
Mentari kembali menggulung tubuhnya dengan selimut hingga menutup seluruh wajahnya.
Pagi menjelang,seperti biasa gadis itu mengawali harinya dengan shalat subuh,setelah itu membereskan kontrakan dan mencuci sebelum Zoya terbangun.
Saat menjemur pakaian,Lagi lagi ia melihat Lutfi di seberang sana tengah memperhatikannya,sesekali pria itu menunjukan senyum manisnya,ini sudah kesekian kalinya dan sepertinya memang sudah kebiasaannya.
Mentari masih tampak cuek,pura pura tidak melihatnya,namun saat ujung matanya melirik,ternyata pria itu sudah tidak ada di tempatnya,Mentari tersenyum merasa lega sambil mengusap dadanya beberapa kali.
" Kalo senyum seperti itu malah tambah cantik." suara tersebut membuatnya terkejut,hingga gadis itu membalikan tubuhnya,dan ternyata pria itu tepat di belakangnya.
" Maaf menganggu." ujar Lutfi merasa tidak enak,ketika mendapat tatapan tak bersahabat dari Mentari.
" Tidak apa apa,ada perlu apa?" Mentari masih sibuk menggantungkan satu persatu pakaiannya,dengan sengaja ia mengibaskan beberapa kali pakaiannya,sehingga ciptratan airnya mengenai Lutfi.
" Tidak ada,aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat,aku Lutfi." Pria itu mengulurkan tangannya.
" Aku Mentari." sahutnya,tanpa membalas uluran tangan Lutfi.
" Baiklah,terimakasih sudah memberitahukan namamu,salam kenal,kalo begitu aku permisi." Lutfi membalikan tubuh dan mulai melangkahkan kaki.
" Tunggu!!" cegah Mentari,sontak membuat pria itu mematung di tempat.
"Aku lihat kamu selalu berdiri di depan pintu setiap pagi, Apa yang kamu lakukan?" tanyanya penasaran.
" Entahlah,akhir akhir ini aku memang senang sekali berdiri di depan pintu kontrakan ku,Menyambut Mentari pagi,asal kau tau Mentari pagi terlihat sangat indah,itu sebabnya aku tidak ingin melewatkannya." jawabnya tanpa melihat ke lawan bicaranya,setelah itu ia kembali melangkahkan kaki.
Mentari di buat bingung,pasalnya ini masih terlalu pagi,bahkan Mataharipun belum muncul.
" Pria aneh." gumamnya dalam hati sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
Setelah Mentari masuk,Lutfi pun ikut masuk, membersihkan diri dan bersiap hendak pekerja,pria tampan itu bekerja di sebuah Bank swasta dengan posisi sebagai supervisor,tentunya karir tersebut lumayan menjanjikan di kalangan menengah ke bawah.
Sama halnya dengan Faiz,setiap pagi pria itu selalu sibuk mengurus keperluannya sendiri,dari menyiapkan sarapan hingga pakaian,terbiasa jauh dari keluarga membuatnya semakin dewasa dan mandiri,terkadang rasa rindu pada keluarga yang telah merawatnya sejak kecil muncul begitu saja,masih terasa menyakitkan jika mengingat hal itu,dimana kenyataan telah memberitahunya bahwa dia bukan siapa siapa di keluarga itu.
Seketika selera makannya hilang,satu satunya cara agar bisa terlupa adalah menyibukan diri, prai itu langsung beranjak,hendak pergi menuju ke klinik dimana dirinya bekerja.
Suasana jalanan di pagi hari memang nampak lebih padat,semua orang turun ke jalan hendak mengawali aktifitasnya,begitu juga Mentari dan Zoya yang kini masih terjebak macet,tak jauh darinya Faiz pun berada,hanya terhalang beberapa kendaraan lain,namun takdir masih belum mengizinkan mereka bertemu,sehingga pertemuan yang mereka harapkan masih menjadi angan angan.
Mentari sempat melihat punggung pria tegap berbalut jas putih di depannya,seketika sudut bibirnya terangkat,bayangan pria yang ia rindukan kembali menari nari di pelupuk matanya.
