I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 27


__ADS_3

Semua penghuni kontrakan berkerumun melihat kejadian itu,termasuk Lutfi,sejak tadi ia menyaksikan Zoya menghajar Faiz tanpa mau melerai.


Setelah Zoya pergi,semua orang pun membubarkan diri,kini hanya ada Mentari dan Faiz di sana.


" Maafkan aku pak Dokter. " lirih Mentari merasa bersalah,gadis itu membawa Faiz untuk duduk lalu membantu mengobati lukanya.


Dokter muda itu sedikit meringis saat Mentari membersihkan darah di sudut bibirnya,pandangannya masih terus tertuju pada gadis berjilbab merah jambu di depannya.


Begitu juga Mentari yang tengah memperhatikan bibir Faiz,tangannya sedikit bergetar mengikuti irama detak jantungnya.


" Apa yang kamu katakan pada makhluk itu?" tanya Faiz sambil menahan tangan Mentari saat hendak meneteskan obat.


" Maaf,mungkin dia salah faham." ucap Mentari sambil mencoba melepaskan cekalannya.


"Salah faham kenapa? apa aku telah menyakiti mu,karena aku lancang mengungkapkan perasaan ku?" tanya Faiz lagi dengan tatapan intens,membuat gadis itu tak berani menatapnya.


" Maaf Pak dokter,tolong jaga ucapan anda,aku tidak mau di cap sebagai orang ketiga dari hubungan anda dan dokter Laras." jelas Mentari panjang lebar.


" Laras? apa hubungannya dengan Laras?" Faiz balik bertanya,keduanya sama sama mengerutkan kening.


" Bukannya dia kekasih anda?" tanya Mentari ragu.


Faiz terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala.


" Siapa bilang?"


" Aku sudah melihat kedekatan kalian."


" Dekat bukan berarti mempunyai hubungan,kau dan Zoya pun terlihat dekat,apa kau juga mempunyai hubungan dengannya?" canda Faiz membuat Mentari menggelengkan kepala dengan cepat.


"Aku dan dia hanya sebatas rekan kerja,tidak lebih." jelas Faiz,membuat Mentari salah tingkah,gadis itu semakin menundukan kepala.


Bagaimana bisa ia begitu cepat menyimpulkan kedekatan antara kedua dokter itu sebagai pasangan kekasih tanpa mendengarkan penjelasan dari keduanya terlebih dahulu? apa dia sedang cemburu buta.


" Apa karena itu,kamu menghindari ku?" Faiz mencoba meraih dagu gadis itu agar terangkat.


" Maaf." hanya kata itu yang bisa terucap,saat Mentari menatap manik mata milik Faiz,Faiz tersenyum manis sambil menganggukan kepala.

__ADS_1


" Tidak apa apa,aku faham." ucapnya,membuat Mentari sedikit lebih tenang,tapi debaran jantungnya semakin kencang,aliran darah terasa mengalir lebih deras.


" Jadi bagaimana,kita sudah lama saling menjaga perasaan satu sama lain,aku ingin hubungan kita lebih jelas." ucap Faiz serius,membuat gadis itu berkeringat dingin,serta pipi yang sudah merona.


" Mentari!!" ucap Faiz dengan suara yang terdengar begitu lembut.


" Iya." refleks gadis itu mengangkat wajahnya,ia tersenyum kemudian menundukan kepalanya lagi.


" Bagaimana?" tanya Faiz,dengan sarot mata penuh harap.


" Tapi umur ku masih masih 19 tahun,aku belum..." ucapannya tergantung saat Faiz menyela dengan cepat.


" Tidak usah di permasalahan,usia tidak begitu penting,yang penting kamu terima atau tidak?" Faiz nampak frustasi karena terlalu lama menunggu jawaban.


Mentari di buat bingung,ia begitu gugup dan salah tingkah.Dengan cepat ia menganggukan kepala,setelah itu berlari sambil menyembunyikan wajah yang bersemu.


Seketika senyumnya melebar,Faiz merebahkan tubuhnya,sambil memegang dada yang seolah jantungnya telah meloncat dari tempatnya.


Begitu juga Mentari,ia menutup pintu sambil memegang dadanya,senyumnya terus terukir di bibir mungilnya,ia berjingkrak lalu memutar badannya sambil merentangkan tangannya.


Zoya yang melihat sikap aneh sahabatnya sontak mengerutkan kening,sangat berbeda dengan sebelumnya.


"Zoya!! aku mencintainya..aku mencintainya." pekik Mentari sambil merentangkan tangan lalu berlari memeluk makhluk aneh itu,dan menciumi pipinya,melampiaskan semua perasaanya pada wanita jadi jadian itu.


Seruan dari kamar sebelah samar samar terdengar,Faiz kembali terbangun lalu mendekatkan telinganya ke dinding tembok pembatas,memastikan indra pendengarannya.


