
Semua telah selesai,Mentari dan Bayinya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap,kehadiran bayi laki laki yang lahir depat jam 3 dini hari tersebut di sambut suka cita oleh semua pihak keluarga,Al nampak terkekeh ketika melihat ekpresi wajah keponakan barunya itu,begitu sangat menggemaskan dengan alis yang terpaut, serta tatapan nya yang tajam,juga jari tengah yang di acungkan.
" Astagfirullah,Kenapa tiba tiba aku jadi ingat Satria." gumam Al sambil menunjuk bayi di dalam box,membuat Faiz mendesis.
" Tidak perlu di jelaskan,Faiz sudah tau lebih dulu dari tadi." sahut Faiz,seolah menyetujui pendapat Al.
" Ini produk gagal,Tari! kita harus coba lagi." lirih Faiz,yang langsung mendapat pukulan dari Umi.
" Enak saja,kamu kira bayi ini hasil kupon undian,tak ingat bagaimana perjuangan istrimu tadi?" bentak Umi membuat Faiz terkekeh sambil memegang pundaknya yang meremang.
" Faiz hanya bercanda, Umi." gumamnya.
" Kalau produknya gagal, kembalikan saja ke pabriknya." ide konyol terlontar dari bibir seorang ustadz.
" Masalahnya walaupun bisa di kembalikan,tidak akan bisa di daur ulang." Faiz menimpali kekonyolan Al,membuat kedua pria itu semakin terlihat bobrok.
" Ada ada saja." Zahra dan kedua menantu Umi yang lain menggelengkan kepala.
" Memangnya kenapa kalau mirip Satria,dia juga tampan?" bela Umi.
" Kalau masalah tampan sudah jelas,dia mirip Faiz, tapi lihat saja ekpresinya wajahnya itu,baru lahir sudah ngajak ribut." protes Faiz.
Membuat semua orang terkekeh.
" Itu hanya kebetulan saja,Mas!" protes Mentari.
" Iya,aku tahu."balas Faiz sambil tersenyum,lalu mengusap kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
" Satria dan Haikal, sudah di beri tahu?" tanya Umi pada Al.
" Sudah,Mi,besok mereka akan ke sini."jawab Al.
"Syukurlah,ya sudah kalau begitu kita pulang dulu ini sudah mau subuh,anak anak santri pasti sudah nunggu Al,lagi pula kasihan anak anak di tinggal terlalu lama." ujar Umi, langsung di setujui anak dan menantunya.Umi,Zahra dan dua Al pun pamit pada Faiz dan Mentari.
Setelah kepulangan mereka Faiz mengampiri Mentari yang tengah duduk di atas brankar,pria yang kini sudah menyandang gelar ayah itu menggenggam dan mencium tangannya,menatap wanita yang kini sudah menjadi ibu tersebut dengan sangat lekat.
" Terimakasih,Tari! karena sudah hadir di hidup ku, dan melengkapi kebahagiaaku." ucap tulus Faiz,membuat Mentari tersenyum dan membalas genggamannya dengan satu tangan lainnya.
" Sama sama,Mas! terimakasih juga karena kau sudah mau menerima ku, memberikan ku cinta dan kebahagiaan yang melimpah,sejak mengenalmu dan masuk dalam hidupmu,hidupku jadi lebih berarti." balas Mentari.
" Aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik dan bertanggung jawab,agar bisa kalian banggakan."
" Kau memang yang terbaik,Mas!" Mentari mulai menitikan air mata,ia merentangkan tangan dan berhambur memeluk pinggang Faiz.
" Jangan menangis,seorang ibu tidak boleh bersedih." Faiz membalas pelukannya sambil menggusap punggung Mentari,ia lalu menangkup wajah sang istri dan mengecup seluruh inci di wajahnya.
Semakin lama,semakin dalam,Faiz menekan tubuh Mentari agar semakin rapat,tangannya mulai mengambil bagian,merayap menyusuri punggung,perut dan berakhir di dada yang kini terasa semakin montok.
Hingga akhirnya kegiatan mereka harus terhenti saat mendengar rengekan seorang bayi,Faiz sempat di buat frustasi, ia mengusap wajah menyadarkan diri dari khilafnya,lalu tersenyum sambil meraih tubuh mungil sang bayi dan membawanya pada sang istri.
" Mulai sekarang aku harus membiasakan diri untuk bisa membagi mainan ku." ujar Faiz,membuat Mentari terkekeh,ia langsung mengambil bayi tersebut dari tangan Faiz dan membuka sedikit kancing bagian dada dasternya untuk menyusui.
" Ini bukan mainan mu lagi,Mas! mulai sekarang kau harus bisa menyerahkan seutuhnya padanya." ujar Mentari membuat Faiz menggelengkan kepala dengan cepat.
" Mana bisa seperti itu,Tari!aku yang lebih dulu memilikinya,jadi itu milik ku." protes Faiz.
" Tapi dia lebih berhak,Mas!"
__ADS_1
" Tidak bisa, itu milik ku." kukuh Faiz tak mau kalah.
" Kau ini bagaimana,sih? dengan anak sendiri tidak mau mengalah,itu tidak akan lama,hanya sampai dua tahun saja." protes Mentari.
" Apa dua tahun? Oohh tidak bisa,bagaimana kalau setelah dua tahun dia punya adik,mainan ku akan di wariskan turun temurun." rengek Faiz,seperti anak kecil yang tak rela jika mainan kesayangannya di ambil orang.
" Kalau memang seperti itu,ya mau bagaimana lagi?" Mentari mengedikan bahunya.
" Dia bisa pakai susu lain,sedangkan aku...." Faiz mengatupkan bibirnya saat menyadari tatapan tajam dari Mentari.
" Sedangkan kamu apa? kamu mau cari yang lain juga?" tanya Mentari sambil menunjukan wajah galaknya,sontak membuat Faiz terkekeh salah tingkah,ia mengusap punggung Mentari berusaha menenangkan.
" Maksud ku bukan seperti itu sayang," ucapnya dengan lembut,namun nampaknya Mentari benar benar merajuk,ibu muda itu langsung menepis tangannya,sambil memalingkan wajah.
" Ya,ya sudah,maaf aku salah,aku akan mengalah,aku akan menyerahkan mainan ku padanya,tapi sampai kapan pun itu tetap miliku,di saat dia lengah,aku yang akan menguasainya." Faiz berusaha bernegosiasi.
" Terserah kau saja." ucap Mentari kesal,sambil sedikit mendorong tubuh Faiz,namun Faiz tak bisa menyerah begitu saja,ia terus membujuk sang istri agar tak marah, dengan menciumi pipi si kecil yang kini tengah belajar membuka mulutnya lebar lebar untuk memasukan sebagian jaringan areola,agar bisa menyusu dengan benar, melihat hal itu malah membuat Faiz semakin gemas,ia langsung menyambar dada bagian atas dan menyesapnya sesaat.
" Susah banget ya,sayang! sini biar papa ajarkan." ujar Faiz,yang langsung mendapat pukulan kecil dari Mentari.
" Iihh,,mas! bukanya bantu malah ngerecokin." protes Mentari,sambil memukul bahu Faiz.
" Aku gemes,Tari!" cicitnya.
" Hmmmm,,gini nih,kalau masih bocah sudah punya anak." gerutu Mentari,sambil menghela nafas.
" Enak saja,aku sudah dewasa tau." protes Faiz sambil memajukan bibirnya,membuat Mentari terkekeh.
" Iya deh, Papa." balas Mentari sambil mengacak rambutnya dengan gemas.
__ADS_1
TERIMASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..☺☺