
Setelah selesai dengan kesepakatan yang Faiz dan Lutfi buat, kedua pria itu kembali masuk,menemani Mentari yang kini telah tertidur pulas,mereka memilih untuk tetap duduk di samping Mentari,padahal banyak brankar kosong yang bisa mereka pakai untuk sekedar merebahkan tubuhnya.
Menjelang tengah malam,Mentari mengerjapkan matanya,rasa sakit dalam perutnya membuatnya terjaga,gadis itu mulai mengangkat tubuhnya,seketika matanya membulat kala melihat dua pria yang masih berada di samping kanan dan kirinya,tengah menenggelamkan wajahnya,dengkuran halus terdengar saling bersahutan.
" Mereka masih di sini?" gumamnya dalam hati, seraya menggelengkan kepala,gadis itu sejenak terdiam, memikirkan bagaimana caranya turun dari brankar jika kedua pria itu menghalangi pergerakannya,Mentari melirik tiang infusan yang berada di sebelah kanannya,otomatis ia juga harus mengikutinya,dan turun dari sebelah kanan juga,namun ia melirik Faiz yang berada di sana juga.
" Aduh,apa yang harus aku lakukan." lirihnya sambil memegang perut yang sudah tidak bisa di ajak kompromi.
Gadis itu memberanikan diri mangangkat kakinya dengan gerakan kecil dan hati hati,namun tanpa senjata kaki kurang ajarnya malah mengenai tepat ke kepala Faiz,hingga dokter muda itu tersentak dan langsung terbangun,dengan mata yang masih terasa berat.
" Mau kemana?" tanyanya, saat melihat kaki Mentari sudah menggantung di atas lantai.
" Mau ke toilet." jawab Mentari,gadis itu langsung menapakan kakinya ke lantai yang terasa dingin,lalu berjalan sambil mendorong tiang infusan,melewati Faiz yang sudah berdiri,tiba tiba saja langkahnya terhenti,ketika Faiz mengenggam tangan yang di pakai untuk memegang tiang infusan,Gadis itu lirik menutar tubuhnya dan mengangkat jawabnya,menatap pria jangkung di belakangnya.Lalu dengan cepat ia menarik tangannya kembali dan mulai mengayunkan langkahnya masuk ke dalam toilet.
Dokter muda itu terlihat frustasi,ia mengusap wajahnya dengan kasar,lalu kembali mendaratkan bokongnya,ini kesekian kalinya ia mendapat penolakan dari wanita yang di cintainya,memang sangat menyakitkan,lebih sakit dibanding saat mendapat kenyataan bahwa wanita yang di cintainya dulu adalah adiknya sendiri,Lamunannya kembali ke masa lalu,dimana ia pergi meninggalkan rumah masa kecilnya yang penuh dengan cinta,serta mengabaikan teriakan dan isak tangis dari semua orang yang menyayanginya dengan tulus.
" Umi..!!" lirihnya kala mengingat sosok wanita paruh baya yang dengan ikhlas merawatnya sejak kecil hingga ia berhasil menjadi dokter seperti sekarang ini.
" Apa aku sudah terlalu berlebihan pada mereka?" gumamnya lagi,tanpa ia sadari Mentari telah kembali dan menaiki brankarnya lagi.
Gadis itu menatap heran pada pria yang telah menundukan kepala,dengan bahu yang terlihat bergetar,nampak seperti tengah menahan isakan.
Dokter muda itu mengangkat kepala sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan,lalu menghembuskan nafas kasar,tanpa ia duga Mentari sudah memperhatikannya sejak tadi,pria itu tersenyum membalas tatapan mata Mentari,namun matanya yang sendu tidak dapat berbohong,entah kenapa hatinya terasa berdenyut kala melihat raut wajah pria yang selama ini bersamayam di hatinya itu terlihat sedang tidak baik baik saja.
Ingin sekali ia menanyakan hal itu padanya,berharap ia bisa meringankan beban di pundaknya,tapi mengingat posisinya yang bukan siapa siapa,semua itu ia urungkan.