Begitu juga Faiz yang sempat melirik sekilas gadis berjilbab maroon yang berada di belakangnya lewat kaca spion motornya.
Namun ia tak menghiraukannya, merasa tidak mungkin jika gadis itu berada di sana.
30 menit terjebak dalam kemacetan,akhirnya Faiz tiba di klinik,ia berjalan menapaki anak tangga menuju lantai dua ruangannya,terlihat sudah banyak orang berlalu lalang,para pasien pun sudah berjajar menunggu giliran untuk memeriksakan penyakitnya.
" Pagi Dok!!" seorang suster menyapanya,lalu mulai membuka laptop nya.
" Aku belum siap menikah,takut jika aku tidak bisa memberi kebahagian dan hidup yang layak untuk istriku nanti." Faiz menanggapinya di sertai kekehan yang khas, membuat wanita paruh baya itu merasa 25 tahun lebih muda.
" Pak dokter selalu saja begitu."ujarnya.
hingga tak terasa jam istirahat pun tiba.Pria itu membuka kaca matanya lalu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.
Istirahat sejenak,sambil menutup matanya,seketika bayangan gadis yang ia lihat beberapa waktu lalu kembali menghantui fikirannya,hingga iapun mengingat sosok wanita yang hampir sama di saat ia menghadiri pernikahan Bagas.
" Apa aku sudah tidak waras,bayangannya selalu aku lihat dimana mana,aku rasa ada yang tidak beres." gumamnya.
" Apanya yang tidak beres beres." suara seseorang membuat lamunannya buyar.
__ADS_1
Faiz membuka matanya,lalu kembali duduk tegak,melihat Bagas yang sudah duduk di hadapannya dengan wajah penasaran.
" Sejak kapan kamu di sini?" tanya Faiz.
" Sejak kamu bilang,aku rasa yang tidak beres." ujar Bagas,membuat Faiz tersenyum sambil menghembuskan nafas lega.
" Apanya yang tidak beres?" tanya Bagas.
" Tidak ada!!aku lapar,kamu mau ikut ke kantin?" Faiz segera beranjak menghindari tatapan curiga dari Bagas.
Akhirnya Bagas pun mengikutinya,walau masih di selimuti rasa penasaran dan beberapa pertanyaan di benaknya.
Faiz dan Bagas duduk di bangku kantin sambil menunggu pesanannya.
Mereka berbincang mengenai seputar pekerjaan,selain itu tidak ada yang bisa mereka bahas lagi,karena Faiz memang selalu menutup dirinya seolah merahasiakan sesuatu dalam hidupnya,sehingga tidak ada satupun yang mengetahui tentangnya,keluarganya atau apapun yang berhubungan dengannya,sekali pun itu teman dekatnya.
Meskipun begitu,mereka tetap akrab,dan saling menghargai satu sama lain,karena sifat Faiz yang selalu ramah dan bisa menempatkan dirinya dalam kondisi apapun,membuat siapa saja yang mengenalnya akan merasa nyaman.
Tiba tiba Laras ikut bergabung,kehadirannya membuat Bagas tak enak hati,karena merasa menjadi orang ke tiga di antara mereka,akhirnya iapun memutuskan untuk pergi,memberi kesempatan untuk mereka berdua.
" Sepertinya aku harus pergi,masih banyak yang harus aku kerjakan." Bagas meneguk minumannya terlebih dulu,setelah itu ia beranjak dan mulai melangkahkan kaki,meninggalkan Faiz dan Laras yang kini terlihat canggung.
" Maaf aku ganggu." Ucap Laras merasa tidak enak.Karena kehadirannya membuat Bagas pergi.
" Tidak apa apa,santai saja." ujar Faiz.
" Kau mau pergi?" Laras melirik ke piring milik Faiz yang nampak sudah bersih.
" Masih ada waktu,kalau mau aku masih bisa menemani mu makan." balas Faiz ramah,sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Kebaikan yang selalu Faiz tunjukan sempat membuat Gadis itu salah faham,hingga ia meyakini jika jika pria di hadapannya itu memiliki rasa yang sama untuknya,namun ternyata cintanya malah bertepuk sebelah tangan.