Ia begitu bahagia,cinta terbalas memang lebih indah daripada cinta bertepuk sebelah tangan,perjuangannya tak sia sia ketika memutuskan untuk pindah tempat tinggal,meskipun tempat tinggal yang sekarang berbeda jauh dari tempat tinggal sebelumnya,Namun itu tak masalah,asal ia tetap bisa dekat dengan sang pujaan hati.


*******


Malam itu,keduanya tak bisa memejamkan mata,debaran jantung seolah memaksa untuk tetap terjaga.Hingga tak terasa waktu menunjukan pukul 05.00 pagi,Mentari terbangun lalu membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya,setelah itu seperti biasa ia mencuci pakaian dan membereskan rumah keongnya.


Begitu juga Faiz,pria itu membersihkan diri lalu menunaikan shalat,setelah selesai ia kembali merebahkan tubuh,tak terasa iapun bisa memejamkan mata,sampai jam di dindingnya menjukan pukul 06.30


Pria itu terbangun,lalu membuka kaca jendela,membiarkan oksigen masuk ke sana,setelah itu ia keluar masih dengan muka bantal,serta rambut acak acakan, dan hanya mengenakan celana jogger panjang serta kaos oblongnya.


Pria itu menguap lebar sambil merentangkan tangan meluruskan otot ototnya yang terasa kaku,tanpa di sadari seorang gadis tengah mengulum bibir sambil membuang muka pura pura tidak melihatnya.

__ADS_1


Mentari yang kini tengah menjemur pakaian di kagetkan dengan kehadiran pria yang kini resmi menjadi kekasihnya,rasanya ingin sekali ia mengecup wajah itu sebagai ucapan selamat pagi,tapi dengan segera ia memalingkan wajah berusaha mengusir bisikan di telinga kirinya.


" Selamat pagi." sapa Faiz dengan lembut,pria itu pun sedikit membungkukan badannya agar sejajar,sampai gadis itu terkejut di buatnya.


" Selamat pagi." balas Mentari sambil menyembunyikan ronanya.


Faiz masih berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan Mentari,hingga gadis itu menyelesaikan pekerjaanya,Mentari pamit hendak masuk,setelah itu Faiz beralih menatap pria di seberang sana yang seperti biasa menyambut Mentari pagi,entah apa yang terjadi,


Mentari pagi ini memang terlihat berbeda,ia lebih memancarkan cahaya indahnya,Namun sayang cahaya indah itu bukan untuknya.


Faiz tersenyum puas,ketika melihat wajah Lutfi yang tertekuk menahan kesal,hingga rahangnya terlihat mengeras,pria itu meremas pagar pembatas dengan sangat kuat.


Faiz melambaikan tangan,setelah itu ia masuk ke dalam kontrakannya.


" Mau berangkat kerja?" tanya Faiz pada Mentari ketika mereka sama sama keluar dari kontrakannya masing masing dengan pakaian yang rapi serta jas putih yang menyempurnakan penampilannya.


" Iya dok." jawab Mentari.


" Kerja dimana?"


" Di sanggar rias,di jalan sadewa no 22" jawab Mentari sambil menyebutkan alamat tempat kerjanya.


" Aku ingin sekali mengantar mu,tapi maaf sepertinya tidak bisa,aku harus masuk sekarang." sesal Faiz.


" Tidak masalah,aku akan berangkat dengan Zoya." Mentari mulai mengayunkan langkahnya,di ikuti Faiz dari belakang.


" Pulang jam berapa?" tanya Faiz lagi.


" Jam 5." jawab Mentari,sementara Zoya nampak cuek entah karena malu atau masih kesal pada Faiz.


Kini mereka telah berada di parkiran lantai dasar.


" Ya sudah,nanti sore aku jemput." ujar Faiz yang langsung di angguki Mentari,gadis itu tersenyum malu lalu mulai menaiki motor.


" Aku duluan pak dokter." pamit Mentari,sebelum Faiz menjawab Zoya sudah menyalakan motornya dan langsung meninggalkan Faiz yang masih setia memperhatikan punggung Mentari hingga tak terlihat lagi.


" Belum kapok juga,sudah mendapat tinjuan masih saja berusaha mendekati Mentari." suara seorang pria di belakangnya berhasil mengagetkannya,Faiz memutar badannya.

__ADS_1


Dokter muda itu kembali tersenyum,ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya lagi pada siapapun,jika bisa ingin sekali ia berteriak sambil mengucapkan "MENTARI AKU MENCINTAIMU." dengan sangat lantang di tempat itu juga,agar semua orang mengetahuinya termasuk Lutfi pria yang kini berdiri di hadapannya.


Seneng gak? seneng Gak? seneng lah....masa nggak...sok atuh ucapin terimakasih sama thor yang baik hati ini,,gk usah macam macam,,kasih vote like dan komen aja thor mah udah girang sambil jumpalitan...😊😊


__ADS_2