I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.90


__ADS_3

Tanpa terasa 2 bulan berlalu begitu cepat,malam ini hujan deras serta tiupan angin kencang menerpa bumi,di iringi petir dan guntur yang saling bersahutan.


Menteri meringis sambil memegang perut dan punggungnya yang terasa nyeri,nyeri yang begitu kuat,sehingga tidak bisa berjalan maupun berbicara,semakin lama semakin tak tertahan.


Faiz di buat kalangkabut,ia tak bisa berfikir jernih,hingga tanpa berfikir panjang iapun langsung membawanya ke lantai bawah,dimana masih banyak perawat dan dokter umum yang bertugas.


"Cepat hubungi Rani!" titah Faiz pada salah satu perawat,ia lalu memberingkan tubuh Mentari di atas brankar sambil berusaha menenangkan,mengusap punggungnya berharap bisa mengurangi rasa sakit yang di rasa sang istri.


" Ini sakit sekali,Mas!" lirih Mentari lemas,namun cengkraman tanganya begitu kuat pada lengan Faiz,begitu juga Faiz yang ikut meringis,menahan sakit pada lengannya.


Dalam keadaan tengah malam,serta derasnya air hujan,Dokter Rani yang tengah menikmati malam indahnya bersama sang suami yang baru dua bulan ia nikahi,terpaksa menghentikan kegiatannya,dengan malas ia mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.


Setelah sambungan terputus,dengan lesu dokter wanita itu pun menyibakan selimut,lalu beranjak.


" Maaf sayang, aku harus ke klinik,Mentari sudah kontraksi." ujar Rani sedikit tak tega,meninggalkan sang suami pas lagi enak enaknya.


Suami Rani yang tak lain adalah Roby,salah satu sahabat Al yang di ketahui sebagai anak angkat Abi,yang dulu tinggal dan besar di panti asuhan milik Abi pun mengendus kesal.


" Ada ada saja,padahal baru beberapa celup." gumamnya,ia lalu ikut bangun,menyusul sang istri ke dalam kamar mandi.


Meskipun hujan lebat,tak menyulutkan Umi dan yang lain untuk datang,kehadiran mereka membuat suasana klinik semakin gaduh,sambil menunggu dokter Rani tiba,Umi ,Alvi dan juga Zahra menghampiri Mentari yang sudah berada di ruang bersalin,hendak memastikan keadaannya, juga memberikan suport beserta do'a.


Kehadiran mereka malah membuat Faiz semakin tak fokus,bukannya mengusap punggung sang istri,ia malah mengusap punggung Alvi yang memang berada di sampingnya,begitu juga Alvi yang tak menyadarinya


Al yang melihat hal itu langsung menepis tangan Faiz.


" Apa yang kamu lakukan?" bentaknya,membuat Faiz dan Alvi tersadar,keduanya langsung menyingkir menjaga jarak.


" Maaf,Faiz tidak sengaja." ucapnya,tanpa ia sadari Mentari sudah melayangkan tatapan tajamnya.


" Maaf,Bi,ku pikir yang mengusap punggungku itu kamu." sahut Alvi cengengesan.

__ADS_1


" Ya sudah,kita tunggu di luar saja,biar Faiz yang membantunya mengejan." Al menarik tangan Alvi dan membawanya keluar.


" Mas!!" rengek Mentari di saat sakitnya semakin menyerang,tanpa di duga Mentari meraih kepala Faiz,dan menjambak rambut hitamnya.


" Tari!! ini sakit."cicit Faiz.


" Ini lebih sakit,mas!" balas Mentari sedikit meninggikan suaranya.


Seketika Faiz terdiam,ia faham dan akhirnya mengalah,membiarkan Mentari melakukan apapun padanya,karna ia tahu bagaimana pun sakit yang di rasanya tak sebanding dengan sakit yang di rasakan Mentari.


Dokter yang di tunggu pun akhirnya tiba,ia datang bersama sang suami.


" Kenapa lama sekali,aku sudah menunggu mu dari 1 jam yang lalu,padahal jarak dari rumah mu ke sini tak sampai 15 menit." protes Faiz,membuat Rani sedikit kesal,dokter wanita itu memutar bola matanya jengah,namun tak bisa membalas.


karena bagaimana pun Faiz pemilik klinik tempatnya bekerja.


" Sudah mending istri ku mau datang,tadinya aku tidak akan membiarkannya pergi." sahut Roby tak terima.


" Iya sayang,sabar sebentar lagi." sahut Faiz sambil melirik Rani yang masih bersiap siap.


" Dokter cepat,bayiku sudah mau keluar!" ujar Mentari,menatap iba pada Rani.


Setelah mendapat beberapa laporan dari salah satu perawat tentang kondisi Mentari,dokter itu pun langsung mengangguk.


" Ok,semuanya tolong keluar dulu." titah Rani,mendengar hal itu Faiz langsung melangkahkan kaki,namun dengan segera Mentari menarik rambutnya lagi.


" Jangan tinggalkan aku." ucapnya.


" Ahhh,,,iya,iya,aku akan tetap di sini,ayo sayang! tarik nafas,keluarkan pelan pelan." Faiz semakin panik,ia bahkan lupa tugas Rani di sana.


" Iya,dorong kuat kuat,sedikit lagi kepalanya sudah mulai terlihat." Rani memberi arahan.

__ADS_1


" Aaakkkhhhhhhh....!!!"


" Aaakkhhh..!!!" Mentari dan Faiz teriak bersamaan.


Calon ayah itu memenuhi janjinya,membantu mengejan sesuai yang pernah ia ucapkan beberapa bulan lalu,walaupun apa yang di lakukannya sama sekali tak membantu,namun kehadirannya di sana sangatlah penting,paling tidak untuk menemani dan memberi kekuatan,juga sebagai alat pelampiasan.


" Sedikit lagi,tarik nafas yang kuat,lalu keluarkan."


" Hhhmmmmm!!!"


" Hhhmmmmm!!!" Faiz melakukannya sesuai arahan.


Rani dan beberapa perawat yang membantunya hanya menggulum bibir agar tawanya tidak pecah,melihat dokter tampan yang selalu nampak gagah berwibawa kini tak jauh berbeda dari seorang pelawak provesional.


Namun meskipun begitu kekonyolanya tak mempengaruhi ketampanan di wajahnya.


Malam itu menjadi malam yang di tunggu tunggu,sekaligus paling menegangkan.


Semua yang berada di luar,tak berhenti mengucap do'a,berharap keselamatan ibu dan bayinya.


Hingga beberapa lama menunggu akhirnya suara tangisan bayi terdengar samar samar,mengalahkan suara rintikan hujan yang masih berlangsung di luar.


Faiz tak lupa mengucap syukur,ia lalu menghadiahkan beberapa kecupan untuk sang istri.


" Alhamdulillah,terimakasih, Tari ! terimakasih." ujarnya,suaranya terdengar bergedar,ia menangis haru saat melihat bayi merah yang masih dalam gendongan Rani.


" Alhamdulillah, bayinya sehat,jenis kelaminnya laki laki." jelas Rani,ia kemudian membawa bayi tersebut untuk di persihkan.


Sementara Faiz,berlari ke toilet,terlalu banyak mengejan membuatnya ingin mengeluarkan sesuatu.


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA...☺☺

__ADS_1


__ADS_2