
Lama menunggu,akhirnya seorang dokter di ke luar dari balik ruang oprasi tersebut dengan menghembuskan nafas lega,walaupun ruang tersebut di lingkupi banyak pendingin udara,namun proses oprasi yang menegangkan membuatnya mengeluarkan banyak keringat.
"Keluarga dari saudara Muhammad Faiz Aljalari!" panggilnya.
Ketiga orang itu langsung berhambur menghampirinya.
" Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Satria.
" Pasien mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya,tapi yang cukup parah di bagian kepala dan kakinya,karena mengalami benturan yang cukup keras,hingga menimbulkan tulang tengkoraknya pecah,tapi untungnya tidak sampai mengenai organ dalamnya,sementara tulang kakinya patah,saya sudah berusaha menanganinya dengan baik,mudah mudahan dia bisa segera pulih,dan tidak terjadi sesuatu yang serius setelah ini." jelas sang dokter.
" Kami bisa melihatnya sekarang?" tanya Citra.
" Tunggu sampai di pindahkan ke ruang perawatan." sahut dokter.
Mereka tak bisa kerkata apa apa, lidahnya terasa kelu,beberapa pertanyaan pun hanya tercekak di tenggorokan,setelah tidak mendapat pertanyaan lagi, dokter itu pun pamit.
Satria mengusap wajahnya dengan kasar,terkulai lemas tak bisa lagi menahan bobotnya,mendaratkan bokong di kursi panjang dengan perasaan kalut,begitu juga Mentari dan Citra,mereka berpelukan saling menguatkan satu sama lain,dengan isak tangis yang tak bisa di hentikan.
Melihat orang tuanya dalam keadaan hancur Cyra pun ikut menangis,dengan segera Satria menenangkannya.
" Ssssstttt,,jangan menangis ya, sayang!" ucap Satria sambil menggendongnya dan membawanya ke luar,sementara baby Sara masih terlelap di dalam stoller bayi,tanpa bisa perduli dengan keadaan.
__ADS_1
Sampai di halaman depan rumah sakit,Satria melihat mobil Al baru saja terparkir tak jauh dari tempatnya berada,pria kaku itu langsung melambaikan tangannya bertanda jika ia berada di sana,Al yang langsung menyadari keberadaan sahabatnya langsung menunjuk,memberitahu pada sang istri agar menghampirinya,Alvi dan si kembar pun langsung turun,sementara Al membenarkan posisi mobilnya terlebih dulu,agar terparkir dengan rapi sesuai intruksi tukang parkir.
" Bagaimana kabar Faiz,Bang?" tanya Alvi.
" Baru selesai di tangani dokter." sahut Satria.
Alvi pun mengangguk tak ingin banyak bertanya,menunggu sang suami untuk lebih lanjut.
" Cyra,kenapa menangis?" Alvi langsung mengambil alih dari gendongan Satria setelah Al berjalan menghampiri mereka.
" Bagaimana kabar Faiz." tanya Al dengan nafas tersenggal.
" Sudah di tangani,tinggal menunggu siuman." balas Satria,kemudian mereka pun berjalan bersama menuju tempat Faiz yang kini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
ia duduk di kursi kecil di samping brankar,sambil terus menggenggam tangan Faiz yang terasa dingin.
" Dok,aku mohon bangunlah!kau sudah berjanji akan menungguku,dan kita akan bertemu di pelaminan." lirihnya.
" Kau juga sudah berjanji untuk tidak meninggalkan ku dalam keadaan apapun,kau tau aku tidak punya siapa siapa lagi selain kamu,jika kamu pergi,lalu bagaimana dengan ku?" racaunya lagi tanpa menghiraukan Citra yang juga berada di dalam ruangan yang sama.
