
keesokan harinya Satria dan Citra,serta Haikal tiba,setelah menemui Umi dan semua anggota keluarga di pondok,mereka semua bergegas untuk segera menemui Faiz dan keluarga kecilnya di klinik,sesampainya di klinik mereka langsung naik ke lantai 3 dimana Mentari sudah di pindahkan ke kamar miliknya.
Ini pertama kalinya mereka semua menginjakan kaki di kamar rahasia milik Faiz,Citra dan yang lain begitu nampak antusias dan terkagum kagum dengan desain kamar tersebut,sangat sederhana namun masih terlihat rapi, dan tentunya sangat nyaman, anak anak langsung berhambur menuju kolam renang.
Haikal dan Satria turut bahagia,saat melihat bayi kecil hasil cocok taman sang adik,yang terlihat begitu menggemaskan,Satria bahkan tak sabar untuk mengendongnya.
" Kerja bagus,Bro!" ucap Haikal sambil menepuk bahu Faiz.
" Pastinya." balas Faiz bangga.
" Aku sempat melihat bayi Faiz sangat mirip dengan mu." ujar Al sambil menunjuk Satria yang kini tengah menggendong keponakan barunya itu,seketika Faiz menggelengkan kepala.
" Itu hanya kebetulan,Bang! lagipula bukan wajahnya yang mirip,tapi ekperesi wajahnya." ralat Faiz tak terima saat anaknya di samakan dengan sang kakak yang menurutnya paling menyeramkan.
" Iya,maksud abang begitu." ujar Al.
Satria tak merespon,ia hanya terus menatap sambil memperhatikan wajah bayi merah itu dengan lekat,dan tak lama ia menoleh pada sang istri yang tengah sibuk membantu Umi dan juga Alvi menyiapkan makanan yang sengaja mereka bawa dari rumah Umi tadi.
" Bun! satu lagi cowok." ucap Satria seolah memberi kode.
" Siap,bang!" sahut Citra santai tanpa melirik,membuat semua orang mematung seketika,lalu melirik Citra dan Satria bergantian.
" Semudah itu kah?" gumam Haikal pelan namun masih bisa di dengar.
" Mumpung masih muda,Bang!" sahut Citra sambil terkekeh,ia lalu berjalan menghampiri Satria, meminta untuk bergantian menggendong bayi yang masih berada di tangan Sang suami.
" Muda sih,muda. Tapi yang benar saja, Sara masih kecil, baru juga belajar jalan."
Sebagai seorang ayah sekaligus suami yang tak lagi menginginkan anak karena tak ingin melihat sang istri kesakitan saat melahirkan,langsung melayangkan protes.
" Tidak apa apa,bang! capeknya sekalian,iya kan Bun?" Satria menoleh pada Citra seolah meminta persetujuan.
" Iya." sahut Citra,nampak pasrah.
__ADS_1
" Bukan hanya capeknya saja,tapi pikirkan juga saat Citra melahirkan,kamu jangan egois,aku bahkan masih ingat sampai sekarang bagaimana istriku menderita merasakan sakitnya seorang diri." balas Haikal.
" Tapi semalam Faiz ikut merasakan sakitnya juga,bang! sakit karena di jambak,dan di gigit Tari." sahut Faiz.
" Sakitnya beda,bocah! kalau itu abang juga sama." balas Haikal.
" Bang Satria mana tau soal itu,dia bahkan tidak ada saat Citra melahirkan Sara." adik bungsu kembali membuka suara.
" Dia juga pingsan saat Citra melahirkan Cyra." tambah Al sambil terkekeh,lalu menutup mulutnya rapat rapat saat melihat tatapan tajam dari Satria.
" Tidak apa apa,sakitnya hanya sebentar,setelah bayi lahir semua rasa sakit itu terobati." Citra berusaha membela Satria yang kini terdiam tak bisa membalas.
" Mbak Citra benar." Mentari mengomentari.
" Lalu bagaimana kalau yang keluar cewek lagi?" tanya Haikal.
