I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 51


__ADS_3

Sore pun menjelang,Satria baru saja memasuki gerbang rumahnya,Cyra menyambut kedatangannya dengan girang sambil merentangkan tangan di depan pintu.


Setelah mobil terparkir,Satria langsung keluar dan berlari kecil membalas rentangan tangan si kecil,dan hanya dengan sekali gerakan Cyra sudah berada dalam gendongannya.


" Cyra nungguin ayah pulang ya?" tanya Satria sambil menciumi pipi gembil Cyra,dan membawanya ke dalam rumah,batita itu mengangguk cepat lalu kembali tertawa.


" Bunda,mana?" seolah mengerti dengan pertanyaan sang ayah bocah kecil berusia dua tahun itu memunjuk ke arah dapur.


Ayah dua anak itu pun tersenyum sambil kembali menciumi anaknya dengan gemas,membawanya ke dalam kamar lalu mengganti pakaian,menengok ke dalam box bayi,memastikan bayinya yang masih terlelap,setelah itu ia menghampiri sang istri di dapur yang tengah sibuk menyiapkan makan malam, mengendap endap berusaha tak mengeluarkan suara.Dan dengan cepat ia melingkarkan tanganya, memeluknya dari belakang lalu mengecup pipinya sekilas,tanpa menyadari keberadaan seseorang di antara mereka.


" Ih,apaan sih bang!" kesal Citra sambil menyikut perutnya,lalu berusaha melepaskan diri,Satria mengerutkan keningnya marasa aneh,tidak biasanya istrinya itu menolak perlakuan manisnya.


" Ada Mentari." bisiknya sambil melirik ke arah meja makan.


Satria pun mengikuti lirikan mata istrinya,lalu tersenyum kikuk.


" Aku lupa." bisiknya sambil mengusap tengkuknya.


" Kebiasaan." ketus Citra.


Acara masak selesai bersamaan dengan kumandang adzan maghrib, mereka memutuskan untuk segera melaksanakan kewajiban 3 rakaat terlebih dulu.


" Mentari sudah mau cerita?" tanya Satria setelah selesai melaksanakan shalat magrib.


Citra mengangguk sambil membereskan seperangkat alat shalatnya.


" Lalu apa katanya?"


" Ceritanya nanti saja,aku sudah lapar." balas Citra yang langsung melenggang ke dapur,terpaksa Satria pun harus memendam rasa penasarannya,lalu menyusul sang istri.


Setelah selesai makan malam bersama,Mentari kembali ke kamarnya,perasaanya sedikit lebih tenang dari sebelumnya setelah bercerita pada Citra,kini ia hanya menunggu Faiz,apa pria itu masih mau menerimanya atau tidak? apapun keputusanya dia akan berusaha ikhlas untuk menerimanya.


Begitu juga dengan sepasang suami istri itu, yang kini tengah berada di dalam kamar,menidurkan anak anaknya sebelum membicarakan masalah yang terjadi pada calon kakak ipar dan calon adik ipar mereka itu.


Tak membutuhkan waktu lama,kedua anaknya mulai terlelap,Satria sudah tak sabar mendengar cerita sang istri.


" Bunn!!" panggilnya,sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya.

__ADS_1


Citra yang baru selesai merebahkan bayinya ke dalam box bayi,langsung berjalan menghampirinya,lalu duduk di sebelahnya dan mulai bercerita.


Setelah mendengar apa yang di ucapkan sang istri,Raut wajah Satria berubah serius,sambil mengepalkan tangan menahan emosi,ia tidak ingin membiarkan masalah ini terjadi pada adiknya.


" Jangan sampai pernikahan mereka batal,aku akan segera menemui Faiz sekarang juga,akan ku hajar laki laki berengsek itu dengan tangan ku sendiri." ucapnya sambil beranjak,lalu bersiap hendak pergi.


" Bang!" cegah Citra sambil menarik lengan suaminya.


" Jangan seperti itu,aku tidak mau terjadi sesuatu pada mu,sebaiknya selesaikan masalah ini dengan kepala dingin,jangan membalasnya dengan kekerasan." nampak jelas raut kekhawatiran dari paras cantiknya.


Satria terdiam lalu menghembuskan nafas kasar,kemudian mengangguk,ia pun langsung pergi setelah mengecup seluruh wajah istrinya.


Faiz semakin di landa kecemasan,sejak kemarin ia tak mendapat kabar dari sang kekasih,fikirannya kalut,hingga ia tak bisa melakukan apapun selama berada di kontrakannya,padahal maksud kepulangannya ke sana untuk membereskan barang barangnya yang masih tertinggal karena mungkin ia tak akan kembali lagi ke tempat itu setelah menikah.


Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu,ia langsung beranjak lalu membukakan pintu,tanpa ia duga seorang gadis langsung menabrakan tubuhnya,berhambur memeluk pemuda itu hingga terhuyung ke belakang.


"Pak dokter kemana saja,selama ini aku merindukan mu." Malika merengek tanpa mau melepas pelukannya,Faiz di buat gelagapan,ia berusaha melepaskan pelukannya namun tangan gadis itu seolah terkunci di balik punggungnya.


