I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.114


__ADS_3

Satria kalang kabut,terus berteriak sambil memanggil nama Faiz,namun nampaknya dokter muda itu tak mendengarnya,karena saat ini ia sedang asyik merecoki para wanita yang tengah sibuk mempersiapkan segela sesuatu untuk acara empat bulanan Zahra,dengan terpaksa Satria pun keluar kamar tersebut,meninggalkan sang istri yang masih tak sadarkan diri,dan tanpa banyak bicara Satria langsung menarik kerah pakaian yang di kenakan Faiz.


Sontak saja dokter muda tersebut begitu terkejut sekaligus binggung.Ia tak mengerti dengan sikap Satria yang secara tiba tiba menariknya begitu saja seperti sedang menenteng anak kucing.


Tak hanya Faiz,semua orang yang berada di sana pun di buat bingung,mereka langsung mengikuti langkah Satria yang berjalan ke arah kamar.


" Ada apa sih,Bang?" sungut Faiz,sambil merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan.


setelah Satria melepaskan cengkramanya.


" Tolong periksa istri ku,dia pingsan!" titah Satria tegas dengan ciri khasnya yang dingin,namun tanpa di pungkiri di balik wajahnya yang dingin tersimpan jelas raut kekhawatiran.


Begitu juga dengan yang lainya,mereka terlihat panik saat melihat wajah Citra yang pucat.


"Lembut sedikit bisa tidak?" lirih Faiz dengan suara tertahan.


"Apa yang sudah abang lakukan pada Citra?" tanya Faiz lagi,yang kini mulai melayangkan tatapan tajam.


Sepertinya,semenjak ia menjadi seorang ayah,keberaniannya semakin meningkat.


" Aku tidak melakukan apa apa." sahut Satria.


" Cepat periksa dia!!" titah Satria lagi sambil sedikit mendorong punggung adik sekaligus kakak iparnya itu.


Faiz mendesis,namun tak ayal iapun menuruti perintah abang yang menurutnya paling menyebalkan di antara semua kakak-kakaknya yang lain.


Faiz duduk di tepi ranjang,tangannya mulai bergerak memeriksa pergelangan tangan Citra dan membuka matanya satu persatu,sesaat demikian ia bergeming seolah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


" Bagaimana,apa yang terjadi pada Citra?" tanya Umi panik,namun Faiz tak menyahut,ia malah melirik sang istri.


" Tari,tolong ambilkan peralatan medis milik ku yang ada di kamar!" titahnya.


Tak lama Mentari kembali dengan membawa alat medis seadanya yang senjaga Faiz tinggalkan di rumah Umi,Faiz dengan segera memasangkan stetoskop di telinganya,dan mulai menyibakan sedikit jilbab yang di kenakan Citra untuk memeriksa detak jantungnya,namun sebelum itu terjadi Satria sudah kembali menyerangnya,sampai sampai Faiz mengaduh sambil mengusap kepalanya yang terasa berdenyut.


" Apa lagi sih,bang?" bentak Faiz,sambil mengepalkan tangan di udara,berusaha meredam esominya yang sudah menjalar ke seluruh pembuluh darah.


" Apa yang akan kamu lakukan?"balas Satria tak kalah bengis,membuat semua orang menggelengkan kepala sambil menghela nafas,mereka terus memperhatikan keduanya tanpa bisa melerai,menurut mereka kelakukan nya tak jauh seperti kucing dan tikus dalam film kartun anak anak tahun 90 an.


"Faiz cuma mau memeriksanya,bang!" teriak Faiz semakin frustasi.


" Kenapa harus menyentuh dadanya?"


" Oh,ya tuhan! kenapa bisa ada manusia seperti dia di bumi ini." Faiz mengiba,sambil mengusap wajahnya dengan kasar,ia langsung mengedarkan pandangan ke semua orang,rautnya wajahnya seolah berkata 'tolong selamatkan aku dari manusia ini.'


