I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab. 67


__ADS_3

Faiz masih memutar kursi rodanya sendiri ,sambil mengikuti langkah Al yang berjalan menuju taman belakang rumah Umi,nampak sudah ada Satria dan juga bang Haikal di sana yang tengah duduk di bangku taman,saling berhadapan sambil menikmati secangkir kopi,nampak dari mimik wajahnya,sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius.


Sementara Alvi dan Citra sedikit menjauh duduk lesehan hanya beralaskan tikar yang di hamparkan di atas permukaan rumput jepang yang tumbuh segar, menggosip sambil memperhatikan anak anaknya bermain,tak terlihat mbak Zahra di sana karena ia tengah mengantar Azzam ke sekolah.


Sementara Mentari memilih kembali ke kamar,menghindari pertanyaan yang mungkin akan membuatnya malu,mengingat dua wanita itu masih terlalu bar bar,apalagi berada dalam satu frekwensi,sudah pasti Mentari sebagai wanita lugu dan baik baik tidak akan bisa menghadapinya.


Setelah Faiz mendekat,Satria dan bang Haikal sama sama menyunginggkan senyum menyebalkan,Faiz menarik nafas dalam berusaha menguatkan hatinya agar bisa menghadapi bullyan yang pasti akan menimpanya,dan benar saja belum apa apa bang Haikal sudah mengeluarkan pertanyaan yang tak seharusnya di pertanyakan.


" Bagaimana malam pertama mu?" tanyanya.


" Itu masalah pribadi,Faiz tak pantas menceritakan hal itu kepada orang lain." sahut Faiz dengan tegas,membuat ketiga abangnya bertepuk tangan,merasa bangga.


" Waahhh,,,kamu memang benar benar pria sejati." timpal Satria sambil menepuk bahu Faiz.


" Abang kira kamu akan menceritakannya dengan antusias, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru." tambah Al.


" Tapi Faiz bukan anak kecil lagi,bang!" sahut Faiz malas.


" Ya,kamu sudah menjadi seorang suami sekarang,dan kamu pasti sudah tau kan apa saja tugas suami?" Bang Haikal kembali membuka suara,sebagai anak tertua yang bertugas menasehati dan mengingatkan adik adiknya.


Faiz seketika terdiam,ia mengerti dengan maksud abangnya itu,namun ia tak bisa menjawab karena saat ini ia pun belum bisa menjadi suami yang baik,dan tak lama iapun menyahut.


" Faiz tau,Bang!"


" Bagus,lalu apa rencana mu ke depannya setelah sembuh nanti?"

__ADS_1


" Mungkin Faiz akan kembali ke kota ,menyawa tempat tinggal dan kembali kerja di klinik lagi."sahut Faiz ragu.


Ke tiga pria itu mengangguk,namun tak lama Al membuka suaranya.


"Bagaimana kalau kamu tetap tinggal di sini dan membuka praktek di sini."


" Faiz perlu banyak modal,lagipula Faiz tak bisa tinggal berlama lama di rumah Umi,karena sekarang Faiz sudah menjadi kepala keluarga dan memiliki tanggung jawab sendiri,Faiz tak mungkin terus menerus membebani Umi dan abi." jelas Faiz.


Ketiga abangnya itu mengangguk faham, lalu tersenyum karena masalah itu yang sebenarnya ingin mereka bicarakan saat ini,demi kebaikan bersama,mereka sama sama sepakat untuk sedikit meringankan beban adiknya yang baru membangun rumah tangga,tak akan membiarkan sang adik kesulitan ekonomi sementara mereka sudah hidup sejahtera dan bergelimang harta.


"Sekarang dengarkan abang,maaf bukan abang ingin menyinggung mu,bukan juga ingin merendahkan mu,tapi abang tidak mau kamu pergi lagi dari sini,kami membutuhkan mu,hanya kamu satu satunya harapan kami,yang bisa menjaga dan merawat Abi dan Umi,jadi abang mohon tetaplah tinggal di sini,masalah tempat tinggal dan modal untuk membuka praktek itu urusan kami." bang Haikal mulai serius.


"itu sebagai hadiah untuk pernikahan mu.terimalah! abang mohon." tambahnya lagi,seraya menyerah kan sebuah map berwarna coklat yang ia ambil dari balik punggungnya.


