I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 11


__ADS_3

Para warga mulai berkerumun di kediaman Pak Hasim hendak membantu mengurus jenazah,atau sekedar bertakziat.


" Mentari kamu harus sabar,ini memang sudah menjadi takdir dari allah,kamu harus bisa menerimanya."ucap Zoya,sahabat Mentari yang baru saja tiba dari kota,ketika ia mendengar kepergian pak Hasim,dia langsung memutuskan untuk pergi menemui Mentari,meninggalkan semua kesibukannya di kota.


Mentari masih saja terisak,sambil mengurung diri di kamarnya.


" Aku sudah tidak punya siapa siapa lagi Zoy,aku bahkan tidak memiliki tujuan hidup lagi,aku harus bagaimana sekarang,ibu dan kak Rahayu sudah tidak mau menerima ku." lirih Mentari.


" Kau bicara apa? jangan berputus asa,hidupmu masih panjang,aku akan selalu ada untuk mu,jadi jangan menangis,ikutlah dengan ku lagi,kamu bisa memulai hidup mu yang baru di sana." Zona mengusap punggung Rahayu,berusaha untuk menengkan sahabat seperjuannya dulu,saat mereka sama sama menjadi seorang asisten MUA.


" Apa bi Susi masih mau menerima ku lagi di sana?" tanya Mentari,menatap penuh harap.


" Tentu saja,dia sangat menantikan hadiran mu di sana,maka dari itu,ikut lah denganku." bujuk Zoya.


" Baiklah,aku akan ikut." Mentari menganggukan kepala setuju.


" Gadis pintar." Zoya tersenyum seraya mengusap kepala Mentari.


Mentari mengusap air mata yang membasahi pipinya,ia mulai beranjak dari tempat tidur,lalu keluar menemui para tamu yang datang hendak mengucapkan turut berbela sungkawa.


Hingga akhirnya jenazah pak Hasim selesai ke kebumi kan.


" Pak,Mentari minta maaf karena selama ini Mentari belum bisa menjadi anak yang baik,Tari belum bisa membahagiakan bapak,tapi Tari janji akan selalu mendoakan bapak,semoga bapak tenang di alam sana,semoga bapak di pertemukan dengan ibu,Tari minta doanya dari bapak,semoga Tari bisa kuat menjalani kehidupan Tari selanjutnya."


Mentari berjongkok sambil membelai gundukan tanah yang masih merah di hadapannya,masih di temani Zoya,pria pertulang lunak satu satunya harapan Mentari saat ini.

__ADS_1


"Tari juga mau pamit sama Bapak, Tari minta maaf jika suatu hari nanti Tari jarang menemui bapak di sini.Tapi Tari janji,di manapun Tari berada Tari tidak akan lupa untuk mendoakan bapak."ujar Mentari,sebelum pergi tidak lupa iapun memberi sebuah kecupan di atas nisan pak Hasim.


Hari sudah menjelang senja,Mentari mulai menyembunyikan sinarnya,begitu juga dengan Mentari, yang pulang dengan membawa duka serta awan hitam di hatinya.


Gadis itu mulai menapaki teras rumahnya,belum sampai membuka pinta,namun tiba tiba Bu Sri dan Rahayu sudah menghadangnya dengan melemparkan semua pakaian dan barang barangnya ke luar hingga mengenai wajah gadis itu.


" Pergi kamu dari sini,kami sudah tidak membutuhkan mu lagi,jangan pernah sekali pun menginjakan kaki mu di rumah ini,aku tidak sudi melihat wajahmu itu." teriak Bu Sri,dengan tatapan wajah yang penuh dengan amarah.


" Apa yang kalian lakukan,tanpa kalian suruhpun dia akan pergi dari nereka ini,jadi kalian tidak perlu repot repot melakukan ini semua." balas Zoya,seraya memunguti pakaian Mentari yang tercecer di lantai.


" Baguslah kalo begitu,rupanya kau tau diri juga." Rahayu ikut menimpali,seraya menutup pintunya kembali.


" Keputusan mu untuk pergi sudah tepat Mentari,ayo kita pergi sekarang juga." Pria gemulai itu menarik tangan Mentari dengan sekuat tenaganya.


******


" Ayo masuk!!maaf tempatnya sempit,tapi aku rasa masih cukup untuk kita tempati berdua." ajak Zoya,saat mereka baru saja tiba di sebuah kontrakan kecil,hanya terdapat satu ruangan dan juga kamar mandi.


" Tidak apa apa,terimakasih sudah mau menolongku." Mentari masuk sambil meletakan tasnya di atas sebuah meja,matanya mulai berkeliaran meneliti setiap sudut kamar tersebut,hanya ada sebuah kasur kecil dan beberapa barang lainnya.


" Tidak usah sungkan Beb,selagi aku bisa,Aku pasti akan membantu mu." Balas Zoya.


" Besok kita ke sanggar bi Susi,dia pasti senang dengan kedatangan mu di sini ." Wanita jadi jadian itu berlalu,dan masuk ke sebuah kamar mandi yang masih berada di dalam kontrakannya.


...****************...

__ADS_1


Tanpa Mentari ketahui Pria yang selama ini memenuhi relung hatinya, kini berada di kota yang sama.


Faiz mulai merintis karirnya kembali dengan menjadi seorang dokter umum di sebuah klinik milik rumah sakit ternama di daerah tersebut,pria itu menjadi salah satu dokter muda favorit bagi para pasien,selain tampan,sopan santun dan ramah tamahnya pun menjadi sebuah daya tarik,hingga tidak jarang banyak perawat maupun dokter lain yang menyukainya.Namun hingga saat ini belum ada satu orangpun yang berhasil merebut hati dari dokter muda itu.


Faiz menatap langit malam dari balik dinding kaca lantai dua sebuah gedung.


" Mentari!! bagaimana kabar mu di sana?" tanyanya pada diri sendiri,bayangan seorang gadis cantik selalu menari nari di depan matanya.


" Jangan melamun terus,nanti kesambet!!" seru Laras sambil menepuk bahu Faiz,hingga membuyarkan lamunanya,dokter cantik itu menjadi wanita yang paling beruntung di banding wanita lain,karena ia bisa mendekati Faiz,dan menjadi teman wanita satu satunya yang Faiz miliki,walaupun belum terlalu lama saling kenal,namun sikap cueknya pada Faiz membuat Pria itu merasa nyaman.


Faiz terkekeh sambil menggelengkan kepala.


" Aku tidak melamun." balas Faiz sambil memainkan pena berusaha menyembunyikan kegugupannya.


" Kamu fikir aku bodoh,jelas jelas kau melamun." protes Laras,seraya mengambil pena dari genggaman Faiz.


" Ini sudah waktunya pulang,kenapa kau masih di sini?" Laras memicingkan mata curiga.


" Aku juga mau pulang." Faiz mulai beranjak dan langsung menyambar jas putih yang tergantung di sebuah gantungan pakaian.


" Aku pulang dulu, selamat bertugas." ucap Faiz sambil memutar landle pintu,pria itu mulai melangkahkan kakinya,meninggalkan ruangan tersebut.


" Baiklah,kalau begitu hati hati." ujar Laras seraya melambaikan tangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Selesai membaca jgn lupa tinggalkan jejak,kasih vote like dan komen..terimakasih..😊😊


__ADS_2