I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 31


__ADS_3

" Keberadaan Faiz belum di ketahui juga,Bang?" tanya seorang wanita pada sang suami.


" Belum,biarkan saja,dia sudah besar,aku sudah lelah mencarinya." sahut sang suami sambil melahap sarapannya.


" Aku sudah kangen dengan pondok kita dulu,gara gara dia,kita di lempar kesini." gerutunya.


" Nikmati saja, jangan terlalu di fikirkan tidak baik untuk kandungan mu,sebaiknya persiapkan dirimu untuk menghadapi persalinan nanti."


" Ya, aku tau."


Setelah selesai sarapan Citra mengantar kepergian sang suami yang telah rapi dengan setelan kantornya,sampai di teras rumah.


sejak kepergian Faiz hidup mereka seolah berubah 180 derajat.Jika dulu cukup hanya dengan mengenakan celana bolong dan kaos polos pas body,serta motor gedenya,kini Satria tampil lebih rapi dengan mobil mewah,namun hal itu malah membuat mereka sedikit tidak nyaman dan merasa bukan dirinya sendiri.


" Ya ya yah." celoteh Cyra anak pertama mereka yang baru menginjak dua tahun.


Nama Cyra di ambil dari perpaduan nama kedua orang keduanya,dari sekian banyak pilihan nama,hanya nama itu yang mereka pakai,dengan alasan mempererat hubungan suami istri. Dimana ada Citra pasti ada Satria.


Bayi imut dengan pipi gembil dan hidung mancung yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakak.


" Iya sayang! ayah kerja dulu ya,jagain bunda nya,oke!" ucap Satria sambil mencium pipi sang putri.


" Nanti sore aku ingin membawa Cyra jalan jalan ke taman." ujar Citra sambil meraih tangan Satria lalu menciumnya.


" Iya sudah,tapi hati hati jangan lama lama.Maaf aku belum bisa menemani mu,tapi aku akan menyusul kalian ke sana nanti." Satria membalas dengan menghujani kecupan di seluruh wajah istrinya.


" Iya,aku mengerti." sahut Citra.


" Iya sudah,aku berangkat sekarang ya,assalamualaikum."


" Waalaikumsalam,hati hati!!"


" Dah..sayang!!" Satria melambaikan tangan pada Cyra yang kini tengah menatapnya sambil membalas lambaiannya.


*


*


*


Sementara yang menjadi buronan keluarga,hidup tentram seolah tanpa beban,walau pun tanpa ada yang tau, kerinduan yang terpendam dalam hati selama ini sudah tidak bisa ia bendung lagi.

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini ia memimpikan keluarganya,termasuk Abi yang lebih sering mendatanginya,memintanya untuk segera pulang dan kembali.


Seketika deraian air mata menetes begitu saja,dan dengan cepat ia menyekanya.


Pria itu langsung beranjak,Setelah menyadari jam kerjanya sudah selesai.


Saat hendak keluar meninggalkan klinik tersebut.


Ia mendengar keributan serta tangisan anak kecil dari ruang UGD.Dengan segera iapun menghampirinya,alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa penyebab keributan itu.Entah kebetulan atau memang sudah takdir dari thor.


Dokter muda itu melihat Citra yang kini tengah duduk lemas di atas kursi roda sambil memegang perut buncitnya,ia sudah tidak bisa berbuat apa apa saat merasakan mulas yang begitu kuat,hingga ia tidak menghiraukan tangisan bocah yang kini berada dalam gendongan seseorang.


" Ada apa?" tanya Faiz panik.


" Sepertinya ibu ini akan melahirkan,tapi dia ingin menunggunya suaminya dulu." jelas suster.


" Aduuuuuh!! aku sudah tidak kuat lagi." pekik Citra dengan keringat yang sudah bercucuran di dahinya.


" Segera bawa ke ruang bersalin!" titah Faiz yang langsung di turuti oleh beberapa perawat.


" Jangan di keluarkan sekarang,aku ingin menunggu suamiku dulu." wanita itu masih sempat melayangkan protes,padahal ia sudah setengah mati menahannya,bahkan sudah nampak setengah sadar,membuat Faiz menggelengkan kepala tak menyangka.


" Untuk apa menunggu suami mu,memangnya dia akan membantu mu mengejan?" ucap Faiz,Citra langsung terkesiap saat mendengar suara yang di kenalnya,rasa sakitnya seolah hilang seketika,tatapan matanya kini tertuju pada seorang pria berjas putih yang telah memunggunginya.