Faiz di buat penasaran,ia mengerutkan kening sambil menerima barang tersebut dengan ragu,sepertinya ada sebuah surat di dalamnya,perlahan ia mulai membukanya dan ternyata benar,sebuah surat tanah,Faiz menatap Bang Haikal tak percaya.


" Iya,abang sengaja membelinya khusus untuk mu,memang tak terlalu luas,tapi tempatnya cukup strategis dan tak jauh dari sini,sangat cocok untuk kamu membangun klinik sendiri." ujarnya.


Faiz tersenyum,matanya mulai berkaca kaca,ia tak menyangka akan mendapat perhatian sebesar itu.


" Aku juga masih punya lahan kosong di samping pondok, kamu bisa membangun rumah impian di sana,memang tak terlalu luas,tapi cukuplah untuk di bangun beberapa kamar,sepertinya malah lebih luas dari tanah yang aku tempati." tambah Satria,dan kali ini Faiz menolehnya,menatapnya tak percaya.


" Mana nomer kerening mu,abang akan mengirimkan uangnya sekarang juga." tambah Al,dan lagi lagi Faiz semakin di buat menganga.


"Kalian serius,tidak lagi bercanda kan?" tanya Faiz,menatap satu persatu abangnya,berusaha mencari kebohongan dari sorot matanya,namun ketiga pria itu malah membalas tatapannya dengan tajam,seolah memyiratkan jika ini bukan saatnya untuk bercanda.

__ADS_1


" Kami tidak sedang bercanda,sudah, catat nomer rekening mu!" Al menyerahkan ponselnya pada Faiz,dengan segera Faiz pun mengetikannya.


Dan tak menunggu lama,ponsel dalam saku kemejanya bertering,sebuah notifikasi,pria itu langsung meraihnya dan mengecek ponselnya, tiba tiba matanya semakin melebar saat melihat banyak angka di sana.


" Bang! ini banyak sekali." cicit Faiz masih dengan rasa keterkejutannya.


" Itu untuk biaya membangun rumah,dan membangun klinik,kalau masih kurang bilang saja pada Satria atau bang Haikal,jangan sama abang." ujar Al santai sambil kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.


" Ini sepertinya lebih dari cukup,Bang!" ucap Faiz yang masih menatap layar ponselnya menghitung berapa angka yang tertera di sana.


" Syukurlah kalau begitu." sahut Al.


" Tapi ini serius untuk Faiz kan,Bang! kalian tidak akan bermaksud mengambilnya lagi kan?suatu saat kalian tidak akan menagihnya kan?" selorohnya,membuat ketiga pria itu memutar bola matanya.


" Kenapa kamu berfikir seperti itu? kapan abang menagih semua yang sudah kami berikan untuk mu." bentak Al tak terima,sementara Faiz terkekeh,ia sungguh bahagia dan terharu.


Sesuatu yang sejak tadi mengganjal dalam fikirannya akhirnya bisa terselesaikan dengan mudah,berkat kehadiran ketiga kakaknya.


Faiz tak bisa menahan tangisannya lagi,ia memeluk Al yang memang berada di dekatnya dengan sangat erat.


" Terimakasih bang,terimakasih banyak."


" Sama sama,itu sebagai modal awal untuk mu,gunakan dengan baik,kami hanya membantu sebisanya,untuk kedepannya kamu yang harus pekerja keras,demi menghidupi istri dan anak anak mu kelak,karena seorang istri juga membutuhkan nafkah lahir,kalau nafkah batin, kamu sudah tak perlu di ragukan lagi." ujar Al di selangi candaan dari kalimat terakhirnya sambil menepuk bahu Al.


" Cepat lah sembuh, sudah banyak tugas yang menanti mu."tambah bang Haikal.

__ADS_1


" Iya bang! Faiz akan berusaha agar bisa cepat sembuh." sahut Faiz sambil menyeka air matanya.


Sementara Alvi dan Citra memperhatikan mereka dari kejauhan,saling berbisik,menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi pada Faiz, kenapa dia bisa menangis seperti itu."Mungkin malam pertamanya gagal." tebak Alvi yang langsung di setujui Citra,mereka terkikik sambil menutup mulutnya.


__ADS_2