I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 8


__ADS_3

Setelah kepergian Bu Sri dan juga Rahayu,Mentari dan Faiz masih duduk bersama di sofa ruang keluarga.


Hening,tidak ada satu orangpun yang mau membuka pembicaraan,Faiz melirik sekilas pada gadis yang masih menundukkan kepalanya itu.


" Sebaiknya kamu istirahat saja di kamarku dulu,aku akan menjaga bapak di sini." titah Faiz.


" Tidak usah Dok,aku di sini saja." Mentari mengangkat kepalanya,nampak jelas di matanya raut kesedihan.


" Kamu menangis?" tanya Faiz,sambil menatap mata cantik gadis itu dengan begitu intens.


" Tidak !!" sahut Mentari sambil mengusap pipinya.


"Bicaralah padaku, Apa yang membuat mu menangis?" Tanya Faiz lagi,dan akhirnya Mentaripun mau membuka suaranya.


" Pak Dokter yakin akan pergi dari sini?"


" Seperti yang kamu dengar tadi."


" Padahal aku senang pak Dokter ada di sini,pak Dokter selalu membantu ku dan mau peduli padaku,aku sudah menganggap pak dokter sebagai kakak ku sendiri." ucap Mentari,membuat Faiz tersenyum.


" Kamu tenang saja,suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi,tetap semangat!!hidup mu masih panjang,jaga dirimu baik baik." ujar Faiz sambil mengusap kepala Mentari layaknya sebagai kakak beradik.


Gadis 19 tahun itu tersenyum sambil mengangguk,namun ia masih belum bisa menghentikan deraian air matanya.


" Kenapa pak Dokter tidak menerima kak Rahayu saja,agar pak Dokter bisa tetap di sini."


" Tidak bisa,karena cinta tidak bisa di paksakan."


" Aku yakin seiring berjalannya waktu,dan seringnya kalian bertemu,cinta itu akan datang dengan sendirinya."


Faiz terkekeh sambil menggelengkan kepala.


" Sudahlah,kamu masih kecil,tau apa tentang cinta." ujar Faiz, ia beranjak lalu berjalan ke tempat di mana bapak masih terbaring.


Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya,sudah waktunya bapak tersadar,namun bapak masih saja memejamkan mata,Faiz mulai panik,dokter muda itupun berusaha membangunkan bapak dengan alat medis seadanya,ternyata hasilnya nihil bapak sama sekali tidak merespon.

__ADS_1


Detak jantungnya pun mulai melemah.


" Mentari!!" teriak Faiz membuat Mentari terperanjat,ia langsung berlari dengan sedikit menyeret kakinya yang terluka akibat sabetan sapu yang di layangkan bu Sri padanya.


" Ada apa Dok?" tanya Mentari panik.


" Panggilkan ibu dan Kakak mu."


" Kenapa? ada apa dengan bapak?"


" Panggilkan dulu ibu dan kakak mu." bentak Faiz,akhirnya Mentari pun mengangguk dan menurutinya.


Mentari berjalan melewati beberapa petak kebun sayur,menembus malam yang sepi,suara katak juga hewan malam mengiringi setiap langkahnya.


" Ada apa Mentari,kenapa malam malam begini kamu masih keluyuran?" suara seorang warga yang sedang berjaga malam sempat mengejutkannya.


" Tolong Tari pak,panggilkan ibu di rumah,dokter Faiz menyuruhnya untuk ke rumahnya sekarang juga." ujar Mentari dengan nafas terengah engah.


" Memang kenapa? apa yang terjadi?"


" Bapak sakit,cepat panggilkan ibu,Tari takut terkena marah jika Tari yang memanggilnya." Tari sedikit memohon.


Mentari kembali ke tempat Faiz dengan tergesa gesa,menghampiri Faiz yang masih berusaha untuk membuat bapak tersadar.


Namun Faiz menggelengkan kepala tanda menyerah,ia sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya,tapi tetap saja hasilnya nihil.


" Dok,bapak kenapa?" tanya Mentari.


" Cidera di kepala bapak sangat parah,perlu tindakan medis yang lebih serius,kita harus segera membawanya ke rumah sakit besar." jelas Faiz.


