
6 jam berlalu,akhirnya mobil mewah yang di tumpangi dua Al serta Faiz dan si kembar sampai juga di kediaman orang tuanya.
Umi yang kini tengah menyiram tanaman di pekarangan rumahnya,sempat terkejut saat melihat siapa yang turun dari mobil yang berhenti tepat di hadapannya.Tak hanya Umi yang terkejut,namun semua penghuni pondok pun tak kalah terkejutnya,dari kejauhan mereka memperhatikan kedatangan putra bungsu Umi dan Abi dengan tatapan takjub,apalagi di kalangan santriwan yang sudah menginjak dewasa,air liur mereka menetes begitu saja.
Bang Faiz, anak terakhir Umi dan Abi yang memiliki sifat ramah dan baik hati pada siapa pun kini telah kembali,sifat dan karakter yang sedikit berbeda dari kedua kakaknya yang terlihat cuek dan pendiam.
" Faiz." lirih Umi,wanita paruh baya itu langsung berhambur memeluk anak bungsunya, tanpa menyadari selang yang ia genggam masih mengalirkan air.
" Umi!" pekik Faiz ketika pakaiannya basah,namun sedetik demikian ia terkekeh dan melanjutkan pelukanya tanpa menghiraukan pakaian yang sudah basah kuyup.
Menyadari tagihan air yang selalu membengkak tiap bulannya,Al pun membantu memutar keran agar air tersebut tidak terbuang sia sia.
" Maafkan Umi,nak!" lirih Umi masih dalam pelukan sang anak.
" Umi bicara apa? seharusnya Faiz yang meminta maaf." balas Faiz, ia mengusap air mata sang Ibu yang membasahi pipi keriputnya.lalu mencium telapak dan punggung tangan Umi berkali berkali.
Kemudian tubuh tegapnya ambruk,ia berlutut sambil memeluk kaki Umi.
" Bangun,Nak!" ucap Umi seraya memegang ke dua pundak Faiz,dan membawanya kembali untuk berdiri.
Sungguh,dokter muda itu merasa menjadi anak paling durhaka,dan menyesali apa yang sudah ia perbuat,karena rasa kecewa yang begitu besar,ia sampai meninggalkan orang orang yang dengan tulus menyayanginya,dengan tangan ini Umi menggendongnya,dengan tangan ini Umi menjaganya,menggenggam tangan kecilnya untuk membantunya belajar berjalan,tangan ini juga yang selalu Umi rentangkan untuk menyambutnya,namun ketika ia besar dan mampu berdiri sendiri,ia malah lari begitu saja tanpa menoleh ke belakang.
" Maafkan Faiz,Umi." hanya itu yang bisa ia ucapkan.
__ADS_1
" Tidak apa apa,bukan kesalahan mu." balas Umi seraya membawa sang anak masuk, Dua Al serta si kembar memilih untuk pulang ke rumahnya.
" Ayah,memangnya paman itu siapa?" tanya Marwah saat mereka sudah sampai di rumah.
" Dia paman Faiz,adik ayah." jawab Al.
" Wajahnya tidak mirip." celetuk Shafa,membuat Al terdiam tak bisa menjawab.
" Aku dan Marwah mirip seperti ayah dan Ibu,ayah dan om Haikal juga mirip dengan Oma dan opa,tapi kenapa paman itu tidak mirip siapa siapa?" kedua anak itu masih akan terus berceloteh sebelum rasa penasarannya terobati.
Dua Al saling lirik,mereka sama sama memikirkan kata kata yang tepat untuk menjawabnya.Setelah sekian lama Al pun berjongkok,menyeimbangkan tinggi badannya.
" Nak,dalam sebuah keluarga mirip atau tidaknya wajah tidak penting,jadi tidak usah membahas itu lagi ya,yang penting kita harus selalu saling menyayangi,seperti ayah yang menyayangi paman Faiz dan Om Haikal,menyayangi Oma dan Opa,menyayangi Ibu dan kalian juga." jelas Al panjang lebar,dan akhirnya dua bocah kecil itu pun mengangguk,meskipun tidak mengerti,yang penting mengaguk.
