I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.63


__ADS_3

Esok harinya Bi Susi dan juga Zoya telah tiba di pondok,Mentari menyambut mereka dengan gembira,terlebih pada Zoya,ia merasa bersalah karena tak sempat menemuinya lagi setelah kepulangannya tempo hari,walaupun ia sudah mengabarinya lewat sanbungan telpon.


" Tidak apa apa,aku mengerti,aku sudah tau semuanya dari dokter Faiz." ucap Zoya.


Mentaripun semakin di selimuti rasa tak enak hati karena belum sempat menceritakan masalahnya dengan Lutfi.


" Maaf aku juga tidak memberitahu mu soal itu." ucapnya.


" Tidak apa apa,tidak usah di fikirkan,dan jangan di ingat ingat lagi,aku tau itu pasti sangat menyakitkan untuk mu." Zoya mengusap punggung Mentari yang sudah berkaca kaca.


" Baiklah,Zoya! terimakasih." Mentari pun memeluknya.


Setelah cukup beristirahat dalam kamar,Zoya pun keluar hendak membantu para pekerja yang sudah sibuk berlalu lalang memasang dekorasi dan menghias gedung aula yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara.Tak lupa Mentari pun turun tangan sendiri demi terciptanya sebuah hasil yang sempurna untuk pesta pernikahan impiannya.


Gadis itu begitu bersemangat,memasang bunga bunga segar berbagai warna di ruangan tersebut.juga memasang backdropp pada dinding sesua tema yang ia inginkan dengan memakai warna dominan putih dan ungu.


Namun kecelakaan kecil menimpanya saat ia tengah sibuk memasangkan backdropp tersebut,tangga yang ia gunakan untuk berpijak dan mampu menopang berat badan nya,hingga tangga tersebut patah dan alhasil ia pun terjatuh.


" Mentari!!" teriak Zoya panik,saat melihat Mentari yang sudah tergeletak di lantai dengan tangga yang menimpa kakinya, pria tulang itu mendadak berubah wujud menjadi lebah kuat,ia berhasil menggendong Mentari dan membawanya ke rumah Umi seorang diri tanpa bantuan siapa pun.


" Kenapa,apa yang terjadi?" semua keluarga nampak panik,terlebih dengan Faiz,ia begitu kalut saat melihat Mentari meringis sambil memegang kakinya.


" Dia jatuh dari tangga."jawab Zoya.


" Cepat bawa ke kamar!" titah Faiz.


" Panggilkan dokter." titah Al,saat Mentari sudah berada dalam kamar.

__ADS_1


" Tidak perlu,itu terlalu lama,Faiz akan berusaha mengobatinya."sahut Faiz,dengan di bantu umi ia pun berusaha untuk bisa beranjak dari kursi rodanya, dan duduk di atas kasur di mana Mentari berada,dalam keadaan seperti ini semua orang tak bisa melarang ataupun berbuat apa apa,mereka mengizinkan Faiz menunjukan kemampuannya sebagai seorang dokter,bukan sebagai pria yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


" Awas jangan macam macam." Al mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Faiz sebelum ia keluar dari kamar Mentari,hendak mengambil tas berisi perlengkapan medis milik Faiz.


"Iya,bang! Dalam situasi seperti ini mana bisa Faiz berbuat macam macam." sahut Faiz yang langsung mendapat tatapan tajam dari Umi.


" Lalu, situasi bagaimana yang bisa membuatmu macam macam?tanya Umi,pemuda itu pun terkekeh sambil mengusap tengkuknya.


" Bercanda,Mi!!"


Setelah Al kembali,Faiz mulai menyingkab sedikit celana kulot panjang yang Mentari kenakan,melihat luka lebam kebiruan yang di sedikit bengkak.


