
" Apa yang anda lakukan,dokter?" Lutfi nampak tak terima ketika melihat Mentari terisak di dalam dekapan pria lain.
" Aku tidak melakukan apa apa." Balas Faiz santai,kemudian ia duduk kembali saat Mentari merasa lebih tenang.
Tanpa terasa pagi menjelang,sayup sayup suara adzan subuh terdengar dari balik tembok kamar rawat,Faiz membasuh wajahnya yang nampak lelah terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya begitu juga dengan Lutfi,gadis itu merasa tidak enak pada keduanya.
" Maaf pak dokter,mas Lutfi,kalian pasti lelah,sebaiknya kalian pulang saja." ujar Mentari.
Dengan berat hati kedua pria itu pun mengangguk,mereka meninggalkan Mentari karena harus bekerja,Mentari merasa lebih tenang,setelah melakukan shalat subuh,gadis itu kembali merebahkan tubuhnya,tidak lama suara ketukan pintu terdengar Mentari membuka matanya, sosok wanita ber jas putih masuk dan kembali menghampirinya.
" Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Laras ramah.
" Sudah lebih baik,Dok." jawabnya.
Laras tersenyum manis sambil memasangkan cairan infusan untuk kesekian kalinya,Mentari menatap dokter wanita itu dengan penuh kekaguman,bagaimana tidak bukan hanya cantik tapi wanita di hadapannya itu nampak terlihat anggun dan berkelas,dengan jas kebesarannya,lain halnya dengan dirinya yang bahkan bukan apa apa jika dibanding dengan dokter cantik itu.
" Dia memang pantas dengan dokter Faiz." lirihnya dalam hati,seketika senyumnya memudar,hatinya terasa teriris,penantian panjang demi bertemu dengan pria pujaan hatinya harus kandas begitu saja.
Ia kembali tersenyum setelah menyadari Laras membalas tatapannya.
" Apa yang kamu fikirkan?" tanya Laras sambil memicingkan mata.
" Tidak, aku tidak memikirkan apa apa." Mentari mengggelengkan kepala dengan cepat.
" Aku lihat tadi kau melamun."
" Tidak,aku hanya kagum pada bu dokter,tidak hanya cantik tapi juga pintar dan baik." ucapnya tulus,membuat Laras terkekeh.
" Jangan panggil Ibu,memangnya aku terlihat setua itu?" protesnya.
" Lalu?" tanya Mentari sedikit ragu.
__ADS_1
" Hmmm,,panggil aku kakak,atau apalah terserah kau saja,yang penting terdengar nyaman." pintanya.
" Baik lah,terimakasih kak." ucap Mentari
" Oke,waktunya aku pulang." Laras melirik jam di pergelangan tangannya.
" Baik,sekali lagi terimakasih." Mentari menganggukan kepala,ketika Laras berpamitan padanya.
Gadis itu kembali menampakan senyum getirnya kala melihat Laras berjalan dengan sangat anggun keluar dari tempatnya berada.
" Aku harus bisa mengubur perasaan ini." hati kecilnya berbicara.
" Tidak,mereka hanya pacaran,belum tentu menikah,masih ada kesempatan untuk mu mendapatkan dokter Faiz." bisikan dari telinga kirinya.
" Sadar Tari,saingan mu sangat berat,kau bukan apa apa jika di banding dengan Dokter Laras,lebih baik hilangkan perasaan mu dari sekarang sebelum kau merasakan lebih sakit." Balasan dari kuping kanan.
" Diam kalian!!" bentaknya semakin frustasi.
Siang hari,Faiz kembali menemuinya sebagai dokter yang bertugas saat itu,ia mengecek keadaan Mentari dengan sangat teliti dan hati hati.Pria itu tersenyum kala mengetahui jika kondisi pasiennya itu sudah lebih baik.
" Aku rasa kamu sudah bisa pulang hari ini." ucap Faiz membuat Mentari senang,gadis menganggukan kepala sambil mengucapkan terimakasih.
