I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 61


__ADS_3

Seminggu kemudian,kondisi Faiz semakin membaik,dan sudah di perbolehkan untuk pulang,Mentari dengan setia menemaninya selama ia di rumah sakit,dan kini gadis itu pun memutuskan untuk ikut ke pondok setelah mendapatkan izin dari ke dua calon kakak iparnya yaitu Al dan Satria.


Setelah selesai mengurus administrasi mereka pun segera pulang.


Suasana pondok kembali berwarna,kondisi abi pun berangsur membaik,Umi dan Mbak Zahra sibuk di dapur sejak pagi buta,menyiapkan banyak makanan khusus untuk menyambut putra kesayangannya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh serta memelahkan,akhirnya dua mobil yang di kendarai Al dan Satria pun tiba di halaman rumah Utama milik Abi.


Mereka langsung di sambut haru oleh Umi dan yang lain,umi terisak ketika melihat keadaan anak bungsunya yang duduk di kursi roda.


"Ya allah,,anak Umi!!" lirihnya sambil mendekap Faiz.Pemuda itu tersenyum seolah tak terjadi apa apa padanya.


" Umi,Abi,apa kabar?" tanyanya.


" Kami baik,bagaimana keadaan mu?maaf Umi tidak bisa menemani mu di rumah sakit."


" Tidak apa apa, Faiz juga baik, Mi! lagipula di rumah sakit Faiz mendapat perawatan khusus,sehingga bisa cepet sembuh." ujarnya seraya melirik Mentari,gadis itu tersenyum sambil menundukan kepala,lalu menyalami tangan Umi.


" Terimakasih sudah menemani dan merawat Faiz."ucap Umi pada Mentari.


" Sama sama." sahut Mentari.


" Belum apa apa,sudah merepotkan." gumam bang Haikal sambil memukul kecil pundak Faiz,sebagai anak tertua pada umumnya yang selalu merasa benar,yang iseng dan suka mengerjai adik kecilnya.


" Bukan Faiz yang mau,Bang! namanya juga musibah." sahut Faiz pasrah.


" Makanya jadi anak harus nurut,jangan ngeyel." kesal Bang Haikal.


" Giliran kayak gini repot semua kan?" tambah Al.

__ADS_1


" Iya,Bang! Faiz minta maaf." balasnya.


" Jangan di ulangi lagi,ini pelajaran untuk mu,untuk kedepannya kau harus lebih hati hati,jangan ceroboh,jangan memutuskan keputusan sendiri." kali ini Satria ikut bersuara,membuat Faiz sebagai anak terkecil yang selalu merasa serba salah,ingin melawan tapi tak berani, semakin terpojokan,pemuda itu menatap Umi seolah meminta perlindungan.


" Umi!!" lirihnya dengan manja.


Umi malah tersenyum sambil menggelengkan kepala,seberapa tua umur mereka jika sudah bersatu maka akan terjadi perang dingin,seperti kebanyakan anak pada umumnya,dan memang momen seperti lah itu yang selama ini Umi rindukan,kala melihat anak anaknya berkumpul dalam satu atap,di iringin candaan dan perdebatan,dan hal itu sudah jarang ia temukan setelah anak anaknya mulai tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing masing,namun meskipun begitu setiap orang tua akan selalu mendo'akan anaknya untuk mendapatkan yang terbaik,walaupun tak berada di dekatnya.Tanpa mengharapkan balasan apa apa,


Sementara para pria masih membully adik kecilnya,Umi mengajak para menantu perempuannya masuk,hendak menyiapkan makanan,dan menatanya di atas meja makan.


" Kasihan Faiz." ucap Citra sambil terkekeh.


"Biarkan saja.Mereka memang selalu seperti itu,mungkin jika tidak melihat Azzam dan si kembar juga Cyra serta Sara,umi merasa mereka masih kecil."


" Ya,mereka memang selalu terlihat seperti anak kecil." tambah mbak Zahra yang tidak banyak bicara,dan lebih kalem di banding dua kakak ipar Mentari yang lain.