Pria itu langsung membalikan tubuhnya,menatap wajah wanita yang pernah mengisi relung hatinya,dan kini perasaan yang sempat membuatnya gila seolah hilang entah kemana,berubah dengan rasa khawatir saat melihat Citra yang semakin melemas serta wajah yang pucat.


" Cepat, bawa dia ke ruang bersalin!!" titahnya lagi.


Setelah Citra berhasil di bawa ke ruang bersalin,Faiz beralih menatap bocah ber pipi gembil yang masih menangis sambil meronta ronta.


" Dia kenapa?" tanya Faiz pada seorang wanita yang menggendongnya.


" Dia anaknya ibu itu,mungkin dia menangis karena tidak mengenaliku." jawabnya.


" Memangnya anda siapanya?"


" Bukan siapa siapa,aku hanya membantu menolongnya dan membawanya ke sini, ibu itu kesakitan saat berada di taman." jelasnya lagi,Faiz pun mengangguk faham,lalu mencoba meraih tubuh bocah kecil itu dan menggendongnya.Perlahan tangisannya mulai mereda,bocah kecil itu menatap Faiz dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Pintar sekali anak ini,tau saja kalau di gendong pria tampan." ucap wanita itu lagi sambil mencubit gemas pipi gembil nya.


"Sepertinya dia nyaman dengan anda dokter,kalau begitu aku titip saja,karena aku harus segera pergi." ujarnya,wanita itu pun pergi.

__ADS_1


Faiz tersenyum,lalu membawa bocah kecil itu menuju ruang bersalin dimana Citra berada.


Faiz duduk di kursi tunggu sambil memperhatikan Cyra yang kini lebih tenang dan kembali ceria,karena rasa penasarannya yang tinggi bocah kecil itu tidak bisa diam,berjalan kesana kemari meraih apapun yang ia lihat.


Setelah lama menunggu,akhirnya Satria pun datang dengan langkah lebar dan tergesa gesa,pria itu terlihat kusut dengan kemeja yang sudah keluar serta kancing atas yang terbuka.


Faiz tersenyum sinis sambil memutar bola matanya,sementara Satria malah germening menatapnya tak menyangka,antara percaya tak percaya.Bocah yang selama ini di carinya kini telah hadir di depan mata.


Cyra yang melihat kedatangan sang ayah langsung berlari kecil sambil merentangkan tangan,dengan satu gerakan kini bocah kecil itu sudah berada dalam gendongan sang ayah.


" Dua anak lebih baik,itu pun jika anak pertama sudah menginjak usia tujuh tahun,sedangkan ini anak pertamanya saja masih belajar jalan,malah sudah brojol lagi." sindir Faiz,Satria terkekeh sambil mendaratkan bokongnya di sebelah Faiz,bahkan ia sampai lupa dengan kondisi sang istri yang tengah berjuang sendiri di dalam sana.


" Itu belum seberapa,aku bahkan anak menambahnya lagi,sampai 11 kalau bisa lebih,untuk cadangan." ujar Satria.


Faiz memutar kepalanya menatap Satria dengan tatapan sendu,sedetik kemudian ia langsung membenturkan tubuhnya,memeluk Satria dengan sangat erat,begitu juga Satria.


Isak tangis dari keduanya terdengar begitu pilu, untung saja hanya Cyra yang melihatnya,bocah kecil itu sampai terlihat keheranan.


" Bagaimana kabar mu?" tanya Satria dengan posisi masih berpelukan.


" Faiz baik,bang! bagaimana kabar kalian?"


" Tidak baik,kepergianmu membawa dampak buruk bagi kita semua,dan lihat penampilan ku sekarang,ini semua karena mu." ketusnya.


" Maafkan Faiz,Bang!"


" Maafkan aku juga,sebaiknya kamu pulang,Umi dan semua keluarga selalu menunggu mu,Abi juga sakit,ia ingin sekali bertemu dengan mu."


Faiz melepaskan pelukanya,lalu kembali ke posisi semula,ia menundukan wajahnya hendak berfikir.


" Apa mereka masih akan menerima Faiz?" lirihnya dengan suara berat.


" Tentu saja,mereka sudah lama menunggu mu pulang." jawab Satria yakin.


" Baiklah,Faiz akan pulang setelah mendapat cuti."


Satria tersenyum, menepuk bahu sang adik dengan bangga,ketika menyadari Faiz yang kini tengah memakai jas putih kebanggaannya yang sudah ia cita citakan sejak dulu.


Biasakan memberi like komen dan vote setelah membaca...😊


Terimakasih,,,

__ADS_1


love you all....😍😍😍😍


__ADS_2