I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.119


__ADS_3

Setelah kepergian Haikal dan anak istrinya ke Kairo,Satria dan Citra juga kedua anaknya pun telah kembali ke Kota,menjalani hari harinya seperti biasa.


Dan akhirnya teka teki yang selama ini sempat membuat Satria bingung,tentang mood sang istri yang berubah ubah kini mulai terpecahkan,setelah ia mengetahui jika sang istri tengah berbadan dua.


Mulai saat itu Satria pun memiliki rutinitas baru,sebagai seorang suami yang sigap,ia selalu membantu meringankan pekerjaan istrinya,setiap pagi sebelum berangkat bekerja,Satria memasak dan membereskan rumah terlebih dulu, sebelum istri dan kedua anaknya terbangun.


Hal itu ia lakukan sebagai bukti cintanya pada Citra,bahkan sekalipun tanpa di minta.


*


*


*


Beberapa bulan kemudian,saat ini usia kandungan Citra sudah menginjak 9 bulan,hanya tinggal mengitung hari untuk bertemu dengan anak ke tiganya,yang sampai sekarang masih belum di ketahui jenis kelaminya,karena memang pasangan itu sengaja untuk tak mencari tahu.


Yang terpenting bagi mereka adalah mengetahui kondisi bayinya dalam keadaan sehat dan baik baik saja,itu sudah cukup.


Sesuai permintaan sang istri,yang ingin melahir di kampung halamanya,Satria pun tak bisa menolak,dan kali ini mereka tengah berada dalam perjalanan hendak menuju ke kampung lahaman,ketika sedang asyik menikmati perjalanan yang panjang,tiba tiba saja Citra mengaduh sambil memegang perutnya.


" Bun! kamu kenapa?" Satria mulai panik.


" Perut ku sakit,bang!" ujar Citra,masih nampak biasa biasa saja,setelah rasa sakitnya berkurang.


" Kalau begitu,sebaiknya kita ke rumah sakit saja." usul Satria,sambil terus menatap jalanan di depannya,namun dengan cepat Citra menggelengkan kepala.


" Tidak perlu,ini sudah hampir sampai,lebih baik lanjut saja." titah Citra.


Satria melirik sekilas ke arah sang istri,untuk memastikan keadaannya.


" Mau istirahat dulu?" tanya Satria lagi.


" Tidak!" tegas Citra.Terpaksa Satria pun memilih untuk mengalah,dan lanjut melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Diam diam Citra kembali meringis,saat sakit di perutnya lagi lagi menyerang,kali ini sakitnya belih sering dan semakin menuntut.


Ibu hamil itu nampak meringis,sambil mengigit bibir bawahnya,ia tak bisa lagi duduk dengan tenang,hingga berkali kali ia harus membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman,namun rasa sakit itu tak kunjung reda,meskipun begitu ia masih berusaha untuk tetap tenang,karena ia tahu apa yang akan terjadi jika sang suami sampai tahu keadaanya sekarang.


Namun seketika wajahnya berubah panik,saat merasakan cairan berlendir keluar dari intinya,dan tembus membasahi celana yang di kenakannya,sebagai wanita yang sudah memiliki anak,Citra faham betul dengan situasi semacam ini.


Ia pun meminta sang suami untuk melajukan mobilnya lebih cepat.

__ADS_1


" Jalankan mobilnya dengan cepat,bang! kita berhenti di klinik Faiz." titah nya sedikit lirih.


Mendengar suara sang istri melemas,Satria pun langsung menoleh,dan alangkah terkejutnya saat ia melihat wajah sang istri yang sudah di banjiri keringat.


" Bun! kamu kenapa?" tanya Satria,dengan cepat ia pun menepikan mobilnya terlebih dulu di pinggir jalan.


" Perut ku sakit,bang! sepertinya akan melahirkan." lirih Citra,membuat Satria mematung seketika dengan raut wajah yang tak bisa di gambarkan.


" Kita ke rumah sakit sekarang!"tanpa banyak bicara,Satria pun langsung melajukan mobilnya kembali.


Saking paniknya, ia sampai lupa dengan tempat tujuanya,bahkan klinik tempat Faiz membuka praktek pun sudah terlewat jauh.


" Abang,kita mau kemana?" pekik Citra.


" Tentu saja ke rumah sakit." sahut Satria.


" Tapi di daerah ini bukanya tidak ada rumah sakit?"ujar Citra dengan sedikit merintih,menahan rasa sakit yang semakin tak terkendali.


" Astagfilluh,aku sampai lupa,dimana ini?" Satria seolah tak sadar,dengan daerah tempat tinggalnya sendiri, lagi lagi ia menghentikan mobilnya di tepi jalan.


" Ini di dekat pondok bang! klinik Faiz sudah lewat." Citra terlihat frustasi,namun ia tak punya cukup tenaga untuk menggeluarkan banyak suara.


" Benarkah?" Satria pun memutar pandangan,memperhatikan kondisi sekeliling,tak lama ia tersadar.


Lalu memutar setir hendak balik arah,menuju ke klinik.


