I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.118


__ADS_3

Sesampainya di bandara,semua anggota keluarga nampak begitu berat saat akan melepas kepergian Haikal dan juga anak istrinya,terutama Umi yang tak henti hentinya menangis,sambil memeluk menantu tertuanya itu.


" Hati hati ya,jaga kesehatan dan jaga kandungan mu juga,sering sering hubungi Umi,jangan sampai lupa sampaikan salam pada seluruh keluarga mu di sana." pesannya pada Zahra.


" Iya Inshaallah,Umi tidak usah khawatir,dan Umi juga harus jaga kesehatan." balas Zahra.


Setelah itu,Zahra beralih pada ke tiga iparnya,ia lalu tersenyum seolah menguatkan perasaan mereka yang kini di selimuti rasa sedih.


Sebagai menantu dan Ipar tertua,Zahra terkenal sebagai wanita yang baik dan juga ramah,tak hanya itu,wanita asal Kairo tersebut memiliki sikap lemah lembut,dan tak pernah banyak bicara,bahkan ia tak pernah meninggikan suaranya sekalipun sedang marah, sikapnya yang hangat selalu bisa membuat ke tiga iparnya merasa nyaman,hingga meraka pun tak segan untuk saling bertukar cerita,selayaknya pada kakak sendiri.


Mereka lalu saling berpelukan.


Sementara itu Haikal pun memeluk kedua adiknya, meskipun ini bukan kali pertamanya ia pergi,meninggalkan semuanya,namun entah kenapa kini rasanya sangat berbeda,ada rasa sesak yang menyerang dadanya.


" Abang percayakan Umi pada kalian,tolong jaga dia baik baik,dan ingat selalu pesan Abi,jangan biarkan dia sendiri,dan sampai meresa kesepian." ujarnya,sambil memeluk Faiz dan juga Al.


" Abang tenang saja,Faiz akan lebih sering mengunjungi Umi dan menemaninya." sahut Faiz.


Sementara Satria hanya diam,sambil memperhatikan momen yang mengharu biru di hadapanya,tanpa mau bergabung untuk memberi pelukan perpisahan,nampaknya ia masih terlalu gengsi untuk menunjukan perasaanya,kendati demikian,matanya tak bisa berbohong,walau tak sampai mengeluarkan air mata,namun matanya yang merah dan berkaca kaca tak bisa ia sembunyikan.


" Hati hati,bang!" ujarnya,sambil mengulurkan tangan,saat Haikal menghampirinya.


" Kamu tidak mau memeluk ku?" tanya Haikal.

__ADS_1


" Apa itu harus?" Satria balik bertanya.


" Tentu saja,aku akan pergi lama,dan kamu akan merindukan ku, sebaiknya peluklah aku,selagi aku masih di sini." ujar Haikal dengan penuh percaya diri.


" Cih!!" Satria berdesis,seraya memalingkan wajah,namun tak ayal ia pun menyambut hangat saat Haikal memeluknya secara tiba tiba.


Pelukan pertama yang Haikal berikan untuknya, sukses membuat pria dingin itu diam seribu bahasa,sampai sampai Faiz pun mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen langka tersebut.


Papah muda itu terkekeh,ketika berhasil mengambil gambar kedua pria yang tengah saling berpelukan itu, dengan sangat epik.


" Lihat bang,hanya di tempat ini Faiz bisa melihat anjing dan kucing berpelukan." bisik Faiz,seraya menunjukan hasil jepretanya pada Al.


" Iya,dan hanya di tempat ini juga, abang bisa melihat tikus memegang hp." balas Al sambil menahan tawa,membuat dokter tampan itu mencebik kesal.


" Sudah jangan di ganggu , mereka sedang akur." ujar Al lagi,saat melihat Faiz hendak menghampiri Haikal.


