kesempatan untuk merawat orang tua tak akan datang dua kali.
Pengunduran dirinya menjadi sebuah duka bagi para rekan dokter dan perawat,mereka begitu kehilangan sosok dokter dan teman yang selalu bersikap baik dan ramah,begitu juga yang di rasakan Laras,dokter cantik itu merasa kehilangan,namun setelah di fikir fikir,ini memang jalan yang terbaik,mungkin setidaknya rasa itu akan hilang dengan sendirinya karena tak lagi bertemu.
" Kamu yakin mau berhenti kerja?" tanya Al ketika kakak beradik itu tengah berbincang di taman belakang rumah orang tuanya.
" Yakin,bang!" sahut Faiz mantap.
" Lalu bagaimana hubungan mu dengan Mentari?"
" Masih baik baik saja." jawab Faiz lagi.
" Apa dia sudah memberi jawaban?"
" Belum." ucap Faiz lemas.
Al menggelengkan kepala,tidak mengerti dengan fikiran gadis itu,entah apa yang dia mau,padahal Faiz sudah sangat mengharapkannya.
" Apa dia benar benar mencintaimu atau hanya ingin mempermainkan mu saja?" tanya Al ragu,Faiz pun bergeming,saat ini ia juga tidak tau isi hati Mentari yang sebenarnya.
Sementara di tempat lain,Mentari masih nampak tak percaya,saat menerima kabar jika sang kekasih berhenti bekerja,itu artinya Faiz tidak akan kembali lagi ke sana.Padahal ia sudah berniat untuk memberi jawaban ketika Faiz kembali.
Tiba tiba Satria dan Citra datang menemuinya di sanggar,Mentari fikir pasangan itu kliennya,namun saat melihat bayi yang di gendonganya dugaan itu hilang,gadis itu menunduk sedikit gugup ketika mendapat tatapan tajam dari pria yang beberapa hari lalu bertemu dengannya.
Sementara Zoya nampak antusias saat bertemu dengan Satria untuk yang kesekian kalinya,pria bertulang lunak itu nampak gemas saat melihat otot otot yang menonjol di lengan Satria.
" Kita bertemu lagi,Bang!" ucap Zoya sambil mencolek lengan Satria,pria itu sedikit berkidik lalu menyembunyikan diri di balik punggung sang istri,sementara Citra hanya terkekeh baru kali ini ia melihat wajah suaminya yang tengah ketakutan seperti itu.
" Memangnya kalian pernah bertemu?" tanya Citra penasaran.
" Emang mbak lupa sama aku?" tanya Zoya balik.Citra memicingkan mata berusaha keras untuk mengingat.
" Dia asisten MUA waktu kita menikah." bisik Satria pada sang istri.
__ADS_1
" Oh.." Citra tersenyum sambil menganggukan kepala.
Begitu juga dengan Mentari,ia baru ingat jika pasangan suami istri itu salah satu klien nya dulu,yang sempat menganggu liburannya,karena saat itu ia terpaksa harus memenuhi permintaan seseorang secara mendadak.
"ternyata Abang masih ingat,aku jadi penasaran bagaimana malam pertama kalian,melihat tubuh yang seperti ini pasti istrinya kelabakan." goda Zoya membuat Citra terkekeh.
" Ya begitu lah,ini hasilnya." sahut Citra sambil memperlihatkan kedua anaknya.
" Wah,,sudah dua aja,emang gak di ragukan lagi sih."
Citra dan Zoya terlihat akur,mungkin lain lagi ceritanya jika Zoya seorang perempuan tulen,mereka terus berbincang tanpa mengingat tujuan utama datang ke sanggar itu.
" Bun! ngobrol nya nanti saja,kamu ingatkan tujuan kita ke sini untuk apa?" ujar Satria.
" Maaf aku lupa,nanti kita ngobrol lagi ya,say." Citra terkekeh sambil menepuk pelan lengan Zoya,setelah itu netranya berpindah melirik Mentari yang masih mematung tak jauh dari mereka.
" Bisa kita bicara sebentar?" pinta Satria.
Gadis itu hanya mengangguk,lalu mengikuti Satria dan Citra keluar.
" Perkenalkan,aku Citra,adiknya Faiz." ucap Citra seraya mengulurkan tangan.Saat mereka sudah duduk di sebuah kursi kecil yang saling berhadapan di halaman sanggar,Mentari mengerutkan kening tak mengerti " bagaimana bisa adiknya dokter Faiz,menikah dengan kakaknya." gumamnya dalam hati.