Setelah sampai di klinik,Satria pun langsung memanggil para perawat, agar sang istri bisa segera di tangani dengan cepat.


Satria langsung terkulai lemas saat melihat para perawat membawa istrinya ke ruang bersalin, pria itu terduduk di kursi tunggu dengan tubuh lunglai,hanya d temani kedua putrinya yang masih nampak polos dan tak pengerti apa apa.


tiba tiba saja seorang pria berjas putih menghampirinya.


" Bang!!" panggil pria tersebut sambil menepuk bahunya,sontak Satria pun mengangkat wajahnya,dan seketika wajahnya mulai berbinar.


" Tolong temani istri ku di dalam." pintanya,membuat pria tersebut, yang tak lain adalah Faiz tercengang.


" Apa?" Faiz mendekatkan telinganya,memastikan jika indra pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


" Istriku sedang melahirkan,tolong kamu temani dia,aku harus menjaga anak anak ku di sini." ucap Satria lagi,membuat Faiz menggelengkan kepala tak menyangka.


" Enak saja,abang yang membuatnya hamil,kenapa Faiz yang harus menemaninya, suami macam apa abang ini?"protes Faiz.

__ADS_1


" Tapi aku tak bisa melihat dia dalam kondisi seperti itu."


" Abang sendiri yang menginginkanya,dasar muka batu,tapi mental tahu." sungut Faiz,tanpa permisi pria yang masih mengenakan jas putih tersebut menarik tangan Satria dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruang bersalin,dimana Citra berada,dengan sedikit paksaan akhirnya Satria pun mau tak mau menurutinya,ia lalu menghampiri sang istri yang tengah berjuang antara hidup dan mati, di bantu oleh dokter Rani dan beberapa perawat,pria itu lalu duduk di sebelahnya dengan tubuh yang nampak bergetar.


Hal semacam itu yang selama ini Satria takutkan,suara rintihan dan erangan,bahkan ******* yang keluar dari mulut Citra kali ini terdengar menyeramkan,yang tentunya sangat berbeda, saat ia dengar ketika dalam proses masa produksinya dulu.


Untung saja Citra faham dengan keadaan suaminya,sehingga ia pun tak bisa berharap banyak padanya.


Yang ada Citra malah meraih tangan Sang suami dan menggenggamnya,untuk menguatkan.


" Jangan khawatir,bang! aku baik baik saja." ujarnya, dengan menyunggingkan senyum manisnya.


Melihat sang istri yang nampak kuat, Satria pun bergeming, seolah mendapat kekuatan yang muncul secara tiba tiba dalam dirinya,dengan penuh semangat ia pun mulai beranjak,hendak memberi dukungan untuk sang istri.


" Ya,aku percaya kamu pasti kuat,berjuanglah,apapun yang terjadi aku akan tetap di sini untuk menenami mu." balas Satria,sambil menggenggam tangan Citra,setelah melihat sang istri mengangguk semangat,rasa takutnya sedikit demi sedikit mulai memudar.


" Kamu boleh menjambak ku atau mengigitku kalau mau." ujarnya lagi,saat melihat Citra mulai menarik nafasnya dalam dalam,dan mengeluarkannya perlahan,sesuai dengan intruksi yang di berikan Dokter Rani.


" Aaaakkkhhhh!!!!"suara Satria menggema di ruangan tersebut,ketika Citra mengigit tangannya.


" Huuuhh,,huuuhh.Maaf,bang! aku harus melakukanya." lirih Citra,di sela sela perjuanganya mengeluarkan kepala sang bayi.


" Tidak masalah." sahut Satria,seolah baik baik saja,walau batinya tersiksa,karena harus menyaksikan sang istri meringis kesakitan.


" Ayo sedikit lagi! jangan berhenti." bariton dokter Rani kembali mengingatkan.


Saat itu juga Satria langsung melayangkan tatapan tajam.


" Apa kamu tidak melihat,istriku kesakitan,dan kamu malah menyuruhnya untuk tidak berhenti." bentak Satria,membuat Dokter Rani dan para perawat yang membantunya terperanjat.


" Maaf,bang! tapi kepalanya sudah terlihat,jika tidak cepat di keluarkan nanti kepalanya bisa panjang."ujar Dokter Rani,membuat Satria tercengang.


" Kepalanya bisa panjang?" Satria semakin tak bisa berfikir jernih,ia terdiam membayangkan kepala bayinya yang memanjang.


Sesaat kemudian, ia kembali menjerit histeris,saat Lagi lagi Citra menggigit tangan nya,dan kali ini sambil di barengi tarikan di rambutnya.


" Hhhmmmmmppp!"


Satria memejamkan mata,dan nampak pasrah,apapun yang di kalukan Citra terhadapnya.


Hingga akhirnya suara rengekan bayi pun mulai terdengar,Satria sempat tersenyum dengan nafas yang masih tersenggal,namun entah kenapa tiba tiba Satria merasa kelapanya berputar,hingga tak lama ia pun terkulai dan langsung tak sadarkan diri.

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊😊


__ADS_2