
Setelah menyelesaikan tugasnya di acara pernikahan dokter Bagas,Bi Susi dan dua asistennya pamit hendak pergi ke tempat lain,masih ada dua acara lagi yang harus mereka selesaikan.
" Mentari?" gumam Faiz yang baru saja tiba, saat melihat sosok seorang gadis berjilbab coklat yang hendak memasuki sebuah mobil,dokter muda itu membuka helm nya,memastikan indra penglihatannya,namun sayang mobil yang di tumpangi Mentari sudah berlalu.
Dokter muda itu menarik sudut bibirnya sambil menggelengkan kepala , merasa tidak habis fikir dengan perasaanya sendiri,seolah semua yang berada di sekelilingnya adalah Mentari,gadis kecil yang berhasil menggantikan cinta pertamanya.
" Aku sempat berfikir akan sangat sulit untuk menumbuhkan kembali rasa cintaku,tapi ternyata tidak,berkatnya aku bahkan dengan sangat mudah bisa melupakan Citra." gumamnya dalam hati,sambil menatap wajahnya dan merapikan rambutnya di balik kaca spion motor miliknya,sebelum ia masuk ke dalam gedung dimana pesta pernikahan temanya itu berlangsung.
Sepanjang perjalanan Mentari hanya diam,hanya sesekali ia menimpali obrolan bi Susi Zoya,selebihnya hanya ia sibukan dengan fikirannya sendiri.
" Kau kenapa?" tanya Zoya yang sejak tadi memperhatikannya.
" Tidak apa apa." sahut Mentari sambil menggelengkan kepala.
" Aku tau,kau pasti sedang merindukan Bapak mu kan?" tebak wanita jadi jadian itu.Yang langsung di angguki oleh Mentari.
" Do'akan saja,semoga almarhum di lapangkan alam kuburnya,di tempatkan di sisi allah." ujarnya lagi,Mentari hanya menganggukan kepala sambil menatap Zoya dengan mata yang mulai berkabut menahan sesuatu yang siap meluncur kapan saja.
" Aku memang merindukan Bapak,tapi selain itu,ada pria lain yang telah memenuhi hatiku,aku mungkin sudah menerima dengan ikhlas kepergian bapak,setidaknya aku tau dimana bapak berada,tapi tidak dengan pria itu,aku merindukannya,aku merindukan kehadirannya,tak masalah jika aku tidak bisa bertemu dengannya lagi,tapi setidaknya aku tau dimana dia,dan bagaimana kabarnya." batinnya dalam hati,Mentari memalingkan wajah menatap ke luar kaca jendela mobil,dengan air mata yang mulai mengalir menyusuri pipinya.
Kurang dari tiga puluh menit akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang telah di dekor dengan sedemikian rupa,hiasan bunga dan juga lampu lampu telah terpasang dengan indah,para pekerja pun nampak berlalu lalang,memasang tenda dan menata kursi kursi serta memasang panggung di pekaranganya rumah tersebut,Kedatangan mereka di sambut hangat oleh sang empunya hajat,mereka di persilahkan masuk dan beristirahat sejenak,setelah itu mereka langsung melancarkan aksinya,berusaha melakukan tugasnya dengan baik,merias calon mempelai wanita,dengan kemampuan dan keterampilan tangannya yang tak bisa di ragukan lagi,hingga akhirnya mereka berhasil menyulap seorang gadis biasa menjadi seorang ratu sehari yang sangat cantik dan mempesona,membuat semua orang terkagum kagum di buatnya.
__ADS_1
Bi Susi tersenyum puas,melihat hasil karyanya yang tak lepas dari bantuan dua asistennya.
Begitu juga Mentari yang sudah selesai merias calon pengantin pria,merubah pria biasa menjadi seorang pria yang gagah dan rupawan.
benar benar terkesan seperti ratu dan raja sehari.
" Bagaimana apa ada yang kurang?" tanyanya pada calon mempelai wanita.
" Ini sudah sempurna,bahkan aku sampai tidak mengenali diriku sendiri." jawabnya sambil memiringkan wajahnya ke kanan dan ke kiri di depan cermin.
" Syukurlah kalo begitu." bi Susi menghembuskan nafas lega,Kemudian mengulurkan tangannya yang langsung oleh Mentari dan juga Zoya hendak bertos ria.
" Good job guys.." serunya.
Mentari tersenyum,turut merasakan kebahagian yang di rasakan seluruh keluarga dari kedua calon mempelai,tanpa di pungkiri kebahagiaan mereka tak luput dari hasil kerja kerasnya juga.
" Kebahagian mereka,adalah kebahagianku juga,kepuasan mereka,adalah kepuasanku juga." begitulah misi dan visi yang selalu mereka utarakan.
Menjelang malam,Bi Susi juga kedua asistennya langsung berangkat ke tempat lain,memenuhi satu panggilan lagi, yang kebetulan akan mengadakan pesta pernikahan di malam hari.
Seperti yang mereka lakukan sebelumnya.Mengubah penampilan klien dengan menggunakan bahan dan peralatan kosmetik,berdasarkan keterampilan dan kemampuannya,serta kelincahan dari tangan dan jari jari lentiknya hingga menghasilkan sesuatu yang sempurna dan memuaskan.
__ADS_1
Hingga larut malam,Mentari juga Zoya baru saja tiba di kontrakannya,kedua makhluk berbeda jenis itu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur yang sama.Mentari melirik jam dinding yang menunjukan pukul 00.30,gadis itu beranjak hendak mencuci muka dan mengganti pakaian di dalam kamar mandi,sementara Zoya memanaskan air untuk memasak mie instan.
" Kau mau?" tawarnya ketika melihat Mentari yang baru keluar dari kamar mandi.
" Tidak." jawab Mentari cepat.
" Aku lapar sekali,sejak tadi aku tidak bisa menikmati makanan dengan benar karena terlalu sibuk,padahal hidangan prasmanan terlihat sangat enak,tapi tetep saja ujung ujungnya mie instan lagi." protes Zoya.
" Kapan kapan kau bawa tas yang besar,agar bisa mengantongi makanan yang banyak." sahut Mentari sambil merubah tubuhnya di atas kasur.
" Kau benar." balas Zoya sambil terkekeh.
Wanita jadi jadian itu berjalan berlenggak lenggok dengan membawa semangkuk mie instan lengkap dengan telor ceplos irisan cabe.
" Yakin kau tidak mau?" ucapnya lagi seraya meniup mie yang masih mengepul di dalam mangkuk.
" Iya." jawab Mentari sambil mulai memejamkan mata,perlahan iapun mulai terlelap tanpa menghiraukan Zoya yang masih berceloteh manja,bercerita ke sana kemari.
Sementara di tempat lain Faiz masih saja terjaga. memikirkan nasib cintanya yang selalu berakhir tragis,dari mulai mencintai adiknya sendiri,hingga mencintai seorang gadis yang kini masih terhalang jarak,atau mungkin akan terhalang restu orang tua juga.
Dadanya sesak oleh rindu yang terus menggerutu karena tak kunjung bertemu.
__ADS_1
" Mentari,apa kamu akan selalu setia menungguku,aku janji akan menemuimu secepatnya.",lirihnya.