
Masih dalam suasana yang hangat,saat semua anggota keluarga tengah berkumpul seraya menikmati sarapan pagi,tanpa mereka duga sepasang telinga diam diam menguping pembicaraan mereka,mengenai rencana penyingkiran seorang gadis yang menurut mereka sangat meresahkan.
Tentu saja gadis itu tak terima,ia begitu geram saat mengetahui hal tersebut,hingga dengan cepat ia kembali melangkahkan kaki,dan berjalan menuju kamar Faiz,di mana terdapat baby Razka yang masih nampak terlelap di sana.
"Tidak semudah itu untuk menyingkirkan ku,kalian fikir aku ini sampah yang bisa kalian buang seenaknya,lihat saja Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia."Rahayu menyeringai,dengan segera ia pun mulai meraih tubuh kecil itu dan membawanya pergi,gadis itu keluar sambil mengendap endap,berharap tidak ada satu orang pun yang mengetahui aksinya,dan kini Rahayu berhasil membawa Razka ke luar dari rumah itu, setelah sampai di luar,ia hanya berpapasan dengan beberapa santri yang berlalu lalang di sekitar pondok,Rahayu mendekap Razka dengan penuh kasih sayang, dengan santainya ia berjalan tanpa menimbulkan rasa curiga,hingga dengan mudah ia pun akhirnya berhasil keluar dari gerbang kawasan pondok tersebut dan melarikan diri,saat mengetahui penjaga gerbang tengah lengah.
Selang beberapa lama,acara sarapan bersama pun usai,para anggota keluarga satu persatu mulai membubarkan diri,dua Al pamit untuk segera pergi ke toko,sementara Haikal dan Zahra pun pamit hendak mengurus beberapa keperluan untuk acara 4 bulanan yang akan di adakan ke keesokan harinya,begitu juga dengan Faiz yang pamit untuk segera kembali ke klinik,namun tiba tiba saja terdengar suara teriakan Mentari dari dalam kamar Faiz.
Ibu muda itu langsung berhambur keluar,menghampiri suaminya saat mengetahui bayinya tak ada di kamar.
" Mas, Razka di mana?" tanyanya panik.
" Bukanya masih tidur di kamar?" sahut Faiz dengan wajah bingung.
" Tidak ada,aku sudah mencarinya kemana mana." ujar Mentari,sontak saja membuat semua orang khawatir,mereka kemudian menghampiri Si kembar yang masih asyik bermain bersama Cyra dan Sara di taman belakang rumah Umi.
" Sara! kemana bibi Rahayu?" tanya Citra pada anak pertamanya,gadis mungil itu hanya menyahut dengan gelengan kepala,wajah polosnya pun nampak bingung.
" Sejak tadi kami bermain hanya berempat,tidak ada Bibi Rahayu di sini." terang Shafa,mendengar hal itu semakin membuat semua orang khawatir,lantas kemana Rahayu sekarang? apa kehilangan Razka ada sangkut pautnya dengan ketiadaan Rahayu di sana?
"Kalian cari ke luar!" titah Haikal,tanpa menunggu lama iapun segera pergi ke sebuah ruangan,guna mengecek CCTV yang terpasang di setiap titik area pondok,sementara yang lain bergegas mencari Rahayu di luar pondok.
Tak butuh waktu lama,Haikal berhasil mengambil rekaman video yang memperlihatkan saat gadis itu membawa keponakan kecilnya pergi dari sana.
Ketiga pria beserta istri istrinya,saling berpencar mencari di mana Rahayu berada,mereka pergi dengan mengenakan sepeda motor,guna mempermudah pencarian,Mentari mulai terisak di balik punggung sang suami,khawatir jika terjadi apa apa pada putranya,hal itu malah semakin membuat Faiz tak tenang, raut wajahnya semakin terlihat panik,ia bahkan sempat tak fokus dalam mengendara sampai sampai tak memperdulikan keselamatannya sendiri,ia menerjang polisi tidur dan juga lobang yang menganga di tengah jalan.
" Tari! ku mohon,berhenti menangis." ujar Faiz.
" Aku takut terjadi sesuatu pada Razka,Mas!" rengek Mentari.
" aku pastikan tidak akan terjadi apa apa padanya,jadi tenang lah." balas Faiz,seraya menggenggam tangan Mentari yang terlilit di perutnya.
Sementara Citra dan Satria,tengah berada di tempat lain,mereka pun melakukan hal serupa,Satria melirik Citra yang nampak murung lewat kaca spion motor yang di kendarainya,pria itu menatapnya dengan lekat,memperhatikan parasnya yang cantik, terserat rasa bersalah yang amat besar.
" Jika terjadi sesuatu pada Razka,aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri." lirih Citra,namun Satria tak menyahut,ia masih saja fokus memperhatikan jalanan di laluinya sambil sesekali melirik ke sisi kanan dan kiri,berharap gadis yang di carinya itu segera di temukan.
