
Setelah beberapa waktu akhirnya pak Hasim tersadar,matanya mulai terbuka namun semua anggota tubuhnya tidak bisa di gerakan,bahkan mulutnya pun terasa kelu,tak dapat berucap.
Faiz dan Mentari langsung menghampirinya dengan perasaan tak karuan,melihat pria yang selama ini nampak gagah berwibawa kini harus terkapar tak berdaya.
" Bapak!!" lirih Mentari sambil mengggenggam tangan Pak Hasim.
Pria paruh baya itu hanya mampu menggerakan bola matanya untuk melirik,butiran kristal berhasil mengalir dari matanya yang sayu.
berusaha keras untuk menggerakan bibirnya, seolah hendak mengucapkan sesuatu.
Sementara Bu Sri masih menemani Rahayu yang masih tak sadarkan diri di kamar lain.
" Tenanglah, biarkan pak Hasim istirahat dulu." ujar Faiz sambil mengusap punggung Mentari.
" Apa yang terjadi pada Bapak,kenapa dia diam saja?" Mentari kembali memeluk ayahnya tanpa menghiraukan perkataan Faiz.
Seolah tidak terima dengan keadaan yang akan terjadi pada ayahnya kelak.
******
*******
Jelang beberapa hari,Pak Hasim sudah izinkan untuk pulang,pria baru baya itu kini hanya bisa terduduk lemas di atas kursi roda.
Setelah menyelesaikan tugasnya di klinik,Faiz selalu menyempatkan waktu untuk menemui Pak Hasim di rumahnya,membantu mengurus dan memeriksa kesehatannya dengan rutin.
" Pak Dokter silahkan di minum." ujar Rahayu sambil meletakan secangkir teh di atas meja teras rumahnya.
" Terimakasih ." balas Faiz tanpa melirik pada lawan bicaranya.
" Ke mana ibu Mu?" tanya Faiz.
" Ibu sedang ada di urusan di kampung sebelah,memangnya ada perlu apa?" ucap Rahayu.
" Aku hanya ingin pamit,aku sudah bilang setelah Pak Hasim sembuh,aku akan pergi dari sini." jawab Faiz,membuat Gadis itu terdiam.
__ADS_1
" Maaf Pak dokter,sebaiknya pak Dokter tetap di sini, karena bapak belum sembuh total."
"Bagaimanapun aku mengobatinya,Bapak tidak akan sembuh seperti semula.Sekarang tugas kalian untuk merawatnya." sahut Faiz.
Mentari mulai menitikan air mata saat diam diam ia menguping pembicaraan antara kakaknya dan Faiz,hatinya terasa berdenyut kala mendengar kenyataan bahwa seseorang yang sudah beberapa bulan ini bersamanya harus pergi begitu saja,meninggalkan dirinya, dan hanya menyisakan sebuah kenangan.
" Aku harus pulang sekarang,sampaikan pada ibu Mu,aku akan pergi besok pagi." Faiz mulai beranjak dan langsung mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah itu.
Keesokan harinya,Mentari datang ke klinik lebih pagi,bahkan sebelum matahari menampakan cahayanya.
Setelah selesai shalat subuh berjamaah,Faiz di kejutkan oleh kehadiran seorang gadis yang menunggunya di teras rumah dengan mata yang sembab.
" Mentari, ada apa?" tanya Faiz
" Jangan pergi dari kampung ini dok,aku mohon." Mentari mengatupkan telapak tangannya.
" Kenapa?"
" Kami masih membutuhkan keberadaan dokter di sini,aku juga masih ingin belajar lebih banyak dari pak Dokter,tolong jangan pergi dari sini."
"Aku tidak bisa apa apa, Semua keputusan ada pada ibu mu." balas Faiz.Pria itupun langsung masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Mentari yang masih mematung di teras.
Faiz mulai membuka klinik nya sendiri,tanpa bantuan Mentari lagi,karena gadis itu harus mengurus pak Hasim di rumah.
Seperti biasa,dokter itu satu persatu memeriksa pasien yang datang ke tempatnya dengan sangat baik,tanpa menerima bayaran sepeserpun dari mereka.
Hingga menjelang siang,bu Sri mendatangi klinik dengan angkuhnya ia berkata.
" Bukannya kamu mau pergi dari sini,kenapa masih belum membereskan barang barang mu?" ujar Bu Sri dengan lantang, walaupun Rahayu sudah memohon agar tidak membiarkan Faiz pergi, namun sifat sombong dan keras kepalanya tidak bisa di hentikan.
