I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab .69


__ADS_3

Mentari mulai terjaga,matanya mengerjap beberapa kali,merasakan nafas hangat yang menyapu wajahnya,ia tersenyum kala melihat pria pujaan hatinya tertidur lelap dengan damai di hadapannya,sambil memeluknya dengan posesif,lama berdiam sambil menatap penuh kagum pada suaminya yang tampan,Mentari mengecup kening Faiz sebelum beranjak lalu berjalan ke dalam kamar mandi,membersihkan diri dan menunaikan shalat ashar.


Setelah semua itu selesai,Mentari kembali menghampiri Faiz,memastikan jika pria itu masih tertidur pulas,dan benar saja Faiz bahkan begitu lelap hingga dengkuran halus terdengar keluar dari mulutnya,membuat Mentari tak tega membangunkannya.


Lalu ia melirik jam yang menempel di dinding,waktu masih menunjukan pukul 15.30 masih ada waktu setengah jam lagi,biarkan Faiz istirahat lebih lama lagi,mengingat ia sudah bekerja keras tadi.


Mentari pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya,lalu berjalan ke halaman depan,nampak ada umi di sana yang tengah menyiram bunga bunga kesayangannya.


" Assalamu'alaikum." sapanya,sambil berdiri di belakang Umi,wanita paruh baya itu langsung menoleh lalu tersenyum.


" Wa'alaikum salam,kamu sudah bangun?" sahutnya,masih dengan senyum hangat yang terasa begitu meneduhkan,sungguh betapa beruntungnya mereka yang mempunyai mertua sepertinya,termasuk Mentari.


Mentari mengangguk,lalu berjalan lebih mendekat dan berdiri di samping Umi.


" Bunganya cantik cantik ya,Mi." ucapnya seraya memperhatikan semua bunga yang berada dalam pot bergabai ukuran di hadapanya,tumbuh subur dan juga segar begitu menyegarkan mata.


" Iya,dong! karena umi merawatnya dengan baik dan penuh cinta,jadi mereka tumbuh dengan baik." sahut Umi,sementara Mentari kembali tersenyum lalu menatap mertuanya penuh takjub.


Kenapa tidak, wanita yang tak muda lagi itu bisa membagi kasih sayangnya pada seluruh anak di pesantren itu dengan tulus tanpa pamrih,tanpa memilah milih,tanpa membanding bandingkan,di matanya semua sama tak ada istilah anak kandung maupun anak angkat,apalagi sebagian dari mereka adalah anak anak yang kurang beruntung,pantas saja rezeki keluarga itu tak pernah berkurang.


Memang benar,segala sesuatu yang kita miliki bukan semata mata sepenuhnya milik kita,melaikan ada sebagian hak orang lain,seperti saat kita mendapat sejumput padi,jika padi tersebut kita simpan,maka sejumput itulah yang akan kita miliki,lain halnya jika padi itu kita tanam.sejumput padi itu akan bertambah berkali kali lipat,hingga menjadi sekarung bahkan lebih.


Dan itu lah yang selalu Umi amalkan dan ajarkan pada semua anak anaknya.


" Seperti umi menyayangi anak anak Umi." tambahnya.

__ADS_1


" Ya,kurang lebihnya seperti itu lah." sahut Umi lagi.


Mentari kembali tersenyum,tatapan matanya masih tertuju pada Umi,ia begitu terharu dengan sikap kebaikan wanita paruh baya itu,kasih sayang yang ia berikan padanya terasa begitu tulus,seketika air matanya mulai berlinang di pelupuk mata,saat mengingat nasibnya dulu,yang bahkan sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu,tidak pernah merasakan hangatnya dekapan seorang ibu.


Dengan segera ia menyeka air matanya saat menyadari Umi telah memperhatikannya.


" Kamu menangis?" tanya Umi,lalu mematikan keran air dan membawanya duduk di bangku teras.


" Maaf,Umi." ucap Mentari sambil kembalu mengusap air matanya yang terus menerus menetes begitu saja hingga terdengar isakan.


