I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.117


__ADS_3

Selesai makan,Citra memutuskan untuk menghampiri kedua anaknya di kamar,tanpa ia ketahui ternyata sang suami juga sudah terlelap di sana.


Setelah melihat hal itu,Citra mendaratkan bokongnya di tepi ranjang,namun lagi lagi terdengar bunyi berderit,khawatir ranjang tersebut roboh, ia kembali mengangkat tubuhnya, lalu berdiri seraya memperhatikan wajah Satria yang nampak kelelahan,rasa iba seketika muncul dalam benaknya,sepertinya Satria memang tidak cukup tidur semalaman karena pria itu harus tidur di sofa.


Setelah lama termenung,sambil terus menatap sang suami,tanganya mulai terangkat,menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Satria,lalu mendaratkan kecupan di keningnya.


Nampaknya Satria terlalu lelap, hingga ia sama sekali tak terusik ketika sang istri menciumi seluruh wajahnya dengan gemas,dengan harapan pria itu akan segera membuka matanya,namun ternyata usahanya sia sia,Satria masih saja bergeming,hingga Citra pun merasa lelah dan akhirnya memilih untuk menyerah,rasa kantuk yang sudah menyerangnya tak dapat di hindari lagi,namun tempat tidurnya terlalu kecil, dan tak cukup untuk di tempati empat orang sekaligus,dengan terpaksa ibu hamil itu pun memilih untuk merebahkan tubuhnya di bawah tempat tidur dengan hanya beralaskan sehelai tikar,suasana sejuk membuatnya terasa nyaman,terbuai dengan hembusan angin yang menyelinap lewat sela sela dinding kayu, perlahan matanya mulai tertutup hingga akhirnya ia pun terlelap.


Selang beberapa menit,terdengar suara rengekan dari Sara,bayi yang kini sudah menginjak usia satu tahun lebih itu menangis sambil memukul kecil perut sang ayah,sampai akhirnya Satria pun mengerjapkan mata,dan langsung terbangun dengan mata yang masih terasa berat,namun demi sang anak,Satria berusaha keras untuk mengusir rasa kantuknya,dengan cepat ia meraih tubuh kecil itu hendak membawanya ke luar.


Namun sesaat kemudian matanya langsung terbelalak,mendapati yang istri telah tertidur di bawahnya,dengan hanya beralaskan tikar tipis,bahkan tanpa selimut dan juga bantal.


Tanpa menunggu lama,pria itu mengurungkan niatnya.


" Sara turun dulu,ya!" titah Satria,sambil menurunkan kembali tubuh kecil sang anak dari gendonganya.


" Kenapa malah tidur di sini." gumamnya lagi sambil mengangkat tubuh montok sang istri dan memindahkannya ke atas tempat tidur.


Setelah memastikan istrinya tidur dengan nyaman,Satria kembali beralih pada Sara.


" Waktunya makan siang!!" serunya saat menyadari mereka sudah tidur cukup lama,hingga melawatkan jam makan siang.


tanpa menunggu lama,Satria langsung mengangkat tubuh kecil itu ke udara dan membawanya ke dapur,sikap hangat sang ayah membuat batita itu tertawa girang sambil menunjukan gigi yang baru tumbuh beberapa biji.


Dengan telaten,Satria membuatkan makanan khusus untuk sang buah hati,walau hanya nasi lembek dan sayuran,Sara terlihat lahap saat menyantapnya,bahkan batita itu tak membiarkan mulutnya berlama lama dalam keadaan kosong.


" Enak?" tanyanya,Sara lagi lagi hanya mengangguk dengan mulut yang masih penuh,seketika membuat senyum Satria kembali terbit.

__ADS_1


Saat itu juga Bu Sukma datang setelah memetik sayuran,wanita paruh baya itu nampak terkejut saat melihat tuannya duduk sendiri di meja makan sambil menyuapi anaknya,meskipun hal semacam itu bukan sesuatu yang baru untuk Satria,namun bagi Bu Sukma ini adalah momen pertamanya, melihat Satria bersikap hangat dan penuh kasih sayang dengan menyunggingkan senyum yang nampak begitu tulus.


" Neng Sara makan apa?" tanya Bu Sukma,seraya menghampiri keduanya.


Memastikan apa yang sedang di makan Sara,hingga gadis kecil itu nampak begitu lahap.