" Maaf aku belum sempat,izinkan aku tinggal di sini satu hari lagi." minta Faiz dengan ramah.
" Baik,satu hari lagi aku ingin tempat ini bersih seperti sedia kala,jangan pernah sedikitpun meninggalkan jejak pria tak tau malu seperti mu di sini."
" Baiklah." ujar Faiz.
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada lagi pasien,Faiz menutup klinik nya,lalu mendatangi rumah Pak Hasim hendak meminta bantuan pada Mentari.Setelah itu iapun kembali ke klinik di ikuti Mentari.
Mentari membantu memasukan semua barang barang milik Faiz ke dalam koper,air mata yang berusaha ia bendung akhirnya lolos juga.
Faiz yang menyadari lah itu langsung menghampirinya,kemudian ia mengusap pipi gadis itu dengan lembut.
" Apa yang membuat mu menangis."
" Hatiku sakit pak Dokter,tolong periksa aku!" lirih Mentari sambil menekan dadanya kuat kuat.
" Kamu punya riwayat penyakit jantung?" tanya Faiz heran,yang langsung di jawab dengan gelengan kepala.
" Aku tidak mempunyai riwayat penyakit jantung,tapi tiba tiba hatiku sakit ketika harus berpisah dengan pak Dokter,aku sudah sering mendapat perlakuan kasar dari ibu dan kakak ku,tapi sakitnya hanya di bagian luar, tidak sampai ke sini." lagi lagi Mentari menunjuk dadanya sendiri,Faiz tersenyum mendengar celotehan gadis yang sudah ia anggap adiknya itu.
" Pak Dokter mau pergi,lalu bagaimana dengan ku?aku tidak punya siapa siapa lagi." Gadis itu mulai banyak bicara,seolah mengeluarkan seluruh isi hatinya saat itu juga.
" Aku sudah merasa nyaman dengan kehadiran pak Dokter di sini,bahkan lebih dari sekedar seorang dokter dan asistennya." Gadis polos itu tetap meracau tanpa mau menghentikan isakannya.
" Maaf jika aku lancang,tapi sepertinya aku sudah menyukai pak Dokter." Gadis polos itu menatap dalam manik mata milik pria di hadapannya,tidak perduli dengan apa yang akan Faiz fikiran tentangnya,yang jelas ia ingin mengeluarkan semua isi hatinya saat itu juga,sebelum dokter muda itu meninggalkannya.
" Dasar bocah kecil." Faiz menjentikan jemarinya di kening Mentari,sambil menggelengkan kepala.
" Aku serius Dok." ujar Mentari sambil menundukkan kepala.
Faiz menghampirinya,kedua tangannya menyentuh pundak Mentari,mata mereka saling bertemu,Faiz melihat kesungguhan dari mata gadis yang lebih muda tujuh tahun darinya itu.
"Aku menyukai gadis yang kuat,pemberani dan tidak lemah,setelah aku pergi,aku ingin kamu bisa menjaga dirimu dan bapak baik baik,berjanjilah padaku,kamu akan tetap semangat, jangan mau di tindas terus oleh ibu dan kakakmu."ucap Faiz, tanpa mengalihkan pandanganya dari Mentari,dengan cepat gadis itu pun mengangguk.
" Aku akan berusaha untuk menjadi gadis yang pak Dokter sukai,apa kita akan bertemu lagi?" lirih Mentari.
" Jika allah sudah menakdirkan kita bertemu,sejauh dan sesulit apapun, kita pasti akan bertemu." balas Faiz,dengan keberanian yang ia miliki, pria itu mengecup kening Mentari,hingga gadis itu terperanjat namun tidak ada penolakan,Sehingga Faiz memperdalam kecupannya,sementara Mentari melingkarkan tangannya di pinggang Faiz,sambil memejamkan mata menikmati sentuhan lembut dan hangat dari bibir pria itu.
Faiz mulai melepas kecupannya,pria itu tersenyum sambil mencubit hidung mancung gadis itu dengan gemas.
" Awas jangan nakal." ujarnya,membuat wajah Mentari bersemu merah,kecupan yang Faiz berikan saat itu tidak akan terlupakan,seolah menjadi tanda kepemilikan yang sah,yang tidak bisa di ganggu gugat.
__ADS_1