" Bangunlah,dok! hari bahagia kita sudah di depan mata,bukannya kau sudah mengharapkan itu sejak lama,aku sangat mencintaimu,izinkan aku membuktikan ketulusan ku,berikan aku kesempatan untuk menjadi istrimu,aku akan berusaha menjadi istri yang baik,sesuai yang kamu ingin kan,jangan tinggalkan aku dengan cara seperti ini,sungguh aku tidak sanggup." gadis itu menggenggam tangan Faiz sambil sesekali menciuminya,dan meletakannya di pipi.
__ADS_1
Hatinya begitu terpuruk atas kabar yang tak pernah terduga sebelumnya,firasat buruk yang sempat membuatnya khawatir kini menjadi kenyataan,pautan tangannya terlepas setelah kedatangan Satria dan dua Al.
Mentari beranjak,memberi tempat untuk Al,lalu ia berhambur pada Alvi yang kini sudah tak bisa menahan air matanya, padahal sebelumnya ia sudah menyiapkan diri untuk tetap tegar agar bisa menenangkan semua orang yang berada di sana,namun nyatanya air matanya pun lolos begitu saja,karena bagaimanapun ia tak bisa sekuat itu.
Bahkan Citra yang terkenal tegar dan pantang mengeluarkan air mata pun kini nampak rapuh,duduk di sofa dengan berderai air mata,sampai sesenggukan.
Sungguh begitu banyak orang yang menyayangi Faiz.
" Kamu yang sabar ya,Faiz akan segera siuman,tidak akan terjadi apa apa padanya,dia pria yang kuat,kamu tau itu kan? bujuk Alvi sambil memeluk Mentari dengan lembut.
Sementara Al,nampak bergeming,memperhatikan adik tercinta yang tengil dan selalu membuatnya emosi itu kini bagai seongok daging tanpa tulang,lemas dan pucat,namun tak dapat di pungkiri ia pun menangis dalam diam,terbukti dari punggungnya yang bergetar.
" Maafkan abang,Faiz! seandainya abang bisa lebih tegas,dan tidak selalu menuruti keinginan mu,mungkin kamu tidak akan sampai seperti ini,selama ini abang selalu mengalah dan menuruti semua keinginan mu,mengesampingkan rasa khawatir,karena abang percaya kamu sudah dewasa bisa menjaga diri dengan baik, dan abang sayang pada mu,abang ingin kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan sendiri,tanpa adanya campur tangan abang lagi, tapi kenapa akhirnya malah begini." gumam Al,mengingat kembali terakhir mereka berkomunikasi,hingga menimbulkan sedikit perseteruan,karena sikap keras kepala dari keduanya,saat Al kukuh ingin menjemputnya tapi Faiz kukuh menolaknya,dan akhirnya Al yang memilih untuk mengalah,membiarkan Faiz pergi sendiri mengunakan motornya.
"Kau menghancurkan kepercayaan abang,bukannya abang sudah bilang jika kamu masih kecil,kamu masih butuh abang!!" kini suaranya sedikit meninggi namun tertahan.
Ia duduk di kursi kecil yang sebelumnya Mentari duduki,mengusap kepala yang terbalut perban lalu sedikit membungkukan badannya,hendak mencium keningnya.
Ciuman penuh kasih sayang dari seorang kakak,untuk adik tercintanya.
" Bangun,Faiz! kamu tidak boleh melakukan ini pada kami,kami belum siap kehilangan mu untuk yang ke dua kalinya,tugas mu masih banyak,abang sudah mati matian menyiapkan pesta untuk hari bahagiamu,jangan kecewakan kami." ucapnya lagi dengan suara parau.
__ADS_1
Begitu juga dengan yang lain,ketiga wanita itu duduk di atas sofa yang sama,sambil menangis dalam diam,sementara Satria memilih keluar bertugas mengaja anak anak,menurutnya ia lebih kuat mengurus empat anak kecil sekaligus daripada harus melihat orang orang terdekatnya menangis,bukan tak perduli, tapi sungguh ia tidak pernah sanggup untuk melihatnya.