" Aku hanya sempat membuatkanya sayur." jawab Satria,seraya menunjukan hasil masakan yang sudah hampir habis.


" Ya ampun,maaf tadi ibu belum sempat menyiapkan makanan untuk anak anak." Bu Sukma nampak berasa bersalah,matanya mulai berkaca kaca sambil menatap gadis kecil itu dengan penuh rasa khawatir.


" Tidak apa apa." balas Satria dengan wajah khasnya yang dingin.


" Kalau begitu ibu akan menyiapkan makanan untuk Nak Satria." ujar bu Sukma lagi,dengan cepat ia pun mulai mengeksekusi bahan makanan yang akan di masaknya.


Tidak lama Citra pun muncul,masih dengan muka bantalnya,kehadiran sang istri membuat senyum Satria kembali cerah,secerah Mentari pagi,setelah beberapa waktu tak mendapat pelukan hangat dari istri tercinta membuat hidupnya terasa hampa.


Citra yang masih belum tersadar sepenuhnya langsung terkesiap,ia nampak terkejut saat mendapat serangan mendadak dari sang suami,sebelum sempat melayangkan protes,Satria sudah membungkan mulutnya dengan bibir.


" Hhhmmmppp!!!" Citra membulatkan mata sambil mendorong tubuh sang suami,agar mau melepaskan ciumannya.


" Abang!!" cicitnya,sambil melirik bu Sukma yang langsung memalingkan wajah,setelah sebelumnya ia sempat melihat kejadian itu.


" Aku kangen,Bun!!"ucap Satria dengan manja,tanpa menghiraukan setuasi di sekitarnya,pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Citra,pelukannya pun semakin erat,seolah tak ingin lagi terpisahkan.


Bahkan Sara di buat terpingkal pingkal melihat sikap sang ayah yang menurutnya sangat menggemaskan,walau ia sama sekali belum mengerti apapun.


" Abang!!" Citra memohon agar sang suami bisa melepaskan pelukannya,namun nampaknya Satria sama sekali tak perduli

__ADS_1


Menyadari kehadirannya yang tak tepat,Bu Sukma pun mematikan kompor terlebih dahulu,lalu mengajak Sara untuk pergi dari sana,membiarkan sang tuan dan nyonyanya menikmati waktu berdua.


" Lihat lah! bu Sukma saja mengerti dengan apa yang aku rasakan."


" Kamu memang tidak tau malu." sungut Citra dengan memajukan bibirnya,sambil mencibut hidung suaminya dengan gemas.


Meskipun begitu,tanpa di pungkiri ia pun merasakan kerinduan yang amat mendalam,jauh dari sang suami walau dalam beberapa saat membuat hidupnya terasa ada yang kurang.


Setelah memastikan Bu Sukma tak ada lagi di sana,Citra pun mulai menunjukan keberaniannya,ia langsung mengalungkan tangan di leher Satria, dan menarik tengkuknya,menempelkan kembali bibirnya hingga terpaut dengan sempurna.


Hingga beberapa lama,saling memadu kasih,meluapkan kerinduannya,dengan memberi pelukan dan Ciuman,Satria baru tersadar jika mereka harus segera pergi untuk mengantar Haikal dan Zahra ke bandara.


Dengan terpaksa Satria harus menghentikan kegiatannya,lalu menyuruh sang istri untuk melanjutkan pekerjaan bu Sukma yang tertunda.


" Jangan lama lama,kita harus segera pergi." ucap Satria sambil membantu sang istri memasak.


" Kemana?" tanya Citra.


" Ke Bandara,mengantar bang Haikal dan mbak Zahra."jawab Satria.


" Memangnya mereka akan pergi sekarang?" Citra nampak murung saat mengetahui salah satu anggota keluarganya akan pergi dalam waktu yang mungkin akan sangat lama.


" Iya,bang Haikal sangat sibuk,dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama,kita juga akan segera kembali ke kota." sahut Satria lagi,membuat Citra bergeming,raut wajahnya semakin murung.


" Sayang sekali,padahal aku masih betah di sini,tapi setelah bang Haikal dan mbak Zahra pergi, suasana pondok pasti akan semakin sepi." lirih Citra.


" Tenang saja,kita akan sering berkunjung ke sini,tapi aku malah senang jika bang Haikal pergi,itu tandanya orang yang paling menyebalkan di rumah Umi akan berkurang satu." Satria terkekeh,sementara Citra hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2