__ADS_1
" Aku memang bukan siapa siapa dan aku tidak tau apa masalah mu,tapi aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu,mungkin hanya dengan cara itu aku bisa menunjukan perasaan ku,perasaan yang tidak mungkin bisa kamu balas." lirihnya dalam hati.
Mentari tidak bisa memejamkan mata lagi,keberadaan ke dua pria itu membuatnya tidak nyaman,begitu juga Faiz yang duduk dengan melipat kedua tanganya di dada,Melihat Lutfi yang nampak asyik menikmati alam bawah sadarnya,tanpa terganggu sedikitpun.
Sesekali iapun mengecek cairan infusan yang masih tersisa setengah.
" Kau tidak tidur?" tanya Faiz saat melihat Mentari terduduk sambil memeluk sebuah bantal.
" Tidak." sahut Mentari.
Faiz pun mengangguk tanpa mau banyak bertanya lagi,ia tahu gadis itu sedang dalam mood yang buruk,oleh sebab itu lebih baik diam daripada memperburuk masalah.
Hingga beberapa saat keduanya terdiam,suaranya dalam kamar begitu hening,hanya dengkuran Lutfi yang semakin terdengar kencang.
" Hmmm,,maaf pak dokter,sebelum nya kau mau minta maaf atas nama bapak,tolong maafkan kesalahannya,baik yang di sangaja ataupun yang tidak." Akhirnya gadis itu mulai membuka suaranya,ucapan pertama yang sukses membuat Faiz menegakan tubuhnya.
" Tidak ada maksud apa apa, saya orang bodoh yang tidak terlalu faham dengan agama,tapi setau saya jika ada orang meninggal tanpa mendapat maaf dari orang yang pernah merasa ia sakiti,maka di dalam sana allah akan memperberat hukumannya,jadi saya mohon tolong lapangkan dada anda untuk memaafkan bapak,maaf karena bapak selalu merepotkan anda." lirih Mentari,dengan suara tercekak menahan isak,Faiz menggeser kursinya agar ia bisa lebih mendekat pada Mentari.
" Maksud kamu bapak meninggal?" Faiz berusaha mencerna ucapan yang di lontarkan Mentari,berharap jika indra pendengaranya sedang tidak baik.
Namun setelah mendapat anggukan kepala dari Mentari ,pria itu semakin tersentak,tubuhnya melemas,ia menatap Mentari penuh iba,pantas saja Zoya pernah berkata jika gadis itu sudah tidak punya siapa siapa.
" Kamu yang sabar,aku tidak pernah merasa di repot kan,aku turut berduka cita,bapak orang baik,insyaallah allah bapak akan di tempatkan di tempat yang layak di sisi allah." Faiz menggenggam tangan Mentari,ia tahu betul bagaimana perasaanya saat ini,ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana hidup yang di laluinya setelah orang tua satu satunya yang ia miliki malah berpulang terlebih dulu.
" Bagaimana dengan kabar ibu dan kakak tirimu?" tanya Faiz.
__ADS_1
" Aku Tidak tau,setelah selesai bapak di kebumikan,aku langsung pergi ke sini dan sampai sekarang aku tidak pernah mendapat kabar dari mereka." jawabnya di sela isakannya.
" Itu lebih baik." ujar Faiz,Sambil mengusap kepala Mentari dengan lembut,tiba tiba saja Lutfi mengeliat,sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka ketika mendengar suara isakan seseorang,seketika membulat sempurna kala melihat tangan Faiz yang bertengger di kepala Mentari, serta satu tangannya menggenggam erat tangan Mentari.
Faiz menjulurkan lidahnya,seraya mengejek saat Lutfi melayangkan tatapan tajamnya.
" Selangkah lebih maju,,1 - 0." gumamnya dalam hati,sambil menampakan senyum menyebalkannya.
...****************...
***bonus visual karena cerita ini sudah di rekomendasikan,, aaaakkkhhh betapa senangnya hatiku.. gak nyangka banget pokok'e,,terimakasih semuanya,dukung terus dengan kasih like vote dan komen...
Faiz***..
Mentari
Zoya
Lutfi
__ADS_1
Mohon Maaf jika visualnya kurang cocok,,🤗