I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 22


__ADS_3

" Mentari,kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?" ucap Faiz,tak terima dengan perilaku Mentari.


" Tidak apa apa,ada perlu apa anda kemari?" tanya Mentari sambil kembali duduk di atas brankar.


"Aku akan menemani mu di sini." ujar Faiz,kemudian ia kembali duduk di kursi kecil.


Gadis itu memicingkan mata,setelah itu memutar bola matanya kesal.


" Tidak perlu,aku merasa tidak nyaman jika anda di sini." tolak Mentari,sambil memalingkan wajah.


"Mentari yang dulu ku kenal telah berubah,ternyata aku salah karena telah menyukai mu." ucap Faiz dengan santai,membuat gadis itu kembali menatapnya.


" Maaf pak Dokter,aku tidak mengerti dengan ucapan mu,tapi aku rasa kau juga telah berubah,tidak seperti dokter Faiz yang pernah ku kenal." balas Mentari.


" Perubahan apa yang kamu lihat dari ku?"


" Banyak,mungkin karena kamu telah menjadi seorang dokter muda yang tampan dan sukses,sehingga membuat mu bisa mendapatkan apa yang kamu mau,dan lupa dengan janjimu." ujar Mentari panjang lebar,mengeluarkan seluruh isi hatinya yang sempat ia pendam.


Pria itu semakin mengerutkan keningnya,menatap dalam seorang gadis yang berada di depannya dengan lekat.


Hubungan yang mereka jalani memang belum jelas,bukan kekasih atau pun yang lainnya,tapi yang ia yakini bahwa gadis itu adalah yang terbaik untuknya,mendapat penolakan serta sikapnya yang acuh membuatnya tersiksa.


" Mentari! kau tau jika selama ini aku selalu memikirkan mu,aku ingin sekali menemui mu di kampung ,dan akhirnya allah telah mempertemukan kita di sini,aku harap mulai sekarang kita bisa lebih sering bertemu."


" Untuk apa anda menemui ku?"


" Untuk memenuhi janji ku." sahut Faiz.


Gadis itu mengangguk kecil sambil tersenyum getir.


" Ya, aku memang salah,seharusnya aku tidak perlu terlalu banyak berharap padanya,karena dia hanya ingin memenuhi janjinya saja,bukan yang lain." lirihnya dalam hati.


Faiz terdiam,saat melihat wajah Mentari yang terlihat kecewa,ia rasa jika ucapannya ada yang salah,suasana kamar kembali sunyi,Kedua makhluk itu hanya diam dengan pemikirannya masing masing.


Hingga suara ketukan pintu terdengar,dan tidak lama muncul seorang wanita cantik ber jas putih,dan berjalan menghampiri mereka,gadis itu nampak terkejut dengan keberadaan Faiz di sana yang tengah duduk santai atas kursi kecil,pria itu tersenyum padanya,lalu mulai beranjak,memberi ruang agar ia bisa memeriksa pasien dengan mudah.


" Faiz,kau masih di sini?" tanya nya.


" Iya." sahutnya sambil memperlihatkan senyum khasnya,yang membuat Mentari kembali merasakan sakit di bagian hatinya.


" Sedang apa?" tanya Laras lagi.


" Menemaninya." Faiz melirik gadis yang berada di atas brankar.


" Oh,,memang dia siapa?"


" Dia wanita yang sempat aku ceritakan padamu."

__ADS_1


Deg,,seketika jantungnya berhenti berdetak dengan posisinya yang masih mematung di tempat,Laras yang kini telah bertugas di kejutkan dengan pernyataan Faiz yang selama ini tidak ia harapkan.


Sedetik demikian gadis itu kembali tersadar,ia tersenyum lalu kembali melangkah lebih mendekat,dan langsung mengecek kondisi Mentari.


" Kau tidak pernah cerita padaku jika kalian sudah bertemu." Laras melirik sekilas ke arah Faiz .


"Aku bahkan tidak pernah menduga jika akan bertemu dengannya di sini."


" Oh,jadi kalian bertemu di sini? waahhh aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu sekarang,kau pasti sangat bahagia." Laras melirik Faiz lalu Mentari sambil tersenyum,namun Gadis itu masih terlihat tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.


" Ya,begitulah." ujar Faiz dengan senyum yang tak pudar sedikitpun dari bibirnya.


" Kau tidak ada niatan untuk mengenalkan ku pada wanita mu?"


" Wanita mu?" gumam Mentari sambil menatap heran pada Laras dan Faiz secara bergantian.


" Aku lupa, dia Mentari." Faiz mulai memperkenalkan kedua gadis itu.


" Hai,,aku Laras." Laras mengulurkan tanganya,yang langsung di sambut hangat oleh Mentari.


" Mentari." balas nya.


" Salam kenal,ya sudah sepertinya aku sudah menganggu kebersamaan kalian,kalau begitu aku harus pergi dulu." pamitnya, kemudian Laras pun pergi.


