I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 26


__ADS_3

Mentari melirik sekilas pada laki laki di belakangnya yang tengah menatap kepergiannya.


Gadis itu tersenyum ketir.


" Sadar Tari,apa yang kamu harapkan,dokter Faiz tidak akan mengejar mu,memang kamu siapa?" bisikan dari telinga kanan kembali mengingatkannya.


Laju kendaraan yang di bawa Lutfi semakin menjauh membelah jalanan, tanpa mereka sadari Faiz diam diam telah mengikuti mereka dari belakang,hingga sampai di sebuah bangunan kontrakan,Lutfi mulai memasuki gerbang lalu memarkirkan motornya di tempat parkiran yang sudah di sediakan,sementara Faiz berhenti di depan gerbang,setidaknya kini ia tau dimana Mentari tinggal.


*


*


*


Selang beberapa minggu,semua penghuni kontrakan di kejutkan oleh kedatangan tetangga baru,yang di ketahui sebagai dokter muda dan tampan serta masih lajang,tentu saja menjadi angin segar bagi para penghuni kaum hawa yang sebagian besar berstatus lajang yang mencoba mengadu nasib di kota itu.


Entah kebetulan atau memang dewa keberuntungan tengah ada di pihaknya,dokter muda itu mendapat kontrakan nomer 72 yang memang satu satunya kamar yang kosong, tepat di sebelah kontrakan gadis incarannya yang memiliki nomer pintu 73 atas nama Zoya.


Faiz baru saja selesai merapikan tempat tinggal barunya,beberapa kali ia milirik kamar di sebelahnya yang masih nampak hening,tak terdengar suara kehidupan di sana.


Waktu menunjukan pukul 15.00,sepertinya Mentari belum pulang dari pekerjaannya,pria itu pun merebahkan tubuhnya di lantai beralaskan selembar tikar,perlahan matanya mulai terpejam semakin lama semakin lelap,hingga tak terasa waktu pun berlalu dengan begitu cepat,Faiz mengerjapkan mata,saat mendengar suara


gadis yang di rindukannya baru tiba,suara gaduh dari kamar sebelah mulai terdengar.


" Tari!! aku mau ke bawah,mau aku belikan minuman?" teriak Zoya saat berada di ambang pintu terdengar sangat jelas.


" Alpukat kocok 1." samar samar terdengar sahutan dari dalam.


Faiz mengintip dari jendela kontrakan Zoya,nampak Mentari tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sesekali ia berguling ke kanan dan ke kiri sambil memeluk boneka BTS kesayangannya yang bernama Tata.Boneka yang memiliki kepala berbentuk hati dan pakaian berwarna biru dengan motif polkadot berwarna kuning.


Gadis pendiam itu ternyata memiliki sisi lain yang ceria,bahkan tidak ada yang menyadari hal itu selain orang terdekatnya.


Karakter Tata dari versi BTS hampir sama dengannya,yang melarikan diri dari planet asalnya dan terdampar,hingga akhirnya ia berkeinginan menjadi bintang yang bebas.


Faiz mengangkat sudut bibirnya,kemudian ia kembali ke dalam sebelum ada orang yang mengetahuinya.


Menjelang malam,suasana kontrakan lebih ramai di banding siang hari,pasalnya semua penghuni tengah kembali dari aktifitasnya,hawa panas di malam itu membuat Mentari tak nyaman,gadis itu keluar dan berdiri di teras balkon,menikmati malam yang cerah bertabur bintang,gadis itu melirik kontrakan di seberang sana,nampak Lutfi pun melakukan hal yang sama,Pria itu tersenyum manis ke arah Mentari,jika orang lain menikmati kemerlap cahaya bintang di malam hari,tapi baginya menatap Mentari di malam hari lebih indah dan sangat langka,bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi,hanya dia yang bisa melakukannya,kecuali jika memang sedang terjadi fenomena alam.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sepasang mata tertuju pada mereka dari balik jendela kontrakannya, tanpa fikir panjang,Faiz langsung menghampiri Mentari dan berdiri di sebelahnya,gadis itu melirik ke arahnya,seketika matanya membulat sempurna begitu juga Lutfi yang tak kalah terkejutnya, setelah beberapa minggu terakhir mereka bertemu di klinik dan akhirnya kini ia kembali bertemu.


" Selamat malam!" sapanya


" Selamat malam." Balas Mentari,ia tersenyum kecut kemudian mulai melangkahkan kaki hendak meninggalkannya,Namun Faiz segera mencegahnya dengan cara menarik tangan gadis itu.Lutfi pun mulai bergerak namun ia urungkan,ia memilih untuk memperhatikan raut wajah keduanya dari kejauhan.