Seketika Satria bergeming,lalu melirik Faiz.


" Ya sudah,sebaiknya kalian keluar dulu,biarkan aku dan Faiz di sini." titah Satria, meminta semua orang untuk menunggunya keluar ,ia tak ingin mereka melihat bagian dada sang istri yang terlihat montok dan menggoda itu.


"berikan itu padaku,kamu cukup mendengarkannya saja."setelah semua orang keluar. Pria dingin itu pun berjalan menghampiri Faiz, dan langsung mengambil alih ujung stetoskop lau mendaratkannya di dada sang istri.


"Abang terlalu berlebihan, Faiz harap ini yang pertama dan terakhir kalinya berhubungan dengan keluarga pasien seperti ini, jika sampai ada yang kedua kali, Faiz tak akan segan untuk mengajukan pensiun dini." Faiz terus menggerutu.


" Berisik." timpal Satria sambil melayangkan tatapan tajam,membuat Faiz tak lagi bicara,ia memilih mengalah dan kembali melakukan tugasnya, mendengarkan detak jantung pasiennya dengan seksama,setelah di rasa cukup,ia meminta Satria untuk mengarahkan ujung stetoskop ke bagian perut.


Sesampainya di sana,Faiz mengerutkan kening,air wajahnya yang masam berubah serius,ia menatap Satria dengan tatapan yang sulit untuk di mengerti,membuat Satria semakin panik.

__ADS_1


" Kenapa apa yang terjadi?" tanya Satria.


" Sebentar,Faiz mendengar suara aneh dalam perutnya." ucap Faiz,sambil terus berusaha memasang indra pendengarannya dengan baik,memastikan sesuatu yang masih terdengar asing baginya.


" Cepat katakan,apa yang sebenarnya terjadi,apa istriku menderita sakit parah?" Satria kembali menaikan suaranya,ia tak bisa lagi menunggu terlalu lama dengan perasaan yang campur aduk.


" Abang, bisa diam tidak!! jika seperti ini terus sebaiknya abang ke luar,biarkan Faiz berkontrasi." Faiz kembali tersulut emosi,dan semakin frustasi,rasanya ia ingin sekali mengubur dirinya hidup hidup saat ini juga,atau menendang pria di hadapanya sampai ke ujung dunia,atau menumbalkannya pada penunggu gunung Sinabung.


Satria pun mulai terdiam,sampai beberapa saat,hingga Faiz menyatakan sesuatu yang membuatnya lupa caranya berkedip.


Pria itu melebarkan matanya,sambil terus menatap Faiz dengan tatapan tak percaya.


" Kamu yakin?" tanya nya.


" Sepertinya begitu, lebih baik periksa saja pada Rani,dia lebih tau tentang ini." sahut Faiz.


" Alhamdulillah,terimakasih, terimakasih dokter Faiz yang tampan!" Satria mengucap syukur dengan mata berkaca kaca,ia langsung berhambur memeluk Faiz,dan refleks mengecup kening dan kedua pipinya dengan gemas,sontak saja Faiz menjerit histeris di buatnya,dengan cepat dokter muda itu mengusap pipi dan keningnya dengan sangat kesal.


" Jangan senang dulu,lebih baik periksakan dulu pada Rani,Faiz khawatir abang akan kecewa jika prediksi Faiz salah." ucap Faiz sambil membereskan peralatan medisnya.


" Kalau semua ini tidak benar, kamu harus menutup klinik mu,dan kembali belajar dengan benar." ancam Satria,membuat Faiz mendesis sambil memutar bola matanya jengah.


" Kalau prediksi Faiz benar bagaimana?" tantang Faiz.


" Aku akan menuruti semua perintah mu." balas Satria yakin,membuat Faiz tersenyum sinis,setelah selesai ia pun pamit keluar meninggalkan Satria di sana.


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..TETAP TUNGGU KELANJUTAN CERITANYA..😊

__ADS_1


__ADS_2