Mentari pun tersenyum,akhirnya ia bisa merasakan keluarga yang untuh,memiliki orang tua lengkap,serta memiliki banyak kakak yang menyayanginya,dan keponakan yang lucu seperti yang selama ini ia impikan.


Mentaripun tersenyum sambil mengangguk.


" Aku tidak akan marah, karena bagimana pun sikap dan tingkahnya,mereka tetap sangat menyayangi dokter Faiz."


" Mentari benar."


keberadaan saudara, baik itu kakak atau adik, adalah hal yang wajib disyukuri. Meskipun tingkahh mereka terkadang membuat jengkel, namun banyak orang yang mengharapkan kehadiran seorang saudara,termasuk yang di rasakan Al saat menginginkan seorang adik.


Kehadiran sosok saudara baik itu kandung maupun angkat akan membuat hidup menjadi lebih seru dan berwarna. Di dalam rumah yang sama, mereka akan saling berbagi mainan, makanan, cerita, hingga kenangan. Saudara juga akan saling bertukar emosi satu sama lain. Senang, sedih, kesal, cemburu, hingga marah sering terjadi di antara hubungan kakak adik. Meski begitu, hubungan mereka akan kembali terjalin dan saling memaafkan.


Ketika beranjak dewasa, momen kebersamaan dan kenangan dengan saudara pasti akan menjadi salah satu yang dirindukan. Tapi, meski pun rasa sayang kepada saudara adalah salah satu yang terbesar, terkadang lisan ini terasa ciut ketika hendak mengungkapnya.

__ADS_1


Hubungan terbaik di semesta adalah hubungan kakak dan adik. Tidak ada perpisahan, tidak ada ketakjujuran, tidak ada patah hati. Sebaliknya, cinta yang luar biasa, kepedulian yang efektif, dan loyalitas yang berlebihan.


Setelah puas mengerjai adiknya,ke empat pria itu pun masuk,Al membantu mendorong kursi roda menemui Abi terlebih dulu di dalam kamarnya.


" Kalian sudah pulang?" tanya Abi dengan suara lemas.


" Ia,Bi! kami pulang." sahut Al.


Pria paruh baya itu mengangkat tangannya hendak menyentuh Faiz dengan segera Faiz pun maraih tangan tersebut,lalu menggenggamnya.


" Kamu sudah sembuh?" abi tersenyum menatap Faiz dengan mata sayu.


" Faiz sudah sembuh,Bi! maafkan Faiz karena sudah membuat Abi sakit."Faiz tak bisa lagi menahan air matanya jika sudah berhadapan dengan pria tua yang sudah merawat serta mengurusnya dengan limpahan kasih sayang selama ini terhadapnya.


"Berhenti menyalahkan diri sendiri,ini bukan salah mu,Abi memang sudah tua dan mulai di hinggapi penyakit." sahut Abi saraya berusaha menyeka air mata di pipi putra bungsunya.


Bukannya berhenti,Faiz malah semakin terisak,dengan deraian iar mata yang lagi lagi menetes membanjiri pipinya.


" Berhenti menangis,jangan membuat Abi lelah hanya karena mengelap air mata mu terus." lirih Abi berhasil membiat Faiz tersenyum.


" Faiz tidak akan bisa berhenti menangis selama Abi berbaring seperti ini,Abi harus bangun,agar bisa membela Faiz jika ketiga orang ini membully Faiz." rengek Faiz.


" Abi tidak mungkin bisa selamanya ada untuk membela mu,jadi kamu harus mulai bisa menghadapinya sendiri." balas Abi kembali membuat Faiz menangis.


" Tidak bisa,Faiz tidak bisa,pokoknya Abi harus segera sembuh." Faiz tak kuat lagi,ia memilih keluar dari kamar tersebut,dengan memutar kursi rodanya sendiri.


Sementara yang lain,masih tetap di samping abi,dengan berusaha tegar dan tak menunjukan rasa sedihnya.


***Bab ini lagi mencerminkan perasaan thor saat ini,yg pengen mudik tapi gk bisa..😥

__ADS_1


Jadi curhat deh...


Jgn lupa tinggalkan like komen dan vote,,biar thor seneng***.


__ADS_2