" Bisa kita bicara?" pintanya.


" Bicara apa?Kenapa pak dokter bisa ada di sini?" Mentari kembali menghadapnya.


" Aku tinggal di sini." Faiz menunjuk kamar kontrakannya.


" Mau bicara apa?" Mentari masih menampakan wajah tak bersahabat.


"Tolong jangan bersikap seperti ini lagi padaku, Tari." Faiz menatap dalam namik mata bulat milik Mentari.


" Maksud pak Dokter apa?"


" Kenapa kamu selalu menghindar,sudah lama aku mengharapkan pertemuan seperti ini,sudah ku bilang kamu jangan nakal,apa kamu mengerti apa yang aku ucapkan?"


" Aku mengerti,aku tidak pernah nakal." Balas Mentari.


" Memangnya kenapa?"


" Apa pak dokter juga lupa dengan apa yang pernah aku bilang,jaga diri dan hatimu,tapi nyatanya?" Mentari menggantung ucapannya.


Seharusnya ia tak pantas bicara seperti itu,kata kata itu hanya layak untuk sepasang kekasih,sedangkan dia?


" Aku sudah berusaha menjaga hati ku demi kamu." ucap Faiz sungguh sungguh,Namun Mentari malah mendesis sambil memutar bola matanya tak percaya.


" Aku memang orang bodoh,tapi tidak bisa di bodohi,maaf aku sudah sering mendengar kata kata itu dari mulut buaya." ucap Mentari sambil kembali membalikan badan hendak melangkah.


" Aku mencintai mu,Tari." ucapnya dengan lantang,membuat gadis itu mematung di tempat,kakinya seakan berat untuk melangkah,tubuhnya bergetar,detak jantungnya terasa lebih kencang dari biasanya.


" Fikirkan baik baik dengan ucapan pak dokter,jangan sampai ada yang terluka karena itu." ucap Mentari tanpa membalikan badan.


" Siapa yang akan terluka? apa ada perasaan seseorang yang kamu jaga?" ucap Faiz membuat Mentari tersenyum sinis,gadis itu berlalu begitu saja dan masuk ke dalam kontrakan menutup pintu dengan kasar.

__ADS_1


" Ada apa Tari?" Zoya nampak terkejut.


" Bisa bisanya dia menuduh ku seperti itu,padahal dia sendiri yang seharusnya menjaga perasaan seseorang." ucapnya.


" Siapa yang kamu maksud?" Zoya beranjak dari duduknya,lalu membawa Mentari untuk duduk di sebelahnya.


" Dokter Faiz, aku benci dia!!" Gadis itu mulai terisak,sambil menenggelamkan wajahnya di telapak tangan.


" Dokter itu lagi,suka sekali dia menyakiti mu."


"Aku berusaha menjaga perasaanku untuknya,tapi dia malah menuduh ku yang tidak tidak." lirihnya.


" Kenapa kau bisa bertemu dengannya?" tanya Zoya heran,karena yang ia tahu Mentari tidak kemana mana.


" Dokter Faiz tinggal di sebelah."


" Astaga,,dokter itu niat sekali, apa yang dia inginkan?" Zoya beranjak dan mulai melangkahkan kaki menuju kontrakan sebelah.


Setelah sampai di depan pintu,wanita jadi jadian itu langsung menggedor pintu dengan keras,tidak lama Faiz membukakan pintu,tanpa di duga sebuah tinjuan keras langsung mendarat di pipi Faiz.


" Apa yang kau lakukan pada Mentari,kenapa kau senang sekali menyakitinya?" teriak Zoya,jiwa lakinya kembali keluar menampakan khodam nya.


Faiz menyeka sudut bibirnya,ingin sekali ia membalas,tapi ia merasa serba salah.


Di sisi lain Zoya seperti wanita yang tak layak untuk di sakiti,sebagai pria getle ia tidak bisa melakukan itu,akhirnya ia hanya bisa menerima apa yang Zoya lakukan,dan mendengar semua ocehan dari wanita jadi jadian itu.


"Jangan hanya karena tampang dan profesi mu,kau bisa melakukan apa saja seenak mu." tambah Zoya sambil mencengkeram kerah Faiz.


" Zoya apa yang kamu lakukan!!" teriak Mentari setelah mendengar keributan dari kamar sebelah.


Ia menghampiri mereka dan memisahkannya.


Matanya terbelalak saat melihat darah segar menetes dari sudut bibir Faiz.


" Kau masih mau membelanya." cibir Zoya.


" Kita bisa selesaikan masalah ini tanpa kekerasan."

__ADS_1


" Terserah kau saja." Zoya pun pergi meninggalkan Mentari dan Faiz di tempat itu.


__ADS_2