I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 53


__ADS_3

Faiz sudah tiba di kamar kontrakannya,dan langsung beristirahat.Begitu juga dengan Satria yang memutuskan untuk segera pulang karena malam sudah semakin larut.


Esok harinya,dalam cuaca yang sedikit mendung,Faiz berniat untuk menemui Laras di klinik tempatnya dulu bekerja hendak memberi kabar bahagianya.Pemuda itu kini tengah bersiap siap,ketika membuka pinta saat akan keluar ia bertemu dengan Zoya.


" Dokter Faiz?" ucap Zoya kaget.


" Selamat pagi,kak Zoya!" sapanya.


" Dokter, kapan ke sini?Mentari di mana?"tanya Zoya


" Sudah 3 hari aku di sini,Mentari sedang berada di rumah saudara ku,kak Zoya kemana saja?" tanya balik Faiz.


" Aku baru pulang kampung,orangtua ku sakit,kenapa Mentari tidak ke sini?"


" Oh,pantesan,pintunya terkunci." jawab Faiz.


Zoya pun terkekeh,karena ia memang mengunci pintunya,sehingga tidak ada yang bisa masuk ke kamar kontrakannya.


" Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini,aku kan bisa titipin kuncinya ke yang lain." alasannya.


" Mungkin Mentari tidak tau kalau kak Zoya pergi,atau dia mau memberi kejutan,makannya tidak memberi tahu." sahutnya.


" Oh,,mungkin juga."


" Ya sudah kak,aku harus pergi dulu,permisi." pamit Faiz.


setelah itu ia pun pergi meninggalkan pria tulang lunak itu sendiri.


Setelah sampai di klinik,para perawat serta rekan rekan kerjanya langsung menghampiri Faiz dengan suka cita,mereka menyambut hangat kedatangannya,berfikir jika dokter muda itu akan kembali bekerja di sana.


Begitu juga dengan Laras yang baru keluar dari klinik itu setelah selesai bertugas malam,dokter cantik itu terlihat lelah dengan lingkaran hitam di area matanya.


" Faiz,kau di sini?" tanyanya tak menyangka.


Faiz mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya,yang berhasil membuat Laras gagal move on.


" Iya,kau baru selesai?" tanya Faiz seraya menghampirinya.


" Hmmm." sahut Laras sambil menganggukan kepala.

__ADS_1


" Sepertinya kau lelah,mau ngopi bareng?" ajaknya,dokter cantik itu pun mangangguk setuju,mereka pergi ke kantin bersamaan sekedar meminum kopi.


" Sebenarnya ada perlu apa kau kesini,bukannya kau sudah mengundurkan diri?" tanya Laras penasaran,ketika mereka sudah duduk di sebuah kursi bermeja bundar.


" Memangnya kenapa? kau tidak mau bertemu aku? tanya Faiz seraya menunjukan wajah kecewanya.


Sementara Laras langsung menggelengkan kepala dengan cepat.


" Tidak,bukan seperti itu,aku hanya ingin tau saja maksud kedatangan mu ke sini untuk apa,apa mungkin kau kembali bekerja lagi di sini?" tebak Laras,pemuda itu menggelengkan kan kepala.


" Tidak,aku kesini hanya untuk menemui mu,aku ingin membagi kebahagian dengan mu,karena kamu satu satunya teman dekat ku di sini."


" Kebahagiaan apa?" tanya Laras semakin penasaran.


" Aku akan menikah dengan Mentari,jika kamu punya waktu aku berharap kamu bisa datang." ujar Faiz membuat Laras membeku seketika,jantungnya seolah berhenti berdetak,hingga ia lupa caranya bernafas,rasanya terlalu sesak.


Namun Gadis itu masih berusaha untuk tetap nampak baik baik saja,lalu tersenyum sambil menganggukan kepala.


" Kapan?" tanya nya.


" Mungkin dua minggu lagi."


" Baiklah,akan aku usahakan,selamat ya." ucapnya.


" Baiklah,maaf aku harus pulang sekarang."


Tanpa ingin berlama lama lagi,Laras langsung beranjak dan pergi begitu saja,melangkahkan kaki dengan mata yang mulai berkabut.


