
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat,kehidupan di keluarga Aljalari berjalan normal,setelah kejadian beberapa bulan lalu,wanita yang mengaku sebagai istri siri Abi tak lagi berani menunjukan batang hidungnya,sepertinya ia tengah merancang srategi dengan matang.
Faiz sudah berhasil mewujudkan satu impiannya, yaitu memiliki sebuah klinik,kini mereka pun tengah melangsungkan acara syukuran dan peresmian klinik tersebut ,sekaligus 100 harian Abi.
Acara yang di selenggakan tak begitu mewah,hanya melibatkan anak anak santriwan santriwati, juga anak panti dan sanak saudara terdekat,di akhiri dengan pembagian sedekah untuk fakir miskin,dan kaum dhuafa.
Bangunan klinik berlantai tiga yang di beri nama HARAPAN MENTARI tersebut menjadi satu satunya klinik terbesar dan terlengkap di daerah itu,tentunya sesuai dengan desain yang Faiz inginkan, karena ia sendiri yang turun tangan untuk membuat rancangan dan desain interiornya.
Tak hanya memiliki ruangan ruangan klinik pada umumnya,pria itu pun membuat ruangan rahasia yang berada di lantai paling atas,kamar khusus untuknya dan juga sang istri.
Setelah acara selesai, Faiz membawa Mentari masuk ke ruangan rahasia tersebut sambil menutup matanya,dengan maksud memberi kejutan.
Dan benar saja,Mentari begitu terkejut saat membuka matanya,ia melihat kamar yang begitu luas dan megah dengan parobotan yang cukup lengkap,tak hanya itu di sana juga terdapat kolam renang nimimalis yang berada di bagian luar, hanya terhalang sebuah dinding kaca, kamar yang memiliki dinding motif classic berwarna biru tersebut layak di sebut kamar hotel,gadis itu bahkan belum pernah melihat dan memasuki kamar semewah itu seumur hidupnya.
" Bagaimana,kamu suka?" tanya Faiz sambil memeluknya dari belakang.
Mentari mengangguk,ia membalikan tubuhnya menghadap sang suami,masih dengan raut wajah tak percaya.
"Kau membuat kamar VIP untuk pasien mu? mereka pasti akan betah lama lama di rawat di sini."ujar polos Mentari membuat Faiz ingin langsung menenggelamkan wajahnya di kolam renang.
Pria itu terkekeh sambil menggelengkan kepala.
" Tentu saja bukan,aku membuatkannya khusus untuk kita,kita bisa menghabiskan waktu berdua di tempat ini." ujar Faiz,ia lalu membuka jilbab Mentari dan mulai menyapukan bibirnya pada leher jenjang sang istri.
__ADS_1
" Maksud mu kita akan tinggal di sini?"
" Jika kau kamu mau."
" Lalu bagaimana dengan Umi?"
" Umi sudah tau,dan dia juga sama sekali tidak keberatan,lagipula jarak dari sini ke pondok tak terlalu jauh,kita masih bisa menemuinya tiap hari." jelas Faiz,membuat senyum Mentari terbit begitu indah.
" Kau terlalu berlebihan,tapi aku sangat menyukainya." Mentari mengalungkan tangannya di leher sang suami.
" Anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda." bisik Faiz,ia lalu menyambar bibir Mentari dengan rakus,lalu mengiringnya ke tempat tidur tanpa melepaskan pautannya.
Faiz mengunci Mentari dalam kungkungannya,ia tersenyum menyeringai,seperti serigala yang siap melahap mangsanya,setelah sekian lama ia tak bisa menikmati tubuh sang istri dengan benar,karena masalah yang terjadi bertubi tubi sempat menganggu fikirannya.
" Kamu siap,sayang?"
" Tunjukan kegilaan mu,Mas!" tantang Mentari.
Faiz pun dengan senang hati membalas tantangannya,dengan melakukan pemanasan terlebih dulu,menindih tubuh sang istri,dan mulai bemberikan nafas buatan memalui bibirnya,lalu turun ke bawah, menghujani ceruk leher hingga ke dada,juga seluruh tubuhnya dengan kecupan yang hangat,tak lupa meninggalkan jejak merah kepemilikannya, sapuan lembut dari bibirnya selalu berhasil membuat Mentari menjerit dalam hati, tangannya pun mulai bekerja dengan baik memeriksa seluruh tubuh sang istri dengan mengerayangi ,dan berhenti di pangkal paha,jamarinya terasa mengelitik di dalam intinya yang sudah basah.
Membuat Mentari semakin hanyut dalam gelombang pasang yang memabukan.
Tak sampai di situ,Faiz terus mengeksplorasikan tubuh mereka hingga menemukan zona erotis versi dirinya sendiri,pria itu membuka kaki sang istri dan menenggelamkan wajah di antara selangkangannya.
__ADS_1
Mentari semakin tak bisa menahan hasratnya,saat merasakan sensasi erotis yang sangat hebat ketika sentuhan ringan itu berada tepat di titik U-spot.
" Cukup,mas!" desah Mentari,dengan wajah yang merah,menuntut sesuatu yang lebih.
Mengdengar hal itu,Faiz pun menghentikan aktifitasnya,lalu kembali merangkak mensejajarkan tubuhnya,dan langsung memasukan suntikannya ke dalam lubang yang sudah tesedia.
Tempat tidur yang semula rapi berubah berantakan,bantal dan sprai terhempas begitu saja.
Ranjang tidur berderit akibat guncangan hebat ulah dari kegilaan Faiz,ia membolak balikan tubuh polos sang istri seperti kambing guling.
Hingga beberapa lama,suntikan tersebut mengeluarkan cairan yang mengandung bibit kehidupan ke dalam rahim sang istri.
Pria itu terkulai lemas,tangannya tak lagi bisa menopang berat tubuhnya,hingga ia menutupi tubuh Mentari dengan tubuhnya yang sama sama terasa lembab oleh keringat.
Setalah di rasa cukup memasukan bibit kehidupanya,Faiz mengeluarkan suntikan tersebut dari lubangnya,lalu berguling ke samping Mentari masih dengan nafas yang memburu.
" Kau benar benar gila,Mas!" cicit Mentari sambil menggeser posisinya semakin mendekat.
Faiz hanya tersenyum puas,merentangkan satu tangannya untuk Mentari tiduri.
"Tunjukan kenakalan mu juga sayang." sahut Faiz.
" Aku akan menunjukannya nanti." balas Mentari ia lalu meraih selimut yang terongok di lantai untuk menutupi tubuh mereka,setelah itu mereka pun tertidur pulas masih dengan tubuh yang sama sama polos.
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK,DAN KASIH DUKUNGAN BUAT THOR DENGAN MEMBERI LIKE VOTE DAN KOMEN...😊