Ustadz muda itu langsung manarik tangan Faiz dan mengajaknya untuk duduk,namun nampaknya Faiz si biang onar tak bisa membiarkan hal itu terjadi terlalu lama,sebelum melihat kedua abangnya adu mulut,hidupnya terasa belum cukup sempurna, hingga dengan cepat ia pun kembali beranjak untuk menghampiri Haikal dan Satria.


" Bang, lihatlah! baguskan?" ujar Faiz seraya menunjukan hasil potretannya tadi pada Haikal,berharap tanggapan yang baik darinya.


" Faiz akan mencetak foto ini dengan ukuran yang sangat besar dan memajangnya di baliho dekat pondok,orang orang pasti akan sangat senang melihat mumi Mesir dan Hanoman berdamai." ucap Faiz,di iringi ledekan, sesuai dengan fostur wajah dari kedua pri itu.Haikal yang memang memiliki wajah mirip orang timur tengah,karena mengambil gen dari sang Ibu,sementara Satria yang tak tau dari mana asalnya juga nyaris mirip orang India.


Dokter muda itu bahkan sampai terpingkal pingkal saat membayangkannya.

__ADS_1


Namun dengan cepat Haikal mematahkan impiannya,ia tahu adik lacnatnya itu memang selalu bertindak konyol,sebelum semua itu terjadi,ia harus segera menghentikannya.


"Dasar konyol,yang benar saja,ini malah terlihat aneh." protes Haikal yang langsung mendelete foto tersebut,membuat Faiz memekik histeris,ia menatap ponselnya dengan iba,pupus sudah harapanya untuk bisa menistakan kedua abangnya itu dengan menggunakan foto tersebut.


" Kenapa abang menghapusnya." cicit Faiz.


" Abang sudah tau akal bulus mu,bocah!" sungut Haikal sambil memukul kepala Faiz,persis seperti yang sering Satria lakukan padanya.


Hal itu membuat Faiz terkejut,ia manatap Haikal sambil memegang kepalanya yang berdenyut.


"Apa apaan ini?


Padahal selama ini yang Faiz tahu,sifat seseorang di turunkan dari orang tuanya,tapi ternyata bisa juga di wariskan hanya dengan cara berpelukan." lirihnya,dengan wajah tak percaya,membuat semua orang menggelengkan kepala.


" Ah,ini tak bisa di biarkan,bang Al jangan sampai dia berpelukan dengan Bang Satria,jika sampai itu terjadi kepalaku bisa habis." manolognya dalam hati.


Di tengah tengah para orang tua yang masih sibuk dengan urusan mereka masing masing,ada seorang anak laki laki yang duduk anteng di kursi penunggu, sambil termenung memikirkan masalah hidupnya sendiri,masalah yang harus segera ia selesaikan,dan masalah tersebut tak lain adalah rasa takutnya terhadap seorang pria dewasa yang menurutnya sangat menyeramkan.


" Aku janji akan belajar beladiri di sana,agar jika kelak aku kembali ke sini,aku bisa melawanya." Azzam terus bergumam dalam hati,sambil diam diam melirik ke arah Satria,salah satu paman yang memiliki wajah paling menyeramkan di antara paman yang lainya.


Sepertinya rasa takutnya sudah menjalar dan mendarah daging,hingga tak bisa lagi di hilangkan dengan mudah,bahkan bocah kecil itu bisa sampai terkencing kencing walau hanya melihat sorot matanya saja.


Setelah itu tak ada lagi yang bisa mereka ucapkan selain kata kata perpisahan,Umi terlihat lebih baik dari sebelumnya,ia tak bisa lagi menahan kepergian anak mantu dan cucunya,karena bagaimana pun ia tak berhak melarang atau pun mencampuri keputusan ataupun urusan hidup rumah tangga anak anaknya,yang bisa ia lakukan hanya mendo'akan dan mendukung,selagi itu baik bagi mereka.hingga akhirnya jadwal penerbangan sudah di depan mata,dengan cepat Haikal pun mengajak anak dan istrinya untuk segera masuk ke dalam pesawat, yang akan mengantarkan mereka pulang ke kampung halamanya.

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA.😊


__ADS_2