" Laras! di luar hujan,tunggulah sebentar,temani aku menghabiskan kopinya,aku akan mengantar mu pulang nanti." ujar Faiz,dengan cepat Laras menggelengkan kepala, menolaknya tanpa mau menoleh.


" Tidak usah,aku bawa kendaraan sendiri." balasnya.


Gadis itu berlari menjauh dari klinik tanpa mengiraukan hujan lebat yang tengah mengguyur permukaan bumi,ia menangis sekencang kencangnya,menembus hujan yang menerpa wajah dan tubuhnya,sehingga tidak ada yang mengetahui jika dia tengah menangis.


" Kenapa,kenapa masih saja terasa sakit,padahal aku sudah mencoba menghilangkan perasaan ini." isaknya,sambil terus melangkahkan kaki tanpa arah tujuan.


Gadis itu menyebrang jalan tanpa melirik kiri dan kanan,tiba tiba terdengar suara ban berdecit,ia pun nampak terkejut,diam sambil memegang dadanya.


" Hai,gadis bodoh! kau mau mati ya,bukan seperti ini caranya,aku tidak mau terlibat atas kematian mu!" teriak seorang pengendara motor,yang sama sama tengah menembus hujan.

__ADS_1


Pemuda itu menepikan motornya,setelah itu turun dan berjalan menarik tangan Laras yang masih bergeming di tengah jalan.


" Kau sudah bosan hidup!" bentaknya,lalu membawa Laras berteduh di sebuah ruko yang nampak tutup.


Laras semakin terisak,tubuhnya merosot kebawah hingga bokongnya mendarat di lantai yang kotor memeluk lututnya sambil menyembunyikan wajahnya.


Pemuda yang kini dalam kondisi babak belur itu pun di buat bingung,namun tak bisa berbuat apa apa,oleh sebab itu ia hanya bisa diam,melipat kedua tangannya di dada sambil menatap rintik hujan yang masih deras,berharap agar segera reda,tubuhnya menggigil karena pakaian yang di kenakannya basah kuyup.


Hingga setengah jam berlalu,akhirnya hujan pun reda,hanya menyisakan gerimis tipis yang masih bisa di terjang.


" Ayo bangun! aku akan mengantarkan mu ke jembatan,kau boleh mengakhiri hidup mu dengan cara melompat di sana." ujarnya sambil mengulurkan tangan.


Laras mendongak,menatap pria yang berdiri di hadapannya dengan mata yang sayu serta wajah dan hidung yang memerah.


Gadis itu tersenyum miring,merasa tak habis fikir dengan pria yang dengan terang terangan mendukungnya untuk melakukan bunuh diri.


" Ayo! kenapa malah diam,tidak usah khawatir,jika perlu aku akan menemani mu." ujarnya.


" Akhiri saja hidup mu sendiri,tidak usah mengajak ku." balas Laras.


Pemuda itu menghela nafas kasar sambil terkekeh.


" Itu bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah,tapi hanya akan menyebabkan masalah baru." ujarnya.


" Jika kau tau kenapa kau malah menyuruhku untuk bunuh diri." sahut Laras.


" Bukannya tadi kau ingin mati dengan cara menabrakan diri."


" Tidak,dasar konyol." sahut Laras,kemudian beranjak,dan berjalan melewati pria yang tak kenalnya tersebut.


" Kalau begitu ayo,aku antar kau pulang!" ajaknya,sambil menarik tangan Laras menuju motornya.


" Tidak usah,aku bisa pulang sendiri.aku tidak mau ikut dengan pria tak di kenal" tolak Laras.


" Namaku Lutfi." sahut pria itu,sambil membawa Laras untuk duduk di belakangnya.


"Hai!! kau mau apa?" cicit Laras.


" Sudahlah tidak usah takut,aku orang baik,aku hanya ingin mengantar mu pulang."

__ADS_1


" Awas saja kalau kau berani macam macam." ancamnya,gadis itu pun menurut,duduk di belakang Lutfi dengan santai,tanpa mau membuka suaranya lagi,ia sudah merasa cukup lelah hari ini.


Lutfi mulai melajukan motornya,menerjang gerimis tipis, hawa dingin serta hembusan angin menerpa wajah dan tubuh mereka,Lutfi semakin mengigil,ia mengosokan hidungnya yang kini terasa mampet dengan jari jari tangannya,bersin dan batuk pun tak terhindari lagi.


__ADS_2