I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 46


__ADS_3

Pagi menjelang,kicauan burung terdengar saling bersahutan,mentari mulai muncul ke permukaan,menampakan cahaya jingganya.


Keluarga Aljalari dan Mentari membereskan tenda dan bersiap hendak melanjutkan perjalananya,agar tak terlalu siang untuk sampai di sana.


Faiz dengang semangat melajukan kembali mobilnya,jalanan berlumpur tak jadi hambatan,yang terpenting ia bisa segera menyampaikan niatnya,dan bisa segera menikahi pujaan hatinya.


Setelah menghabiskan waktu setengah hari,akhirnya mereka sampai di depan rumah Mentari,gadis itu sedikit ragu saat hendak turun,rasa takutnya kembali menyeruak,bayangan bayangan kekejaman yang di lakukan ibu dan kakak tirinya kembali bermunculan,seolah menari nari di pelupuk matanya.


" Ayok, Mentari!" ajak Alvi.


" Kalian duluan saja,mbak! aku tunggu di sini saja." ucap Mentari gugup,apalagi setelah melihat bi Sri dan Rahayu keluar menatap heran pada orang yang tak di kenalinya.


Al dan Haikal mulai melangkahkan kaki menghampiri mereka,begitu juga Alvi dan si kembar menyusulnya dari belakang,sementara Faiz masih membujuk Mentari agar mau turun bersamanya.


" Ayok! kau tidak usah takut,aku akan melindungi mu,mereka tidak akan berani macam macam lagi pada mu."


" Aku takut pak dokter." lirih Mentari sambil meremas tangannya,serta keringat yang mulai mambasahi dahinya.


" Tidak usah takut,kau percaya pada ku." ucap Faiz seraya menggenggam tangan Mentari,gadis itu menatap dalam namik mata berbinar milik dokter cintanya,tidak lama ia pun mengangguk yakin,Faiz tersenyum lalu membawa tangan Mentari agar mengikutinya dari belakang.


" Permisi!" sapa Al ramah pada bu Sri dan Rahayu.


Kedua wanita itu mengangguk,lalu tersenyum masih dengan mimik wajah yang tak bisa di tebak.


Kesetika wajah Rahayu berbinar saat melihat Faiz muncul dari balik mobil,namun hal itu tidak lama, matanya berubah nyalang saat melihat gadis yang berjalan di belakang Faiz dengan tangan yang saling berpautan.


" Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Bu Sri,emosinya mulai naik saat melihat Mentari,seperti kayu bakar kering yang tersiram bensin,siap berkobar jika tersulut api.


Alvi terkejut,ia melirik Al dan Haikal yang masih nampak tenang,begitu juga Faiz,namun tidak dengan Mentari yang mulai gemetar,genggaman tangannya semakin kuat.

__ADS_1


" Maaf,jika kedatangan kami kesini menganggu kalian." ujar Haikal.


Bu Sri kembali mengangguk lalu mempersilahkan tamunya masuk,mereka duduk di ruang tamu,tatapan mata Rahayu tak lepas dari Mentari yang tengah duduk do samping Alvi sambil tertunduk tanpa berani mengangkat kepalanya sedikitpun.


Setelah semua siap,Al mulai menceritakan maksud kedatangan mereka ke sana.


" Maaf, sebenarnya kedatangan kami kemari hanya ingin melamar Mentari untuk adik kami Faiz,sebagai orang tua satu satunya yang Mentari miliki,do'a dan restu dari anda sangat kami harapkan." ucap Al tanpa basa basi,membuat Bu Sri dan Rahayu tertegun tak menyangka.


" Tidak,aku tidak rela dokter Faiz menikahinya!" tolak Rahayu,wajahnya memerah dengan emosi yang mulai memuncak.


" Dasar sialan! gadis murahan,tidak tau diri!aku fikir hidup mu akan lebih baik karena aku yang mendidik mu selama ini,tapi ternyata darah memang kental,sifat mu tidak berbeda dengan ibu mu,ja*lang,perebut laki orang!" umpat bu Sri,membuat semua orang terkejut,Al langsung menyuruh sang istri untuk mengajak si kembar pergi,jangan sampai mereka meniru kata kata yang keluar dari wanita tua itu.


" Maaf bu,yang anda fikirkan salah,mungkin orang tuanya memang salah karena sudah merebut suami anda tapi Mentari tidak seperti itu,dia tidak merebut ku dari siapa pun." kali ini Faiz yang membela.


" Tidak merebut mu?kau tau anak ku sudah menyukai mu sejak dulu,dan anak sialan ini juga tau soal itu,tapi kenapa dia masih mendekatimu?lalu apa sebutan apa yang pantas untuknya?"


