I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 54


__ADS_3

" Terimakasih,mau mampir dulu?" ucap Laras pada Lutfi ketika mereka sudah tiba di depan rumahnya.


" Tidak perlu, aku akan langsung pulang saja,lain kali jalan hati hati jika ada masalah sebaiknya diam saja di rumah." balas Lutfi seraya kembali menyalakan motornya.


Merasa tak tega melihat Lutfi yang basah kuyup serta wajah yang pucat dan bibir yang membiru,Laras bersikukuh untuk membawa Lutfi ke dalam rumahnya terlebih dulu.


" Sepertinya kau kedinginan,masuk saja dulu,aku akan membuatkan mu teh jahe."


tawaran yang menarik,akhirnya Lutfi mengangguk lalu mengikuti langkah Laras masuk ke dalam rumahnya.


" Kau tinggal sendiri di sini?" tanya Lutfi setelah duduk di sebuah sofa,matanya terus berkeliling memperhatikan rumah minimalis yang barada di daerah perumahan bersubsidi,rumah yang baru beberapa bulan di ronavasi dan Laras tempati.


" Iya,aku baru mengambil rumah ini beberapa bulan yang lalu." jawab Laras.


" Oh,jadi ini rumah mu sendri?" tanya Lutfi lagi.


" Iya."


" Orang tua mu?"


" Di kota lain,aku di sini hanya merantau." balas Laras,setelah tidak mendapat pertanyaan lagi,ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya lalu segera mengganti pakaian.


Tidak lama dokter cantik itu kembali ke luar,lalu berjalan menuju dapur,membuat teh jahe sesuai yang di janjikannya tadi.


" Silahkan." ucapnya seraya maneruh cangkir teh di atas meja.


" Tarimakasih." balas Lutfi.


" Sama sama,terimakasih juga karena kau sudah mengantarku pulang,dan kau tak menabrak ku tadi." balas Laras.


" Iya,untung saja aku dalam keadaan sadar,jika tidak,aku tidak tau bagaimana nasib kita selanjutnya,mungkin sekarang semua orang telah menyiapkan kuburan untuk mu,dan aku akan mendekam di penjara." seloroh Lutfi membuat keduanya tertawa.


" Maaf,kamu belum memberitahu nama mu."


" Laras." jawabnya cepat,Lutfi pun menganggukan kepala paham.


" Wajah mu kenapa?" tanya Laras sambil memperhatikan wajah Lutfi yang nampak lebam.

__ADS_1


" Tidak apa apa,biasa,namanya juga anak muda." balas Lutfi sambil terkekeh.


Laras menarik nafas dalam,lalu menganggukan kepala,tanpa mau banyak bertanya lagi.


" Jika mau aku bisa mengobati mu." tawar Laras,namun Lutfi menolaknya.


" Tidak perlu,ini akan sembuh dengan sendirinya."


" Ya sudah,tapi pakaian mu basah,kau bisa masuk angin?" ucap Laras lagi,jiwa kemanusiaannya meronta ronta,ia memang tak bisa melihat orang lain dalam keadaan tidak baik.


" Tidak apa apa aku akan segera pulang."


"Tidak baik mengendara motor dalam keadaan pakaian basah seperti itu, Aku juga tau kau sedang terkena flu,sebaiknya ganti pakaian mu,aku akan meminjamkan mu pakaian hangat." ucap Laras seraya beranjak,kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Lutfi merasa tidak enak,ingin sekali ia menolak namun tak sempat.


Laras meraih sebuah sweater hoodie serta celana traening dalam lemari,yang menurutnya masih bisa Lutfi pakai.Lalu segera memberikannya pada pria itu.


" Coba pakai,aku harap itu akan muat untuk mu." titah Laras,sebagai rasa terimakasih serta ingin mengahargai Laras,Lutfi pun menurut lalu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar gadis tersebut hendak mengganti pakainnya.


Tidak lama Lutfi pun keluar dengan memakai pakaian yang di pinjamkan Laras,namun ia nampak sedikit tak nyaman,pria itu terus terusan manarik ujung sweaternya ke bawah,berusaha menutupi aset berharganya yang tak terlindungi.


" Mana mungkin aku menyimpan benda seperti itu." sahut Laras.


" Bisa jadi pacar mu meninggalkannya di sini dan kau menyimpannya." ucap Lutfi.