Setelah lama mencari, akhirnya mata tajam Satria berhenti pada satu titik,dengan segera ia pun menarik pedal gas dan tak lama ia menghentikan laju kendaraanya tepat di hadapan Rahayu.
" Rahayu! kamu mau bawa Razka kemana?" tanya Citra sambil melangkahkan kaki,hendak menghampiri Rahayu.namun gadis itu malah melangkah mundur,seolah menghindar,lalu ia tersenyum sinis sambil menatap Citra dengan tajam.
" Kamu tidak perlu tau,kemana pun aku membawanya itu bukan urusan mu,karena bagaimana pun dia juga keponakan ku." balas Rahayu,dengan wajah yang seolah menantang.
__ADS_1
" Kamu jangan macam macam,atau aku akan melaporkan mu ke polisi." ancam Citra,lagi lagi Rahayu hanya tersenyum sinis.
" Lalukan saja,aku tidak takut." balasnya.
Di sela sela perdebatan antara Citra dan Mentari,Satria mengirim pesan pada Al dan juga Faiz.
Hingga tak menunggu waktu lama,kedua pria beserta istrinya itu datang dari arah berbeda,hingga kini terjadilah aksi pengepungan, Rahayu nampak gugup saat menyadari ia tak bisa lagi meloloskan diri.
" Kak Ayu,tolong kembalikan anak ku." Mentari mengiba,ia berusaha meraih bayi yang berada di gendongan Rahayu, namun gadis itu malah semakin geram.
" Jangan mendekat,atau aku akan membuang bayi ini ke bawah!" ujarnya seraya menjulurkan tangannya,membentuk gerasakan seolah tengah melempar sebuah benda,tentu saja membuat semua orang menjerit histeris,terlebih saat mereka sadar jika mereka tengah berdiri atas sebuah jembatan.
" Kau tau, sejak dulu Aku begitu membencimu,Tari! dan sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan mu hidup bahagia,kau harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini,karena kedatangan mu yang secara tiba tiba di tengah tengah keluarga ku,membuat ku hidup di selimuti kebencian,dan kebencian ku ini sudah mendarah daging,aku tidak akan membiarkan darah daging dari wanita sialan seperti mu tetap hidup,dan berkembang lebih banyak,kamu dan ibu mu hanya wanita sial,yang hanya bisa merebut kebahagian orang lain." Rahayu terus meracau,membuat Mentari semakin terisak,hingga tubuhnya ambruk,ia berlutut memohon agar Rahayu tak sampai menyakiti anaknya.
" Aku minta maaf,kak! tapi tolong kembalikan anak ku, dia tidak bersalah,jika mau kak Ayu bisa menghukumku."Mentari sampai mengatupkan kedua tangannya,membuat semua orang merasa iba,Faiz pun tak bisa tinggal diam,dengan cepat ia membawa sang istri untuk kembali berdiri
"Sudah cukup!Mentari tidak salah,dia tidak meminta untuk di lahirkan dari istri kedua ayah mu,seharusnya kamu bisa berdamai dengan perasaan mu, dan menerima takdir hidup mu sendiri,bukan malah menyalahkan orang lain." bentak Faiz.
" Diam!! tau apa kau tentang perasaan ku,kau tidak tau bagaimana perasaan ku saat mendegar orang tua ku bertengkar setiap hari karena wanita ini." balas Rahayu sambil menunjuk Mentari,emosinya semakin tak terkontrol,nampak jelas amarah dan rasa kekecewaan dalam raut wajahnya.
Di sela sela keributan itu, Citra diam diam melirik ke bawah jembatan,terdapat sungai yang memiliki arus cukup deras,tak bisa di bayangkan jika seandainya Rahayu kesetanan hingga nekat melempar bayi tak berdosa itu kesana,hingga akhirnya ia pun kembali membuka suara.
Mendengar hal itu,Rahayu menyeringai ia membiarkan Citra mendekatinya,hingga kini mereka pun saling berhadapan.
" Kau yakin akan memberikan apapun yang aku mau." gumamnya,dengan sepst Citra pun mengangguk yakin.
" Kalau begitu berikan suami mu pada ku." ucapannya, sontak membuat semua orang tersentak,sementara Citra nampak bergeming,sesekali terdengar helaan nafas berat dari hidungnya,ia berusaha tetap tenang,setelah di rasa cukup tenang,tanpa di duga Citra melayangkan tanparan kerasnya tepat di pipi Rahayu,lagi lagi semua orang berhasil di buat jantungan.
Dua Al bahkan sempat mengusap dadanya beberapa kali.
" Aku fikir kamu akan berubah setelah aku memperlakukan mu dengan baik,tapi ternyata aku salah,walau sudah di satukan dengan belut, ular tetap lah ular." ucap Citra masih terlihat santai.
