
Selang beberapa jam kemudian,akhirnya mobil yang di kendarai Satria tiba juga di pondok,seperti reaksi semua orang pada umumnya saat pertama kali memasuki area pondok pesantren tersebut,Rahayu begitu takjub dengan bangunan bangunan megah yang berdiri kokoh di dalamnya.Ia membulatkan mata dengan mulut mengangga,decak kagum terpancar dari wajahnya yang nampak antusias.
Seperti biasa Umi sudah menunggu kedatangan mereka di teras rumah mewah miliknya,menyambutnya dengan sukacita,wanita paruh baya itu langsung merentangkan tangan,sambil berhambur memeluk Citra dan kedua cucu perempuannya.
" Assalamu'alaikum,Umi apa kabar?" sapa Satria,ia lalu mencium tangan Umi.
"Wa'alaikum salam,kabar Umi baik,bagaimana dengan kalian?"tanya balik Umi.
" Alhamdulillah,kami juga baik." balas Citra.
" Syukurlah."Umi pun menghela nafas lega,seraya terus menimbang Sara yang sudah berada dalam gendongan,tanpa menyadari kahadiran orang asing di sana.
"Tumben Umi sendiri,yang lain kemana?" tanya Satria
" Zahra dan Haikal sedang pergi mengurus persiapan untuk acara nanti,sementara dua Al,mereka masih di toko,mungkin sebentar lagi pulang." ujar Umi.
" Lalu Faiz?"
" Dia masih sibuk di klinik,nanti malam pasti ke sini."
Satria dan Citra pun mengangguk faham.
Sebelum mengajak mereka masuk,Umi baru menyadari kehadiran Rahayu yang masih berdiri tak jauh dari sana,alisnya langsung terpaut,tatapannya tak mampu dijelaskan.wanita paruh baya itu memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah.
__ADS_1
Lalu melirik Satria dan Citra secara bergantian.
Faham akan maksud dari lirikan tersebut,Citra langsung memperkenalkan Rahayu pada Umi.
" Maaf Umi,ini Rahayu,dia yang bantu aku mengurus rumah dan menjaga anak anak." jelas Citra,namun di awal pertemuan mereka, Rahayu tak memberi kesan menarik,ia sama sekali tak bisa bersikap baik selayaknya kepada orang yang lebih tua,meskipun Umi telah berusaha bersikap ramah dengan menunjukan senyum tulusnya,namun Rahayu masih saja acuh,seolah tak perduli,bahkan hanya sekedar membalas senyum atau menjabat tangan sekali pun gadis itu terlihat enggan.
Umi hanya menggelengkan kepala,sementara Satria dan Citra di buat salah tingkah,mereka tak menyangka akan sikap yang di tunjukan Rahayu terhadap Umi,apa yang di lakukannya benar benar sudah di luar batas kewajaran.
Tidak hanya lancang,ternyata gadis itu juga tak memiliki tatakrama dan adab yang baik.
"Ya sudah, ayo masuk! kalian pasti lelah." ajak Umi.
Dengan rasa tak enak hati Citra dan Satria pun mengekor dari belakang,lalu masuk ke dalam kamar yang sudah umi sediakan untuk mereka.
" Aku minta maaf,bang!" lirih Citra sambil menundukan kepala.
Satria yang sedari tadi berdiri menghadap jendela sambil membelakanginya seketika berbalik badan,pria dingin itu menatap Citra seraya melipat kedua tangannya di dada.terpancar emosi terpendam di balik wajahnya yang datar.
" Abang pasti kecewa sama aku." ujar Citra lagi,tanpa berani mengangkat wajahnya.
" Harus berapa kali aku bilang padamu,jika wanita itu tak pantas untuk di kasihani,dia sendiri bahkan tak bisa menghargai orang lain,aku bisa saja menerima sikap kurang ajarnya,tapi aku tidak terima jika dia memperlakukan Umi seperti itu." ucap Satria,membuat Citra sedikit terperanjat,ia semakin menundukan kepala lebih dalam,kesalahannya memang terlalu fatal,mengizinkan Rahayu tinggal di rumahnya sama halnya dengan memelihara ular.
" Aku memang salah,bang! aku janji setelah pulang dari sini aku akan menyuruh dia pergi."
__ADS_1
"Baiklah,sudah Cukup,ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya,kesabaran ku sudah habis,dia sudah membuatku malu di hadapan Umi."tegas Satria,dengan segera Citra pun mengangguk,dan mulai bisa mengangkat wajahnya hendak menatap sang suami.
" Abang jangan marah lagi." rengek Citra dengan manja membuat Satria tersenyum,pria dingin itu langsung mendekap sang istri dan mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya.
" Mana bisa aku marah pada wanita yang sudah menjadi ibu dari anak anak ku."ucapnya,sambil mencubit hidung Citra dengan gemas.
Wanita itu pun membalas senyumannya dan semakin mempererat pelukannya.
"Beruntungnya aku bisa menjadi ibu dari anak anak mu,aku semakin mencintai mu." Cicit Citra,membuat Satria semakin gemas,tanpa menunggu lama bibirnya langsung menyambar bibir yang selalu menjadi candunya itu dengan buas,melahap dan menyesap serta ********** tanpa ampun,,Citra pun tak mau kalah,ia menyalurkan seluruh rasa cinta dengan membalas serangan sang suami tak kalah brutal,mengimbangi ciuman panas yang memabukan,jika saja mereka tak mengingat kedua anaknya yang masih di luar bersama Umi, mungkin saat itu juga Satria akan melemparkan istrinya itu ke atas tempat tidur dan menghajarnya habis habisan.
Betapa hebatnya sosok wanita itu,Hanya dengan kata cintanya saja ia mampu menyulap sebuah gunung es menjadi mata air panas,meruntuhkan benteng pertahanan yang di dirikan Satria,sampai meluluh lantahkan perasaannya,hingga membuat pria itu begitu tergila gila,dan akhirnya ia pun bisa merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelum mengenal wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Mereka pun menghentikan pautannya,saat terdengar suara ketukan pintu.
" Maaf sudah menganggu istirahat kalian.Umi hanya ingin mengantarkan anak anak,sepertinya mereka sudah mengantuk." Umi tersenyum kikuk,saat menyadari kedatangan yang tidak tepat waktu,terbukti saat melihat Citra yang nampak gelagapan sambil mengeka bibirnya yang sedikit bengkak saat membukakan pintu untuknya.
" Ah,tidak apa apa,seharusnya kami yang minta maaf karena sudah merepotkan Umi." Citra merasa tidak enak,ia lalu meraih tubuh kecil Sara dari gendongan Umi.
" Tidak masalah,sebaiknya kalian lanjutkan istirahat, sambil menunggu mereka datang." titah Umi lagi sebelum pergi.
Sementara itu,Rahayu mengumpat habis habisan,ia begitu kesal saat Umi memberikanya kamar yang tidak sesuai keinginannya.
" Bagaimana bisa dalam rumah sebagus dan semewah ini,aku hanya di beri kamar sempit yang layak di jadikan kandang ayam,dasar menyebalkan,wanita tua itu benar benar menganggapku pembantu, padalah aku sudah terbiasa tidur di kamar yang bagus dan nyaman di rumahnya Mbak Citra." Rahayu terus saja bersungut sungut,sambil membereskan kamar tersebut,yang banyak di kerubungi sarang laba laba dan juga sedikit berdebu,karena sudah lama di biarkan dalam keadaan kosong,lagipula rumah sebesar itu hanya di huni satu orang membuat umi kewalahan,dan tak bisa membersihkannya setiap hari.
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