" Enak saja,aku tidak pernah membawa laki laki masuk ke rumah ku,sampai meninggalkan barang barangnya di sini." sergahnya,membuat pria itu tersenyum sinis.


" Kau yakin?"


" Tentu saja,sudah sana pergi,kau menyebalkan sekali,aku sudah menolong mu tapi kau malah menuduh ku yang bukan bukan." bentak Laras sambil mendorong tubuh pria itu sampai ke luar.


" Haii,,tapi aku..."


Bruk,,pintu tertutup dengan kasar,membuat pria itu terperanjat,ucapannya terhenti karena Laras tak ingin lagi mendengarnya,dan terpaksa pria itu pun pulang,dengan meninggalkan pakaian basahnya di sana.


Sementara Laras masuk ke dalam kamarnya denga kesal,merebahkan tubuhnya yang lelah.

__ADS_1


" Kenapa aku bisa bertemu dengan pria seperti itu,ahhh,,aku menyesal sudah menyuruhnya mampir dan memperlakukannya dengan baik aku harap aku tidak akan bertemu lagi dengannya,masalah pakaian yang aku pinjamkan aku anggap sedekah."ucapnya,namun tiba tiba saja ia teringat jika pria itu pergi dalam keadaan tangan kosong.


" Sial." gadis itu menyusap rambutnya kasar,lalu beranjak dari tidurnya,dan masuk ke dalam kamar mandi,ia menjerit hesteris saat melihat pakaian basah lengkap dengan penutup asetnya tergantung di sebuah paku.


" Aaakkhh,,dasar pria kurang ajar!!!" teriaknya,ia langsung menyambar pakaian itu dan memasukannya ke dalam ember,tak lupa ia pun maraih benda segi tiga berwarna abu abu itu dengan sedikit berkidik.


" Bisa bisanya aku memegang benda sakral milik pria yang baru aku kenal." lirihnya.


Sementara itu di tempat lain,Faiz tengah menemui Mentari di kediaman Satria,ia berniat untuk pamit pada Mentari untuk kembali ke pondok lebih dulu,karena tujuannya datang ke sana sudah terlaksana semua.


" Aku akan pulang besok." ujar Faiz membuat Mentari sedikit muram.


" Lalu aku tinggal dimana sekarang?" Mentari menendukan kepala,jika Faiz pergi,itu berarti ia pun sudah bisa tinggal di kontrakan lagi,namun untuk kembali ke kontrakan sepertinya ia masih belum siap.


Melihat hal itu Faiz langsung mengerti,ia menggengam tangan Mentari untuk memberi ketenangan.


" Tidak usah khawatir,Kak Zoya sudah datang." ucapnya, namun Mentari masih menundukan kepala,bukan masalah ada atau tidaknya Zoya,tapi tempat itu sudah memberi kenangan buruk untuknya yang tidak mudah untuk di lupakan.


" Kau juga masih bisa tinggal di sini,sampai tiba saatnya kau menyusul ku ke pondok." tambah Faiz.


Mentari akhirnya bisa mengangkat kepala,nematap wajah Faiz dengan ragu.


" Sebenarnya aku belum bisa kembali ke kontrakan,tapi aku merasa tidak enak jika tinggal di sini terlalu lama." lirih Mentari.


" Kalau begitu kau ikut aku ke pondok besok." sahut Faiz dengan semangat,memang keputusan yang tepat menurutnya,ia akan menjadikan perjalan yang panjang itu menjadi momen yang paling menyenangkan.Namun tiba tiba impiannya kandas setelah mendengar bariton dari ambang pintu.


" Dasar bocah pintar,kamu fikir aku akan mengizinkan kalian pergi berdua?" ucap Satria berhasil mengejutkannya.


" Jangan mau di labuhi,dia sedang mencari kesempatan dalam kesempitan." ucapnya lagi,sambil menatap Mentari.


" Jika Mentari tidak mau kembali ke kontrakan,dia masih bisa tinggal di sini,kita akan pergi ke pondok tiga hari sebelum hari pernikahan kalian." ucap Satria tegas tanpa bisa di bantah.


Faiz pun mengalah,ia kembali terduduk lemas,sambil melirik Satria dengan kesal.


Sementara Mentari Mengangguk ,memilih menuruti apapun keputusan yang di katakan Satria yang menurutnya masuk akal.


Karena bagaimana pun Satria anggota keluarga tertua yang berada di sana saat ini.

__ADS_1


Biasakan memberi like,komen dan vote setelah membaca..😉😉


__ADS_2