" Malika tolong lepaskan aku,tidak enak di lihat orang." cicit Faiz,gadis itu mengangkat wajahnya menatap wajah tampan pria yang masih berada dalam dekapannya.


" Kalau begitu tutup saja pintunya,agar tidak ada yang bisa melihat kita." sahutnya dengan enteng,seraya menendang pintu tersebut dengan kakinya.


" Maaf,sebenarnya aku tidak suka berlaku kasar pada wanita,tapi karena kamu terlalu kurang ajar,terpaksa aku harus melakukannya,sekarang keluar lah!" titahnya,sambil membuka pintu,tiba tiba matanya terbelalak saat melihat seseorang di balik pintu.


" Faiz." ucapnya dengan suara berat.


" Bang!" balas Faiz.


Satria melirik gadis yang berada di balik punggung Faiz,lalu beralih pada Faiz dengan melayangkan tatapan membunuhnya.


" Apa yang kalian lakukan berdua di dalam kamar ?" tanyanya masih dengan suara berat.


" Bang,jangan salah Faham dulu,kami tidak melakukan apa apa." jawab Faiz.


" Dokter,apa yang kamu bicarakan?kau melupakan sesuatu yang baru saja kita lakukan." sahut Malika dengan menampakan wajah liciknya,Faiz menganga tak menyangka,bisa bisanya gadis itu berkata seperti itu.


" Apa maksud mu,kita memang tidak melakukan apa apa." sahut Faiz.

__ADS_1


Satria semakin di buat kesal,dengan refleks ia melayangkan tinjuannya ke pipi Faiz,lalu manarik tubuh pemuda itu dan membawanya ke dalam mobil.


" Bang! Faiz benar benar tidak melakukan apa apa." Faiz masih kukuh,sementara Satria bergeming tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun,sambil terus melajukan kendaraannya.


Tak menunggu waktu lama,Satria berhasil memarkirkan mobilnya di halaman rumah.


" Kenapa pulang lagi." gumam Citra,yang mendengar suara deru mesin mobil,ia langsung keluar dari dalam kamarnya dan membukakan pintu depan.


Ibu dua anak itu terkejut saat melihat sang suami menarik paksa kerah kemeja kakaknya.


" Bang,apa yang kamu lakukan?" pekik Citra seraya menghampiri kedua pria itu,ia lalu menepis tangan Satria yang masih mencengkram kerah Faiz.


" Astagfirullah!!" Ibu dua anak itu menutup mulutnya,kembali terkejut saat melihat darah di sudut bibir Faiz akibat tinjuan dari sang suami.


" Ada apa ini?" teriaknya.


Kedua pria itu masih sama sama bungkam,Satria mengusap wajahnya kasar,menyesal karena telah berbuat kasar pada Faiz,namun ia juga tak membenarkan apa yang sudah di lakukan sang adik yang membiarkan seorang wanita masuk ke dalam kamarnya dengan keadaan pintu tertutup.


Mentari yang mendengar keributan dari lantai bawah langsung keluar,memastikan apa yang terjadi,kemudian ia menuruni anak tangga dengan cepat saat melihat ketiga orang tersebut tengah bersitegang.


" Faiz! ceritakan padaku,sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?" Citra mengguncang lengan Faiz,ini kali pertamanya ia melihat sang suami yang begitu marah pada Faiz.


" Ini hanya salah faham." jawab Faiz.


" Melihat dengan mata kepala sendiri,seorang pria dan wanita berada di dalam satu kamar dengan keadaan pintu tertutup,apa yang kamu bayangkan?" ucap Satria sambil menatap pada istrinya.


Citra menatao Faiz tak dan Satria bergantian,masih tak mengerti sementara Mentari langsung membulatkan mata saat tak sengaja mendengar apa yang di ucapkan Satria barusan.


" Siapa wanita itu?" lirih Mentari,ketiga orang tersebut langsung beralih menatapnya.


" Dokter,ada yang mau kamu jelaskan?" Mentari menatap Faiz dengan dingin.


" Ini hanya salah faham,Tari! wanita itu Malika,dia tiba tiba masuk ke dalam kamar ku." Faiz menghampiri Mentari,lalu menceritakan yang sebenarnya,kejadian yang terjadi beberapa saat lalu,tanpa di kurangi ataupun di lebihkan.


" Kau percaya,Mentari? silahkan selesaikan masalah kalian berdua,aku tidak mau ikut campur lagi,aku hanya bisa menunggu keputusan yang terbaik dari kalian." Satria melangkahkan kaki meninggalkan semua orang yang berada di sana.


" Masalah kalian hampir sama,hanya karena orang ke tiga,Mentari! ceritakan masalahmu pada Faiz sekarang juga,fikirkan baik baik,lalu putuskan yang terbaik demi masa depan kalian." tambah Citra.

__ADS_1


setelah itu ia pun pergi menghampiri sang suami,membiarkan dua anak manusia itu menyelesaikan masalahnya.


__ADS_2