" Aku akan mengantar mu pulang nanti sore." ucap Faiz namun Mentari langsung menolaknya.
" Aku bisa pulang sendiri." ujarnya,namun Faiz masih tetep dengan pendiriannya.
" Kita sudah lama berpisah,aku tidak ingin kehilanganmu lagi,dan aku tidak akan membiarkan mu pergi." gumamnya dalam hati,sambil menatap dalam gadis di depannya.
" Cukup Pak dokter! aku tidak ingin salah faham lagi karena perlakuan manis mu padaku,hingga membuat aku semakin tidak bisa melupakan mu,dan itu sangat menyiksa ku." lirih Mentari dalam hatinya,sambil membalas tatapan Faiz,sepertinya mereka telah berbicara dari hati ke hati.
Setelah lama saling berhadapan,Faiz kembali melanjutkan tugasnya, memeriksa pasien lain yang baru masuk satu kamar dengan Mentari,setelah selesai ia kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Tak terasa Sore pun tiba,Faiz segera meninggalkan ruangannya,setelah menyelesaikan tugasnya,dokter muda itu berlari kecil hendak menemui Mentari,tiba tiba saja ia berpapasan dengan Lutfi yang kini sama sama berjalan menuju ruangan di mana Mentari berada.
" Ada perlu apa anda kemari?" tanya Faiz.
" Memangnya kenapa? apa ada larangan untuk ku menemui pasien di sini?" tanya Lutfi,sambil terus berjalan,langkah kakinya melebar ketika mengetahui Faiz ikut berjalan di belakangnya,dan terjadilah aksi saling kejar kejaran,tidak sampai di situ,kedua pria itu kembali berulah saat tiba di ambang pintu mereka saling tarik menarik,berusaha agar bisa masuk lebih dulu.
Membuat beberapa orang yang berada di sana menatapnya heran.
" Kalian senang sekali berebut pintu,hadiahnya apa?" tanya Mentari,seraya menghampiri mereka,tanpa tiang infusan,nampak nya gadis itu sudah siap untuk pergi.
Faiz dan Lutfi terdiam,kedua pria itu menggeser posisinya agar Mentari bisa keluar dengan mudah tanpa harus menabrakan tubuhnya pada mereka.
Mentari terus berjalan menuju halaman klinik tanpa menghiraukan Faiz dan Lutfi yang masih setia mengekornya dari belakang.
Sebelum gadis itu keluar,ia membalikan tubuhnya,menghadap ke dua pria itu,Ia sedikit mengangkat sudut bibirnya sambil berdesis lalu menggelengkan kepala.
" Kalian nampak akrab sekali,aku suka dengan kebersamaan kalian." ucapnya,setelah itu ia mulai membuka pintu kaca dan langsung keluar dari klinik tersebut.
" Mentari,kak Zoya tidak bisa ke sini,itu sebabnya dia menyuruhku untuk menjemput mu." ujar Lutfi ketika ia melihat Mentari nampak tengah menunggu seseorang di pinggir jalan.
Gadis itu melirik Lutfi sekilas lalu kembali mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri,Sementara Faiz sudah tidak terlihat di sana.
" Ayok naik ! ini sudah terlalu sore." Ajaknya lagi seraya menunjuk bagian belakang motornya.
" Dia akan pulang dengan ku."
Tiba tiba Faiz pun datang dengan motornya juga,tanpa pikir panjang Mentari memilih ikut berama Lutfi dan duduk di belakangnya.
" Maaf pak dokter,aku ikut mas Lutfi saja." ujar Mentari,dan kali ini Lutfi yang menang,Pria itu membalas dengan menjulurkan lidahnya sama seperti saat Faiz mengejeknya.
" 1-1 pak dokter !! " seru Lutfi sambil terkekeh,kemudian ia pun langsung melajukan motornya..
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komennya..😍😍