" Ya, coba lagi." sahut Satria.
" Gak apa apa,Bang! daripada dia minta anak sama wanita lain." sahut Citra membuat semua tatapan seketika tertuju padanya.
" Sebelum Satria melakukan itu,dia harus berhadapan dulu dengan Umi." kali ini Umi mulai membuka suara,tak seperti biasa, suara Umi terdengar begitu tegas membuat nyali para pria menciut.
" Itu tidak akan terjadi,Umi tenang saja." balas Satria.
Berdebatan antara Satria dan Haikal masih berlangsung dan nampak semakin sengit, mereka mengeluarkan pendapat masing masing,dan saling beradu argumen.
Sementara Faiz sebagai mediator tak berguna, dan malah asyik mengompori keduanya.
Kamar yang biasanya hening kini terdengar ricuh.Hingga akhirnya Umi kembali membuka suara.
"Haikal, Kehadiran seorang anak tak bisa di hindari,jika allah masih mempercayai mu,kamu harus bisa menerimanya dengan senang hati,jangan sampai kamu menolaknya,karena itu akan melukai istri mu.
Satria juga,jangan memaksakan kehendak ,jangan sampai istrimu tertekan dengan keinginan mu,anak adalah titipan,yang harus bisa kamu jaga dan rawat dengan baik,bukan hanya membesarkan dan sekedar memberi makan,karena ada yang lebih penting yaitu keimanan,ketaqwaan, akhlak, dan budi pekertinya juga,kalian harus percaya, apapun yang allah berikan,itu pasti yang terbaik untuk kalian."
__ADS_1
ucapan Umi berhasil menghentikan perdebatan tersebut.
" Baik,Umi.Kami mengerti." ucap Haikal dan Satria bersamaan.
Dua Al yang sedari tadi terlihat lebih santai,karena tak pernah merasakan pengalaman seperti Haikal dan Faiz yang harus tersiksa saat menghadapi sang istri melahirkan,juga Alvi yang belum merasakan sakitnya melahirkan secara normal, hanya mampu menyimak dan duduk di sofa sambil menikmati snack yang di ambil dari lemari pendingin,nampak tak mau ikut campur.
Kini mereka ikut mengangguk faham saat mendengar apa yang Umi ucapkan barusan.
" Kamu gak mau punya anak lagi,Bi? memangnya gak mau punya anak cowok." tanya Alvi pada sang suami.
" Tidak,cukup hanya aku saja laki laki yang paling tampan di rumah,tapi kalau masih di beri kepercayaan aku akan menerimanya dengan senang hati."balas Al,membuat Alvi tersenyum.
" Ini untuk mu."tiba tiba Haikal menyerahkan sebuah box pada Faiz,Papa muda tersebut nampak berbinar .
" Ini serius buat Faiz,bang?"
" Iya."
" Buat bayinya mana?" tanya Faiz.
" Buat bayinya nyusul,abang tadi buru buru jadi belum sempat beli." jelas Haikal.
" Oh,terimakasih,Bang!" Faiz begitu antusias,ia langsung membuka box tersebut yang ternyata berisi satu dus mie instant.
" Mie? untuk apa?" tanya Faiz heran.
"Itu bisa kamu jadikan sebagai pengingat, Isinya 40,kamu harus makan sehari 1 buah jangan lebih,setelah mie itu habis, itu tandanya kamu sudah bisa buka puasa." terang Haikal membuat semua orang tertawa.
" Jika sudah bisa buka puasa,jangan lupa pakai ini." Al meraih sesuatu di dalam kantong jaketnya,ia lalu melempar sebuah kotak kecil berwarna merah bergambar buah tersebut ke arah Faiz.
" Ihhh,,tak ada hadiah yang lebih bagus lagi apa?" Faiz mendesis sambil memutar bola matanya,ia tak tahu apa yang sudah di siapkan ke tiga kakaknya itu di luar klinik.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..☺
__ADS_1