" Kenapa bisa seperti ini,aku kan sudah bilang kamu hanya boleh memperhatikan para pekerja saja,gunakan mata,mulut dan telunjukmu untuk memberi saran agar bisa sesuai keinginan mu,di sini banyak orang,kamu tidak perlu turun tangan seperti ini." Faiz mulai menggerutu panjang lebar,sambil terus mengobati pergelangan kaki calon istrinya,dengan mengoleskan salep pereda nyeri.


Mentari menundukan kepala merasa bersalah,karena telah mengabaikan ucapan calon suaminya itu.


Sementara Umi masih memperhatikan mereka dan duduk di samping Mentari.


" Mungkin kaki mu terkilir,Umi bisa mengurutnya." ujar Umi,membuat Mentari merasa tak enak hati,gadis itu langsung menolaknya dengan halus.


" Tidak usah,Mi! ini sudah mendingan,dokter Faiz telah mengobatinya dengan baik." Gadis itu tersenyum meyakinkan.


" Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja,Umi harus kembali mengurus semuanya." wanita paruh baya itu mulai beranjak,dan melangkahkan kaki hendak keluar.


" Faiz,jangan terlalu lama." Umi memberi peringatan sebelum ia keluar dari kamar tersebut.


" Iya,Mi! Faiz tau." sahut Faiz,tanpa memalingkan wajahnya dari kaki Mentari yang telah ia balut dengan perban.

__ADS_1


Pemuda itu mengobatinya dengan telaten,walaupun masih terdengar gumaman,namun ia melakukannya dengan tulus,ia hanya tak ingin melihat calon istrinya terluka.


" Ingat Tari,aku tidak bisa berbuat apa apa sekarang,jadi kamu harus bisa menjaga diri mu sendiri dengan baik,aku tidak mau kau terluka,aku tidak suka ada orang lain yang menyentuhmu,sekalipun itu kak Zoya,seandainya jika aku bisa, mungkin aku yang akan menggendong mu." seloroh Faiz,membuat gadis itu tersenyum sambil menggelengkan kepala,dalam situasi seperti ini pemuda itu masih sempat sempatnya memikirkan untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan.


" Maaf,dok! tapi apa kau yakin akan menggendong ku,apa kau tidak takut dengan serangan dan tatapan tajam dari semua anggota keluarga mu?" tanya Mentari,membuat Faiz mematung seolah berfikir keras.


" Aku juga tidak tau." Faiz terkekeh,rasa kesalnya sedikit memudar,namun kekhawatirannya masih menyelimuti lubuk hatinya.


" Jika seperti ini,bagaimana bisa kamu berdiri di pelaminan nanti."


" Memangnya kenapa? aku masih bisa duduk dan menemani mu,tidak mungkin aku berdiri sedangkan kau duduk." balas Mentari semakin membuat Faiz tersenyum.


" Kamu pintar juga membela diri." pemuda itu mencubit pipi calon istrinya dengan gemas,setelah itu merapikan perlengkapan medisnya,dan memasukannya kembali ke dalam tas.


Setelah selesai Faiz tak juga beranjak dari kasur tersebut,ia malah merangkak dan merebahkan tubuhnya di samping Mentari dengan senyuman buaya nya.


Membuat gadis itu terlonjak kaget.


" Eh,dok! kenapa malah tidur di sini?"cicit Mentari panik sambil menggeser posisinya.


" Lalu aku harus bagaimana,aku tak bisa berbuat apa apa."


" Tapi bagaimana jika semua orang tahu."


" Biarkan saja.Salah sendiri,kenapa kursi roda ku malah di pindahkan ke sana?" Faiz menunjuk kursi roda yang tak senjaga Al singkirkan ke pojokan kamar,sedikit jauh dari tempat mereka berada.


" Ya sudah,aku akan mengambilnya." Mentari menurunkan kakinya namun Faiz segera menahan tangannya.

__ADS_1


" Tidak usah,biarkan aku di sini sebentar saja,aku janji tidak akan melakukan apa apa." Faiz semakin menyungingkan senyum yang terlihat menyebalkan sambil menaik turunkan alisnya,membuat bulu kuduk Mantari meremang.


__ADS_2