Gadis itu keluar dengan menahan rasa sesak di dalam hatinya,dadanya mulai naik turun,udara yang dia hirup di ruangan tersebut seolah tidak menghasilkan oksigen.


Gadis itu segera melangkahkan kaki hendak memeriksa beberapa pasien lain yang di rawat di klinik tersebut.


" Kau sudah makan?" tanya Faiz sambil merilik jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 19.00 waktunya untuk makan malam,namun para perawat belum nampak mengantarkan makanan.


Mentari hanya menjawab dengan gelengan kepala.


" Aku ke luar dulu." pamitnya,lalu melenggang pergi meninggalkan Mentari yang tengah menatap punggung tegap dokter muda itu hingga tak terlihat.


" Apa maksud dari pembicaraan mereka,bukannya dokter itu wanita yang semalam bersama dokter Faiz." gumamnya.


Kemudian Mentari mulai merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas akibat diare yang membuatnya harus bolak balik masuk toilet.


Selang beberapa menit,kembali terdengar suara ketukan pintu,gadis itu kembali beranjak saat melihat Zoya dan Lutfi yang datang menemuinya.


" Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Lutfi seraya menyerahkan buket bunga pada Mentari.


"Terimakasih, Alhamdulillah lebih baik dari sebelumnya." Mentari menerimanya,lalu menaruhnya di atas bakas.


" Kau tau Tari,mas Lutfi yang membantu membawa mu ke sini." ujar Zoya seraya menaruh sebuah kantong kresek berisi makanan ke dalam nakas.


" Oh ya? terimakasih." Mentari melirik sekilas pada laki laki yang berdiri di sampingnya sambil menyunggingkan senyum.

__ADS_1


" Sama sama." balas Lutfi.


" Jika tidak ada dia mungkin aku tidak tau nasib mu bagaimana." tambah Zoya,membuat gadis itu merasa tidak enak hati karena pernah menghiraukannya.


" Sekali lagi terimakasih."


" Sama sama,itu memang sudah tugas ku sebagai tetangga,kita harus saling membantu." ujar Lutfi seraya menyunggingkan senyum manisnya.


Sepertinya kesempatan untuk mendekati Mentari telah hadir di depan mata,pria itu tersenyum cerah secerah mentari pagi, karena kini Mentari telah menyadari keberadaannya,dan tidak terlihat dingin.


Iapun segera mengeluarkan makanan yang di bawa Zoya.


" Kau sudah makan?" tanyanya.


" Belum,mungkin sebentar lagi." jawab Mentari.


" Kalau begitu makan ini saja dulu." Pria itu menyerahkan beberapa bungkus makanan ringan.


Namun tiba tiba Faiz kembali datang dengan membawa sebuah kotak makan,yang tersedia dari klinik tersebut khusus untuk makanan para pasien.


" Dokter Faiz?" Zoya menatapnya tak percaya,pasalnya ia sempat menjelek jelekanya


tadi pagi,wanita jadi jadian itu nampak pucat dan terlihat salah tingkah.


Sementara Lutfi hanya terdiam,dan masih nampak biasa saja,merasa jika pria yang masih mengenakan jas putih itu hanya seorang dokter yang merawat pasien.


" Kau makan dulu." ucap Faiz dengan penuh perhatian,ia duduk di samping Mentari,lalu membuka kotak makan tersebut,dan mulai menyendokannya.


Saat itu juga Lutfi tercengang,sepertinya bahaya telah mengintainya, ancaman telah di depan mata,tatapan matanya berubah,pria itu melirik Zoya yang berada tak jauh darinya.


dengan tatapan mata yang seolah berbicara " siapa pria ini?" namun sepertinya Zoya tidak faham akan maksudnya.


" Ayo buka mulut mu?"


Mentari di buat salah tingkah saat Faiz menyodorkan sesendok makanan di depan mulutnya.


" Biar aku makan sendiri saja." Mentari merebut paksa dengan kencang makanan yang berada di tangan Faiz,hingga makanan tersebut tumpah dan berantakan mengotori pakaian Faiz dan tempat tidurnya.


" Astagfirullah !! maaf." panik Mentari,reflek gadis itu mengusap paha Faiz hendak membersihkan makanan yang banyak berceceran di sana.


" Tidak usah!!" Faiz segera menahan tangan Mentari,tanpa mereka sadari tatapan keduanya bertemu.


" Tidak apa apa,aku akan bersihkan sendiri." Faiz tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Zoya dan Lutfi mereka telah membersihkan makanan yang berceceran di tempat tidur Mentari.


" Terimakasih,maaf aku sudah terlalu sering merepotkan kalian."Mentari melirik Lutfi dan Zoya merasa tidak enak.

__ADS_1


" Tidak apa apa." Lutfi berjalan menuju kamar mandi hendak mencuci tangan,bersamaan dengan itu Faiz keluar,mereka pun berpapasan,


Lutfi menatap Faiz dengan tatapan tajam begitu juga Faiz yang membalasnya dengan tatapan yang tak kalah tajam,nampak aliran listrik yang terpancar dari sorot kedua mata mereka.


__ADS_2