" Maaf aku tidak bisa menolong bapak lebih jauh lagi,karena kamu tau sendiri peralatan medis yang aku punya masih terbatas." Faiz menundukkan kepala,ia merasa bersalah,baru beberapa hari ia sudah gagal dalam menjalankan tugasnya.


Tidak ada balasan apa apa dari Mentari,gadis itu semakin terisak,sambil memeluk bapak.


" Apa yang sebenarnya terjadi pada Bapak,kenapa bisa sampai seperti itu?"tanya Faiz penasaran,namun sebelum Mentari menjawab bu Sri dan Rahayu,serta beberapa warga datang.

__ADS_1


" Apa yang terjadi pada Suamiku?" tanya Bu Sri sambil berkacak pinggang.


" Bu tenang ,dengarkan dulu penjelasan pak Dokter." pinta Rahayu.


" Maaf Bu,seharusnya aku yabg bertanya apa yang terjadi pada suami ibu,kenapa dia bisa sampai terluka seperti ini?" Faiz balik bertanya.


" Tidak usah banyak bicara,jelaskan saja bagaimana kondisi suamiku!!" Bu Sri mulai sudah mulai geram.


" Cidera di kepalanya sangat parah,harus segera di tangani oleh tenaga medis profesional,jika tidak kemungkinan besar bapak akan mengalami kelumpuhan,dan lebih parahnya akan mengakibatkan kematian." ujar Faiz tanpa basi basi.


Ibu dan Rahayu terhentak,mereka menggelengkan kepala sambil menutup mulut dengan telapak tangan merasa tak percaya.


" Bapak!!" teriak Rahayu sambil memeluk tubuh bapak yang masih terbujur kaku di atas brankar.


" Bagaimana bisa membawa pak Hasim ke Kota selarut ini?" bisik para tetangga yang ikut yang ada di sana.


" Pak!! maaf kan Ayu pak,karena Ayu bapak jadi seperti ini." lirih Rahayu sambil terus mengguncang tubuh rentan orang tuanya.


" Ini semua gara gara kamu!!harusnya kamu yang terbaring di sini,bukan bapak!!" teriak Rahayu sambil mendorong tubuh Mentari.


" Hentikan!!" Faiz menarik tangan Rahayu saat gadis itu ingin Menyerang Mentari.


" Bukan saatnya untuk saling menyalahkan!!" kesabaran Faiz mulai di uji,pria itu langsung ke mengumpulkan para warga meminta bantuan agar pak Hasim segera di bawa ke rumah sakit.


Dengan menaiki angkot,merekapun membawa pak Hasim ke rumah sakit,jalanan berlumpur dan terjal serta kurangnya penerangan jalan,membuat perjalanan mereka sedikit terhambat,Faiz sendiri yang mengemudikan angkot tersebut,harus ekstra berhati hati,karena sedikit saja ia lengah,jurang terjal menganga menyambutnya.


Setelah menempuh jarak yang sangat jauh,menguras waktu dan tenaga,akhirnya merekapun sampai di sebuah rumah sakit daerah,para perawat rumah sakit tersebut langsung menyambut mereka dan membawa pak Hasim ke ruang UGD.


Faiz dan Mentari,juga Bu Sri dan Rahayu serta beberapa orang tetangga,menunggu di luar dengan harap harap cemas.


Berharap yang terbaik untuk Pak Hasim,hingga beberapa jam akhirnya seorang dokter keluar.


Semua orang berhambur menghampirinya.


" Cidera di kepalanya sangat parah,jika tidak di tangani dengan cepat akan berakibat fatal,tapi untungnya pak Hasim mendapat pertolongan pertama sehingga nyawanya masih tertolong,tapi maaf aku tidak yakin dia akan sembuh seperti semula."jelas dokter tersebut.

__ADS_1


Seperti yang sudah Faiz jelaskan,cidera di kepala Pak Hasim sangat berat,benturan di kepalanya mengakibatkan cidera otak,hingga menyebabkan terganggunya kemampuan berbahasa dan berbicara,mengalami koma,sakit kepala kronis,hingga kelumpuhan.


Semua orang nampak bergeming,derayan air mata tak dapat mereka bandung,Bu Sri mendekap erat tubuh putrinya yang terlihat lebih hancur,hingga Rahayu terkulai lemas dan tak sadarkan diri.


__ADS_2