
Mentari dan Zoya masih nampak sibuk melayani dan membantu para pengunjung untuk fitting.
Hingga akhirnya waktu yang mereka nantikan pun tiba,Mereka berdua mulai menutup sanggar,setelah selesai mereka pun memutuskan untuk segera pulang.
Sesampainya di rumah,Mentari segera membersihkan diri,lalu bersantai seraya menyalakan tv,sambil menunggu adzan magrib.
" Malam minggu nih,kita mau kemana?" ujar Zoya sambil mengeringkan rambutnya.
" Memangnya ada apa dengan malam minggu?" tanya Mentari cuek.
" Kita ini masih gadis,saatnya menikmati masa muda,malam minggu selalu di nantikan kaum muda untuk bersenang senang."
"Kasian sekali kaum muda,harus menunggu malam minggu hanya untuk bersenang senang." cibir Mentari dengan mata yang masih fokus pada layar tv
" Iisshhh.." Zoya mendesis kesal, tanpa bisa membalas perkataan Mentari.
Wanita jadi jadian itu memilih untuk merias wajahnya di depan cermin,lalu memakai pakaian yang modis,nampak sangat antusias menyambut malam minggu, sementara Mentari hanya mengenakan pakaian tidur dengan wajah polosnya.
" Kau mau kemana?"
" Malam mingguan ke taman kota." jawab Zoya tak kalah cuek.
" Setau ku malam minggu di manfaatkan oleh sepasang kekasih untuk berkencan,sedangkan yang jomblo mau apa?" Mentari terkekeh sambil memperhatikan Zoya.
" Tidak usah meledek, siapa tau malam minggu ini bisa dapat cowok buta yang tampan dan kaya." ujar Zoya,membuat Mentari tergelak.
" Jika ada pria buta yang kaya,dia akan berusaha memanfaatkan kekayaannya untuk bisa melihat,kecuali jika hilangnya penglihatan terjadi secara bertahap hingga mereka mengalami buta secara total,biasanya itu di alami oleh orang tua atau lanjut usia,orang tua mana ada yang keluyuran di taman kota di malam hari." balas Mentari,dan lagi lagi Zoya tak bisa menjawab.
Hingga Adzan magrib telah berkumandang,Mentari segera mengambil wudhu lalu melaksanakan kewajibannya dan menyempatkan waktunya untuk membaca Qur'an sampai terdengar adzan isya.
__ADS_1
" Kau yakin tidak mau ikut?" tanya Zoya ketika Mentari membereskan alat shalatnya.
" Tidak ! aku di sini saja,pak dokter sudah melarang ku agar tidak nakal." jawab Mentari sambil menyunggingkan senyumnya.
" Jangan terlalu berharap pada manusia,jika tidak ingin kecewa."
" Aku tidak berharap pada dia,aku hanya berharap pada allah agar bisa di pertemukan lagi dengan dia." balas Mentari lagi.
" Untuk apa memikirkan orang lain,yang belum tentu memikirkan kita."
" Semuanya sudah aku serahkan pada allah,hanya allah yang bisa membolak balikkan perasaan manusia,jika dia tidak memikirkan ku, itu sudah menjadi kehendak allah,aku tidak bisa menyalahkan siapa pun,dan tidak bisa memaksa siapa pun."
" Baiklah, tapi untuk malam ini temani aku sekali saja,aku ingin sekali pergi ke taman kota." minta Zoya sambil memohon,mau tidak mau Mentari pun menurutinya.Dan akhirnya Mentari pun ikut ke mana Zoya akan pergi.
Sesampainya di taman kota,Mentari duduk di sebuah bangku taman sendiri,menunggu Zoya yang kini tengah membeli jagung bakar,kecantikan alami nya nampak lebih terpancar di sorot lampu lampu taman yang temaram.Banyak kaum pria yang melirik ke arahnya secara diam diam,ada juga yang dengan terang terangan mendekatinya untuk berkenalan.
Lama menunggu,Zoya belum juga nampak batang hidungnya,hingga beberapa pria datang menhampirinya,Gadis itu terlihat berusaha menghindar,saat beberapa pria tersebut menggodanya.
" Jangan galak galak dong,nanti cantiknya hilang." goda pria itu.
Mentari semakin di buat kesal,ia menginjak kaki dan menendang barang berharga milik pria itu hingga mereka meringis kesakitan,setelah itu Mentari berhasil melarikan diri,gadis itu berlari mencari keberadaan Zoya.
Ia hanya fokus untuk mencari sosok sahabatnya di tengah kerumunan ,hingga tidak memperhatikan sekelilingnya,dan pada akhirnya ia mengaduh saat menabrak punggung seseorang.
" Maaf aku tidak sengaja." Ucap Mentari, ia meraba keningnya yang terasa sedikit berdenyut sambil menundukan kepala.
" Tidak apa apa." jawab Pria tersebut sambil memperhatikan gadis berjilbab itu.
Namun sayang,kurangnya penerangan dan kaca mata yang tidak ia pakai mengurangi penglihatannya.Hingga dia tidak dapat melihat gadis di hadapannya itu dengan jelas.
__ADS_1
" Faiz!!" suara seorang gadis memanggilnya,pria itu pun langsung berlari menuju suara tersebut.
Mendengar nama FAIZ, Mentari langsung mengangkat kepalanya,mencari sosok pria yang barusan ia tabrak, aroma dari obat dan parfum yang tercampur yang sempat ia cium dari balik punggung pria tersebut sangat tidak asing bagi indra penciumannya.
"Faiz? Suara dan Wanginya itu." lirihnya,seketika bayangan dokter muda yang ia rindukan pun kembali muncul.
Gadis itu malah beralih mencari pria tersebut,tanpa menghiraukan Zoya lagi.
Namun sayang ia tidak bisa menemukannya.
" Mentari kau dari mana saja? aku mencari mu." ujar Zoya dengan nafas tersenggal.
" Aku juga mencarimu." jawab Mentari,setelah bertemu akhirnya merekapun memutuskan untuk kembali duduk sambil menikmati jagung bakar yang sudah terasa dingin.
" Lama sekali,aku kira kau mengantar dulu pulang pria buta." kesal Mentari.
" Antriannya panjang." ucap Zoya dengan mulut penuh.
" Gara gara menunggu mu lama,aku sempat di goda laki laki brengsek." sungut Mentari.
" Oh ya? maaf kan aku, kau tau tadi aku melihat pria tampan berjas putih,dari penampilannya sih sepertinya dia dokter."
" Kau serius?" Mentari kembali antusias.
" Iya aku serius,tapi sayang dia bersama seorang gadis." jawab Zoya,dan Mentari kembali muram.
" Apa benar yang di katakan Zoya? apa dokter Faiz ada di sini,tapi siapa gadis yang Zoya maksud? aku juga sempat mendengar suara perempuan menyebut nama itu tadi?" Mentari bergumam dalam hati.
Sementara itu,tak jauh dari tempat di mana Mentari berada, Faiz yang kini tengah bersama Laras,seperti biasa mereka memesan pecel ayam dan duduk lesehan,sambil menikmati malam yang cerah bertabur bintang di iring alunan musik dan nyanyian yang romantis dari beberapa seniman jalanan.
__ADS_1
Sungguh tak ada yang lebih indah dari itu,Laras menikmati kebersamaanya,walaupun ia tau perasaan Faiz bukan untuknya,tapi ia yakin rasa itu akan muncul karena seringnya bertemu.