I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 21


__ADS_3

Faiz nampak terkejut saat melihat pasien yang terbaring di atas brankar,pria itu semakin mendekat lalu membuka kaca matanya dan mengucek matanya beberapa kali.


" Mentari?" ujarnya panik, setelah memastikan penglihatannya.


" kenapa dia?" tanya nya pada seorang perawat yang menemaninya,namun perawat itu malah menggelengkan kepala tak faham.


" Maaf pak dokter,sepertinya perlu di periksa dulu agar kita bisa tahu dia kenapa." ujar perawat itu.


" Benar juga." Faiz menganggukan kepala,sementara perawat perempuan itu menggelengkan kepala tak habis fikir dengan kinerja otak milik dokter muda itu.


Faiz mulai memeriksa Mentari dari mulai membuka matanya,hingga memeriksa bagian perutnya dengan menggunakan stestoskop.


Setelah selesai,Faiz meminta Zoya yang masih setia menunggu di luar untuk masuk,lalu menjelaskan tentang kondisi Mentari.


Sementara Lutfi harus segera pulang karena ia harus berangkat bekerja.


" Dokter bagaimana kondisinya?" tanya Zoya panik,namun masih memperlihatkan gemulainya,saat bertemu dengan dokter tampan untuk yang ke dua kalinya,membuat dokter muda itu sedikit berkidik saat berhadapan dengannya.


" Darimana Mentari kenal dengan makhluk seperti ini." gumam Faiz dalam hati.


"Lambungnya bermasalah,dia juga mengalami diare hingga kekurangan cairan,maka dari itu dia harus di rawat agar bisa mendapat perawatan lebih lanjut." ucap Faiz serius.


" Baiklah dok,tolong lakukan yang terbaik untuknya,kasihan, dia sudah tidak punya siapa siapa." ujar Zoya dengan genit,ia berusaha meraih tangan Faiz namun tak berhasil,karena Faiz segara menarik tangannya. Lalu mengeryitkan dahinya.


" Kalau boleh tau kenapa dia bisa sampai seperti itu?"


"Gara gara patah hati, Semalam dia makan cabe campur mie instan,paginya muntah muntah sambil meringis kesakitan memegang perutnya,setelah itu dia malah pingsan." jelas Zoya.


" Patah hati,makan cabe?"Faiz kembali mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Bisa bisa aku gila jika lama lama berhadapan dengannya." gumam Faiz,Ia pun menyuruh Zoya untuk segera mengurus administrasi agar segera mendapat kamar rawat inap.


Sementara itu Mentari kini mulai mengerjapkan mata,dengan kepala masih terasa berputar,ia berusaha terbangun dan mengangkat tubuhnya,memastikan sekeliling yang terlihat asing baginya.


Gadis itu menyibakan kain pembatas,tanpa ia duga seorang pria berjas putih telah berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


Faiz tersenyum hangat ketika melihat wanita yang selama ini ia rindukan tengah berada di hadapannya.


Sementara Mentari membuang muka pura pura tidak mengenalnya.


" Mentari!!" panggil Faiz sambil berjalan mendekatinya.


" Apa kabar?Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini."


" Jika aku baik baik saja,mungkin aku tidak akan berada di tempat ini." gumam Mentari dalam hati.


" Apa yang terjadi,kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Faiz lagi,namun Mentari sama sekali tidak mau menjawab satupun pertanyaannya.


Sebenarnya masih banyak yang harus ia tanyakan,namun melihat kondisinya sekarang mungkin itu memang belum waktunya.


Setelah selesai mengurus administrasi Zoya kembali menghampiri Mentari,gadis itu segera di pindahkan ke ruang rawat inap yang kebetulan kosong,karena kebanyakan selalu langsung di rujuk ke rumah sakit,maka dari itu tidak banyak yang di rawat di sana.


Debaran jantung semakin terasa lebih kencang,ketika dokter muda itu meraih tangan Mentari,hendak penyuntikan selang infus.


Ia melirik Mentari yang masih nampak acuh tanpa sepatah katapun. Seolah benar benar tidak mengenalnya.


" Sampai kapan dia di sini dok?" tanya Zoya,dengan ciri khas gemulainya.