" Ayah memang terbaik." seru Shafa sambil berhambur,lalu mengalungkan tangan kecilnya di leher sang ayah dan mencium pipi kananya,begitu juga dengan Marwah yang berhambur mencium pipi kirinya.
Al mengangkat kedua anaknya dengan tangan kanan dan kirinya,lalu melirik sang istri yang nampak muram.
" Ibu mau juga?nih masih nganggur." goda Al sambil memajukan bibirnya membuat dua bocah itu terkikik geli. Namun Alvi malah membalikan tubuh Suaminya dan langsung loncat ke punggungnya,hingga Al sedikit terhuyung ke belakang,Alvi bergelayut di punggung suaminya seperti anak monyet yang di gendong ibunya.
" Jalan,Yah!" titah Alvi,dan Al pun menurutinya.
Al mulai melangkahkan kaki dan masuk ke dalam kamar, dengan mengangkat beban seberat hampir 80 kilo gram di lengan dan punggungnya,namun berat itu semua tidak sebanding dengan berat rasa cintanya.
__ADS_1
" Setelah ini pijitin ayah." ucap Al setelah berhasil membawa ke tiga wanitanya masuk ke dalam kamar dan menurunkannya.
Al sempat memutar lengan dan pundaknya,merentangkan otot ototnya yang terasa nyeri.Sementara Alvi terkekeh melihatnya.
" Shafa,Marwah, ini sudah sore,kalian mandi di kamar kalian saja,ya!" titah Alvi yang langsung di angguki kedua bocah kecil itu,mereka kemudian kembali keluar kamar orang tuanya,dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Setelah kepergian sang anak,Alvi mengusap pundak sang suami,usapan yang terasa lebih sensual dari tangan lembutnya membuat Al mengangkat sudut bibirnya.
" Mau di pijitin gak?" tawar Alvi sedikit berbisik,membuat jiwa liar sang suami mulai berontak,seperti seekor megalodon yang mendapat umpan segar.
" Jangan menggoda ku,ini sudah sore aku harus mengajar anak anak." ucap Al yang menyadari sang istri hanya ingin memancingnya,kemudian pria beranak dua itu pun langsung masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya,lalu pergi ke madrasah.
Faiz yang kini berada di kamar sang ayah tak lagi bisa menghentikan tangisnya,saat melihat pria tua yang dulu selalu terlihat kuat dan ceria kini terbaring tak berdaya,seperti seonggok daging tanpa tulang,dengan wajah pucatnya.
" Maafkan Faiz,Bi!" lagi lagi hanya itu yang lolos dari mulutnya.
" Faiz.!!" lirihnya,Abi tersenyum berusaha mengangkat tangan hendak mengusap pucuk kepala sang putra.
Namun segera Faiz meraih tangan itu dan mengenggamnya.
"Kamu pulang,Nak?" ucap Abi dengan suara yang serak dan lemas.
" Iya,Bi! Faiz di sini,Faiz akan selalu di sini menjaga Abi." Faiz terus saja terisak,hingga tidak menyadari ponselnya bergetar beberapa kali.
__ADS_1
" Jangan pergi lagi,Nak! jaga Umi dan semua keluarga di sini, umur Abi sepertinya tak akan lama lagi." lirih Abi,membuat Faiz memejamkan mata kuat kuat,dengan suara tercekak karena harus menahan suara isakannya.Dokter muda itu tak tahan lagi mendengar ucapan Abi.
" Abi harus sembuh, jangan bicara seperti itu,Faiz akan merawat Abi dengan sangat baik sampai abi sehat kembali." ucap Faiz,genggaman tangannya semakin kuat,seperti menggenggam sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja,ia berusaha keras agar isak tangisnya tak terlalu terdengar,padahal ingin sekali ia meraung raung,namun itu sangat tidak pantas untuk di lihat.