
" Ya sudah, jika ini yang Abi mau,tapi aku minta tolong pada mu untuk sementara waktu kamu saja yang mengelolanya." ujar Al,seraya menyerahkan surat surat perusahaan itu pada Satria.
" Mungkin sampai si kembar tumbuh besar,atau anak anak angkat ku yang lain yang akan meneruskannya." tambah Al lagi.
" Itu bukan sementara namanya." gumam Satria,kendati demikian ia pun menerimanya.
" Faiz juga ya,Bang!" tambah Faiz.
Satria menghela nafas kasar,memilih pasrah,karena bagaimana pun mereka memang mempunyai kesibukan masing masing yang tak mudah di tinggalkan.
Setelah semua urusan selesai,pria dingin itu menjagak istri dan kedua anaknya untuk segera pergi.
" Ya sudah,aku pulang dulu ke pondok,besok oagi aku harus kembali ke kota." ujar Satria,membuat semua anggota keluarga berubah murung.
" Secepat itu?" protes Alvi,padahal ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Citra,bercanda gurau seperti yang selalu mereka lakukan dulu.
" Mau bagaimana lagi,pekerjaan ku tak bisa di tinggal lama." sahut Satria.
" Ya sudah,aku tau kamu masih kangen Citra,kapan kapan kita yang akan mengunjungi mereka di sana." Al mengusap punggung istrinya saat menyadari air wajah Alvi yang nampak berubah murung.
" Ya sudah,hati hatinya." Alvi pun memeluk Citra dengan erat sebelum melepas kepergiannya.
" Kita akan mengunjungi kalian di sana,setelah mendapat kabar bahagia tentang anak ke tiga." canda Faiz,seolah belum puas untuk mengejeknya.
" Itu pasti,tunggu saja kabar bahagianya." sahut Satria.
__ADS_1
Setelah itu Umi dan yang lainya pun turut pamit,meninggalkan Faiz dan Mentari di sana,Faiz mengantar kepergian mereka sampai di halaman klinik.
Tiba tiba dokter muda itu mengeryitkan dahi,saat melihat sebuah mobil Mercedes Benz A200 berwarna hitam yang masih nampak mengkilap terparkir di sana,mobil mewah tersebut satu satu kendaraan paling mencolok di antara kendaraan lain.
" Sultan dari mana yang nyasar ke sini?" gumamnya dalam hati,mengingat daerah tempat tinggalnya masih terbilang desa terpencil,selain mobil Alphard milik Al dan Toyota New Vonturer milik Haikal , kendaraan mewah seperti itu masih jarang masuk keperkampungan semacam ini,kecuali mobil mobil sejuta umat yang banyak di jumpai dimana pun.
Tak ingin banyak bicara,Faiz menepis rasa penasarannya,ia masih nampak cuek tanpa mau memperdulikan keberadaan mobil tersebut,hingga tiba tiba Haikal melembar sebuah kunci ke arah Faiz,refleks dokter muda itu pun menangkapnya.
" Jangan lupa cicilan bulanannya." seru Haikal sambil menunjuk mobil mewah tersebut,Faiz di buat melongo ,ia langsung melemparkan kunci itu lagi pada Haikal,yang benar saja cicilan untuk mobil semewah itu mungkin akan mengabiskan gaji bulanannya,bisa bisa ia tidak bisa menggaji para perawat.Fikirnya.
" Faiz tidak butuh mobil." tukasnya,Haikal tertawa lepas,melihat raut wajah panik dari adik kecilnya itu,ia kembali menyerahkan kunci mobil tersebut pada Faiz.
"Terimalah,Ini untuk Razka." ujarnya.
" Tapi bang! dia masih kecil, mobil itu bisa masuk musium sebelum Razka sempat memakainya." protes Faiz.
" Memangnya abang saja,aku juga punya." Al tak mau kalah,ia mengeluarkan sebuah kartu dalam saku jaketnya,lalu menyerahkan kartu itu pada Faiz.
" Ini Untuk Razka,isinya memang tidak banyak, mungkin hanya cukup untuk biaya sekolahnya sampai ke perguruan tinggi,nomer pin nya tanggal lahir abang,agar dia selalu ingat hari ulang tahun paman terbaiknya. " ucap Al,membuat Faiz semakin terkejut,rasanya ia ingin sekali pingsan saat itu juga,mungkin seperti itu lah rasanya ketiban durian runtuh.
Perusahaan,mobil, tabungan,kurang apa lagi? di usia Razka yang belum genap 48 jam,kakayaan yang di milikinya sudah hampir sama dengan orang yang telah menghabiskan waktu hidupnya selama 50 tahun, tak main main.Razka memang nama yang tepat untuk bayi merah itu.
" Kalian berlebihan,anak Faiz belum butuh itu semua,dia hanya butuh susu." cicit Faiz dengan suara tertahan,membuat semua orang tertawa.
" Kamu tidak usah khawatir dengan masalah itu,bukannya dia sudah punya pabrik susunya sendiri?"ujar Haikal
__ADS_1
" Pabrik susu itu milik Faiz, tidak akan Faiz wariskan pada siapapun." tegas Faiz.
" Dasar,bocah!" Satria memukul kepalanya dengan cukup kencang,membuat Papa muda itu meringis sambil memegang kepalanya yang tarasa berdenyut.
" Faiz juga masih dalam masa pertumbuhan,bang!masih butuh asupan gizi yang baik." pekik Faiz.
"Memang apa lagi yang mau kamu tumbuhkan,hah?ukuran si Jhon mu sudah paling mentok,tidak akan bisa tumbuh lagi." balas Haikal membuat semua orang menggelengkan kepala,bahkan para wanita sempat menutup telinga anak anaknya agar tak bisa mendengar ucapan unpaedah yang terlontar dari mulut tak beradab itu.
" Sayang!!" Zahra memberi peringatan dengan tatapan matanya yang tajam,membuat anak tertua Umi itu terkekeh salah tingkah.
" Aku bercanda sayang." ujarnya.
" Bercanda mu gak lucu,Bang! bukan si Jhon yang mau Faiz tumbuhkan tapi rambut rambutnya,agar lebih mudah di sisir." balas Faiz.
" Sekalian saja kamu warnain." timpal Haikal.
" Ide bagus,Faiz sudah banyak uang sekarang,apapun bisa di lakukan,tak ada salahnya memanjakan si Jhon,dengan membawanya ke salon dan melakukan perawatan lengkap,sebelum buka puasa,Mentari pasti pangling saat melihatnya nanti." seloroh Faiz, semakin menujukan kebobrokannya,kedua pria beda usia itu terbahak bersama sampai memegang perutnya masing masing,sepertinya kali ini mereka lebih sering terlihat kompat dalam segi apapun.
Al dan Satria hanya mengusap dada sambil beristigfar.
" Saudara saudara mu sudah mulai gila,Satria! kasian sekali mereka,padahal usianya masih muda,istrinya saja baru melahirkan." lirih Al.
" Enak saja,mereka juga saudara mu,sayang sekali,padahal istrinya sedang hamil" balas Satria.
Keduanya terkikik geli sambil menutup mulutnya,saat berhasil menistakan kakak tertua dan adik terkecil yang masih asyik dengan candaannya.
__ADS_1
Sementara para wanita dan anak anak sudah menunggu mereka dalam mobil.
TERIMASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😆😆