" Kenapa,Nak? bicara pada Umi." ucap Umi dengan wajah khawatir.


" Tidak apa apa,tiba tiba aku kangen pada Ibu ku,mungkin jika dia masih ada,dia pasti sebaik Umi." ujarnya sedikit kercekak karena sesenggukan,membuat Umi tersenyum,sambil bernafas lega.


" Terimakasih,Umi! aku juga akan melakukan apapun demi Umi." balasnya.


" Kamu tidak perlu berbuat apa apa untuk Umi,cukup hidup bahagia dan tentram bersama Faiz,dan segera berikan Umi cucu yang banyak,itu sudah cukup."timpal Umi,membuat gadis itu menundukan kepala menyembunyikan wajah merahnya karena permintaan umi yang memintanya cucu.


" Semoga Allah segera memberikan kepercayaan itu pada ku." gumamnya dalam hati,dengan reflesk ia mengusap perutnya,berharap benih benih cinta yang di taburkan Faiz berhasil tumbuh menjadi bibit dalam rahimnya.


Sementara Faiz ,sedikit demi sedikit mulai tersadar dari tidurnya,mengerjapkan mata sambil meraba permukaan tempat tidur di sampingnya yang kini nampak kosong,ia lalu bangun mencari sosok wanita yang sudah memenuhi hati dan pikirannya tak ada dalam kamar.


Ia pun merentangkan tangannya,dengan sedikit membungkuk,berusaha meraih kursi roda yang berada sedikit jauh darinya.


" Sial,merepotkan sekali." umpatnya kesal,sambil memukul kursi roda tersebut setelah berhasil mendapatkannya.

__ADS_1


" Awas saja jika aku sembuh,kamu akan ku lempar." tambahnya lagi,lalu mulai memutar kursi rodanya menuju kamar mandi.


" Tari!! kamu di dalam?" ia mengetuk pintu beberapa kali,namun tak ada jawaban.pria itu langsung memutar gagang pintu yang nampak tak terkunci,sudah jelas Mentari tak ada di sana.


Lalu ia ke luar mencari keberadaan Mentari di setiap ruangan di rumah itu,Mentari tak pernah ke mana mana jika bukan ke dapur pasti di taman belakang,namun tetap tidak ada.


Ia mulai Frustasi,seperti anak ayam yang di tinggal induknya,kemudian beralih memutar kursi rodanya menuju teras depan,dan akhirnya wanita yang di carinya berhasil ia temukan.


" Ternyata kamu di sini." ucap Faiz seraya mengembuskan nafas lega.


" Iya,mas perlu sesuatu?" balas Mentari langsung menghampiri,tanpa di duga Faiz tiba riba melingkarkan tangannya di pinggang Mentari,sambil menenggelamkan wajahnya di perut,membuat gadis itu terkejut,melirik pada umi yang tengah memperhatikannya sambil menggelengkan kepala.


" Pengantin baru,berasa dunia milik berdua." godan Umi,Faiz pun terkekeh sambil melepaskan pelukannya.


" Maaf,mi!" Pemuda itu terkekeh lalu pamit pada Umi untuk mengajak Mentari kembali ke dalam kamarnya.


" Jangan lupa makan dulu!kalian belum makan siang kan." seru Umi, saat pasangan pengantin baru itu sudah berjalan menuju kamarnya.


" Iya,Mi sekarang Faiz lebih seneng makan daging mentah di kamar." sahut Faiz yang langsung mendapat cubitan di punggungnya dari sang istri.


" Baguslah,jadi kita tak perlu memasaknya,lagi pula bumbu dan minyak sedang mahal,nikmati saja daging mentah mu itu." balas Umi membuat semuanya terbahak.


" Dasar anak nakal." lirih Umi tersenyum sambil menggelengkan kepala,ketika Faiz dan Mentari sudah hilang di balik pintu kamar.


JANGAN LUPA LIKE,KOMEN DAN VOTENYA YA...

__ADS_1


__ADS_2