" Aku harap kau tidak lupa dengan apa yang kau ucapkan barusan,aku tidak meminta apa apa lagi selain suami mu,jangan khawatir, aku juga tidak meminta mu untuk menyerahkannya secara utuh,karena aku wanita yang baik,jadi aku bersedia menjadi madu mu." ucap Rahayu tanpa tau malu,membuat Citra mendesis sinis.
" Bagaimana, bang? kamu mau menikahinya?" tanya Citra sambil melirik Satria,sontak saja pria yang di liriknya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
" Jangan konyol." sergahnya.
Sementara Alvi yang sejak tadi berdiri di belakang Rahayu tak bisa tinggal diam lagi,tangannya sudah mulai terasa gatal,ekor matanya diam diam melirik sang suami yang berdiri di sampingnya,memastikan jika ustadz tampan itu tengah dalam kondisi lengah, dan saat itu juga wanita dingin itu mulai menunjukan taring tak kasat matanya,hingga tanpa di duga ibu dua anak yang terkadang masih bersikap bar bar itu mulai menunjukan aksinya, dengan mendekap sambil menahan leher Rahayu dari belakang dengan menggunakan lengannya.
Gadis itu di buat tak berdaya,nafasnya tersenggal,tenaganya semakin melemas hingga dekapan tangannya mulai mengendur,nyaris saja bayi yang berada di dalam gendonganya terjatuh jika Citra tak segera menangkapnya.
__ADS_1
Melihat kesempatan tersebut ,Mentari segera meraih bayinya dari tangan Citra dan membawanya pergi dari sana,sementara Citra kembali membantu Alvi yang hampir saja mendapat serangan balasan dari Rahayu,saat gadis itu berusaha melepaskan diri dengan menyengkram kuat tangan Alvi yang masih melilit di lehernya.
Dengan cepat Citra manarik tangan Rahayu,kemudian memutar dan menguncinya di belakang punggung,tak cukup sampai di situ Alvi kembali menunjukan aksinya dengan menahan kepala bagian belakangnya,dan menaruhnya di tiang jembatan,hanya tinggal sekali gerakan lagi,sudah di pastikan Rahayu bisa saja menjemput ajalnya dengan cepat.
" Hayoo!! masih mau jadi madu?" geramnya, sambil sedikit mendorong kepala Rahayu hingga semakin membungkuk,arus deras di hadapan matanya seolah melambai lambai.
Sontak saja Al langsung menghampirinya,dan berusaha menenangkan.
" Sayang!!" gumamnya.
" Diam! jangan coba coba melerai kami." teriak Alvi kesal.
" Hati hati,kalian bida saja jatuh." cicit Al.
" Kenapa kalian tidak bertindak cepat,dan malah menonton saja." geram Alvi,sambil melirik suaminya dan juga Satria bergantian.
"Dasar payah! Kenapa harus kami yang turun tangan?" bentak Alvi lagi,membuat Al dan Satria salah tingkah.
" Bang! kenapa diam saja?bantu aku memegangnya juga!!" teriak Citra,dengan cepat Satria pun membantu memegang tangan Rahayu.
" Kalian takut batal,karena menyentuhnya, ya?tenang saja masih banyak air." bentak Alvi merasa tak habis fikir.
" Bukan begitu sayang,aku hanya tidak bisa melawan seorang perempuan." jelas Al,membela diri.
" Ah,iya aku baru ingat,melemahan mu memang perempuan." cibir Alvi,dan untung saja Haikal datang di waktu yang tepat,sambil membawa dua orang polisi,sehingga cibiran dan umpatan yang keluar dari mulut Alvi dapat terhenti,semua orang kembali bernafas lega,Alvi pun segera melepaskan cekalan tangannya dari kepala Rahayu,dan membiarkan polisi membawanya pergi.
" Kenapa gak dari tadi sih,Al? kalau gitu gue kan gak perlu menawarkan apa apa lagi sama dia." Citra sempat melayangkan protes.
"Biasa,jagoan datang belakangan,lagipula gue fikir abang abang jago ini yang akan bertindak." sahut Alvi sambil melirik Satria dan juga suaminya dengan sinis,nampaknya ia masih sedikit kesal,dengan kedua pria itu yang seolah tak bisa bersikap tegas.
" Maaf sayang,kami hanya ingin memberi kesempatan untuk menunjukan kehebatan kalian." Al terkekeh,sambil merangkul pundak sang istri dan membawanya ke atas motor.
" Setiap hari aku sudah menunjukan kehebatan ku,apa masih kurang?" rengek Alvi manja,membuat Al kembali terkekeh,ia mengerti akan maksud sang istri.
"Ini beda lagi sayang,Kalo soal itu memang tidak perlu di ragukan lagi." balas Al,sambil mencubit pipi istrinya dengan gemas,kemudian ia mulai menyalakan mesin motor dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
" Aku hebat kan,bang!" tanya Citra merasa bangga, saat mereka dalam perjalanan pulang.
" Ya,kamu hebat,aksi heroik mu perlu mendapat penghargaan." sahut Satria membuat Citra terkekeh.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊
__ADS_1