" Kami sudah saling mencintai sejak dulu,sebelum kami tau jika Rahayu menyukaiku,jadi bukan salah Mentari." balas Faiz.


" Cukup Bu! jangan lagi menyebut ibu ku dengan sebutan itu,ibu ku tidak sepenuhnya salah,dia tidak mungkin merebut bapak jika bapak tidak mendekatinya duluan dengan mengaku masih lajang,Tari ke sini bukan untuk meminta restu,tapi hanya untuk sekedar memberitahu jika kami akan segera menikah,tanpa restu atau tidak Tari tidak perduli,Tari tidak akan terlalu berharap lebih dari kalian." ucap Mentari lantang,dengan semua keberanian yang sudah ia siapkan.


" Kau sudah berani memantang kami!" Rahayu mulai beranjak dan mendekatinya dengan melayangkan tangannya,namun dengan segera Mentari menahannya.


" Ya,aku berani menantang mu karena ini semua juga didikan dari kalian! seandainya kalian mendidiku dengan kasih sayang,aku tidak mungkin selancang ini,jangan kalian fikir orang pendiam dan lemah yang sering kalian anggap sampah ini tidak bisa marah,air laut yang tenang saja mampu menenggelamkan gunung." balas Mentari sambil mencengkram tangan Rahayu yang mengantung lalu menepisnya dengan kasar.


" Maaf,pak dokter! sepertinya kita sudah salah datang kesini,sebaiknya kita pulang saja."ajak Mentari sambil menarik tangan Faiz keluar.


" Sia sia saja kita datang ke sini, padalah jika kita bisa bicara dengan baik,kami akan membari mahar yang banyak untuk kalian." lirih Al sambil berlalu, membuat bu Sri mematung tak percaya.


" Tunggu,tuan!" cegah Bu Sri.

__ADS_1


" Mahar apa yang akan kalian berikan untuk kami." tanya bu Sri tanpa tau malu.


" Apa pun yang kalian minta,tapi sekarang sudah tidak berlaku." sahut Haikal seraya mengikuti langkah adiknya.


" Kami akan memberi kesempatan ke dua untuk kalian,agar bisa mendapat mahar tersebut,tapi dengan satu syarat."tambah Alvi yang tiba tiba kembali ke dalam rumah,setelah membawa si kembar keluar.


" Apa?" tanya Bu Sri.


" Meminta maaf dengan tulus pada Mentari." Jawab Alvi,setelah itu ia pun kembali ke luar dengan berlari kecil menyusul semua orang yang sudah berada dalam mobil.


Sementara Mentari masih nampak bergeming tidak percaya dengan apa yang ia lakukan barusan,sedangkan Faiz tertawa bangga.


" Aku suka cara mu berbicara." ujar Faiz.


" Seperti yang sudah anda bilang,jika anda menyukai wanita yang kuat dan pemberani." sahut Mentari dengan nafas yang mulai lega.


Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan,menuju pemakaman orang tua Mentari,dan tidak menunggu lama,mereka sampai di sebuah pemakaman umum yang cukup luas di hiasi pohon pohon besar.


Semua keluarga berjongkok di depan pusara bapak dan Ibu Mentari yang kebetulan saling bersebelahan.


Al mulai membimbing do'a dan membacakan surah yasin,Mentari sempat menitikan air mata sambil menabur bunga yang sempat mereka beli sebelum memasuki area pemakaman,lalu membersihkan daun daun kering yang berteberan mengotori makan kedua orang tuanya.


" Tari datang,pak,Bu! sekarang kalian bisa tenang,Tari sudah berada dengan orang yang tepat,mereka menyayangi Tari dengan tulus,dan sebentar lagi Tari juga akan menikah dengan pria baik yang sekarang ada di hadapan kalian." lirih Mentari dalam hati sambil melirik Faiz yang masih khusyu melantunkan do'a.


" Do'akan kami,semoga rumah tangga kami nanti selalu di beri bahagiaan,semoga kami mendapat ridho dan rahmat serta berkah dari allah." lirihnya lagi dalam hati,dengan sedikit terisak.


Begitu juga Alvi yang ikut terhanyut dalam kesedihannya,mengingat bapak yang lebih dulu berpulang meninggalkannya.


" Semoga semua dosa orangtua orangtua kita di ampuni allah,dan semoga mereka di tempatkan di tempat yang indah di sisi allah." ucapnya dengan tulus.

__ADS_1


" Aamiin."sahut serempak.


__ADS_2