I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.65


__ADS_3

Tanpa terasa suara adzan subuh terdengar jelas dari mesjid dekat rumah Abi,Mentari mengerjapkan matanya perlahan,sedikit meringis saat merasakan tubuhnya yang terasa ringsek ulah sang suami yang sudah menghajarnya tanpa ampun.


Lalu melirik sang pelaku di sebelahnya,masih terlelap sambil memeluknya begitu erat.


Wanita yang sudah bukan gadis itu perlahan mulai menyibakan selimut yang menutup tubuh polosnya,lalu bergerak hendak bangun dengan hati hati.


" Mau kemana?" gumam Faiz,yang semakin mempererat pelukannya,dengan suara khas bangun tidur,tanpa membuka mata.


" Sudah subuh,Dok! kita shalat dulu." ucapnya.


Bukannya bangun,Faiz malah kembali menarik tubuh Mentari hingga menimpanya, lalu menarik tengkuknya dan menyambar bibirnya dengan cepat.


" Kamu suka sekali dengan ciuman ku,ya?" goda Faiz.Membuat Mentari tak mengerti,wanita itu mematung tanpa bisa menyahut.


" Sekali lagi aku mendengar mu memanggilku dengan sebutan itu,aku takan membiarkan mu pergi dari tempat ini." ancaman yang terdengar begitu manis untuk sepasang pengantin baru.


" Jadi kau mau aku panggil apa?"


" Terserah."


" Hmmmm,,kalau begitu aku panggil mas ya,mau kan?"


" Iya itu lebih baik." balas Faiz.


Mentari pun tersenyum lalu mengecupnya sekilas,dan itu membuat Faiz terkejut karena pertama kalinya Mentari berani berinisiatif sendiri untuk menyentuhnya.


" Kamu sudah mulai nakal." gumamnya,sambil mengelus punggung mulus Mentari.


" Iya,aku akan belajar lebih giat lagi agar bisa lebih nakal,nakal pada suami sendiri tidak masalah kan?"jawab Mentari walau masih terselip rasa malu di benaknya.

__ADS_1


" Iya,tidak masalah,aku tidak keberatan jika kamu menakali ku."Faiz kambali menarik tengkuknya dan sedikit menekannya,menempelkan bibir keduanya agar semakin dalam,suasana pengantin baru di pagi hari berhasil membangunkan gairah,keduanya masih di selimuti kenikmatan dunia,saling memberi kehangatan dengan ciuman manis dan pelukan yang membuat mereka semakin terbuai,menuntun mereka untuk melakukan hal yang lebih dari itu.Namun semua itu harus segera di akhiri karena waktu subuh semakin menipis.


Mentari mendorong tubuh Faiz,dan melepaskan pautan bibirnya.


" Sudah subuh,Mas! kita harus segera shalat,tidak enak di lihat Umi dan Abi jika kita kesiangan." ucap Mentari,ia langsung beranjak dan berlari kecil menuju kamar mandi.


Faiz mendengus kesal,namun ia tak bisa berbuat apa apa,padahal ia sangat ingin sekali menyusulnya saat itu juga,tapi melihat kakinya yang tak bisa di ajak kompromi membuatnya semakin frustasi,ia pun terpaksa kembali menggulung diri dalam selimut.


Tak lama,Mentari keluar dengan rambut basah serta handuk yang melilit membalut sebagian tubuh indahnya.


" Mas! kau mau mandi sekarang? biar ku bantu." ucapnya, sambil memasangkan pakaian,Faiz pun melirik jam dinding,yang sudah menunjukan pukul 05.00 ia mengangguk dan mulai menyibakan selimutnya,sontak membuat Mentari memalingkan wajahnya.


" Iiisshhh..." desahnya sambil menggelengkan kepala.


" Kenapa harus malu, bukannya kamu sudah merasakannya?" goda Faiz sambil menaik turunkan alisnya.


" Kalau begitu lihat sini,supaya lebih jelas lagi." titahnya,Mentari menghembuskan nafas kasar lalu melipat kedua tangannya di dada.


"Waktu subuh semakin mepet, Aku mau shalat dulu,mau aku bantu tidak? jika seperti ini terus kapan mau mandinya." rengek Mentari,membuat Faiz terkekeh.