" Maaf jika kedatangan kami menganggu pekerjaan mu." ucap Citra.
" Tidak apa apa." sahut Mentari,dan akhirnya mereka pun bicara langsung ke intinya.
" Aku ke sini untuk menanyakan jawaban mu,sepertinya kami sudah cukup memberi mu waktu,jangan membuat kami menunggu lagi,Faiz sudah sangat mengharapkan mu,jika aku bisa memohon, tolong jangan kecewakan dia." kini Satria yang buka suara.
Mentari kembali menundukan kepala,tak lama kemudian akhirnya ia pun mengangguk.
" Aku bersedia untuk menikah dengan nya." ucap Mentari yakin.
Pasangan suami istri itu tersenyum dengan mata berbinar.
" Terimakasih,aku yakin kamu wanita yang tepat untuk Faiz." Citra menganggem tangan Mentari.Ia begitu terharu,akhirnya Faiz menemukan cintanya lagi,setelah sekian lama di hantui rasa bersalah karena tidak menyadari perasaan Faiz padanya,walau pun jikalau ia tau,mereka tetap tidak bisa bersama.
" Kalau begitu,kamu mau kan ikut dengan kami menemuinya di sana?" tanya Satria penuh harap.
__ADS_1
" Sekalian kenalan dengan keluarganya." tambah Citra.
" Maaf,aku harus meminta izin dulu pada bi Susi." ujar Mentari.
" Baiklah,jika kamu sudah siap hubungi aku,besok lusa kita berangkat,tapi ingat jangan beritahu Faiz tentang ke datangan mu." ucap Satria sambil menyerahkan kartu namanya.Setelah itu mereka pun pamit.
Mentari kembali ke dalam sanggar,matanya berkeliling mencari sosok bi Susi yang kini telah duduk santai dengan Zoya.
Mentari menghampiri mereka dengan ragu,ia takut jika bibinya itu tidak akan mengizinkannya pergi.
" Mentari,sini duduk! Zoya bilang kamu kedatangan tamu,siapa mereka?" tanya bi Susi setelah menyadari keberadaan Mentari.Sebenarnya ia sudah tau sedikit tentang masalah Mentari dari Zoya,namun ia masih ingin mendengar langsung dari Mentari.
Gadis itu pun langsung menghampirinya dan duduk di sebelah bi Susi.
" Mereka saudara nya dokter Faiz." ucap Mentari sedikit gugup.
" Siapa dokter Faiz?" tanya Bi Susi penasaran.
" Dia kekasih Mentari." sahut Zoya,Bi Susi langsung tersenyum sambil mengelus kepala Mentari.
" Ada perlu apa mereka ke sini?" tanya bi Susi lagi.
" Maaf Bi,Tari tidak memberitahu bibi sebelumnya tentang hal ini,sebenarnya mereka sudah meminta kami menikah."
" Bagus dong,itu memang lebih baik,kalau kamu sudah yakin jika dokter Faiz mu itu lelaki yang tepat,segeralah menikah,agar ada yang bisa menjaga mu.bibi juga tau mereka keluarga yang baik,bibi yakin kamu akan bahagia berada di tengah tengah keluarga itu." ujar bi Susi yang memang sedikit tau tentang keluarga Al,dukungan dari bi Susi memberi angin segar untuknya,ternyata apa yang dia khawatirkan tidak benar.
" Baik,Bi! terimakasih." Mentari memeluk bi Susi,satu satunya orang tua yang ia miliki saat ini.
" Jangan lupa kenalkan dokter Faiz pada bibi." ucap Bi Susi lagi,yang langsung di angguki Mentari.
"Tapi maaf bi,apa Tari boleh menemuinya di rumahnya,saat ini dia sedang merawat orang tuanya yang sakit."
" Di rumahnya? itu berarti kamu akan pergi ke pondok pesantren itu?" tanya bi Susi,Mentari bergeming sesaat.
" Mungkin,Tari juga tidak tau,perasaan dulu Tari tidak melihat dokter Faiz di sana." ujar Mentari.
" Ya sudah kalau begitu,bibi tidak akan melarang,yang penting kamu bisa jaga diri." Mentari tersenyum,dan kembali memeluk bi Susi.
__ADS_1
" Terimakasih, Bi!" lirihnya.