I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.99


__ADS_3

Keesokan harinya,Satria kembali melakukan rutinitasnya seperti biasa,penampilannya yang rapi juga wajahnya yang terlihat semakin tampan berkali kali lipat, membuat Citra enggan melepasnya pergi.Ibu dua anak itu terus saja bergelayut di lengan sang suami saat Satria hendak berangkat bekerja,seperti anak monyet yang menempel pada induknya.


Entah kenapa sikap manjanya pun mengalahkan Cyra dan Sara.


Satria hanya bisa menggelengkan kelapa.


" Bun! kalau gini terus kapan aku berangkatnya." cicit Satria.


" Sebentar lagi,bang! aku masih kangen." rengeknya.


" Aku cuma mau ke kantor,bun! bukan mau ke medan perang,sore juga aku pulang." ujarnya.


Sekian lama berdiri di teras rumah,sambil membujuk Citra agar bisa melepaskan lilitan tangannya,akhirnya Satria pun bisa bernafas lega,setelah kedatangan tukang sayur keliling yang lewat depan rumahnya.


Ibu muda itu pun langsung melepaskan tangannya,kemudian berlalu begitu saja hendak menemui tukang sayur langgananya itu.


" Bun,aku berangkat ya." Satria yang sudah berada dalam mobil masih sempat sempatnya untuk pamit,ia sengaja menghentikan mobil di depan gerobak sayur sambil membuka kaca jendela mobilnya,hal tersebut berhasil mengalihkan perhatian para ibu ibu komflek yang tengah memilih sayur ,mereka menatap ayah dua anak itu tanpa berkedip, wajahnya yang maskulin dengan kaca mata hitam yang melekat di hidung mancungnya membuat para ibu ibu themor bermaja'ah.


Saking gemasnya,Bu Eko saja sampai meremas tomat yang tadi di genggamnya hingga hancur ,tetangga depan rumah Citra itu pun sempat kaget karena ulahnya sendiri.


Menyadari hal itu Citra langsung mengangguk,dengan segera ia mengusir sang suami agar cepat pergi.


" Pak Satria,makin sini makin cakep aja ya,padahal anaknya sudah dua loh." ujar Bu Eko.


" Iya,ya. Biasalah laki laki kalau sudah punya banyak uang gayanya memang seperti itu."sahut Bu Edi.


"hati hati loh,Mbak Citra!" tambah bu Bambang,sambil menyolek lengan Citra.


" Memangnya kenapa,Bu?" balas Citra yang masih nampak cuek.

__ADS_1


" Ya,namanya cowok ya,kan? liat yang bening dikit, pasti tuh jiwa liarnya keluar." Sahut bu Bambang lagi.


"Iya, apalagi Pak Satria gantengnya kebangetan,cewek mana yang bisa nolak,saya aja kalau gak inget umur mau kok." tambah Edi.


membuat Citra bergeming,antusianya untuk berbelanja seketika menghilang,padahal hal ini bukan yang pertama kali baginya,namun entah kenapa kali ini perasaanya begitu mudah untuk di hasut.


" Makanya mbak Citra, kalau sempat ikut kelas senam bareng kita,manfaatnya banyak loh,apa lagi kan Mbak Citra baru melahirkan tuh, pasti perutnya melar." Tambah Bu Rt,yang tubuhnya lebih gempal di antara ibu ibu yang lain.


" Iya,bu ! insyaallah,nanti aku ikut." balas Citra sambil menunjukan senyum manisnya.


" Nanti saya masukin grup chat ya, sudah hampir tiga tahun tinggal di sini saya perhatiin kayaknya Mbak Citra kurang bersosialisasi." ucap Bu Rt lagi.


Citra hanya bisa mengangguk,ia memang jarang keluar rumah, hanya sesekali saat ada keperluan mendesak,biasanya Citra hanya bertemu dan bercengkrama dengan para tetangga di saat belanja sayur seperti ini.