" Iya,ya sudah,tolong ambilkan kursi roda ku ke sini!"titahnya,Mentari menurutinya,mendekatkan kursi rodanya tepat di pinggir ranjang,sementara Faiz bergerak sendiri barusaha untuk mengapainya,setelah itu Mentari membantu mendorongnya ke kamar mandi.


" Kamu shalat duluan saja ya!" titah Faiz,mau tidak mau Mantari pun mengangguk.


Ia pun melaksanakan kewajibannya tanpa di imami sang suami,mengingat waktu subuh semakin menipis,bahkan langit gelap sudah mulai berganti terang,warna jingga terlihat menghiasi awan,selesai shalat iapun menyiapkan pakaian untuk sang suami.


Kini Mentari duduk di sofa,seraya menunggu Faiz. yang masih menunaikan shalat sambil duduk di atas sejadah,perasaannya sedikit teriris saat memperhatikan punggung sang suami yang nampak tak berdaya dengan keadaan yang seperti ini,tanpa terasa matanya mulai berkabut, meneteskan air mata.


" Aku memang sudah menerima keadaan mu,Mas! tapi aku tak sanggup melihat mu seperti ini, sehingga membuat pergerakan mu terbatas,kau harus segera sembuh." gumamnya.

__ADS_1


Selesai shalat,Faiz berusaha sendiri menaiki kursi rodanya lagi,tanpa meminta bantuan siapa pun,ia tak ingin banyak merepotkan orang lain terlebih istrinya sendiri,karena memang seharusnya ia yang melindunginya bukan malah merepotkannya.


Faiz mematung seketika saat melihat Mentari berjalan menghampirinya dengan langkah tertatih,ulahnya semalam mungkin membuat wanita itu merasakan sakit pada bagian intinya,walaupun ia melakukannya dengan perlahan dan hati hati karena tak ingin menyakiti dirinya sendiri,namun tetap saja hal itu masih bisa meninggalkan rasa sakit untuk sang istri. seketika batinya terasa nyeri,menyadari ia tak bisa berbuat apa apa untuknya, bahkan untuk menggendongnya saja ia tak mampu.


" Tari!"


" Iya."


" Kamu pasti lelah,sebaiknya kamu istirahat saja di sini,aku akan keluar sebentar menemui Umi."


" Tidak! mana bisa aku istirahat sedangkan Umi sibuk menyiapkan sarapan sendiri." tolak Mentari,dan lagi lagi itu membuatnya semakin sakit,ia merasa bersalah karena belum bisa memberikannya tempat tinggal yang layak,dan masih harus satu atap dengan orang tua.


Ya,mungkin benar,itu alasannya kenapa setelah menikah,pasangan suami istri akan lebih baik jika tinggal terpisah dengan keluarga,membangun rumah tangga sendiri tanpa adanya campur tangan keluarga,baik itu saudara atau pun orang tua,agar lebih mandiri, dan bukan hanya masalah frivasi,tapi juga masalah mental pasangan yang harus lebih di utamakan,menghindari konflik serta kesalah fahaman antara menantu maupun mertua.


Dan hal itu yang tidak pernah Faiz fikirkan sebelumnya,ia merasa menyesal karena terlalu cepat mengambil keputusan.


" Tidak apa apa,kamu tenang saja, Umi pasti mengerti." ucap Faiz,namun Mentari masih menggelengkan kepala.


" Aku tau,tapi tetap saja aku merasa tidak enak." ucap Mentari, membuat Faiz semakin yakin jika ia harus segera membawa Mentari keluar dari rumah tersebut,demi kenyamanannya,ia tak ingin Mentari selalu di liputi rasa tak enak hati.


" Baiklah,untuk saat ini aku izinkan kamu keluar." ucap Faiz.


Mentari pun tersenyum dan mengangguk,membawa Faiz ke luar dari kamar, lalu menemui Umi yang sudah berada di dapur.


" Kalian sudah bangun?" seperti biasanya wanita paruh baya itu selalu ramah dengan senyum hangat yang menghiasi wajah cantiknya yang tak pernah luput di makan usia.


Mentari pun tersenyum sambil menghampirinya untuk membantunya.


Sementara Faiz menghampiri abi yang masih berada di dalam kamar,hendak mengecek kondisi kesehatannya.

__ADS_1


__ADS_2