I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.93


__ADS_3

Perdebatan pun berakhir,semua anak menantu dan cucu dari keluarga Aljalari itu kini tengah menikmati makan siang bersama,mbak Zahra yang sejak tadi mengawasi anak anak berenang,dan hanya diam tanpa mau ikut campur atau menyahut dengan perbedatan antara Satria dan Haikal pun kini ikut bergabung,mereka makan dengan lahap dan tenang,tanpa mau banyak bicara, hingga akhirnya semua makanan di meja makan tandas seketika.


saat ini Faiz dan ketiga kakaknya tengah duduk di bangku tepi kolam renang,menikmati secangkir teh sambil berbincang ringan membicarakan masalah pekerjaan dan yang lainya.


" Bayi mu sudah di beri nama?" tanya Al pada Faiz.


" Razka tirta subhi Aljalari." sahut Faiz cepat dan penuh percaya diri.


" Rezeki yang mengalir di waktu subuh?" tebak Al.


" Tepat sekali." Faiz menjentikan jemarinya.


"Nama yang bagus." timpal Haikal.


Semuanya mengangguk setuju,mengetahui bayi tersebut lahir di waktu dini hari menjelang subuh,tidak ada salahnya jika Faiz memberinya nama itu.


Kelahiran bayi laki laki atau anak laki laki di waktu-waktu tertentu, seperti misalnya pada waktu subuh bisa memberikan dampak pada kepribadian sampai sang anak kelak dewasa.


Bayi laki laki yang lahir di waktu subuh memiliki karakter sifat lembut, rendah hati, peduli pada orang lain.


Bagi semua orang tua tentu menginginkan bayi laki laki atau anaknya kelak memiliki sifat dan kepribadian yang baik lembut, rendah hati dan peduli terhadap sesama.


Itu juga yang mereka harapkan.


Sementara itu para wanita masih sibuk membereskan piring piring kotor,sedangkan Umi menemani Mentari dan semua cucunya yang tengah menemani Baby Razka.


Pandangan Azzam tak henti hentinya menatap bayi merah yang kini berada di dalam gendongan Umi,iris mata bulatnya nampak berbinar,perasaan ingin memiliki tiba tiba muncul begitu saja,Azzam menunjukan sisi sikap posesif dan rasa ingi melindungi.


" Bibi Mentari,adik bayi ini dapat dari mana?" celetuk Azzam,membuat Umi dan Mentari saling melempar pandang.Mereka tak tahu apa yang harus di ucapkan,dan kata kata apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang di layangkan Azzam barusan.

__ADS_1


" Dia keluar dari perut bibi Tari." jawab Mentari sebisanya,rekleks ia memegang perutnya yang sudah rata.


Semua pandangan anak anak kecil itu kini tertuju pada perutnya.


Shafa yang berada di samping Mentari pun mengulurkan tangannya untuk meraih perut Mentari.


" Iya,perut bibi Tari tidak besar lagi." seru Shafa.


" Jadi adik bayi,yang membuat perut bibi Tari besar?" tanya Marwah.


" Iya." sahut Mentari.


" Bagaimana bisa adik bayi ini berada di dalam perut bibi,apa bibi Mentari menelannya?" celoteh Marwah lagi,membuat Mentari tersedak,ia lalu melirik Umi seolah meminta pertolongan agar bisa terbebas dari para bocah super itu.


Umi yang langsung menyadari hal itu langsung tersenyum,lalu mengajak semua cucunya untuk pergi dari kamar.


Cyra dan Sara yang masih terlalu kecil dan belum mengerti apa apa tak terlalu banyak bicara,mereka hanya mengikuti kemana dan apa pun yang si kembar dan Azzam lakukan.


" Ayah,bibi Tari bilang adik bayi itu keluar dari perutnya,apa itu benar?" tanya Azzam tiba tiba,membuat para Papa muda itu pun saling melempar pandang,pertanyaan seperti itu memang masih terlalu tabu untuk sebagian orang.Meskipun begitu Haikal tak bisa membuat sang anak terlalu lama menunggu jawabannya,hingga akhirnya ayah satu anak itu pun mengangguk.


" Ya,itu benar." ujar Haikal.


" Bagaimana caranya?" kini Marwah yang bertanya.


" Hmmm,,kalau itu tanya saja pada paman Faiz." Haikal menunjuk Faiz,sontak saja Papa baru itu gelagapan terlebih saat mendapat tatapan penasaran dan penuh tanda tanya dari para bocah pintar di hadapannya itu.


" Ke-kenapa Faiz?" tanya Faiz panik.


"Karena Kamu yang membuat bayi itu ada di dalam perut Mentari." ujar Haikal.

__ADS_1


" Tapi kalian juga tau kan bagaimana caranya,kenapa harus Faiz?" protes Faiz,ia kembali melirik Si kembar dan juga Azzam yang masih setia menunggu ceritanya dengan antusias serta wajah berbinar dan penuh harap,seperti menunggu di bacakan dongeng sebelum tidur.


"Ayo paman,apa yang paman lakukan,kenapa bayi itu bisa ada di perut Bibi Mentari?" Shafa mulai tak sabar,dengan intonasi yang tinggi.


" Karena paman memompanya tiap hari." sahut Faiz frustasi,ia menggaruk kepalanya yang tak gatal,lalu melirik pada ketiga abangnya yang kini tengah menggulum bibirnya.


Bisa bisanya mereka tertawa di saat adik bungsunya tertekan,dengan pertanyaan yang di lontarkan ketiga bocah itu.


" Kalau begitu apa paman bisa memompa ibu ku ,agar perutnya bisa mengeluarkan bayi juga?" seloroh Azzam membuat Faiz terhentak,sementara Al dan Satria tak bisa manahan tawanya lagi,mereka tergelak sambil memegang perutnya yang terasa keram.


Namun saat itu Haikal langsung membekap mulut kecil putra sulungnya itu dengan gemas.


" Kenapa nyuruh paman Faiz,ayah juga bisa." pekik Haikal,hingga tiba tiba Alvi dan Citra berteriak panik,sambil memanggilnya,memberitahu jika terjadi sesuatu pada mbak Zahra.


" Bang! mbak Zahra muntah muntah." ujar Alvi.


Haikal langsung menurunkan Azzam dari pangkuannya, lalu berhambur menemui sang istri yang kini tengah berada di dalam toilet,ketiga adiknya pun menyusul memastikan apa yang terjadi.


" Sayang,kamu kenapa?" tanya Haikal panik.


" Aku tidak tau,tiba tiba perut ku mual." jawab Zahra lemas sambil mengusap mulutnya,Haikal menatihnya dan membawanya duduk di sofa,setelah itu Alvi menghampirinya seraya menyerahkan air hangat.


" Makanya,Bang! kalau gak mau punya anak lagi,burungnya di kandangin, jangan di lepas begitu saja." ucap Faiz tiba tiba,membuat Haikal dan yang lain membulatkan mata,namun sedetik demikian terbesit raut wajah berbinar dari matanya,juga bibir yang terangkat sempurna.


" Kamu hamil sayang?" tanya Haikal.


" Aku tidak tau." sahut Zahra.


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊😘

__ADS_1


__ADS_2