Terbiasa hidup di kampung dan tinggal di tengah perkebunan,membuatnya harus lebih bisa beradaptasi dan membiasakan diri dengan lingkungan baru,begitu juga ketika hidup bertetangga,menghadapi dan memahami berbagai sifat dan karakter dari para tetangga memang hal yang sulit,terlebih Citra adalah satu satunya ibu rumah tangga yang paling muda di antara tetangga gang lainnya,otomatis ia yang harus lebih sering mengalah,karena tak ingin menimbulkan masalah,walau rasa dongkol tak bisa di sembunyikan.


" Bang Jamet kenapa sih,jam segini sudah datang,biasanya jam 9,jam 10 baru nongol." protes Citra,seolah melampiaskan kekesalannya pada penjual sayur,juga berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Loh,,gimana toh mbak,datang siang di protes,datang lebih pagi di protes juga,lagian ibu juga ngapai ngejar saya,kan saya gak kemana mana,tinbang cipika cipiki doang mah,saya tunggu." keluh bang Jamet,merasa jadi kambing hitam,semua ibu ibu tertawa girang,kecuali Citra,ibu muda itu langsung pamit tanpa ada yang di bawa.


Sesampainya di rumah Citra mendapati anak anak yang sudah terbangun,dengan segera ibu dua anak itu pun langsung memandikannya,dan lanjut menyuapi,mengurus rumah serta anak yang masih kecil memang menguras waktu dan tenaga,ia bahkan tak sempat untuk mengurus dirinya sendiri.


Citra mempehatikan dirinya lewat pantulan cermin yang berada dalam kamarnya,netranya terus menatap seluruh tubuh yang memang nampak banyak perubahan,ia memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan,menyadari bentuk tubuhnya memang tak seindah dulu,bahkan tak enak di pandang walau dari sudut mana pun,timbunan lemak juga lukisan alam dari balik daster janda bolong yang sudah nampak lusuh itu semakin membuat penampilannya tak menarik.


Tiba tiba air matanya lolos begitu saja tampa permisi,membayangkan suaminya yang tampan tengah berkencan dengan wanita lain membuatnya semakin Frustasi,dengan cepat ia menghubungi Satria.


" Assalamualaikum,ada apa,Bun?" suara Satria yang lemah lembut membuatnya sedikit lebih tenang.


" Abang lagi damana?" tanya nya.

__ADS_1


" Aku masih di kantor,sebentar lagi mau meeting." jawab Satria di balik sambungan telpon.


" Video call sebentar bisa,kan?" pintanya.


" Bisa dong." Satria langsung mematikan sambungan telponnya,lanjut video call.


" Kenapa bun,kangen ya?" tanya Satria yang sudah menujukan wajahnya di layar ponsel,seketika Citra tersenyum,namun matanya tak bisa berbohong,Satria mengerutkan kening saat melihat matanya memerah.


" Kamu kenapa,apa terjadi sesuatu,anak anak baik baik saja kan?" raut wajah Satria berubah panik.


" Aku gak apa apa,bang! anak anak juga baik." sahutnya sambil menunjukan si kecil yang tengah anteng bermain boneka.


" Syukurlah kalau begitu."


Saat itu juga mata Citra seketika melebar saat melihat seorang wanita datang dari balik punggung Satria.


" Permisi,pak! meetingnya sudah mau di mulai." ucapnya dengan anggun,Satria hanya mengangguk tanpa menoleh,membuat Citra semakin tak bisa menahan diri.


" Abang,itu siapa?" tanyanya dengan posesif.


" Dia sekretaris ku."


" Pecat sekarang juga!" titah Citra membuat wanita yang masih berada di sana tersentak.


" Lho,memangnya kenapa?" tanya Satria heran.


" Pokoknya pecat sekarang juga!" tegas Citra,Satria sampai menghela nafas lelah,ia memilih pasrah,tak menunggu lama ayah dua anak itu pun mengangguk.


" Iya udah,kalau begitu tutup dulu ya,aku mau meeting." pamitnya,dengan terpaksa Citra pun menganggukan kepala.

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😉


__ADS_2