" Mungkin bisa tiga atau empat hari,tergantung kondisinya ,lebih cepat pulih,lebih cepat pulang juga." jawab Faiz.


" Terimakasih dok." Zoya menatap dengan gemas, tanganya me**mas udara, ingin sekali meraih tubuh dokter tampan itu,namun apalah daya tangan tak sampai.


" Mentari kau harus cepat pulih,tidak usah memikirkan dokter itu lagi,gara gara dia kau jadi sakit begini,ingat masih banyak pria lain di luar sana yang lebih baik,Dokter tampan juga masih banyak." ucap Zoya,sambil melirik Faiz di akhir kalimatnya.Membuat Mentari gelagapan dengan wajah bersemu,sementara Faiz menatapnya penuh tanda tanya.


Setelah memastikan cairan infus menetes dengan teratur,Faiz pun pamit,ia melenggang keluar kamar tersebut hendak memeriksa pasien lain yang pastinya sudah mengantri menunggunya.


" Zoya!!!" geram Mentari sambil melayangkan tatapan tajamnya pada wanita jadi jadian di hadapannya.


" Ada apa?" Zoya tersentak,dia menatap Mentari dengan lugu.


" Kau tidak bisa membaca? kau tidak lihat name tag yang terpasang di jas putihnya." teriak Mentari kesal,karena ulahnya ia harus menahan malu.

__ADS_1


" Kalau tidak salah namanya Faiz abdullah Aljarali,Uppss.." Zoya membulatkan mata sambil menutup mulutnya,ketika tengah menyadari sesuatu.


" Mentari,jangan bilang jika dokter itu,Dokter Faiz mu." ujar Zoya sambil mengatupkan kedua jari telunjuknya merasa tidak enak.


" Aku harus segera pergi ke sanggar." ucap Zoya sambil terkekeh,setelah itu ia melarikan diri menghindari tatapan tajam Mentari.


Faiz masih sibuk memeriksa satu persatu pasien,hingga akhirnya sore pun menjelang,jam kerjanya sudah selesai,dan kini Laras yang menggantikannya.


Dokter muda itu merentangkan otot otot tangan leher dan punggungnya terlebih dulu, sebelum keluar meninggalkan ruangannya.


Setelah itu ia membereskan peralatannya,berbeda dari biasanya,senyum di bibirnya terlihat terus mengembang sesekali pria itupun terdengar bersial.


" Faiz!!" suara seseorang dari belakang mengejutkannya.


" Iya." sahut Faiz sambil membalikan tubuhnya saat berjalan di lorong klinik menuju kamar rawat inap.


Laras menghampirinya sambil memicingkan mata,tak biasanya ia melihat Faiz berjalan ke di sekitar sana jika bukan di jam kerjanya.


" Kau mau kemana?" tanya Laras penasaran.


" Aku ada urusan sebentar." jawab Faiz,setelah itu dia kembali melangkah kaki.Laras pun tidak banyak bertanya lagi.


Faiz mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk,tapi ada atau tidak adanya sahutan ia akan tetap masuk,setelah dia masuk,Mentari tak nampak di atas tempat tidur,pria itu panik sedetik kemudian ia kembali tenang saat mendengar gemercik air di dalam kamar mandi


" Mentari!!" suara berat terdengar menggema di ruang tertutup itu.


" Iya." reflek gadis itu menyahut dari dalam kamar mandi.


Faiz tersenyum mendengar suara lembut yang beberapa bulan ini ia rindukan,ia duduk di kursi kecil sebelah tempat tidur sambil menunggu Mentari ke luar.


Tidak lama,pintu kamar mandi pun terbuka,memperlihatkan sosok seorang gadis yang tengah menyeret tiang infusan.


" Bagaimana kondisi mu?" Faiz beranjak hendak membantu Mentari berjalan,namun Gadis itu dengan cepat menepisnya,tanpa mau menjawab sepatah katapun.


Faiz semakin bingung di buatnya,tapi yang ia yakin gadis itu marah karena masalah semalam di tempat parkiran taman saat pertama kali mereka bertemu,tapi apa yang membuatnya seperti ini,di saat pertemuan yang sudah sejak lama ia impikan,gadis itu malah cuek seolah tak mengenalnya.

__ADS_1


__ADS_2